Compartilhar

Pemeriksaan

Autor: Sheila FR
last update Data de publicação: 2026-05-03 11:15:23

3

"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang ekornya hingga membuat ibu Arnita sulit jalan bahkan gak bisa berdiri. Kejadian patah tulang belakang ini jika di telusuri tak begitu jauh jaraknya dari kejadian retaknya tulang ekor ibu Arnita. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan agar kami bisa segera mengambil tindakan untuk pengobatan ibu Arnita. Kalau tidak segera di tangani dengan tepat, kemungkinan terburuk akan terjadi pada ibu Arnita."

"Kemungkinan terburuknya apa, Dok?"

"Kematian,"

Deg

Narendra terkulai lemas di kursi yang berada di depan meja dokter. Ia tak pernah menyangka istrinya akan mengalami kejadian itu. Tak bisa Narend bayangkan jika istrinya pergi selamanya karena kelalaian dirinya.

"Apakah pukulan itu juga berakibat pada pita suara istri saya, Dok? Sehingga istri saya tak bisa berbicara."

"Menurut hasil pemeriksaan pertama, hilangnya suara ibu Arnita akibat cairan asam yang naik hingga menyebabkan kerusakan pada laring."

"Cairan asam bisa naik karena beberapa faktor, salah satunya sering mengkonsumsi makanan berlemak atau berminyak seperti gorengan, mengkonsumsi alkohol ataupun akibat kebiasaan berbaring setelah makan. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut kenapa cairan asam bisa naik hingga merusak laring, dan kemungkinan-kemungkinan adanya penyebab lain yang membuat ibu Arnita tak bisa bersuara. Setelahnya, kami akan melakukan pengobatan pada kerusakan laringnya terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan tindakan operasi pada tulang belakang."

Narendra tak mampu lagi berkata-kata. Ia terdiam dengan air mata yang sudah menganak sungai di kedua matanya. Dokter perempuan yang ada di depan Narendra hanya menatap sinis pada Narendra. Ia yang tak tahu menahu tentang apa yang terjadi sesungguhnya mengira kalau Narendra sangat tidak becus mengurus Arnita. Narendra merupakan sosok suami yang sangat buruk hingga membuat Arnita menderita sedemikian rupa. Sudahlah lumpuh, pita suara rusak karena cairan asam akibat sering telat makan.

"Kenapa baru di bawa setelah separah ini? Gak ada uang? Sibuk kerja? Sepenting apa pekerjaan anda dibandingkan istri anda sehingga Anda terlalu menyepelekan sakit istri anda hingga membuat ia sakit separah ini. Anda terlalu sibuk bekerja hingga lupa mengobati istri Anda? Atau memang anda jarang pulang hingga gak memngetahui kondisi istri anda?"

"Apa karena istri anda tak bisa melayani anda sama sekali sehingga anda mengabaikan sakitnya? Sungguh miris ibu Arnita memiliki suami macam anda yang hanya peduli di kala beliau sehat dan mengabaikan beliau di kala sakit. Memang kebanyakan begitu sih, kaum lelaki. Hanya mau enaknya saja, setelah tak terpuaskan akan mencari ranjang yang baru."

Narendra tak bisa menampik apa yang di katakan dokter di hadapannya ini. Dia adalah seorang suami yang gagal membahagiakan wanita yang empat tahun lalu ia ambil alih tanggung jawabnya dari ayah wanita itu. Akan tetapi, Narendra ingin sekali komplain perihal kalimat terakhir sang dokter, tapi lidahnya terasa kelu, moodnya pun sedang enggan untuk berdebat. Ia hanya ingin memberikan pengobatan terbaik untuk sang istri.

"Masih adakah harapan untuk istri saya sembuh, Dokter?"

"Tentu. Harapan itu masih ada. Bahkan sangat banyak ketika pengobatan itu dilakukan sejak awal."

"Dokter, saya mohon, lakukan yang terbaik untuk istri saya. Saya juga butuh bantuan dokter untuk mengusut tuntas awal mula kejadian yang menyebabkan istri saya seperti itu."

Dokter Risya mengernyit bingung mendengar perkataan Narendra.

"Memang kejadian awalnya bagaimana?" tanya Dokter Risya penuh penasaran.

"Nanti saya jelaskan, yang penting sekarang saya butuh salinan rekam medis istri saya untuk saya simpan sebagai bukti nanti agar mereka tak bisa lagi berkutik."

Mendengar perkataan Narendra, sedikit kesimpulan yang dapat di ambil oleh dokter Risya yaitu ada satu dua orang penyebab pasiennya mengalami kelumpuhan. Entah itu di rencanakan atau tidak. Meskipun begitu, dokter Risya tak merasa bersalah sedikitpun akan ucapan pedasnya yang ia lontarkan tadi kepada Narendra. Sekalipun orang lain yang berbuat begitu, tentu perbuatan itu akan cepat terendus kalau Narendra benar-benar peduli akan kesehatan istrinya. Bukan memasrahkan pada orang lain apalagi mengabaikan.

