LOGINSong Hua berdiri limbung di dekat jendela. Wajahnya pucat seperti kertas setelah melihat tubuh Gong Qin tergeletak di bawah sana.Namun perlahan… pikirannya mulai bergerak lagi.Li Mingzi sudah membunuh pewaris Keluarga Gong.Artinya, pria itu tidak mungkin bisa terus hidup tenang di Kota Awan.Semakin dipikirkan, napas Song Hua justru mulai terasa lega.“Benar… benar…” gumamnya pelan sambil tertawa kaku. “Mereka sudah keluar dari keluarga Ruan… ini tidak ada hubungannya dengan kita…”Semakin ia mengulang kalimat itu, semakin besar rasa lega di hatinya.Bahkan matanya sampai sedikit memerah karena emosinya sendiri.Ruan Yuan yang berada di sampingnya buru-buru mengangguk cepat.“Betul! Kita nggak terlibat!” katanya seperti menemukan jalan hidup. “Semua orang di Kota Awan tahu mereka sudah diusir dari keluarga!”Song Hua langsung merasa dadanya jauh lebih ringan.Kalau begitu… masih ada harapan.Selama keluarga Ruan segera menjaga jarak dari Li Mingzi, mungkin kemarahan Keluarga Gong t
“Lin Fang sudah kabur…” Li Mingzi melangkah santai memasuki ruangan sambil menyapu pandangan ke arah Gong Qin. “Kenapa kau tidak ikut lompat juga?”Baru sekarang Gong Qin benar-benar sadar. Lin Fang kalah.Orang yang selama ini dianggap monster pembunuh oleh ayahnya ternyata bahkan tidak mampu menghentikan Li Mingzi beberapa menit saja.Tubuh Gong Qin tanpa sadar mundur selangkah.“Li… Li Mingzi…” bibirnya bergetar. “Aku putra sulung Keluarga Gong. Kalau kau menyentuhku, seluruh Kota Awan tidak akan membiarkanmu hidup!”Li Mingzi memiringkan kepala sedikit seperti sedang berpikir.“Oh?”Plakkk!Tamparan keras meledak di dalam ruangan.Tubuh Gong Qin langsung terpental menghantam pilar beton. Suara retakan samar terdengar dari bahunya. Ia jatuh berlutut sambil memuntahkan darah.“Aaarghhh!”Separuh wajahnya langsung bengkak.Li Mingzi berjalan mendekat.“Jadi…” katanya polos. “Karena kau putra sulung Keluarga Gong, aku tidak boleh membunuhmu?”Gong Qin menggigil.Tatapan Li Mingzi tida
“J-jadi…” Gong Qin menelan ludah keras-keras. “Kau benar-benar bisa membunuh Li Mingzi?”Ruangan menara pandang itu mendadak sunyi.Lin Fang perlahan menarik kembali hawa membunuh yang tadi menekan seluruh ruangan. Tekanan dingin itu menghilang, tetapi wajah Gong Qin justru semakin pucat.Lin Fang memalingkan tubuh ke arah jendela.“Li Mingzi memang sangat kuat,” ucapnya datar. “Aku bukan tandingannya kalau bertarung biasa.”Kalimat itu membuat Gong Qin membelalak.“Namun…” Lin Fang melanjutkan sambil melirik pantulan dirinya di kaca jendela. “Aku bisa membunuhnya.”Gong Qin terdiam beberapa detik sebelum buru-buru tertawa kaku.“Benar! Itu baru masuk akal!” katanya cepat. “Kau pembunuh terbaik ayahku. Mana mungkin kalah dari pengawal kampung seperti dia.”Namun telapak tangannya ternyata basah oleh keringat.Ruan Yin yang duduk terikat di kursi hanya menatap dingin.“Kau takut.”Senyuman Gong Qin langsung membeku.“Apa katamu?”“Kau takut pada Li Mingzi.” Ruan Yin menatap lurus ke ma
“Turunlah dulu.” Li Mingzi menarik napas pendek sambil berdiri di tepi jurang terjal. Di bawah sana hanya terlihat jalanan samar dan jalur kabel gantung yang membentang sampai sisi lain bukit. Bai Yumeng memucat saat melihat kedalamannya. “Kau ikut denganku.” Suaranya bergetar. “Kita turun bersama.” Li Mingzi tidak menjawab. Ia justru memasang kait pengaman ke pinggang Bai dengan tenang. Di kejauhan, suara langkah kaki mulai terdengar semakin dekat. “Mereka hampir sampai.” Li Mingzi mengencangkan tali terakhir. “Kalau aku ikut turun sekarang, kita berdua bakal mati.” Bai Yumeng langsung menggenggam tangannya erat. “Kalau begitu kau yang pergi!” serunya panik. “Mereka mencariku! Semua masalah ini terjadi karena aku!” Itu pertama kalinya Li Mingzi melihat Bai Yumeng benar-benar kehilangan ketenangan. Wanita itu biasanya dingin dan angkuh, tetapi sekarang matanya dipenuhi kecemasan. Li Mingzi malah tersenyum kecil. “Jadi Nona Bai ternyata bisa juga mengkhawatirkan or
"Kau masih membela pria itu?!" Wajah Song Hua memerah menahan amarah. "Kau tinggalkan jabatan direktur demi mengikuti pemuda kampung! Sekarang dia selingkuh di depan matamu, masih juga tidak sadar?!"Ruan Yin terdiam. Hatinya sakit mendengar kata-kata itu.Song Hua menunjuk ke arah jendela dengan jari gemetar. "Lihat sendiri! Dia berlari sambil menggenggam wanita lain! Apa lagi yang kau tunggu?!"Ruan Yuan ikut menyahut cepat. "Li Mingzi memang bajingan. Lupakan dia.""Cukup." Ruan Yin menggeleng pelan.Song Hua menghela napas kasar. "Yin'er, jangan bodoh lagi. Tinggalkan pria itu. Nenek janji akan mencarikan pasangan yang jauh lebih baik."Ruan Yin menatap lantai. Pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu. Saat ia dikhianati Zhang Wu dan berada di titik terendahnya. Yang datang menolongnya adalah Li Mingzi.Nenek dan sepupunya itu sedang menikmati hidup makmur di luar kota."Nenek ingat nggak?" Ruan Yin mengangkat wajah perlahan. Suaranya dingin. "Saat kakek hampir mati, kalian di ma
# Bab 71Langit Kota Awan tampak suram ketika Li Mingzi melangkah keluar dari gerbang Villa Bukit Kuning. Angin pagi berembus dingin, membuat ujung mantel hitamnya berkibar pelan.Sebuah mobil sedan hitam sudah terparkir di depan gerbang.Tin! Tin!Suara klakson pendek terdengar dua kali.Li Mingzi melirik ke dalam mobil dan melihat Bai Yumeng duduk di kursi pengemudi. Wanita itu mengenakan setelan hitam profesional yang membungkus tubuh rampingnya dengan sempurna. Kaki jenjang berbalut stoking tipis menyilang anggun, sementara wajah dinginnya tertutup sebagian oleh kacamata hitam besar."Naik," ucap Bai Yumeng singkat.Li Mingzi membuka pintu mobil tanpa banyak bicara. Namun baru saja ia duduk, alisnya langsung terangkat."Kenapa ada dia?"Di kursi belakang, Gong Manli mendengus sinis sambil melipat tangan di dada."Hmph. Kukira siapa. Ternyata buaya darat."Wajah Li Mingzi langsung menggelap. "Aku pria tampan dan gagah begini, kenapa kau panggil buaya?""Kalau bukan buaya darat nama







