MasukTiga hari sudah berlalu sejak malam dan pagi itu. Jameka dan Tito lantas melakukan rutinitas seperti sedia kala tanpa rasa canggung. Setidaknya, itu yang dipikirkan Tito dan membuatnya lega sekaligus aneh karena secuil catatan kurang ajar itu rupanya tidak berdampak apa pun pada Jameka. Padahal pada kenyataannya, Jameka merasa tenggorokannya dicekik oleh tangan-tangan tak terlihat ketika berada di dekat pria itu yang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Berkelit dengan sempurna. Jelas tidak merasa bersalah karena telah memanfaatkan kondisi Jameka yang mabuk. Keprofesionalan Jameka agak terguncang, tetapi beruntungnya tidak sampai berpengaruh fatal pada Heratl. Rapat pagi yang seharusnya berjalan lancar—memang berjalan seperti semestinya—nyatanya masih buntu tanpa solusi. Setiap pagi dalam waktu tiga hari itu, Jameka meminta Tito memberhentikan Civic putihnya ke apotek yang sejalan dengan Heratl untuk membeli alat tes kehamilan. Ia memang sudah mengecek siklus bloody moon-nya y
I’m not jealousI’m territorialJealous is when you want something that’s not yours Territorial is protecting what’s already yours—Not Tito Alvarez______________________________________________ Jawaban atas pertanyaan absurd itu membuat Jameka bergeming. Berkebalikan dengan debar jantungnya yang memukul bak genderang perang dan asumsi-asumsi lanjutan dalam batok kepalanya yang berjejelan masuk begitu sengit. Pun, menjadikan kondisi pasca mabuknya makin memburuk. Sejujurnya, dengan amat riang Jameka ingin mengatakan kalau tidak mengingat apa pun setelah menenggak French Martini-nya hingga nyaris habis tadi malam. Ia sama sekali tidak mengingat Tito mengantarnya pulang ke kondominium lalu mereka terlibat adegan adu keringat secara dewasa—yang sampai kapan pun tak akan pernah sekalipun mampir dalam bayangan Jameka. Namun, bukti pagi ini terlalu akurat, kuat, dan sempurna untuk dielak oleh dua manusia dewasa berlawanan jenis yang sama-sama paham tentang keintiman atas dasar kebut
Kurang ajar memang si Kadal Sawah ini. Berani-beraninya pria itu mengintip adanya kemelut bak jelaga yang merusak susunan lapisan ozon dalam diri Jameka. Kendati tidak ingin sendirian malam ini, nyatanya ia tidak tahu harus bagaimana menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini. Khususnya mengenai acara perjodohan tidak masuk akal papanya yang dikait-kaitkan dengan River. “Nggak ada apa-apa, kok, To,” jawab Jameka setelah sekian detik berpikir. Lalu memutuskan mengambil rokok dari dalam tas. Sayangnya, dengan kecepatan yang tidak bisa Jameka prediksi, Tito merampasnya. “Apaan, sih, lo?” geram Jameka dengan alis berkerut samar.“Lo udah mesen vodka, sekarang mau ngerokok? Udah gila beneran lo, ya?” omel Tito. “Kagak mungkin lo pengin dan butuh minum-minum kagak jelas padahal tahu besok ada rapat pagi. Kalau ada masalah, sini cerita ke gue atau Lih. Kagak perlu kayak gini, Jame. Gaya hidup galau lo kagak sehat.“Wanita itu pun melirik Lih di sebelah Tito. “Eh Bujang, lo denger kagak s
Does it scare you? That you might love someone that much someday, just to lose them too? —Cheryl McIntyre _________________________________ “Eh buset, merinding gue baca WA-nya Yang Mulia Ratu,” racau Tito lantas melempar ponsel ke meja bar setelah dengan amat terpaksa membagikan lokasi dirinya berada kepada Jameka. “Apaan?” tanya Lih Gashani—sahabat Tito—yang kebetulan baru selesai memesan segelas goblet rum cokelat tanpa campuran apa pun dan shisha[4] kecil ke bartender. Lih duduk di sebelah Tito dan melihat pria dengan kemeja biru dongker itu tampak berbeda. Seperti tidak berminat menggoda wanita seksi yang duduk bersama teman-temannya di sebelah kanan mereka. Padahal biasanya kalau ada yang bening-bening sedikit saja tertangkap mata, Tito pasti langsung mengeluarkan jurus buaya buntung dengan rayuan ulung. “Noh, kakak bos lo mau ke sini,” jawab pria bertato itu, memelototi ponsel dan menunjuk-nunjukknya secara ganas. Kening Lih berkerut samar. “Lah? Bukannya tadi ud
Oh! Akhirnya Jameka tahu maksud papanya tidak ingin Tito menemaninya. Rupanya ada perjodohan yang dibalut acara makan malam. Kuno sekali dan tidak berkelas. Emosi Jameka naik setingkat lebih tinggi. Dari dogkol, kesal, kini memasuki taraf ingin protes dengan berbagai pertanyaan yang berlarian di kepalanya; kenapa jadi seperti ini? Bukankah sebulan lalu Jameka—didukung penuh oleh adiknya—sudah mengatakan kalau masih asyik quirky alone? Jameka juga ingat betul Jayden pernah mengingatkan papa mereka kalau ia bisa mencari jodoh sendiri. Tidak perlu menggunakan acara perjodohan. Dahulu, papanya kebelet punya menantu dari wanita yang dicintai Jayden, sekarang dari Jameka. Sungguh memusingkan. Jameka benar-benar tidak bisa mereka-reka jalan pikiran papanya. Oke, umur Jameka memang sudah lewat kepala tiga. Untuk ukuran wanita yang tinggal di Indonesia, memang itu seperti aib keluarga. Namun, ada alasan kenapa ia bisa sampai seperti ini. Ia pernah hampir menikah dengan River. Sangat disa
Konspirasi alam semesta yang apik seolah tidak mengizinkan mereka berjalan berdampingan di bumi yang sama —Taming the Boss______________________________________________ “Yakin gue kagak usah turun?” tanya Tito sewaktu mobilnya sudah berhenti di mansion papanya Jameka. “Enggak, gue lagi pengin berduaan sama bokap,” jawab wanita itu, menuruti kata papanya. “Yah ... padahal lagi pengin makan gratis,” gumam Tito yang tidak digubris Jameka. Kedua netra pria itu menelisik ke luar jendela mobil. Bangunan bergaya Italy ini tampak sepi dan gelap. Hanya bagian sayap kanan yang menyala, sementara ruang-ruang lain lampunya sengaja dipadamkan. Gemericik air mancur di kaskade depan pintu masuk juga tidak lagi menyambut. Ini akibat pengurangan jumlah pekerja dan penghematan daya super. Mulanya Tito sempat menyampaikan pendapat lebih baik menjual atau menyewakan mansion super megah ini dan Om Allecio bisa tinggal di kondominium Jameka. Sementara itu, ia dan Jameka bersama seluruh karyawa