"Baiklah, saya akan buatkan salinannya."

Setelah bangun tidur tadi, Narendra gegas memasak sarapan untuk dirinya dan sang istri. Ia hanya membuat bubur untuk sarapan karena takut untuk memberikan sembarang makanan pada Arnita dikarenakan kondisi pita suaranya yang entah kenapa.

Setelah selesai sarapan, Narendra membersihkan tubuh istrinya dengan lap yang sudah di basahi dengan air hangat. Dengan telaten Narendra membersihkan setiap bagian tubuh sang istri. Lalu, ia mengambil pakaian ganti untuk istrinya. Dengan pelan-pelan, Narendra memasangkan pakaian pada Arnita mulai dari dalaman hingga luaran. Setelahnya, ia mengoleskan skincare ke wajah sang istri agar terlihat lebih fresh. Setelah meletakkan Arnita di atas kursi roda, Narendra menyisir rambut arnita dengan perlahan agar tak menyakiti sang istri. Setelahnya, ia mengikat rambut Arnita dengan kuncir kuda. Tak lupa sepatu pantofel di pakaian pada kaki Arnita walaupun kaki itu begitu lemas tak bertenaga bahkan tak merespon dengan gerakan sama sekali.

Setelah selesai merapikan wanita dua puluh tujuh tahun itu, Narendra gegas mandi dengan secepat kilat begitupun ketika menggunakan pakaian, semua dilakukan dengan gerak cepat agar sang istri tak kelamaan duduk di kursi roda.

Kini setelah selesai dari ruangan dokter, Narendra berada di depan ruang ICU tempat istrinya melakukan pemeriksaan lanjutan. Ia tak bisa mengintip ke dalam, karena kaca jendela tertutup oleh gorden. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Berdoa agar istrinya bisa segera sembuh dan bisa kembali melewati hari menapaki setiap langkah menuju impian bahagia di setiap masa.

Sungguh, Narendra tak akan membiarkan dua wanita itu hidup tenang jika memang terbukti sakitnya sang istri akibat perbuatan keduanya. Tak bisa Narendra bayangkan sesulit apa istrinya melewati hari demi hari tanpa adanya pengobatan pada sakitnya. 

Kemana saja Narendra selama ini sehingga ia begitu abai pada kondisi sang istri yang sudah separah ini. Kepercayaan yang besar pada mertuanya membuat Narendra tak sedikitpun menaruh rasa khawatir akan kondisi Arnita yang tak kunjung membaik. Narendra terlalu fokus pada pabrik tempat produksi kosmetik miliknya yang beberapa hari ini mengalami masalah dalam produksi karena bahan baku yang di beli dari supplier ternyata banyak campurannya. Ketika komplain, mereka mengaku tak melakukan kecurangan sedikitpun hingga menolak ganti rugi karena ketika produk keluar dari gudang mereka dalam keadaan baik-baik saja dan pastinya ori. Tentu hal itu membuat perusahaan mengalami kerugian besar bahkan kegiatan produksi terhambat karena bahan utamanya bermasalah. Kasus itu masih di selidiki oleh pihak kepolisian dan belum menemukan titik terang. Entah siapa pelaku sesungguhnya yang berbuat dem

ikian hingga menyebabkan kerugian yang tak sedikit.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Diantar Raja Buaya

    20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Kobaran Api Dendam

    19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Perhatian yang tidak seharusnya

    "Oh, astaga, jeng Intan!! Heran deh sama situ, kok kayak yang gak punya hati gitu loh!"Seru jeng Ami yang merasa jengkel atas perkataan jeng Intan."Heh, kalian gak usah ikut berkomentar! Lagian kalau aku marah kepada Narendra soal dia yang jatuh miskin itu hak aku! Kalian gak usah sok ngebelain anak bodoh ini!"Bukannya merasa bersalah, justru jeng Intan meradang karena merasa mereka ikut campur. Dia merasa benar dengan apa yang di katakan oleh dirinya kepada sang putra."Aku permisi dulu, maaf sudah membuat mama malu akan kondisiku yang sekarang. Maaf juga aku belum bisa ngasih uang bulanan ke mama seperti selama ini. Maafkan anak bodohmu ini. Aku janji tak akan muncul lagi di hadapan mama dengan kondisi yang seperti ini."Narendra begitu terluka akan sikap sang ibu yang membuatnya begitu malu dan merasa begitu terhina di hadapan orang-orang. Dia memilih pergi saja. Mungkin Narendra tak akan pernah datang ke kota ini lagi dalam beberapa waktu ke depan. "Astaga jeng Intan, kamu mem

