Home / Romansa / TERBAKAR DENDAM KESUMAT / Rumah Hijau di Puncak

Share

Rumah Hijau di Puncak

Author: Sheila FR
last update publish date: 2026-05-03 11:14:44

2

"Tuan, semua pekerja sudah berkumpul di halaman belakang!"

Salah satu pekerja di rumah Narendra menginformasikan bahwa semuanya sudah berkumpul sesuai perintah Narendra. Sang tuan yang masih berada di dalam kamar Arnita gegas keluar, ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar dan menyimpan kuncinya ke dalam saku bajunya.

"Sore!" sapa Narendra kepada para pekerjanya yang menundukkan kepala menyambut kedatangan Narendra.

"Sore, Tuan!"

"Sudah lengkap semuanya?"

"Sudah, Tuan,"

"Baiklah! Aku tak mau berlama-lama. Aku informasikan kepada kalian bahwa mulai besok kalian aku liburkan semuanya! Entah sampai kapan waktunya, aku akan informasikan kemudian hari. Tapi, kalian tenang saja, aku akan tetap menggaji kalian sebagaimana kalian bekerja tiap harinya. Setiap tanggal sepuluh gaji akan tetap masuk ke rekening kalian. Untuk yang bertugas membersihkan rumah, aku minta seminggu sekali kalian datang untuk membersihkan rumah agar tetap bersih. Kunci aku serahkan kepada Bi Jena. Sebelum besok kalian pulang, pastikan semua pintu dan jendela dalam keadaan terkunci tanpa terkecuali!"

Semuanya menyimak informasi dari Narendra dengan saksama. Mereka sangat bahagia di liburkan tapi gaji tetap masuk setiap bulannya. Namun, di hati mereka penuh tanya, mau kemana tuannya hingga meliburkan mereka semua sampai batas waktu yang belum di tentukan.

"Maaf, tuan, kalau saya lancang. Tuan mau pergi kemana?"

"Aku akan pergi membawa istriku berobat, tapi tujuannya aku rahasiakan demi keamanan nyonya kalian. Kalian cukup nikmati liburan kalian tanpa sibuk mencari tahu urusanku! Kalian Faham?"

"Faham, Tuan,"

"Oke, bubar!"

Tak sampai di situ, untuk urusan kantor Narendra memasrahkan semuanya kepada sekertarisnya --Nofal-- bahkan untuk gaji karyawan pun Narendra memasrahkan semuanya kepada lelaki bujang itu dengan di bantu oleh Killa, yang merupakan sekertaris ke dua Narendra.

Narendra memasukkan semua pakaian miliknya juga milik istrinya ke dalam koper besar. Tak ada berkas kantor yang di bawa karena Narendra hanya ingin fokus pada sang istri. Dalam menyiapkan semua keperluannya dan istrinya Narendra menyiapkan seorang diri tanpa bantuan dari ART.

Sebelum mandi, Narendra mengambil air hangat dan lap untuk mengelap tubuh istrinya. Nerendra juga mengganti baju Arnita serta mengganti Pampers yang di gunakan sang istri. Semua Narendra lakukan seorang diri. Ia ingin menebus kesalahannya selama ini yang sudah membiarkan Arnita di rawat oleh orang yang salah.

Sebelum berangkat ia mendatangkan orang-orang bengkel untuk mengecek keamanan mobilnya. Setelah di pastikan aman, barulah ia berangkat dengan menyetir sendiri. Arnita ia baringkan di kursi belakang yang mana kursinya bisa dilentangkan seperti kasur hingga membuat Arnita nyaman dalam tidurnya.

"Sayang, sebentar lagi kita akan hidup tenang. Aku akan merawatmu seorang diri tanpa bantuan siapa pun, karena aku sudah kehilangan kepercayaan ku pada orang untuk merawatmu."

Karena mendengan obrolan mertuanya dan iparnya tadi siang di sebuah restoran, membuat Narendra mengambil keputusan sesingkat ini. Ia ingin segera bertindak sebelum kedua orang itu berbuat hal lebih bahkan tak bisa di bayangkan jika keduanya sampai melenyapkan nyawa Arnita istri tercintanya.

Arnita, yang awalnya tak bisa berjalan karena mengalami kecelakaan tunggal yang menyebabkan tulang ekornya retak hingga mengalami kelumpuhan, dari waktu ke waktu bukan mengalami kesembuhan melainkan kondisinya semakin parah. Bukan hanya tak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, tapi Arnita juga tak bisa bicara. Tak ada perawat, karena Paula yang meminta untuk tak usah menyewa perawat karena Paula sendiri yang bersedia merawat Arnita. Narendra menyetujui, tapi nyatanya kepercayaan yang di berikan Narendra di sia-siakan oleh Paula hingga Paula bisa berbuat sekejam itu pada Arnita dan dalam waktu yang lama.

