INICIAR SESIÓN3
"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang ekornya hingga membuat ibu Arnita sulit jalan bahkan gak bisa berdiri. Kejadian patah tulang belakang ini jika di telusuri tak begitu jauh jaraknya dari kejadian retaknya tulang ekor ibu Arnita. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan agar kami bisa segera mengambil tindakan untuk pengobatan ibu Arnita. Kalau tidak segera di tangani dengan tepat, kemungkinan terburuk akan terjadi pada ibu Arnita."
"Kemungkinan terburuknya apa, Dok?"
"Kematian,"
Deg
Narendra terkulai lemas di kursi yang berada di depan meja dokter. Ia tak pernah menyangka istrinya akan mengalami kejadian itu. Tak bisa Narend bayangkan jika istrinya pergi selamanya karena kelalaian dirinya.
"Apakah pukulan itu juga berakibat pada pita suara istri saya, Dok? Sehingga istri saya tak bisa berbicara."
"Menurut hasil pemeriksaan pertama, hilangnya suara ibu Arnita akibat cairan asam yang naik hingga menyebabkan kerusakan pada laring."
"Cairan asam bisa naik karena beberapa faktor, salah satunya sering mengkonsumsi makanan berlemak atau berminyak seperti gorengan, mengkonsumsi alkohol ataupun akibat kebiasaan berbaring setelah makan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kenapa cairan asam bisa naik hingga merusak laring, dan kemungkinan-kemungkinan adanya penyebab lain yang membuat ibu Arnita tak bisa bersuara. Setelahnya, kami akan melakukan pengobatan pada kerusakan laringnya terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan tindakan operasi pada tulang belakang."
Narendra tak mampu lagi berkata-kata. Ia terdiam dengan air mata yang sudah menganak sungai di kedua matanya. Dokter perempuan yang ada di depan Narendra hanya menatap sinis pada Narendra. Ia yang tak tahu menahu tentang apa yang terjadi sesungguhnya mengira kalau Narendra sangat tidak becus mengurus Arnita. Narendra merupakan sosok suami yang sangat buruk hingga membuat Arnita menderita sedemikian rupa. Sudahlah lumpuh, pita suara rusak karena cairan asam akibat sering telat makan.
"Kenapa baru di bawa setelah separah ini? Gak ada uang? Sibuk kerja? Sepenting apa pekerjaan anda dibandingkan istri anda sehingga Anda terlalu menyepelekan sakit istri anda hingga membuat ia sakit separah ini. Anda terlalu sibuk bekerja hingga lupa mengobati istri Anda? Atau memang anda jarang pulang hingga gak memngetahui kondisi istri anda?"
"Apa karena istri anda tak bisa melayani anda sama sekali sehingga anda mengabaikan sakitnya? Sungguh miris ibu Arnita memiliki suami macam anda yang hanya peduli di kala beliau sehat dan mengabaikan beliau di kala sakit. Memang kebanyakan begitu sih, kaum lelaki. Hanya mau enaknya saja, setelah tak terpuaskan akan mencari ranjang yang baru."
Narendra tak bisa menampik apa yang di katakan dokter di hadapannya ini. Dia adalah seorang suami yang gagal membahagiakan wanita yang empat tahun lalu ia ambil alih tanggung jawabnya dari ayah wanita itu. Akan tetapi, Narendra ingin sekali komplain perihal kalimat terakhir sang dokter, tapi lidahnya terasa kelu, moodnya pun sedang enggan untuk berdebat. Ia hanya ingin memberikan pengobatan terbaik untuk sang istri.
"Masih adakah harapan untuk istri saya sembuh, Dokter?"
"Tentu. Harapan itu masih ada. Bahkan sangat banyak ketika pengobatan itu dilakukan sejak awal."
"Dokter, saya mohon, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Saya juga butuh bantuan dokter untuk mengusut tuntas awal mula kejadian yang menyebabkan istri saya seperti itu."
Dokter Risya mengernyit bingung mendengar perkataan Narendra.
"Memang kejadian awalnya bagaimana?" tanya Dokter Risya penuh penasaran.