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   17. Bertemu Raja Buaya

    17Merasa bosan karena tak ada yang bisa dilakukan, sedangkan saat buka sosial tak ada teman yang bisa dihubungi karena lupa nama akun mereka. Arnita memutuskan untuk keluar sebentar guna membeli camilan di warung yang tak begitu jauh dari rumahnya. Rasanya sudah sangat lama Arnita tidak jalan-jalan seperti ini.Walaupun sinar mentari begitu terik, tapi sengatan panasnya tak mampu memudarkan senyum Arnita yang terbit sejak tadi. Ia begitu bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk sembuh dan kembali menikmati hidup tanpa lupa akan segala hak dan kewajibannya sebagai umat Islam."Mau kemana mbak?" Seorang lelaki yang terlihat lebih muda dari Arnita yang mengendari motor CBR tiba-tiba berhenti di samping Arnita membuat Arnita mendadak berhenti juga. "Mau ke warung depan," jawab Arnita dengan sedikit tersenyum sambil melanjutkan jalannya."Sekalian yuk bareng, saya juga mau ke sana," ajak pemuda sambil menjalankan motornya perlahan di samping Arnita."Nggak usah, Dik, maka

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Tak Punya Hati

    16"Semoga ada yang menerima lamaranku."Narendra kini sedang harap-harap cemas setelah mengirimkan surat lamaran via online ke beberapa perusahaan. Sudah sejak tiga harian ini dia rutin mencari lowongan pekerjaan melalui internet dan mencoba mengirimi surat lamaran kerja yang di rasa cocok dengan kemampuannya. Sudah sekitar delapan surat lamaran online yang Narendra kirimkan di delapan perusahaan sejak kemaren lusa, dan sampai di hari ini belum juga ada kabar. Jika seminggu tak ada balasan, maka lamaran Narendra di nyatakan di tolak."Kenapa sih kok kayak yang cemas gitu mukanya? Ada masalah lagi di perusahaan?" tanya Arnita sambil duduk di samping Narendra. Memang Arnita belum juga di beri tahu oleh Narendra, dan Narendra pun tak tahu bagaimana caranya menyampaikan kepada Arnita perihal kemiskinannya saat ini."Nggak kok, gak apa-apa. Cuma lagi mikirin kondisi rumah yang di kota A.""Loh, memangnya para pekerja kemana?""Mereka aku suruh cuti semua.""Bagaimana kalau besok kita ke k

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Suami yang manis

    15"Sayang, pelan-pelan, jangan terburu-buru! Kamu pasti bisa kok, semua hanya butuh proses!""Aku gak sabar pengen cepet-cepet bisa jalan, Mas. Aku lelah kemana-mana pake kursi roda terus.""Sabar ya, kalau kamu terburu-buru terus, bukan cepat bisa jalannya malah makin susah jalannya kalau semisal kamu keseleo atau apa.""Ini udah semingguan lebih, tapi aku baru bisa jalan sepuluh langkah doang.""Hus, sudah, jangan mengeluh terus! Nanti Allah marah kalau kamu selalu mengeluh."Saat ini keduanya sedang berada di taman belakang rumah mereka yang baru. Sudah sepuluh harinya sekarang Arnita keluar dari rumah sakit. Dan sampai saat ini Narendra belum juga berterus terang kepada sang istri tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada perusahaan NA Beauty. Ia tak mau sang istri kepikiran hingga mempengaruhi proses penyembuhannya. Biarlah istrinya itu sehat dulu, baru dia akan mengatakan yang sesungguhnya.Setiap pagi dan sore, Arnita selalu berlatih berjalan. Jika di turuti, mungkin setiap s

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Sakit banget, Mas

    "Jangan mengatakan apapun pada yang lainnya terutama Narendra. Kalau sampai kamu buka mulut, jangan salahkan aku kalau majikanmu ini akan meregang nyawa karena bocornya mulutmu itu! Paham?"Sasmitha mengancam Bi Marni agar tak buka suara, sehingga

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Dokter Baik Hati

    14Orang yang ditugaskan Nofal untuk mengantarkan Killa pulang malah membawa perempuan itu ke dokter. Dilihat dari kondisinya, udah bisa di pastikan bahwa wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Sehingga lelaki itu berinisiatif memeriksakan kondisi Killa sebelum dia mengantarkan wanita itu ke alama

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Ketika air susu di balas air Tuba

    13"Selamat atas jabatan baru anda, bapak Nofal yang terhormat!"Ucapan itu keluar dari mulut Narendra ketika melihat Nofal sudah masuk keruangan CEO yang dulunya menjadi ruangan miliknya.Ya, tadi Narendra tidak memutuskan untuk pulang. Ia ingin sedikit bercuap-cuap dengan Nofal sang mantan asiste

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Sasmitha dengan segala tipu dayanya

    12"Apa penyebabnya, Pak?""Hanya terletak pada kesalahan para pekerja mengambil bahan baku. Yang mereka ambil ternyata bahan baku yang sudah kadaluarsa yang seharusnya sudah di buang. Aku menemukan bahan baku yang baru masih utuh tersimpan di gudang penyimpanan barang dan tertutup oleh kardus-kard

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status