Setiap Minggu dokter datang untuk mengecek kondisi Arnita, tapi nyatanya dokter yang datang hanyalah seorang dokter gadungan yang disewa Paula untuk mengelabuhi Narendra. Setiap Narendra ingin memeriksakan kondisi Arnita ke rumah sakit, Paula selalu mencegah dan mendatangkan dokter gadungannya. Tak ada yang curiga, karena hubungan Paula dan dokter gadungan itu seperti keluarga pasien dan dokter pada umumnya.

Narendra teramat sangat menyesal karena begitu menaruh kepercayaan besar kepada Paula yang merupakan ibu kandung Arnita. Narendra sungguh tak menyangka bahwa Paula akan se tega itu kepada anak kandungnya sendiri.

Narendra tidak membebaskan dua orang itu begitu saja. Ia sudah meminta orang untuk mengawasi keduanya bahkan kartu ATM keduanya sudah di bekukan oleh Narendra. Narendra nanti juga akan menyerahkan botol obat yang selama ini di konsumsi Arnita kepada dokter untuk di periksa jenis obat apakah yang sudah di berikan kepada Arnita. Tinggal menunggu obat itu di periksa dan setelah Arnita melakukan rekam medis, maka Narendra akan melaporkan keduanya kepada pihak berwajib dengan bukti yang lengkap hingga keduanya tak bisa lagi berkutik.

"Kita akan memulai hidup baru, di lingkungan baru, di mana orang-orang tak akan ada yang mengenali kita."

Setelah sekian jam perjalanan, tibalah mobil yang dikendarai oleh Narendra di sebuah rumah yang tak semewah rumah miliknya di kota. Rumah ini hanya berukuran 8×12cm. Rumah bercat hijau dengan model yang sederhana ini menjadi pilihan Narendra untuk tempat tinggalnya dengan sang istri. Tak hanya itu, lokasi rumah yang berada di puncak dan sekitaran rumah di kelilingi kebun teh membuat suasana semakin terlihat begitu sejuk dan asri. Suasana tersebut menjadi penyejuk setelah sekian tahun tinggal di tengah hiruk-pikuk kehidupan di kota besar, apalagi Jakarta.

Setelah menepikan mobilnya di samping rumah, Narendra langsung mengangkat tubuh ringkih Arnita dan membawanya masuk ke dalam rumah. Cuaca yang sangat dingin membuat Narendra sedikit berlari memasuki rumah barunya agar Arnita tak terlalu lama kedinginan. Setelah sampai di kamar, gegas Narendra meletakkan Arnita di atas pembaringan dan menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.

"Maaf ya, sayang, aku membawamu kesini pada malam hari seperti ini. Kamu pasti sangat kedinginan." kata Narendra sambil mengelus pucuk kepala Arnita dan mengecupnya.

Arnita hanya berkedip untuk merespon ucapan Narendra. Pada bibirnya terbit sebuah senyum samar yang masih mampu terlihat oleh sang suami.

"Tunggu sebentar, ya, aku mau ambil barang-barang kita di mobil, sekaligus menemui pemilik pertama rumah ini yang sepertinya sudah menunggu di depan,"

Narendra berlalu meninggalkan Arnita seorang diri di kamar yang masih terasa sangat asing bagi perempuan itu. Setelah kepergian Narendra, setetes air mata jatuh dari kedua sudut mata Arnita. Ia merasa menjadi istri yang sangat tidak berguna yang tak bisa melayani segala kebutuhan suaminya. Ia pun mengutyk kedua wanita yang menjadi penyebab dirinya lumpuh seperti ini. Jika menjalani pengobatan dengan normal, tentu saat ini Arnita sudah bisa melakukan segala macam aktivitas. Namun, karena kelicikan dua wanita yang masih terikat hubungan dengannya itu, membuat Arnita kehilangan semua fungsi otot-ototnya. Membuat Arnita layaknya mayat hidup yang tak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk sekedar mengucapkan satu huruf saja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Pak, Tolong Saya!

