LOGINRuangan itu tiba-tiba terasa gelap dan mencekam. Belva berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat.
“Dokter…” suaranya parau. “Dia sahabatku… dia Arumi….”
“Sahabatmu? Arumi... putriku satu-satunya.”
Alvin menatap pintu yang baru saja tertutup itu, lalu menatap Belva yang kini menangis tanpa suara.
“Aku akan menyusulnya,” ucap Alvin, nadanya tegas tapi getir.
Tanpa menunggu jawaban, ia berlari keluar—meninggalkan Belva yang jatuh berlutut di lantai. Tangisnya pecah, tertahan di antara isak dan sesal yang menyayat.
Pikirannya berputar pada kejadian barusan, wajah Arumi, sorot matanya yang kecewa, dan suara pintu yang tertutup dengan keras.
Arumi yang sejak SMA menemaninya. Teman yang tidak pernah bercerita tentang keluarganya karena takut Belva sedih sebab ia yatim piatu. Sahabat yang sangat marah ketika tau ia dilecehkan di hotel.
Ternyata Arumi… putri satu-satunya Dokter Alvin. Belva terngiang ucapan Arumi pada telepon terakhirnya.
“Aku pulang untuk merayakan ulang tahun Papa. Tolong buatin kue yang paling enak sedunia. Usianya 42 tahun, tetapi masih terlihat seperti 30-an tahun saking tampannya. Kalau berjalan bersama Papa, kami seperti adik-kakak.”
Itu kali pertama Arumi bercerita panjang lebar tentang papanya. Belva sangat yakin, Arumi rindu keluarga karena ia kuliah di luar negeri.
Terbayang pula bagaimana Arumi kaget saat ia memberikan alamat apartemen ini.
“Kamu sewa apartemen itu?”
“Barter sama makanan. Nanti kuceritain, ya.”
Hujan terus turun, menyamarkan isakan Belva. Kedua lengannya memeluk lutut erat-erat, berusaha menenangkan diri. Tetapi, air mata terus membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan.
Belva sadar memiliki cinta terlarang. Kini, ia telah kehilangan cinta pertama dan juga sahabatnya.
**
“Arumi!”
Suara langkah Alvin bergema di lorong apartemen. Ia berlari menembus hujan. Matanya mencari sosok gadis yang pergi dalam keadaan marah.
Alvin menemukan putrinya di parkiran. Saat tangan gemetaran Arumi mencoba membuka pintu mobil, Alvin menarik tangan Arumi.
“Arumi, dengarkan Papa dulu!”
“Lepas, Pa!” Arumi menepis tangannya kasar. Matanya basah, campuran air hujan dan air mata. “Aku nggak mau dengar apa pun! Aku muak!”
“Kamu salah paham, Rumi. Papa hanya—”
“Salah paham? Aku melihat sendiri kalian berciuman! Papa sudah selingkuh dari Mama. Papa selingkuh dengan sahabatku!” Arumi lantas menggeleng tegas. “Tidak! Dia bukan lagi sahabatku sekarang!”
Alvin terdiam. Tak ada pembelaan yang bisa benar-benar menjelaskan perasaan yang campur aduk itu.
Bahkan keadaan kini terbalik. Ia yang selama ini menyembunyikan perselingkuhan sang istri, malah tertuduh berselingkuh. Alvin menghela napas berat.
“Arumi, Papa nggak bermaksud… semua terjadi begitu saja,” ujarnya pelan, hampir memohon.
“Papa pikir aku percaya?” Arumi tertawa getir. “Aku selalu bangga sama Papa dan Mama. Kita... keluarga harmonis. Tapi sekarang…” Arumi menggeleng dan terisak. “Papa dan perempuan itu menghancurkannya.”
Arumi membuka pintu mobil dan masuk tanpa menoleh lagi. Tapi dengan cepat Alvin mengambil alih kunci. Ia tidak akan membiarkan putrinya menyetir sendiri dalam keadaan marah.
“Kamu nggak bilang-bilang mau pulang.” Alvin menjalankan mobil perlahan.
“Surprise!” Arumi membalas sinis.
“Maafkan, Papa dan Belva. Kamu harus....”
Alvin tidak melanjutkan kalimatnya, karena Arumi menutup telinga dan bernyanyi kencang. Setiap kali Alvin mencoba menjelaskan, Arumi melakukan hal yang sama. Hingga akhirnya sisa perjalanan pulang hanya terisi keheningan.
Begitu tiba di rumah, Arumi segera berlari masuk ke dalam. Alvin keluar dari mobil dan bertemu supir pribadinya.
“Dokter Alvin, maaf. Tadi saya yang jemput Nona Arumi. Katanya jangan bilang-bilang, terus Nona mau nyetir sendiri dari bandara.”
Alvin mengangguk singkat. “Iya, nggak papa, Pak Yadi. Tolong bawa koper Arumi ke dalam.”
Ketika berada di dalam rumah, Alvin bisa menduga Nolla—istrinya—belum juga pulang. Ia mengetuk pintu kamar Arumi, namun setelah beberapa menit tidak mendapat balasan, Alvin berjalan ke kamarnya.
Keesokan pagi, Arumi tidak juga muncul di ruang makan. Alvin duduk berhadapan dengan Nolla yang sudah berpenampilan sempurna. Makeup lengkap, pakaian kerja pas di badan dan aroma parfum mahal yang malah membuat Alvin mual.
“Jadi akhirnya anakmu pulang sambil menangis karena kamu mencium perempuan lain?” Nolla menyilangkan tangan dan tersenyum setengah bibir.
“Aku tidak mau membuang energi dengan bertengkar, Nolla.”
