LOGIN2
"Tuan, semua pekerja sudah berkumpul di halaman belakang!"
Salah satu pekerja di rumah Narendra menginformasikan bahwa semuanya sudah berkumpul sesuai perintah Narendra. Sang tuan yang masih berada di dalam kamar Arnita gegas keluar, ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar dan menyimpan kuncinya ke dalam saku bajunya.
"Sore!" sapa Narendra kepada para pekerjanya yang menundukkan kepala menyambut kedatangan Narendra.
"Sore, Tuan!"
"Sudah lengkap semuanya?"
"Sudah, Tuan,"
"Baiklah! Aku tak mau berlama-lama. Aku informasikan kepada kalian bahwa mulai besok kalian aku liburkan semuanya! Entah sampai kapan waktunya, aku akan informasikan kemudian hari. Tapi, kalian tenang saja, aku akan tetap menggaji kalian sebagaimana kalian bekerja tiap harinya. Setiap tanggal sepuluh gaji akan tetap masuk ke rekening kalian. Untuk yang bertugas membersihkan rumah, aku minta seminggu sekali kalian datang untuk membersihkan rumah agar tetap bersih. Kunci aku serahkan kepada Bi Jena. Sebelum besok kalian pulang, pastikan semua pintu dan jendela dalam keadaan terkunci tanpa terkecuali!"
Semuanya menyimak informasi dari Narendra dengan saksama. Mereka sangat bahagia di liburkan tapi gaji tetap masuk setiap bulannya. Namun, di hati mereka penuh tanya, mau kemana tuannya hingga meliburkan mereka semua sampai batas waktu yang belum di tentukan.
"Maaf, tuan, kalau saya lancang. Tuan mau pergi kemana?"
"Aku akan pergi membawa istriku berobat, tapi tujuannya aku rahasiakan demi keamanan nyonya kalian. Kalian cukup nikmati liburan kalian tanpa sibuk mencari tahu urusanku! Kalian Faham?"
"Faham, Tuan,"
"Oke, bubar!"
Tak sampai di situ, untuk urusan kantor Narendra memasrahkan semuanya kepada sekertarisnya --Nofal-- bahkan untuk gaji karyawan pun Narendra memasrahkan semuanya kepada lelaki bujang itu dengan di bantu oleh Killa, yang merupakan sekertaris ke dua Narendra.
Narendra memasukkan semua pakaian miliknya juga milik istrinya ke dalam koper besar. Tak ada berkas kantor yang di bawa karena Narendra hanya ingin fokus pada sang istri. Dalam menyiapkan semua keperluannya dan istrinya Narendra menyiapkan seorang diri tanpa bantuan dari ART.
Sebelum mandi, Narendra mengambil air hangat dan lap untuk mengelap tubuh istrinya. Nerendra juga mengganti baju Arnita serta mengganti Pampers yang di gunakan sang istri. Semua Narendra lakukan seorang diri. Ia ingin menebus kesalahannya selama ini yang sudah membiarkan Arnita di rawat oleh orang yang salah.
Sebelum berangkat ia mendatangkan orang-orang bengkel untuk mengecek keamanan mobilnya. Setelah di pastikan aman, barulah ia berangkat dengan menyetir sendiri. Arnita ia baringkan di kursi belakang yang mana kursinya bisa dilentangkan seperti kasur hingga membuat Arnita nyaman dalam tidurnya.
"Sayang, sebentar lagi kita akan hidup tenang. Aku akan merawatmu seorang diri tanpa bantuan siapa pun, karena aku sudah kehilangan kepercayaan ku pada orang untuk merawatmu."
Karena mendengan obrolan mertuanya dan iparnya tadi siang di sebuah restoran, membuat Narendra mengambil keputusan sesingkat ini. Ia ingin segera bertindak sebelum kedua orang itu berbuat hal lebih bahkan tak bisa di bayangkan jika keduanya sampai melenyapkan nyawa Arnita istri tercintanya.
Arnita, yang awalnya tak bisa berjalan karena mengalami kecelakaan tunggal yang menyebabkan tulang ekornya retak hingga mengalami kelumpuhan, dari waktu ke waktu bukan mengalami kesembuhan melainkan kondisinya semakin parah. Bukan hanya tak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, tapi Arnita juga tak bisa bicara. Tak ada perawat, karena Paula yang meminta untuk tak usah menyewa perawat karena Paula sendiri yang bersedia merawat Arnita. Narendra menyetujui, tapi nyatanya kepercayaan yang di berikan Narendra di sia-siakan oleh Paula hingga Paula bisa berbuat sekejam itu pada Arnita dan dalam waktu yang lama.
