Share

TERBAKAR DENDAM KESUMAT
TERBAKAR DENDAM KESUMAT
Author: Sheila FR

Pengusiran

Author: Sheila FR
last update publish date: 2026-05-03 11:11:45

"Apa-apaan ini Narendra? Kenapa baju mama dan kakak iparmu ada di dalam koper?"

Wanita paruh baya berpenampilan sosialita dengan rambut di sanggul itu menatap penuh tanya serta penuh amarah kepada menantunya yang ia panggil Narendra. Paula namanya, wanita itu sungguh tak mengerti kenapa seluruh pakaiannya berada di dalam koper dan di letakkan di depan kamar yang selama ini ditempatinya dan kamar itu sudah terkunci, keadaan itu sama persis dengan kamar sebelah yang di tempati putrinya.

"Mama masih bertanya kenapa? Yang jelas mulai saat ini mama dan anak mama itu silahkan pergi dari sini sekarang juga sebelum aku mengusir kalian secara paksa!"

Jawab Narendra dengan penuh penekanan. Lelaki jangkung berkumis tipis serta memiliki jambang di kedua sisi wajahnya itu mati-matian menahan emosinya agar tak meledak. Ia masih memberikan keduanya kesempatan untuk angkat kaki dari rumahnya sebelum dirinya benar-benar meluapkan emosinya jika mereka berani membantah.

"Apa maksud kamu, Nak? Mama sungguh bingung dan tak mengerti kenapa mama di usir? Mama sungguh terkejut kamu tiba-tiba berubah kasar begini!"

Paula begitu kebingungan dengan sikap menantunya yang tiba-tiba berubah. Narendra yang selama ini begitu hormat dan sopan kepada dirinya kini berubah menjadi menantu jahat dan tak memiliki hati. Ada apa di balik semua ini?

"Tak usah banyak tanya, yang jelas sekarang silahkan kalian pergi dari sini!"

"Jelaskan dulu apa kesalahan kami sehingga kami tiba-tiba di usir!"

"Tak ada yang perlu di jelaskan! Kalian cukup keluar dari sini maka semuanya akan selesai!"

"Narendra, apa kamu kerasukan sehingga kamu tiba-tiba jadi orang jahat seperti ini?"

"Pergilah! Sebentar lagi taksi akan datang menjemput kalian!"

"Naren! Beginikah balasan kamu kepada mama yang sudah dengan suka rela merawat istri lumpuhmu itu? Bahkan aku tak tahu apa kesalahanku sehingga kau begitu kejam dan tega mengusir kami!" dengan wajah melasnya, Paula berkata sambil menatap penuh permohonan kepada menantunya tersebut.

"Apa salah kami adik ipar sehingga kau tiba-tiba mengusir kami? Kami akan tinggal di mana?" Sasmitha, kakak ipar Narendra turut memelas berharap Narendra iba kepada mereka.

"Pergi sekarang juga!" kata Narendra dengan penuh penekanan dan berlalu begitu saja meninggalkan kedua wanita yang tampak emosi karena diusir tanpa penjelasan.

"Dasar mantu kurang ajar, mantu gila! Gak tahu terimakasih! Udah di bantu malah menendang! Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba ngusir."

Umpat Paula yang tentunya masih di dengar jelas oleh Narendra, tapi di abaikan oleh lelaki itu. Ia terus melangkah menuju kamar wanita yang sudah empat tahun menemani dirinya.

"Kita harus bagaimana ini, Ma?" tanya sasmitha sambil melangkah menuju kursi ruang keluarga yang semula di duduki Narendra.

"Mama juga gak tahu, Tha. Mama masih syok ini kenapa Naren tiba-tiba ngusir kita." jawab Paula yang ikut duduk di samping Sasmitha.

"Maaf, Nyonya, Nona, silahkan, taksi sudah menunggu kalian di luar. Tuan Naren juga memerintahkan agar kalian segera pergi dari sini!"

Seorang satpam bernama Juki menghampiri Paula dan Sasmita. Kedua wanita itu terkejut dengan kedatangan satpam yang menyuruh mereka untuk segera keluar dari rumah ini.

"Kita gak mau pergi! Kita gak berbuat salah apapun! Ingat, putriku istri dari tuanmu, jadi aku masih berhak tinggal disini karena ini juga rumah putriku. Selama Arnita masih jadi istri Narendra, selama itu pula aku punya hak tinggal di sini!"

"Maaf, Nyonya, saya hanya menjalankan tugas dari tuan saya. Mari saya bantu bawakan koper nyonya dan Nona,"

Pak Juki sudah meraih koper yang masih tergeletak di depan kamar. Ia hendak menarik kedua koper tersebut, tapi gegas Paula dan sasmitha menarik koper milik mereka masing-masing hingga pak Juki hampir saja terjungkal kebelakang.

