Home / Romansa / TERBAKAR DENDAM KESUMAT / Bukan Lagi Milikku

Share

Bukan Lagi Milikku

Author: Sheila FR
last update publish date: 2026-09-20 23:31:29

"Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"

Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.

Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu ya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Tante Gosip

    Jam tujuh pagi, suara motor CBR sudah meraung di depan rumah petak Arnita.Darius datang tepat waktu. Memakai kemeja batik yang kebesaran, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memakai sepatu pantofel yang ujungnya sudah mengelupas. Ia terlihat berusaha tampil meyakinkan sebagai sopir profesional.Narendra yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya. Tatapannya masih tidak suka, tapi kali ini ia tidak langsung marah."Darius sudah datang, Mas," kata Arnita dari dalam rumah sambil memakai jilbab. "Aku pergi dulu ya. Titip rumah.""Mau kemana lagi, Sayang? Kemarin kamu belum cerita jelas," Narendra berbisik pelan, menarik lengan Arnita ke sudut teras agar tidak didengar Darius.Arnita menatap suaminya. Wajah Narendra terlihat lelah. Sejak perusahaannya diambil, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Janggutnya mulai tumbuh tidak rapi."Mas percaya sama aku nggak?" Arnita balik bertanya."Mas selalu percaya sama kamu.""Kalau Mas percaya, izinkan aku pergi hari ini. Aku nggak akan

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Bukan Lagi Milikku

    "Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu yang membuat napasnya memburu."Paula. Yang jual rumah ini namanya Paula? Perempuan paruh baya, kulitnya putih, rambutnya diwarnai cokelat?"Perempuan berdaster itu mengangguk."Iya, Mbak. Tante Paula. Katanya ini rumah warisan anaknya yang sudah meninggal. Jadi dijual murah ke kami karena butuh uang buat biaya haji. Katanya anaknya kecelakaan. Kami juga kasihan, makanya kami beli. Surat-suratnya lengkap kok, Mbak. Ada sertifikat, ada akta jual beli. Tante Paula juga bawa pengacara waktu itu."Set

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Diantar Raja Buaya

    20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Kobaran Api Dendam

    19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Perhatian yang tidak seharusnya

    "Oh, astaga, jeng Intan!! Heran deh sama situ, kok kayak yang gak punya hati gitu loh!"Seru jeng Ami yang merasa jengkel atas perkataan jeng Intan."Heh, kalian gak usah ikut berkomentar! Lagian kalau aku marah kepada Narendra soal dia yang jatuh miskin itu hak aku! Kalian gak usah sok ngebelain anak bodoh ini!"Bukannya merasa bersalah, justru jeng Intan meradang karena merasa mereka ikut campur. Dia merasa benar dengan apa yang di katakan oleh dirinya kepada sang putra."Aku permisi dulu, maaf sudah membuat mama malu akan kondisiku yang sekarang. Maaf juga aku belum bisa ngasih uang bulanan ke mama seperti selama ini. Maafkan anak bodohmu ini. Aku janji tak akan muncul lagi di hadapan mama dengan kondisi yang seperti ini."Narendra begitu terluka akan sikap sang ibu yang membuatnya begitu malu dan merasa begitu terhina di hadapan orang-orang. Dia memilih pergi saja. Mungkin Narendra tak akan pernah datang ke kota ini lagi dalam beberapa waktu ke depan. "Astaga jeng Intan, kamu mem

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   17. Bertemu Raja Buaya

    17Merasa bosan karena tak ada yang bisa dilakukan, sedangkan saat buka sosial tak ada teman yang bisa dihubungi karena lupa nama akun mereka. Arnita memutuskan untuk keluar sebentar guna membeli camilan di warung yang tak begitu jauh dari rumahnya. Rasanya sudah sangat lama Arnita tidak jalan-jalan seperti ini.Walaupun sinar mentari begitu terik, tapi sengatan panasnya tak mampu memudarkan senyum Arnita yang terbit sejak tadi. Ia begitu bersyukur karena Tuhan masih memberinya kesempatan untuk sembuh dan kembali menikmati hidup tanpa lupa akan segala hak dan kewajibannya sebagai umat Islam."Mau kemana mbak?" Seorang lelaki yang terlihat lebih muda dari Arnita yang mengendari motor CBR tiba-tiba berhenti di samping Arnita membuat Arnita mendadak berhenti juga. "Mau ke warung depan," jawab Arnita dengan sedikit tersenyum sambil melanjutkan jalannya."Sekalian yuk bareng, saya juga mau ke sana," ajak pemuda sambil menjalankan motornya perlahan di samping Arnita."Nggak usah, Dik, maka

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Penuh Teka Teki

    7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Operasi

    6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungki

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Jangan tinggalkan aku, Sayang!

    5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon a

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Resign berjamaah

    4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status