LOGIN4
"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,"
"Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,"
"Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-marah gak jelas karena saya gak kerja."
"Istri saya pun sama, Pak. Saya bahkan gak di kasih jatah,"
Nofal dan Killa kebingungan menghadapi beberapa karyawan pabrik yang datang dengan membawa surat pengunduran diri. Nofal dan Killa tak mau kehilangan para karyawan yang sudah bekerja sangat lama dengan perusahaan NA Beauty. Namun, untuk mencegah, mereka tak bisa berjanji kapan pabrik akan buka. Karena memang masalahnya lumayan pelik karena yang bermasalah pada bahan utamanya. Untuk mencari supplier lain pun bukan hal mudah karena belum tahu kualitas dan kuantitasnya.
"Bapak-bapak, maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi pada pabrik kita ini. Kami sesungguhnya tak ingin kalian keluar dari pabrik ini. Namun, kami pun tak bisa menjanjikan kapan pabrik ini akan buka kembali karena masalahnya terlalu rumit.
Kata Nofal pasrah melihat kepada beberapa karyawan yang sudah sangat dikenal oleh sekertaris kepercayaan Narendra Tersebut karena lamanya bekerja. Namun, ada juga beberapa karyawan yang tak terlihat di antara kerumunan karyawan yang memutuskan berhenti itu. Entah mereka yang memilih bertahan atau hanya menunggu waktu lain hari untuk ikut keluar dari keluarga besar NA beauty.
"Kami akan memberitahukan kepada pak Narendra terlebih dahulu, karena surat resign kalian tentu akan sah jika sudah disetujui dan di tandatangani oleh beliau. Kami akan beri tahukan setidaknya paling lambat 2×24 jam karena pak Narendra sedang sibuk mengurus istrinya."
Killa turut serta menjelaskan kepada para karyawan agar Nofal tak sendirian menghadapi puluhan karyawan yang mendadak mengajukan resign.
"Baiklah, Bu. Kami harap segera di setujui agar kami bisa segera mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluarga kami. Sebelumnya kami minta maaf gak bisa menjadi karyawan setia di NA Beauty."
"Tak apa-apa, Pak. Kami juga mengerti kalau bapak-bapak semuanya butuh biaya hidup yang nggak sedikit. Kami akan usahakan agar pak Narendra bersedia datang secepatnya agar kalian bisa segera cari kerja."
Setelah penjelasan itu, para karyawan yang mengundurkan diri mulai bubar setelah menyerahkan surat resign mereka kepada Killa.
Kini Nofal dan Killa diam dengan hati yang sama sedih melihat jumlah map pengajuan resign yang jumlahnya mungkin lebih dari tiga puluh map. Lalu, pandangan mereka teralihkan pada pabrik yang dikelilingi oleh garis polisi. Keduanya sungguh penasaran siapakah gerangan orang yang sudah berbuat curang hingga membuat pabrik berhenti berproduksi. Beruntungnya produk produk itu tak sampai di tangan konsumen karena sebelum pengedaran dilakukan pengecekan keamanan terlebih dahulu, sehingga dari situlah ditemukan bahwa produk yang mereka hasilnya sangat membahayakan bagi penggunanya. Bahkan bisa menyebabkan penyakit serius yang mematikan.
Segala pemeriksaan dilakukan pada semua bahan produk tersebut dan gangguan di temukan pada bahan utama pembuatan produk yang tercampur zat kimia yang sangat berbahaya. Proses produksi pun di hentikan seketika itu juga. Sudah hampir dua bulan, tapi pelaku yang berbuat kecurangan belum juga diketahui siapa. Sungguh pandai orang itu melakukan kejahatannya hingga sulit di deteksi. Semua karyawan sudah dilakukan pemeriksaan, supplier bahan pun juga sudah di periksa oleh pihak berwajib, bahkan seluruh karyawan NA Beauty diperiksa bahkan CEO nya, tapi diantara mereka semua tak ada yang terbukti melakukan kecurangan.
****
Narendra yang tengah menemani istrinya di ruang rawat sebelum nantinya akan dilakukan serangkaian tes lagi memijit pelipisnya setelah mendapatkan telpon dari asistennya. Ia berjanji akan ke kantor setelah jam makan siang.
Narendra bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya untuk perusahaan yang sudah tujuh tahun ini ia bangun dengan susah payah sebagai bukti cintanya pada Arnita yang memang sudah dicintai Narendra sejak di bangku kuliah.