    10"Eh, Jeng Intan, beneran ya kalau pabrik NA beauty sudah di jual ke orang lain?" tanya Jeng Lani, teman sosialita jeng Intan yang saat ini mereka tengah berkumpul di rumah jeng Uyun dalam acara arisan."Iya, aku denger juga. Terus Narendra katanya pergi ya bawa istrinya berobat tapi tak ada yang tahu kemana?" Jeng Ami turut menyuarakan pendapatnya perihal apa yang ia dengar dari desas desus di luaran sana."Sayang banget, ya. Padahal produk NA beauty booming banget loh. Kaget ajah tiba-tiba denger berita kalau NA beauty berhenti berproduksi karena ada kesalahan pada bahan utamanya.""Iya, sayang banget. Padahal aku dan anak-anakku pake NA Beauty dan cocok banget sama kulit kami.""Tapi, kok aku gak denger kabar lanjutannya ya siapa pelakunya?""Sama aku juga gak denger. Eh, ada kabar baru malah tentang penjualan pabriknya."

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Sakit banget, Mas

    "Jangan mengatakan apapun pada yang lainnya terutama Narendra. Kalau sampai kamu buka mulut, jangan salahkan aku kalau majikanmu ini akan meregang nyawa karena bocornya mulutmu itu! Paham?"Sasmitha mengancam Bi Marni agar tak buka suara, sehingga karena ketakutannya akan keselamatan sang majikan Bi Marni memilih mengiyakan apa yang di katakan Sasmitha. Bahkan Bi Marni dan pekerja lainnya yang bertugas di dapur ataupun kebersihan di larang memasuki kamar itu lagi dengan alasan demi kesehatan Arnita dan mengatas namakan Narendra atas perintah itu. Narendra yang disibukkan dengan masalah kantor membuat para pekerjanya percaya bahwa perintah itu datang dari sang tuan.Semakin hari keduanya semakin menjadi. Paula semakin termakan bujuk rayu Sasmitha. Ia benar-benar mengabaikan Arnita dan menganggap bahwa Arnita itu hanyalah beban bagi dirinya. Ia semakin menuruti kemauan Sasmitha. Bahkan semua perhiasan Arnita sudah l

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Kejujuran yang perlahan terbuka

    8"Sayang, maaf sudah membuatmu khawatir," sesal Narendra saat sudah tiba di ruang rawat Arnita."Kamu kemana saja, Mas?""Ada masalah di kantor dan pabrik. Aku tadi masih mengurus itu semua. Maaf ya, aku gak bilang dulu sama kamu tadi kalau aku masih ada urusan hingga membuat kamu khawatir.""Aku takut kamu kenapa-kenapa, Mas. Aku khawatir banget.""Maaf, ya,"Sekalipun pikirannya kalut, Narendra tak ingin membuat sang istri ikut kepikiran sehingga dia berusaha menampilkan ekspresi yang baik-baik saja. Ia memeluk erat sang istri berusaha mencari ketenangan akan hatinya yang gundah gulana."Kamu penyemangatku, tujuan hidupku. Sekalipun semua pergi dariku, aku harap kamu tak akan ikut pergi bersama mereka. Aku hancur tanpamu, Ta. Kamu pelangiku, cahayaku. Kamu satu-satunya kekuatan yang aku punya saat ini. Love you more and forever."

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Penuh Teka Teki

    7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama seka

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Operasi

    6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istrinya setelah berjuang di meja operasi.Sesuai kesepakatan kemaren, Arnita akan di operasi hari ini pada jam dua siang. Kini Beberapa dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi pada Arnita. Arnita pun sudah di pakaikan pakaian khusus dan ranjang tempatnya berbaring sudah mulai di dorong menuju ruang operasi. Narendra mengikuti dan berjalan di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang istri. Meskipun bibirnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Arnita, tapi raut wajahnya yang lain tak bisa dibohongi bahwa dia menyimpan kekhawatiran yang begitu besar. Menyimpan ketakutan yang begitu mendalam.Senyum tipis terbit dari bibir Arnita. Wanita

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Jangan tinggalkan aku, Sayang!

    5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon akan diberikan separuh dulu dan sisanya akan segera dilunasi paling lambat dalam waktu satu bulan.""Kamu boleh keluar duluan untuk mengurus sisa gaji dan pesangon untuk mereka. Berikan separuh dulu dari jumlah keseluruhan nominal pesangon yang sudah di tentukan." tunjuk Narendra pada Pak Huda selaku ketua HRD."Killa bantu pak Huda mengurus semua itu!" "Baik, Pak."Karyawan lain yang masih bertahan rupanya tampak gamang antara bertahan atau tidak. Mereka ingin ikut resign tapi sayang akan kedudukan yang sudah mereka dapatkan. Namun, jika tidak resign apa yang akan mereka kerjakan? Sedangkan produksi di hentikan, otomatis promosi, penjualan, pengirimiman, pengepakan dan segala tetek-bengekny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status