Setiap Minggu dokter datang untuk mengecek kondisi Arnita, tapi nyatanya dokter yang datang hanyalah seorang dokter gadungan yang disewa Paula untuk mengelabuhi Narendra. Setiap Narendra ingin memeriksakan kondisi Arnita ke rumah sakit, Paula selalu mencegah dan mendatangkan dokter gadungannya. Tak ada yang curiga, karena hubungan Paula dan dokter gadungan itu seperti keluarga pasien dan dokter pada umumnya.
Narendra teramat sangat menyesal karena begitu menaruh kepercayaan besar kepada Paula yang merupakan ibu kandung Arnita. Narendra sungguh tak menyangka bahwa Paula akan se tega itu kepada anak kandungnya sendiri.
Narendra tidak membebaskan dua orang itu begitu saja. Ia sudah meminta orang untuk mengawasi keduanya bahkan kartu ATM keduanya sudah di bekukan oleh Narendra. Narendra nanti juga akan menyerahkan botol obat yang selama ini di konsumsi Arnita kepada dokter untuk di periksa jenis obat apakah yang sudah di berikan kepada Arnita. Tinggal menunggu obat itu di periksa dan setelah Arnita melakukan rekam medis, maka Narendra akan melaporkan keduanya kepada pihak berwajib dengan bukti yang lengkap hingga keduanya tak bisa lagi berkutik.
"Kita akan memulai hidup baru, di lingkungan baru, di mana orang-orang tak akan ada yang mengenali kita."
Setelah sekian jam perjalanan, tibalah mobil yang dikendarai oleh Narendra di sebuah rumah yang tak semewah rumah miliknya di kota. Rumah ini hanya berukuran 8×12cm. Rumah bercat hijau dengan model yang sederhana ini menjadi pilihan Narendra untuk tempat tinggalnya dengan sang istri. Tak hanya itu, lokasi rumah yang berada di puncak dan sekitaran rumah di kelilingi kebun teh membuat suasana semakin terlihat begitu sejuk dan asri. Suasana tersebut menjadi penyejuk setelah sekian tahun tinggal di tengah hiruk-pikuk kehidupan di kota besar, apalagi Jakarta.
Setelah menepikan mobilnya di samping rumah, Narendra langsung mengangkat tubuh ringkih Arnita dan membawanya masuk ke dalam rumah. Cuaca yang sangat dingin membuat Narendra sedikit berlari memasuki rumah barunya agar Arnita tak terlalu lama kedinginan. Setelah sampai di kamar, gegas Narendra meletakkan Arnita di atas pembaringan dan menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.
"Maaf ya, sayang, aku membawamu kesini pada malam hari seperti ini. Kamu pasti sangat kedinginan." kata Narendra sambil mengelus pucuk kepala Arnita dan mengecupnya.
Arnita hanya berkedip untuk merespon ucapan Narendra. Pada bibirnya terbit sebuah senyum samar yang masih mampu terlihat oleh sang suami.
"Tunggu sebentar, ya, aku mau ambil barang-barang kita di mobil, sekaligus menemui pemilik pertama rumah ini yang sepertinya sudah menunggu di depan,"
Narendra berlalu meninggalkan Arnita seorang diri di kamar yang masih terasa sangat asing bagi perempuan itu. Setelah kepergian Narendra, setetes air mata jatuh dari kedua sudut mata Arnita. Ia merasa menjadi istri yang sangat tidak berguna yang tak bisa melayani segala kebutuhan suaminya. Ia pun mengutyk kedua wanita yang menjadi penyebab dirinya lumpuh seperti ini. Jika menjalani pengobatan dengan normal, tentu saat ini Arnita sudah bisa melakukan segala macam aktivitas. Namun, karena kelicikan dua wanita yang masih terikat hubungan dengannya itu, membuat Arnita kehilangan semua fungsi otot-ototnya. Membuat Arnita layaknya mayat hidup yang tak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk sekedar mengucapkan satu huruf saja.