"Jangan kurang ajar, Juki! Kamu hanya pekerja disini!" kata Sasmitha menghina pak Juki.

"Oleh karena itu, Nona. Karena saya hanya pekerja jadi saya hanya berusaha menjalankan perintah majikan saya agar tuan saya tak marah." jawab pak Juki tegas tanpa ada rasa takut sedikitpun, karena Narendra sudah berpesan agar tak perlu menghormati kedua wanita di depannya ini.

"Naren! Naren! Keluar kamu! Kurang ajar kamu ya! Mantu tak punya hati! Tak tahu terimakasih! Tega-teganya ngusir mertua sendiri setelah apa yang aku lakukan untuk istrimu selama ini! Apa maksud kamu mengusir aku dan Sasmitha tanpa penjelasan? Kamu ingin menjauhkan aku dari putriku yang kondisinya sangat membutuhkan aku? Kamu punya niatan jahat pada putriku hingga kamu menyingkirkan kami agar tak mengganggu niat jahatmu itu?"

Paula melangkah menuju kamar yang selama ini di tempati oleh Anita, putrinya.

"Narendra! Kau tuli? Kalau kau ada niat jahat pada putriku, aku tak akan pernah tinggal diam. Aku akan membawa Arnita pergi dari sini!"

Narendra hanya tersenyum sinis mendengar perkataan ibu mertuanya tersebut. Ia tak menanggapi, tangan kanannya sibuk mengusap pipi tirus Arnita, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Arnita yang terkulai lemah.

"Pergi atau aku akan berbuat kasar padamu!"

"Hiks, putriku Arnita, lihatlah suamimu! Beginikah sikapnya pada wanita tua yang sudah melahirkanmu ini?" adu Paula pada Arnita yang hanya menatapnya datar tanpa mau berniat menanggapi ucapan Paula.

"Arnita, jangan diam saja, Nak. Suamimu memiliki niat jahat padamu! Suamimu sudah mengusir mama dari sini. Mama takut terjadi apa-apa padamu, Nak,"

Narendra merasa muak dengan drama yang di tampilkan oleh mertuanya tersebut. Ia lantas menelpon scurity meminta untuk menyeret paksa Paula agar keluar dari rumahnya.

Setelah Paula diseret paksa untuk keluar, Narendra segera menuju pintu dan menguncinya dari dalam. Ia mengabaikan teriakan Paula dan sasmitha yang meminta di lepaskan diiringi cacian serta umpatan yang keluar dari mulut keduanya kepada scurity yang menyeret mereka keluar.

"Lepaskan! Kalian kurang ajar padaku! Aku pastikan Arnita akan memecat kalian!"

"Lepaskan kami brengsek! Tuan kalian itu gila! Jangan ikut gila seperti dia! Lepaskan!"

"Aku mau bantu putriku! Aku mau menyelamatkan Arnita dari Narendra yang berubah jadi monster! Aku tak ingin anakku kenapa-kenapa!"

"Lepaskan! Kalau terjadi apa-apa pada adikku aku tak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang! Aku akan membuat kalian membusuk di penjara!"

"Lepaskaaaaan!!!"

Paula dan Sasmitha berusaha melepaskan cekalan tangan mereka dari dua lelaki berbadan besar yang membuat kedua tangan mereka kesakitan. Paula dan Sasmitha terus berontak dengan berusaha menendang tulang kering kedua scurity tersebut. Bahkan si Otong pun jadi sasaran tendangan dua wanita yang tampilannya sudah tak karuan itu.

Setelah mengunci pintu, Narendra kembali melangkah mendekati ranjang sang istri. Ia tersenyum penuh arti menatap tepat di kedua manik coklat milik Arnita.

"Halo sayang,"

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Penuh Teka Teki

    7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya tubuh Arnita tak sekaku sebelum menjalani operasi. Ia bersyukur Tuhan masih mengizinkan dirinya untuk bertahan lebih lama disisi sang suami.Saat ini Arnita sedang ditemani oleh suster karena Narendra masih pulang untuk mengantatkan pakaian kotor ke tempat laundry serta mengambil pakaian lainnya yang bersih. Setiap tiga hari sekali Narendra akan pulang ke rumah baru mereka untuk berganti pakaian. Miris? Tentu saja. Mereka seolah hanya hidup berdua di bumi ini. Bak tak memiliki satu pun sanak saudara yang bisa bergantian berjaga. Kedua mama mereka memang masih hidup, tapi tak ada yang peduli dari keduanya. Satunya yang sudah tega mencelakai, dan satunya lagi tak memiliki rasa peduli sama seka

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Operasi

    6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada istrinya setelah berjuang di meja operasi.Sesuai kesepakatan kemaren, Arnita akan di operasi hari ini pada jam dua siang. Kini Beberapa dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi pada Arnita. Arnita pun sudah di pakaikan pakaian khusus dan ranjang tempatnya berbaring sudah mulai di dorong menuju ruang operasi. Narendra mengikuti dan berjalan di samping ranjang sambil menggenggam tangan sang istri. Meskipun bibirnya tersenyum untuk memberikan semangat pada Arnita, tapi raut wajahnya yang lain tak bisa dibohongi bahwa dia menyimpan kekhawatiran yang begitu besar. Menyimpan ketakutan yang begitu mendalam.Senyum tipis terbit dari bibir Arnita. Wanita

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Jangan tinggalkan aku, Sayang!