Para karyawan kompetennya banyak yang mengundurkan diri. Sedangkan pabrik tepat produksi di tutup untuk keperluan penyidikan entah sampai kapan hingga masalah itu terbukti siapa pelakunya. Produksi berhenti tentu penjualan ikut berhenti setelah menghabiskan produk sisa produksi sebelumnya. Tak ada pemasukan, sedangkan gaji karyawan yang bekerja di kantor harus tetap di bayarkan. Tentu sudah jelas terbayang kerugian besar sedang di alami Narendra saat ini. Untuk pesangon para karyawan yang resign masih dipikirkan Narendra dari mana akan mendapatkan uang itu. Keuangan kantor sudah sangat menipis, sedangkan uang pribadinya akan dia gunakan untuk membayar pengobatan sang istri dan gaji para pekerja di rumahnya.
Setelah makan siang, Narendra menitipkan sang istri pada suster. Ia berpamitan untuk datang ke kantor sebentar saja untuk menyelesaikan masalah yang ada disana.
"Maaf ya, aku tinggal dulu. Aku janji gak akan lama. Love you,"
Narendra mencium pucuk kepala Arnita yang terbaring dengan beberapa alat menempel di tubuhnya untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah berpamitan, Narendra gegas keluar dari rumah sakit dan segera menuju kantor yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya saat ini.
"Aku sudah dalam perjalanan. Kumpulkan semua karyawan, baik yang bekerja di kantor pusat maupun di pabrik!" Pinta Narendra pada Nofal yang terhubung melalui sambungan telepon.
"Siap, Pak!"
Narendra memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia ingin segera sampai di kantor dan ingin segera berdiskusi dengan para karyawannya yang memutuskan untuk resign.
"Selamat siang, Pak!" sapa Nofal dan Killa yang sudah menunggu kedatangan Narendra di lobi kantor.
"Siang," Jawab Narendra sambil terus melangkah menuju lift di ikuti oleh Nofal dan Killa.
"Semua sudah berkumpul di ruang rapat, Pak."
"Oke, terimakasih, Nofal, Killa."
"Sama-sama, Pak."
Sesampainya di ruang rapat, Narendra langsung menuju kursi kebesarannya. Ia duduk dan menatap satu-persatu karyawannya sambil mengucapkan selamat siang. Tak ingin berbasa-basi, Narendra langsung saja memulai pada pembahasan inti tentang resignnya beberapa karyawannya.
"Sebelumnya saya mohon maaf atas kendala yang terjadi di pabrik yang tak bisa saya selesaikan dengan cepat. Saya juga mohon maaf karena meliburkan kalian dalam waktu yang lumayan lama hingga berakibat pada perekonomian kalian. Masalah yang terjadi pada bahan utama pembuatan produk kita menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan. Sedangkan dana milik perusahaan yang ada tak mampu menutupi kerugian itu. Semua bahan tak bisa digunakan karena sudah terlanjur tercampur dengan bahan utama yang menurut pemeriksaan mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya untuk kulit. Oleh karena itu, pabrik belum juga dibuka hingga saat ini. Pun tim polisi yang masih melakukan penelusuran terkait adanya campuran pada bahan utama tersebut. Jika memang ada yang mencurangi, semoga dia segera mendapat hidayah. Semoga tim polisi segera menemukan pelaku dan memberikan saksi pidana sesuai peraturan yang ada."
"Saya tak akan melarang kalian untuk resign. Dan beberapa surat resign yang sudah kalian berikan pada sekertaris saya, akan segera saya tandatangani hari ini juga."
"Terimakasih atas kerja keras kalian selama kalian bekerja dengan NA Beauty. Terimakasih sudah memberikan tenaga terbaik kalian untuk perusahaan ini. Jujur saya merasa sangat kehilangan kalian para karyawan yang sudah tahunan ikut dengan perusahaan ini, tapi untuk memaksa kalian tetap bertahan saya rasa saya egois karena kalian pun butuh uang untuk keluarga kalian."
"Untuk yang tetap bertahan saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kalian. Bagi para pekerja di kantor pusat yang sampai saat ini masih bekerja demi mengurus beberapa hal, tenang saja gaji kalian akan tetap saya bayar dengan uang pribadi saya. Jika ada dari kalian yang masih bertahan juga ingin resign saya tak akan melarang karena kantor saat ini tak berjalan sebagaimana mestinya."
Lalu, Narendra meminta Nofal untuk mengambil berkas resign yang akan ditandatangani olehnya. Di depan para karyawan, Narendra menandatangi surat resign itu hingga selesai.
