Share

Bab 77

Penulis: MISTERIOUS
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 19:56:26

Pintu mobil terbuka keras hingga membentur sisi kendaraan. Sosok Bai Yumeng berlari tanpa peduli keadaan sekitar. Bahkan sebelum Li Mingzi sempat bicara, wanita itu sudah memeluknya erat. Tubuhnya sedikit gemetar ketika wajahnya menekan dada Li Mingzi, dan suara isak kecil terdengar jelas.

"Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padamu…"

Li Mingzi berkedip bingung, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ruan Yuan sampai melongo melihat pemandangan itu. Song Hua yang berdiri tidak jauh dari gerbang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 155

    Satu jam kemudian, mobil Qin Luxi berhenti di depan Villa Bukit Kuning. Telinganya masih merah, sisa rasa malu yang belum sepenuhnya hilang. Dia turun sambil menenteng gulungan lukisan, langkahnya cepat menuju ruang tengah tempat Mo Yan biasa berlatih."Dengar-dengar Putra Mahkota Aula Bintang jago kaligrafi," katanya begitu masuk, suaranya dibuat seceria mungkin. "Boleh minta tanda tangan?"Mo Yan mengangkat alis, curiga ini cuma modus untuk mendekatinya. Tapi melihat wajah Qin Luxi yang serius, dia justru merasa lega. Selama ini gadis itu selalu dingin, jadi permintaan seperti ini terasa seperti angin segar. Dia mengambil kuas dengan gaya yang aneh, dipegang seperti pulpen, lalu menggores tulisan di atas kertas."Putra Mahkota Aula Bintang."Qin Luxi mengerjapkan mata, mencoba mencari sisi bagus dari coretan itu. Tidak ada. Garis-garisnya naik turun tidak karuan, beberapa bahkan tembus ke kertas di bawahnya. Ini jelas bukan tulisan orang yang biasa memegang kuas.Dalam sepersekian d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 154

    Setelah kekacauan di villa mereda, rombongan bersiap kembali. Bai Yumeng berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir terpisah, dan Li Mingzi mengikutinya tanpa banyak bicara, langsung masuk ke kursi penumpang. Qin Luxi tetap naik ke mobil rombongan awal, kendaraan yang sama yang membawa mereka semua ke tempat Master Elang palsu tadi.Sebelum pintu mobil Qin Luxi tertutup, dia sempat menjulurkan kepala lewat jendela, memanggil Li Mingzi yang sudah duduk di mobil sebelah."Ngomong-ngomong," katanya, "Master Elang itu orangnya seperti apa? Kau kan sering lihat dia latihan.""Tampan," Li Mingzi menjawab cepat, tanpa berpikir panjang. "Anggun juga. Kalau dibandingkan Wen Lu, jauh banget."Qin Luxi mengangguk-angguk, membayangkan sosok misterius di kepalanya. Dia melirik ke arah Bai Yumeng yang sudah duduk tenang di kursi kemudi mobil sebelah."Kenapa Nona Bai nggak penasaran sama sekali soal ini?"Li Mingzi mengangkat bahu. "Oh."Jawaban sependek itu membuat Qin Luxi mengernyit, tapi d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 153

    Li Mingzi menerima kuas dari tangan si kakek palsu, jarinya menggenggam gagang bambu itu dengan santai. Tanpa banyak gerak-gerik dramatis, ujung kuas menyentuh kertas kosong yang tersisa di meja.Goresan pertama turun tegas, lalu melengkung lembut di ujungnya. Semua orang di halaman menahan napas."Itu..." Qin Luxi maju satu langkah, matanya tak lepas dari kertas. "Gaya tulisannya sama persis dengan yang di kota tadi."Bai Yumeng mengangguk pelan, wajahnya menegang. Huruf demi huruf yang muncul di bawah kuas Li Mingzi punya jiwa yang sama dengan karya yang sempat mereka perdebatkan siang tadi, tegas di pangkal, lentur di ujung, seolah tinta itu hidup.Master palsu melangkah mundur, wajahnya pucat pasi. "T-tidak mungkin... bocah ini..."Li Mingzi tidak peduli reaksi orang-orang di sekelilingnya. Dia menyelesaikan satu baris, lalu tanpa jeda mengambil dua lembar kertas kosong lagi. Kuas bergerak lebih cepat, tapi tetap rapi.Sebuah puisi pendek muncul di lembar pertama. Lalu satu lagi d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 152

