LOGINJam tiga sore, Kantor KUA sepi kayak kuburan. AC mati, kipas angin bunyi krek-krek-krek kayak lagi batuk TBC.Pak Haji Ridwan membuka buku nikah segede bantal guling."Ah, ketemu. Sasmitha binti Hartono dengan Nofal bin Junaidi. Tanggal 14 Juli tahun ini."Di dalam otak Arnita langsung ada kalkulator meledak._Oke, 14 Juli nikah, sekarang Agustus ngaku hamil 3 bulan. Juli ke Agustus itu baru satu bulan. Satu bulan hamil tiga bulan? Ini hamilnya pakai paket express Shopee? Pesan hari ini, hamil tiga bulan besok sampai? Atau jangan-jangan dia pakai ilmu mengkoding? Hamilnya di-download dulu file-nya 3 bulan baru di-install bulan Juli?_Mak Yati yang dari tadi pura-pura jadi patung di pojokan langsung kesetrum.Matanya melotot, dasternya hampir melorot."14 JULI? AGUSTUS HAMIL 3 BULAN? HEH! Ini hamilnya pakai tol langit? Ngebut amat! Baru nikah 30 hari kok isi perutnya sudah 90 hari! Ini bayi apa cicilan panci? Bunga nya kebanyakan!"Darius berbisik ke Arnita sambil nutupin mulut pakai h
Jam tujuh pagi, suara motor CBR sudah meraung di depan rumah petak Arnita.Darius datang tepat waktu. Memakai kemeja batik yang kebesaran, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan memakai sepatu pantofel yang ujungnya sudah mengelupas. Ia terlihat berusaha tampil meyakinkan sebagai sopir profesional.Narendra yang sedang menyapu halaman menghentikan sapunya. Tatapannya masih tidak suka, tapi kali ini ia tidak langsung marah."Darius sudah datang, Mas," kata Arnita dari dalam rumah sambil memakai jilbab. "Aku pergi dulu ya. Titip rumah.""Mau kemana lagi, Sayang? Kemarin kamu belum cerita jelas," Narendra berbisik pelan, menarik lengan Arnita ke sudut teras agar tidak didengar Darius.Arnita menatap suaminya. Wajah Narendra terlihat lelah. Sejak perusahaannya diambil, ia belum mendapatkan pekerjaan tetap. Janggutnya mulai tumbuh tidak rapi."Mas percaya sama aku nggak?" Arnita balik bertanya."Mas selalu percaya sama kamu.""Kalau Mas percaya, izinkan aku pergi hari ini. Aku nggak akan
"Loh, mama Mbak? Mama yang mana?"Pertanyaan itu meluncur dari mulut perempuan muda yang berdiri di depan pintu dengan daster bermotif bunga dan rambut yang masih basah. Di sampingnya, seorang lelaki dengan kaos oblong putih menatap Arnita dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan curiga.Arnita menelan ludah. Tenggorokannya kering. Perjalanan empat jam di atas motor dengan jok belakang yang tinggi, di bawah terik matahari yang menyengat, membuat bibirnya pecah-pecah. Tapi bukan itu yang membuat napasnya memburu."Paula. Yang jual rumah ini namanya Paula? Perempuan paruh baya, kulitnya putih, rambutnya diwarnai cokelat?"Perempuan berdaster itu mengangguk."Iya, Mbak. Tante Paula. Katanya ini rumah warisan anaknya yang sudah meninggal. Jadi dijual murah ke kami karena butuh uang buat biaya haji. Katanya anaknya kecelakaan. Kami juga kasihan, makanya kami beli. Surat-suratnya lengkap kok, Mbak. Ada sertifikat, ada akta jual beli. Tante Paula juga bawa pengacara waktu itu."Set
20Arnita duduk termenung di dalam kamar setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk berangkat mencari pekerjaan. Dia memikirkan langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk menjalankan misinya. Segala rencana di susunnya, bahkan Arnita sampai harus menuliskan di sebuah note kecil agar tak ketahuan suaminya."Aku tak boleh gegabah. Aku harus menyusunnya dengan sangat matang agar rencanaku berjalan dengan lancar tanpa hambatan."Rencana awal Arnita hari ini yaitu datang ke kota A dan mengintai segala aktivitas para targetnya. Dia ingin memperhatikan setiap gerak gerik ketiganya agar mudah untuk Arnita menjalankan misinya. Namun, untuk menuju ke kota A yang membutuhkan waktu berjam-jam, tentu Arnita butuh kendaraan, sedangkan disini dia hanya punya mobil yang saat ini sedang di pakai oleh Narendra.Arnita keluar rumah dan berjalan-jalan di dekat rumahnya. Kali ini bukan untuk ke warung, melainkan ingin mencaritahu dimana letak pangkalan ojek atau angkot yang dekat dengan kediamannya. D