"Nanti saya jelaskan, yang penting sekarang saya butuh salinan rekam medis istri saya untuk saya simpan sebagai bukti nanti agar mereka tak bisa lagi berkutik."
Mendengar perkataan Narendra, sedikit kesimpulan yang dapat di ambil oleh dokter Risya yaitu ada satu dua orang penyebab pasiennya mengalami kelumpuhan. Entah itu di rencanakan atau tidak. Meskipun begitu, dokter Risya tak merasa bersalah sedikitpun akan ucapan pedasnya yang ia lontarkan tadi kepada Narendra. Sekalipun orang lain yang berbuat begitu, tentu perbuatan itu akan cepat terendus kalau Narendra benar-benar peduli akan kesehatan istrinya. Bukan memasrahkan pada orang lain apalagi mengabaikan.
"Baiklah, saya akan buatkan salinannya."
Setelah bangun tidur tadi, Narendra gegas memasak sarapan untuk dirinya dan sang istri. Ia hanya membuat bubur untuk sarapan karena takut untuk memberikan sembarang makanan pada Arnita dikarenakan kondisi pita suaranya yang entah kenapa.
Setelah selesai sarapan, Narendra membersihkan tubuh istrinya dengan lap yang sudah di basahi dengan air hangat. Dengan telaten Narendra membersihkan setiap bagian tubuh sang istri. Lalu, ia mengambil pakaian ganti untuk istrinya. Dengan pelan-pelan, Narendra memasangkan pakaian pada Arnita mulai dari dalaman hingga luaran. Setelahnya, ia mengoleskan skincare ke wajah sang istri agar terlihat lebih fresh. Setelah meletakkan Arnita di atas kursi roda, Narendra menyisir rambut arnita dengan perlahan agar tak menyakiti sang istri. Setelahnya, ia mengikat rambut Arnita dengan kuncir kuda. Tak lupa sepatu pantofel di pakaian pada kaki Arnita walaupun kaki itu begitu lemas tak bertenaga bahkan tak merespon dengan gerakan sama sekali.
Setelah selesai merapikan wanita dua puluh tujuh tahun itu, Narendra gegas mandi dengan secepat kilat begitupun ketika menggunakan pakaian, semua dilakukan dengan gerak cepat agar sang istri tak kelamaan duduk di kursi roda.
Kini setelah selesai dari ruangan dokter, Narendra berada di depan ruang ICU tempat istrinya melakukan pemeriksaan lanjutan. Ia tak bisa mengintip ke dalam, karena kaca jendela tertutup oleh gorden. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Berdoa agar istrinya bisa segera sembuh dan bisa kembali melewati hari menapaki setiap langkah menuju impian bahagia di setiap masa.
Sungguh, Narendra tak akan membiarkan dua wanita itu hidup tenang jika memang terbukti sakitnya sang istri akibat perbuatan keduanya. Tak bisa Narendra bayangkan sesulit apa istrinya melewati hari demi hari tanpa adanya pengobatan pada sakitnya.
Kemana saja Narendra selama ini sehingga ia begitu abai pada kondisi sang istri yang sudah separah ini. Kepercayaan yang besar pada mertuanya membuat Narendra tak sedikitpun menaruh rasa khawatir akan kondisi Arnita yang tak kunjung membaik. Narendra terlalu fokus pada pabrik tempat produksi kosmetik miliknya yang beberapa hari ini mengalami masalah dalam produksi karena bahan baku yang di beli dari supplier ternyata banyak campurannya. Ketika komplain, mereka mengaku tak melakukan kecurangan sedikitpun hingga menolak ganti rugi karena ketika produk keluar dari gudang mereka dalam keadaan baik-baik saja dan pastinya ori. Tentu hal itu membuat perusahaan mengalami kerugian besar bahkan kegiatan produksi terhambat karena bahan utamanya bermasalah. Kasus itu masih di selidiki oleh pihak kepolisian dan belum menemukan titik terang. Entah siapa pelaku sesungguhnya yang berbuat dem
ikian hingga menyebabkan kerugian yang tak sedikit.
