Share

11. Hadiah Ulang Tahun

Penulis: ReyNotes
last update Tanggal publikasi: 2025-11-14 11:40:07

“Kamu datang sendiri?” Lelaki tua ekspatriat datang menghampiri Alvin.

“Padre.” Alvin menunduk santun pada ayahnya. “Nolla dan Arumi dalam perjalanan. Aku langsung dari rumah sakit.”

“Begitu.” Lelaki bernama Fredy itu duduk di sofa.

Dokter Fredy Carlos adalah dokter ahli syaraf yang sudah pensiun. Lelaki keturunan bangsa Spanyol ini sudah berusia hampir delapan puluh tahun. Namun, langkahnya masih tegap.

Bahkan wajahnya tetap terawat dan bersinar. Mungkin itu sebabnya Alvin pun berwajah awet mu
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Hanum Layla
emosi jiwa Kak Rey, dia ga mikir perasaan papanya hiks hiks... disisi lain cepatlah cerai biar jadian sama Belva wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
ReyNotes
sabar, Kak, sabar.
goodnovel comment avatar
Hanum Layla
cerein lah si Nolla Nolla ini, ih jijik lah Arumi kalo ga terima dan sok-sok an tantrum suruh tinggal sama Mak nya. sama papa nya sok gegayaan ngamuk, sama Mak nya yang udah jelas selingkuh malah belain. ga mikir perasaan papanya, syukur bgt punya Papa tampan dan kaya yang ga selingkuh sana sini,
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   99. Wanita Terakhir

    Tiba-tiba, Belva berdiri. “Kalian kenapa, sih? Aku nggak papa. Tadi sebenarnya... cuma ngantuk.”Semua orang di ruangan saling berpandangan. Kemudian, mereka menatap Belva.“Serius nggak papa?” Hendra menatap wajah Belva.Kepala Belva mengangguk, lalu menunjuk Alvin. “Aku kurang tidur gara-gara ayangku ini.”Alvin mengangkat kedua alisnya. Lalu ekspresinya dengan cepat berubah. Ia tersenyum pada semua orang.“Kalian pasti mengerti maksud Belva.”Sambil menggeleng pelan, satu persatu keluar dari ruang ganti. Belva dan Alvin berjalan paling belakang. Alvin mengecup kepala sang istri.“Maaf, kamu aku jadikan alasan. Tapi, aku nggak bohong semalam memang kurang tidur.” Belva berbisik.“Aku nggak keberatan menjadi tamengmu, Sayang.” Lengan Alvin merengkuh bahu Belva. “Merahasiakan sesuatu itu memang sangat berat.”Belva menatap wajah Alvin. “Setelah pesta usai, bisa kita umumkan.”Para tamu mulai berpamitan, suasana berubah menjadi jauh lebih santai. Musik band telah berhenti. Lampu-lampu d

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   98. Rahasiakan Dulu

    Pernikahan Estella dan Hendra berlangsung meriah.Tamu-tamu memenuhi area resepsi—wajah-wajah yang datang dari dua dunia yang berbeda namun malam itu menyatu dengan alami. Staf kesehatan dengan setelan rapi berbincang hangat di satu sisi, sementara para model dan rekan industri kreatif Estella menambah kilau dengan gaun dan jas yang elegan. Tidak ada jarak yang terasa canggung. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: merayakan cinta.Upacara sakral telah selesai. Doa-doa terucap khidmat. Ketika pasangan pengantin melangkah keluar dengan senyum lega, tepuk tangan mengalun panjang. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih ringan. Musik mengalir—band kenamaan tampil di panggung, membawakan lagu-lagu yang mengundang tamu bergoyang kecil sambil menikmati hidangan.Di antara keramaian itu, Belva memilih duduk di meja VIP. Tidak berusaha menarik perhatian. Piringnya terisi secukupnya. Ia makan dengan tenang, menikmati jeda yang jarang ia dapatkan di tengah pesta besar. Sesekali matanya m

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   97. Rumah Baru

    “Apa kata Mamamu? Kok kamu matikan teleponnya?” Belva bertanya pada Arumi yang sudah menurunkan ponsel dari telinganya.Arumi menatap Belva, lalu menunduk. “Mama cuma langsung bilang minta dibayar tebusannya biar bisa keluar dari penjara.”Belva dan Edo saling bertatapan sejenak, lalu mengembuskan napas berat. Mereka membiarkan Arumi yang termangu sendiri menatap ke luar jendela.Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen, Arumi segera minta waktu bicara dengan Alvin berdua saja. Belva meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Sementara Edo pun langsung berpamitan.“Ada apa, Arumi?”Selama putrinya bercerita, Alvin menatapnya dengan ekspresi datar. Hingga akhirnya Arumi berhenti dan memeluk Alvin sambil terisak.“Aku nggak tau harus bagaimana, Pa?”Sejenak Alvin hanya diam. Lalu perlahan, tangannya mulai mengelus punggung sang putri. Ia mengurai pelukan Arumi dan menatap wajahnya.“Kenapa Mama bisa sampai seperti ini?” Arumi balas menatap mata Alvin.Sebelum menjawab, Alvin menghela na