"Bagaimana dengan pesangon kami, Pak?"
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama seka
6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istrinya setelah berjuang di meja operasi.Sesuai kesepakatan kemaren, Arnita akan di operasi hari ini pada jam dua siang. Kini Beberapa dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi pada Arnita. Arnita pun sudah di pakaikan pakaian khusus dan ranjang tempatnya berbaring sudah mulai di dorong menuju ruang operasi. Narendra mengikuti dan berjalan di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang istri. Meskipun bibirnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Arnita, tapi raut wajahnya yang lain tak bisa dibohongi bahwa dia menyimpan kekhawatiran yang begitu besar. Menyimpan ketakutan yang begitu mendalam.Senyum tipis terbit dari bibir Arnita. Wanita
5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon akan diberikan separuh dulu dan sisanya akan segera dilunasi paling lambat dalam waktu satu bulan.""Kamu boleh keluar duluan untuk mengurus sisa gaji dan pesangon untuk mereka. Berikan separuh dulu dari jumlah keseluruhan nominal pesangon yang sudah di tentukan." tunjuk Narendra pada Pak Huda selaku ketua HRD."Killa bantu pak Huda mengurus semua itu!" "Baik, Pak."Karyawan lain yang masih bertahan rupanya tampak gamang antara bertahan atau tidak. Mereka ingin ikut resign tapi sayang akan kedudukan yang sudah mereka dapatkan. Namun, jika tidak resign apa yang akan mereka kerjakan? Sedangkan produksi di hentikan, otomatis promosi, penjualan, pengirimiman, pengepakan dan segala tetek-bengekny
4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-marah gak jelas karena saya gak kerja.""Istri saya pun sama, Pak. Saya bahkan gak di kasih jatah,"Nofal dan Killa kebingungan menghadapi beberapa karyawan pabrik yang datang dengan membawa surat pengunduran diri. Nofal dan Killa tak mau kehilangan para karyawan yang sudah bekerja sangat lama dengan perusahaan NA Beauty. Namun, untuk mencegah, mereka tak bisa berjanji kapan pabrik akan buka. Karena memang masalahnya lumayan pelik karena yang bermasalah pada bahan utamanya. Untuk mencari supplier lain pun bukan hal mudah karena belum tahu kualitas dan kuantitasnya."Bapak-bapak, maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi pada pabrik kita ini. Kami sesungguhnya tak ingin kalian keluar dari pabrik
3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang ekornya hingga membuat ibu Arnita sulit jalan bahkan gak bisa berdiri. Kejadian patah tulang belakang ini jika di telusuri tak begitu jauh jaraknya dari kejadian retaknya tulang ekor ibu Arnita. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan agar kami bisa segera mengambil tindakan untuk pengobatan ibu Arnita. Kalau tidak segera di tangani dengan tepat, kemungkinan terburuk akan terjadi pada ibu Arnita.""Kemungkinan terburuknya apa, Dok?""Kematian,"DegNarendra terkulai lemas di kursi yang berada di depan meja dokter. Ia tak pernah menyangka istrinya akan mengalami kejadian itu. Tak bisa Narend bayangkan jika istrinya pergi selamanya karena kelalaian dirinya."Apakah pukulan itu juga berakibat
2"Tuan, semua pekerja sudah berkumpul di halaman belakang!"Salah satu pekerja di rumah Narendra menginformasikan bahwa semuanya sudah berkumpul sesuai perintah Narendra. Sang tuan yang masih berada di dalam kamar Arnita gegas keluar, ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar dan menyimpan kuncinya ke dalam saku bajunya."Sore!" sapa Narendra kepada para pekerjanya yang menundukkan kepala menyambut kedatangan Narendra."Sore, Tuan!""Sudah lengkap semuanya?""Sudah, Tuan,""Baiklah! Aku tak mau berlama-lama. Aku informasikan kepada kalian bahwa mulai besok kalian aku liburkan semuanya! Entah sampai kapan waktunya, aku akan informasikan kemudian hari. Tapi, kalian tenang saja, aku akan tetap menggaji kalian sebagaimana kalian bekerja tiap harinya. Setiap tanggal sepuluh gaji akan tetap masuk ke rekening kalian. Untuk yang bertugas membersihkan rumah, aku minta seminggu sekali kalian datang untuk membersihkan rumah agar tetap bersih. Kunci aku serahkan kepada Bi Jena. Sebelum besok ka