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama seka
6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istrinya setelah berjuang di meja operasi.Sesuai kesepakatan kemaren, Arnita akan di operasi hari ini pada jam dua siang. Kini Beberapa dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi pada Arnita. Arnita pun sudah di pakaikan pakaian khusus dan ranjang tempatnya berbaring sudah mulai di dorong menuju ruang operasi. Narendra mengikuti dan berjalan di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang istri. Meskipun bibirnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Arnita, tapi raut wajahnya yang lain tak bisa dibohongi bahwa dia menyimpan kekhawatiran yang begitu besar. Menyimpan ketakutan yang begitu mendalam.Senyum tipis terbit dari bibir Arnita. Wanita
5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon akan diberikan separuh dulu dan sisanya akan segera dilunasi paling lambat dalam waktu satu bulan.""Kamu boleh keluar duluan untuk mengurus sisa gaji dan pesangon untuk mereka. Berikan separuh dulu dari jumlah keseluruhan nominal pesangon yang sudah di tentukan." tunjuk Narendra pada Pak Huda selaku ketua HRD."Killa bantu pak Huda mengurus semua itu!" "Baik, Pak."Karyawan lain yang masih bertahan rupanya tampak gamang antara bertahan atau tidak. Mereka ingin ikut resign tapi sayang akan kedudukan yang sudah mereka dapatkan. Namun, jika tidak resign apa yang akan mereka kerjakan? Sedangkan produksi di hentikan, otomatis promosi, penjualan, pengirimiman, pengepakan dan segala tetek-bengekny
4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-marah gak jelas karena saya gak kerja.""Istri saya pun sama, Pak. Saya bahkan gak di kasih jatah,"Nofal dan Killa kebingungan menghadapi beberapa karyawan pabrik yang datang dengan membawa surat pengunduran diri. Nofal dan Killa tak mau kehilangan para karyawan yang sudah bekerja sangat lama dengan perusahaan NA Beauty. Namun, untuk mencegah, mereka tak bisa berjanji kapan pabrik akan buka. Karena memang masalahnya lumayan pelik karena yang bermasalah pada bahan utamanya. Untuk mencari supplier lain pun bukan hal mudah karena belum tahu kualitas dan kuantitasnya."Bapak-bapak, maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi pada pabrik kita ini. Kami sesungguhnya tak ingin kalian keluar dari pabrik
3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang ekornya hingga membuat ibu Arnita sulit jalan bahkan gak bisa berdiri. Kejadian patah tulang belakang ini jika di telusuri tak begitu jauh jaraknya dari kejadian retaknya tulang ekor ibu Arnita. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan agar kami bisa segera mengambil tindakan untuk pengobatan ibu Arnita. Kalau tidak segera di tangani dengan tepat, kemungkinan terburuk akan terjadi pada ibu Arnita.""Kemungkinan terburuknya apa, Dok?""Kematian,"DegNarendra terkulai lemas di kursi yang berada di depan meja dokter. Ia tak pernah menyangka istrinya akan mengalami kejadian itu. Tak bisa Narend bayangkan jika istrinya pergi selamanya karena kelalaian dirinya."Apakah pukulan itu juga berakibat
2"Tuan, semua pekerja sudah berkumpul di halaman belakang!"Salah satu pekerja di rumah Narendra menginformasikan bahwa semuanya sudah berkumpul sesuai perintah Narendra. Sang tuan yang masih berada di dalam kamar Arnita gegas keluar, ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar dan menyimpan kuncinya ke dalam saku bajunya."Sore!" sapa Narendra kepada para pekerjanya yang menundukkan kepala menyambut kedatangan Narendra."Sore, Tuan!""Sudah lengkap semuanya?""Sudah, Tuan,""Baiklah! Aku tak mau berlama-lama. Aku informasikan kepada kalian bahwa mulai besok kalian aku liburkan semuanya! Entah sampai kapan waktunya, aku akan informasikan kemudian hari. Tapi, kalian tenang saja, aku akan tetap menggaji kalian sebagaimana kalian bekerja tiap harinya. Setiap tanggal sepuluh gaji akan tetap masuk ke rekening kalian. Untuk yang bertugas membersihkan rumah, aku minta seminggu sekali kalian datang untuk membersihkan rumah agar tetap bersih. Kunci aku serahkan kepada Bi Jena. Sebelum besok ka