    Perjalanan menuju villa pinggiran kota memakan waktu satu jam penuh. Sepanjang jalan, Wen Lu berulang kali mengingatkan agar tidak ada yang berbicara sembarangan di depan gurunya."Guru sangat sensitif soal tata krama," katanya sambil melirik tajam ke arah Li Mingzi. "Jangan sampai ada yang bikin malu.""Aku kan cuma pengawal," sahut Li Mingzi santai. "Diam saja di belakang juga nggak masalah."Qin Luxi langsung meraih lengan Wen Lu dan tersenyum manis. "Bukannya kita harus terlihat akrab? Santai saja, anggap aku benar-benar pacarmu hari ini."Wen Lu tersipu, tapi berusaha menjaga wibawa. Li Mingzi yang berjalan tak jauh dari mereka mengepalkan tangan diam-diam, rahangnya mengeras. Dadanya terasa panas melihat adegan pura-pura mesra itu, meski dia tahu semua cuma sandiwara.Villa tujuan mereka berdiri megah di antara pepohonan rindang, temboknya dilapis batu alam yang tertata rapi. Begitu memasuki halaman, mereka mendapati seorang lelaki tua berambut panjang tergerai duduk bersandar d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 151

    "Kalau tidak asli, bagaimana dong?" Wen Lu membalas dengan sinis, matanya menyipit muram ke arah Li Mingzi.Li Mingzi mengelus dagunya, wajahnya polos tanpa beban. "Kok aku lihat rasanya agak aneh ya? Kayak ikan lagi kram."Beberapa orang di sekitar menahan tawa. Wen Lu justru mendengus, menatap Li Mingzi dari atas ke bawah seolah melihat serangga aneh."Kamu pengawal, bisa ngerti apa soal kaligrafi? Jangan bicara soal karya asli Master Elang. Kamu bahkan mungkin tidak tahu cara memegang kuas dengan benar.""Lho, memangnya pengawal dilarang punya mata?" Li Mingzi mengangkat bahu. Dia menoleh ke belakang, menunjuk barisan pengawal yang berdiri diam di dekatnya. "Kalau memang pengawal itu diremehkan segitunya, buat apa kalian repot-repot membayar untuk menyewa kami?"Salah satu pengawal berdehem pelan, saling melirik dengan rekannya. Ada semacam rasa senasib yang muncul mendadak di antara mereka, seolah baru saja dibela oleh orang yang tidak mereka duga.Wen Lu buru-buru membela diri, s

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 150

    Wen Lu masih berdiri kaku, rahangnya mengeras, seolah menelan kekalahan yang pahit. Dia tidak menjawab lagi, hanya membuang muka, mencoba menyusun kembali harga dirinya yang barusan runtuh di depan umum.Qin Luxi, yang sudah bosan dengan ketegangan sedari tadi, memutuskan mengalihkan pembicaraan. Dia menoleh ke arah Bai Yumeng, memperhatikan wanita itu sejenak sebelum bertanya."Nona Bai suka kaligrafi?""Aku ke sini karena ingin lihat karya Master Elang," jawab Bai Yumeng singkat, nadanya datar tapi jujur.Mendengar nama itu, mata Qin Luxi langsung berbinar. Dia mencondongkan tubuh sedikit dengan penuh antusias."Aku juga penggemar berat Master Elang! Sudah lama aku menunggu pameran ini dibuka."Kedua wanita itu saling bertukar pandang, dan untuk pertama kalinya sejak tadi, suasana di antara mereka terasa lebih cair. Ternyata kekaguman pada satu orang bisa membuat dua orang asing mendadak akrab. Li Mingzi yang berdiri di samping, mendengar semua itu, entah kenapa merasa gatal untuk

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 4

    "Ya." Li Mingzi beranjak dari kursinya."Hei, tunggu! Jangan masuk! Kau bisa celaka!" cegah karyawan berkacamata dengan panik.Tapi Li Mingzi tidak mengindahkan peringatannya.Karyawan berkacamata hanya bisa menggeleng pasrah, membayangkan pemuda aneh itu akan segera babak belur dihajar anak buah Z

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 3

    Li Mingzi menatap cek itu dengan dahi berkerut. Kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi bingung yang tidak dibuat-buat. "Apakah ini mahar untukku?"Linqi hampir tersedak. Beberapa karyawan yang menguping dari kejauhan saling berpandangan tidak percaya.Li Mingzi mengangguk pelan, lalu menggeleng.

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 2

    Seketika, barisan pengawal dan pelayan di kiri-kanan pintu masuk ikut menundukkan kepala serempak. Jelas, Yu Shen telah memberitahu bawahannya mengenai Li Mingzi sebelumnya. Li Mingzi melirik mereka sekilas, lalu berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan penyambutan yang berlebihan ini. "Tidak

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 1

    “Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api. Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status