Jam 9 pagi, kantor Om Brian bau kacang goreng dan kopi sachet.Di atas meja ada satu kertas somasi yang kalau dibaca orang normal, pasti dikira surat cinta yang salah kirim.Om Brian pakai kacamata bacanya setengah turun, kayak mau ngintip janda mandi.Ia baca dengan suara khidmat:_"Dengan hormat, kepada Saudara Nofal bin Junaidi dan Saudari Sasmitha binti Hartono di Griya Permata No.7..."__"Sehubungan dengan ditemukannya BUG pada sistem kehamilan Anda..."_Arnita yang lagi minum teh langsung keselek."BUG, Om?""Iya. Kan kehamilannya nge-bug. Masa nikah 14 Juli, Agustus hamil 3 bulan. Ini bukan hamil, ini update software yang gagal."Darius yang duduk di sofa sambil mainin helm langsung tepuk tangan."Gila, Om. Ini somasi paling berfaedah se-Indonesia. Biasanya somasi isinya pasal-pasal bikin ngantuk, ini isinya roasting."Om Brian lanjut baca, makin serius:_"Bahwa berdasarkan kalender Masehi, kalender Hijriyah, kalender Jawa, bahkan kalender promo Indomaret, jarak antara 14 Juli
Jam tiga sore, Kantor KUA sepi kayak kuburan. AC mati, kipas angin bunyi krek-krek-krek kayak lagi batuk TBC.Pak Haji Ridwan membuka buku nikah segede bantal guling."Ah, ketemu. Sasmitha binti Hartono dengan Nofal bin Junaidi. Tanggal 14 Juli tahun ini."Di dalam otak Arnita langsung ada kalkulator meledak._Oke, 14 Juli nikah, sekarang Agustus ngaku hamil 3 bulan. Juli ke Agustus itu baru satu bulan. Satu bulan hamil tiga bulan? Ini hamilnya pakai paket express Shopee? Pesan hari ini, hamil tiga bulan besok sampai? Atau jangan-jangan dia pakai ilmu mengkoding? Hamilnya di-download dulu file-nya 3 bulan baru di-install bulan Juli?_Mak Yati yang dari tadi pura-pura jadi patung di pojokan langsung kesetrum.Matanya melotot, dasternya hampir melorot."14 JULI? AGUSTUS HAMIL 3 BULAN? HEH! Ini hamilnya pakai tol langit? Ngebut amat! Baru nikah 30 hari kok isi perutnya sudah 90 hari! Ini bayi apa cicilan panci? Bunga nya kebanyakan!"Darius berbisik ke Arnita sambil nutupin mulut pakai h
Jam tujuh pagi, suara motor CBR sudah meraung di depan rumah petak Arnita.Darius datang tepat waktu. Memakai kemeja batik yang kebesaran, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memakai sepatu pantofel yang ujungnya sudah mengelupas. Ia terlihat berusaha tampil meyakinkan sebagai sopir profesional.Narendra yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya. Tatapannya masih tidak suka, tapi kali ini ia tidak langsung marah."Darius sudah datang, Mas," kata Arnita dari dalam rumah sambil memakai jilbab. "Aku pergi dulu ya. Titip rumah.""Mau kemana lagi, Sayang? Kemarin kamu belum cerita jelas," Narendra berbisik pelan, menarik lengan Arnita ke sudut teras agar tidak didengar Darius.Arnita menatap suaminya. Wajah Narendra terlihat lelah. Sejak perusahaannya diambil, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Janggutnya mulai tumbuh tidak rapi."Mas percaya sama aku nggak?" Arnita balik bertanya."Mas selalu percaya sama kamu.""Kalau Mas percaya, izinkan aku pergi hari ini. Aku nggak akan
"Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu yang membuat napasnya memburu."Paula. Yang jual rumah ini namanya Paula? Perempuan paruh baya, kulitnya putih, rambutnya diwarnai cokelat?"Perempuan berdaster itu mengangguk."Iya, Mbak. Tante Paula. Katanya ini rumah warisan anaknya yang sudah meninggal. Jadi dijual murah ke kami karena butuh uang buat biaya haji. Katanya anaknya kecelakaan. Kami juga kasihan, makanya kami beli. Surat-suratnya lengkap kok, Mbak. Ada sertifikat, ada akta jual beli. Tante Paula juga bawa pengacara waktu itu."Set
20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D
19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya
6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungki
3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang
"Apa-apaan ini Narendra? Kenapa baju mama dan kakak iparmu ada di dalam koper?"Wanita paruh baya berpenampilan sosialita dengan rambut di sanggul itu menatap penuh tanya serta penuh amarah kepada menantunya yang ia panggil Narendra. Paula namanya, wanita itu sungguh tak mengerti kenapa seluruh pak