    5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon akan diberikan separuh dulu dan sisanya akan segera dilunasi paling lambat dalam waktu satu bulan.""Kamu boleh keluar duluan untuk mengurus sisa gaji dan pesangon untuk mereka. Berikan separuh dulu dari jumlah keseluruhan nominal pesangon yang sudah di tentukan." tunjuk Narendra pada Pak Huda selaku ketua HRD."Killa bantu pak Huda mengurus semua itu!" "Baik, Pak."Karyawan lain yang masih bertahan rupanya tampak gamang antara bertahan atau tidak. Mereka ingin ikut resign tapi sayang akan kedudukan yang sudah mereka dapatkan. Namun, jika tidak resign apa yang akan mereka kerjakan? Sedangkan produksi di hentikan, otomatis promosi, penjualan, pengirimiman, pengepakan dan segala tetek-bengekny

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Resign berjamaah

    4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-marah gak jelas karena saya gak kerja.""Istri saya pun sama, Pak. Saya bahkan gak di kasih jatah,"Nofal dan Killa kebingungan menghadapi beberapa karyawan pabrik yang datang dengan membawa surat pengunduran diri. Nofal dan Killa tak mau kehilangan para karyawan yang sudah bekerja sangat lama dengan perusahaan NA Beauty. Namun, untuk mencegah, mereka tak bisa berjanji kapan pabrik akan buka. Karena memang masalahnya lumayan pelik karena yang bermasalah pada bahan utamanya. Untuk mencari supplier lain pun bukan hal mudah karena belum tahu kualitas dan kuantitasnya."Bapak-bapak, maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi pada pabrik kita ini. Kami sesungguhnya tak ingin kalian keluar dari pabrik

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Pemeriksaan

    3"Menurut hasil pemeriksaan, ibu Arnita mengalami kelumpuhan akibat pukulan atau benturan pada tulang belakangnya. Tak ada penanganan yang tepat sehingga menyebabkan ibu Arnita tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Dari riwayat penyakit, sebelumnya ibu Arnita pernah mengalami retak pada tulang ekornya hingga membuat ibu Arnita sulit jalan bahkan gak bisa berdiri. Kejadian patah tulang belakang ini jika di telusuri tak begitu jauh jaraknya dari kejadian retaknya tulang ekor ibu Arnita. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan agar kami bisa segera mengambil tindakan untuk pengobatan ibu Arnita. Kalau tidak segera di tangani dengan tepat, kemungkinan terburuk akan terjadi pada ibu Arnita.""Kemungkinan terburuknya apa, Dok?""Kematian,"DegNarendra terkulai lemas di kursi yang berada di depan meja dokter. Ia tak pernah menyangka istrinya akan mengalami kejadian itu. Tak bisa Narend bayangkan jika istrinya pergi selamanya karena kelalaian dirinya."Apakah pukulan itu juga berakibat

  • TERBAKAR DENDAM KESUMAT   Rumah Hijau di Puncak

    2"Tuan, semua pekerja sudah berkumpul di halaman belakang!"Salah satu pekerja di rumah Narendra menginformasikan bahwa semuanya sudah berkumpul sesuai perintah Narendra. Sang tuan yang masih berada di dalam kamar Arnita gegas keluar, ia mengunci pintu kamar tersebut dari luar dan menyimpan kuncinya ke dalam saku bajunya."Sore!" sapa Narendra kepada para pekerjanya yang menundukkan kepala menyambut kedatangan Narendra."Sore, Tuan!""Sudah lengkap semuanya?""Sudah, Tuan,""Baiklah! Aku tak mau berlama-lama. Aku informasikan kepada kalian bahwa mulai besok kalian aku liburkan semuanya! Entah sampai kapan waktunya, aku akan informasikan kemudian hari. Tapi, kalian tenang saja, aku akan tetap menggaji kalian sebagaimana kalian bekerja tiap harinya. Setiap tanggal sepuluh gaji akan tetap masuk ke rekening kalian. Untuk yang bertugas membersihkan rumah, aku minta seminggu sekali kalian datang untuk membersihkan rumah agar tetap bersih. Kunci aku serahkan kepada Bi Jena. Sebelum besok ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status