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   96. Anak Baik

    Musim semi menyambut keluarga yang berkumpul lengkap di luar negeri untuk menghadiri wisuda Arumi dan Edo yang hanya selisih satu hari.Di halaman kampus yang luas, toga-toga hitam bergerak seperti gelombang kecil. Fredy dan Yarra berdiri berdampingan, wajah mereka dipenuhi senyum yang tidak dibuat-buat. Belva berdiri di sisi Alvin, tangannya sesekali merapikan kerah jas suaminya—kebiasaan kecil yang kini terasa wajar.“Papa, Belva,” panggil Arumi dari kejauhan.Ia melangkah mendekat dengan senyum lebar, toga membingkai wajahnya yang matang. Di sampingnya, Edo berjalan dengan langkah tenang. Mereka berhenti tepat di depan keluarga.“Selamat, Rumi,” ucap Fredy, suaranya berat namun hangat.Yarra memeluk cucunya lama. “Kami bangga sekali.”Belva tersenyum bahagia lalu menggenggam kedua tangan Arumi. “Gimana? Sudah lega?”Arumi tertawa kecil dan mengangguk. “Aku akhirnya selesai.”Edo menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang.”Alvin menepuk bahu Edo singkat. Tidak banyak kata, tapi isy

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   95. Restu

    Saat semua orang bergembira dan menjabat tangan Edo dan Arumi bergantian. Alvin terdiam sambil menatap Edo tanpa berkedip. Lalu, perlahan, ia menyeret Edo ke pojok ruangan.“Sejak kapan?” Alvin melipat kedua yang tangannya di perut sambil menatap Edo tanpa jeda.“Umm... maaf, Om. Kami semakin dekat saat kembali bersama ke luar negeri. Karena satu kampus juga, kami jadi sering bertemu.” Edo menjelaskan.“Kenapa kalian diam-diam? Belva tau?”Edo menggeleng. “Arumi bilang, kalau Belva tau, ia akan langsung cerita pada Om. Arumi mau ini menjadi kejutan.”“Oh yaa.” Alvin mendelik. “Aku memang sangat terkejut.”Edo menunduk santun. “Maaf, Om.”Lalu, Alvin teringat sesuatu. “Belva pernah bilang kamu sudah memiliki kekasih.”“Kami tidak berjodoh.” Edo menghela napas. “Kami sudah putus sebelum aku memutuskan sekolah lagi.”“Begitu.”“Aku minta restu, Om.”Alvin mendekat ke telinga Edo dan mengancam, “Kupatahkan lehermu kalau sampai menyakiti putriku!”Setelahnya, Alvin bergabung pada keluargan

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   94. Dua Wisuda

    Pagi itu datang dengan situasi yang berbeda. Alvin memeluk dan mengelus punggung Belva yang terbuka. Wanita itu masih nyaman tidur dalam dekapan.“Sayang, aku harus siap-siap ke rumah sakit,” ucap Alvin.“Umm... aku masih mau dipeluk begini.” Belva menggumam sambil mengeratkan pelukannya.Alvin terkekeh. “Lima menit lagi. Oke?”Tidak ada jawaban. Hingga lima menit berikutnya, Alvin mengangkat tubuh Belva dan membopongnya ke kamar mandi.“Aku masih mau tiduran.” Belva merengut kala Alvin melepas pakaiannya.“Sekalian aku mandi, Sayang. Setelah aku berangkat, kamu bisa tidur lagi.”Akhirnya, Belva pasrah dimandikan sang suami. Dengan manja, Belva mengalungkan lengannya di leher Alvin saat tangan lelaki itu mengusap sabun ke seluruh tubuh istrinya. Mereka bertatapan, berciuman hingga kedua kaki Belva kini naik ke pinggang Alvin.Sambil menjaga keseimbangannya di lantai yang basah, Alvin membantu Belva bergerak di atas tubuhnya. Setelah sama-sama mendapat pelepasan, Belva menjejakkan kaki

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   36. Setelah Bercerai

    Belva mengembuskan napas penuh kelegaan saat melihat Alvin dan Edo akhirnya keluar dari restoran. Ia segera membantu membereskan meja-meja dan ruangan.Belva berdiri di halte kecil di depan hotel, seragamnya masih rapi meski wajahnya tampak lelah. Angin malam berembus dingin, membuatnya merapatkan

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   35. Saling Panas

    “Pasti Alvin mau berdiri di dekatku.” Belva menebak dalam hati.Tanpa sadar, Belva merapikan rambutnya yang tidak berantakan. Juga meluruskan roknya. Ia memandang Alvin yang semakin mendekat.“Oke. Aku di sini, ya. Permisi.” Alvin mengambil tempat di tengah, dua baris di depan Belva.Bahu Belva mel

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   34. Dokter Masih Single?

    Jauh di lubuk hati yang paling dalam, Belva sebenarnya senang Alvin sudah keluar dari masalah rumah tangganya. Ia juga merasa tersanjung Alvin mengaku ingin berhubungan serius.Tetapi, lagi-lagi wajah Arumi yang marah selalu muncul. Jika harus memilih antara Alvin dan Arumi, saat ini ia akan condon

  • TERBUAI PERHATIAN DOKTER TAMPAN   33. Bertemu Lagi

    Belva malah lebih sulit fokus setelah kembali dari kamar Alvin. Untung saja kesalahan-kesalahan yang ia lakukan bisa segera diperbaiki.Hingga akhirnya, selesai juga magang hari ini. Belva bergegas ganti pakaian karena sudah janji bertemu Alvin.Saat akan pergi ke kafe, Belva dicegat Edo."Mau pula

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status