19"Sebenarnya perusahaan itu bukan milik kita lagi, Ar." kata Narendra dengan berat hati."Maksudnya, perusahaan itu sudah di jual ke orang lain gitu?" Arnita mengira kalau perusahaan itu di jual ke orang lain karena Narendra menurutnya tak mampu menutupi semua kerugian perusahaan akibat masalah yang timbul di tempat produksi."Bukan gitu, kita, kita di tipu oleh Nofal dan Sasmitha serta ibumu."Arnita diam, dia berusaha mencerna setiap kata demi kata yang baru saja terlontar dari mulut Narendra. Pikirannya masih tak mampu mencerna akan apa yang baru saja disampaikan oleh suaminya tersebut. Nofal? Sasmitha? Paula?"Maksudnya gimana, Mas, aku masih belum faham? Memang apa hubungannya Nofal dan kak Sasmitha?""Mereka berdua bersekongkol untuk merebut semua harta milik kita, Ar. Mereka menipu kita dan mungkin juga menipu semua orang di perusahaan. Nyatanya sekarang pabrik berjalan seperti biasa, tak ada masalah apa-apa. Mereka memindahkan semua aset kita menjadi milik mereka. Ini juga s
"Oh, astaga, jeng Intan!! Heran deh sama situ, kok kayak yang gak punya hati gitu loh!"Seru jeng Ami yang merasa jengkel atas perkataan jeng Intan."Heh, kalian gak usah ikut berkomentar! Lagian kalau aku marah kepada Narendra soal dia yang jatuh miskin itu hak aku! Kalian gak usah sok ngebelain anak bodoh ini!"Bukannya merasa bersalah, justru jeng Intan meradang karena merasa mereka ikut campur. Dia merasa benar dengan apa yang di katakan oleh dirinya kepada sang putra."Aku permisi dulu, maaf sudah membuat mama malu akan kondisiku yang sekarang. Maaf juga aku belum bisa ngasih uang bulanan ke mama seperti selama ini. Maafkan anak bodohmu ini. Aku janji tak akan muncul lagi di hadapan mama dengan kondisi yang seperti ini."Narendra begitu terluka akan sikap sang ibu yang membuatnya begitu malu dan merasa begitu terhina di hadapan orang-orang. Dia memilih pergi saja. Mungkin Narendra tak akan pernah datang ke kota ini lagi dalam beberapa waktu ke depan. "Astaga jeng Intan, kamu mem
7Hari demi hari berlalu, Arnita sudah bisa berbicara walaupun tak bisa terlalu lama karena tenggorokannya akan terasa sakit jika dirinya terlalu banyak bicara. Ia pun sudah bisa menggerakkan beberapa bagian tubuhnya seperti tangan dan kaki. Meskipun belum terapi untuk belajar berjalan, setidaknya
6"Sayang, semangat ya berjuangnya! Ingatlah, bahwa ada aku disini yang selalu menunggu kamu. Kamu harus semangat, harus berjuang untuk sembuh!"Narendra menggenggam tangan sang istri yang saat ini sudah siap untuk di operasi. Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa. Begitu takut akan kemungki
5"Lalu, pesangon kami bagaimana, Pak?"Narendra memijit pelipisnya dikala pertanyaan itu terlontar dari salah satu karyawan yang mengundurkan diri."Nanti langsung datang ke ruang HRD untuk mendapatkan sisa gaji kalian juga pesangon untuk kalian, tapi, saya benar-benar mohon maaf karena pesangon a
4"Maaf, Pak. Kami memutuskan untuk resign. Anak istri kami di rumah butuh makan, sedangkan kami belum tahu sampai kapan pabrik di tutup. Kami akan mencari kerja di tempat lain,""Betul, Pak. Apalagi SPP kedua anak saya harus segera dibayar untuk bulan ini,""Apalagi istri saya, Pak. Sering marah-m