“Oh, aku juga tidak.” Nolla terkekeh menyebalkan. “Dokter Alvin yang terkenal sempurna ternyata tidak lebih dari lelaki yang tak bisa menahan diri.”
Alvin mendengus geli. “Kamu peduli? Bukannya di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi?”
“Oh, jadi itu pembenaranmu? Bagus sekali.” Nolla mencondongkan tubuhnya ke depan Alvin. “Kalau kamu pikir aku akan membiarkanmu mencoreng nama keluarga kita, kamu salah besar.”
“Kamu sudah lebih dulu melakukannya! Hanya saja... kamu lebih pintar menyembunyikan pengkhianatanmu!”
Saling adu mulut berlangsung di meja makan. Alvin sudah tidak peduli lagi. Ia juga muak harus bertahan pada hubungan toxic ini.
“Kita akan bercerai!” Kalimat tegas Alvin mengakhiri perseteruan mereka.
Nolla menggeleng. “Agar kamu bisa bersama selingkuhanmu? Kamu tidak memikirkan Arumi?”
Alvin mengetatkan rahang. “Mungkin sudah saatnya Arumi tau yang sebenarnya.”
“Apa lagi yang harus aku ketahui?!”
Tiba-tiba, Belva berdiri. “Kalian kenapa, sih? Aku nggak papa. Tadi sebenarnya... cuma ngantuk.”Semua orang di ruangan saling berpandangan. Kemudian, mereka menatap Belva.“Serius nggak papa?” Hendra menatap wajah Belva.Kepala Belva mengangguk, lalu menunjuk Alvin. “Aku kurang tidur gara-gara ayangku ini.”Alvin mengangkat kedua alisnya. Lalu ekspresinya dengan cepat berubah. Ia tersenyum pada semua orang.“Kalian pasti mengerti maksud Belva.”Sambil menggeleng pelan, satu persatu keluar dari ruang ganti. Belva dan Alvin berjalan paling belakang. Alvin mengecup kepala sang istri.“Maaf, kamu aku jadikan alasan. Tapi, aku nggak bohong semalam memang kurang tidur.” Belva berbisik.“Aku nggak keberatan menjadi tamengmu, Sayang.” Lengan Alvin merengkuh bahu Belva. “Merahasiakan sesuatu itu memang sangat berat.”Belva menatap wajah Alvin. “Setelah pesta usai, bisa kita umumkan.”Para tamu mulai berpamitan, suasana berubah menjadi jauh lebih santai. Musik band telah berhenti. Lampu-lampu d
Pernikahan Estella dan Hendra berlangsung meriah.Tamu-tamu memenuhi area resepsi—wajah-wajah yang datang dari dua dunia yang berbeda namun malam itu menyatu dengan alami. Staf kesehatan dengan setelan rapi berbincang hangat di satu sisi, sementara para model dan rekan industri kreatif Estella menambah kilau dengan gaun dan jas yang elegan. Tidak ada jarak yang terasa canggung. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: merayakan cinta.Upacara sakral telah selesai. Doa-doa terucap khidmat. Ketika pasangan pengantin melangkah keluar dengan senyum lega, tepuk tangan mengalun panjang. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih ringan. Musik mengalir—band kenamaan tampil di panggung, membawakan lagu-lagu yang mengundang tamu bergoyang kecil sambil menikmati hidangan.Di antara keramaian itu, Belva memilih duduk di meja VIP. Tidak berusaha menarik perhatian. Piringnya terisi secukupnya. Ia makan dengan tenang, menikmati jeda yang jarang ia dapatkan di tengah pesta besar. Sesekali matanya m
“Apa kata Mamamu? Kok kamu matikan teleponnya?” Belva bertanya pada Arumi yang sudah menurunkan ponsel dari telinganya.Arumi menatap Belva, lalu menunduk. “Mama cuma langsung bilang minta dibayar tebusannya biar bisa keluar dari penjara.”Belva dan Edo saling bertatapan sejenak, lalu mengembuskan napas berat. Mereka membiarkan Arumi yang termangu sendiri menatap ke luar jendela.Hingga akhirnya mereka tiba di apartemen, Arumi segera minta waktu bicara dengan Alvin berdua saja. Belva meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Sementara Edo pun langsung berpamitan.“Ada apa, Arumi?”Selama putrinya bercerita, Alvin menatapnya dengan ekspresi datar. Hingga akhirnya Arumi berhenti dan memeluk Alvin sambil terisak.“Aku nggak tau harus bagaimana, Pa?”Sejenak Alvin hanya diam. Lalu perlahan, tangannya mulai mengelus punggung sang putri. Ia mengurai pelukan Arumi dan menatap wajahnya.“Kenapa Mama bisa sampai seperti ini?” Arumi balas menatap mata Alvin.Sebelum menjawab, Alvin menghela na
Musim semi menyambut keluarga yang berkumpul lengkap di luar negeri untuk menghadiri wisuda Arumi dan Edo yang hanya selisih satu hari.Di halaman kampus yang luas, toga-toga hitam bergerak seperti gelombang kecil. Fredy dan Yarra berdiri berdampingan, wajah mereka dipenuhi senyum yang tidak dibuat-buat. Belva berdiri di sisi Alvin, tangannya sesekali merapikan kerah jas suaminya—kebiasaan kecil yang kini terasa wajar.“Papa, Belva,” panggil Arumi dari kejauhan.Ia melangkah mendekat dengan senyum lebar, toga membingkai wajahnya yang matang. Di sampingnya, Edo berjalan dengan langkah tenang. Mereka berhenti tepat di depan keluarga.“Selamat, Rumi,” ucap Fredy, suaranya berat namun hangat.Yarra memeluk cucunya lama. “Kami bangga sekali.”Belva tersenyum bahagia lalu menggenggam kedua tangan Arumi. “Gimana? Sudah lega?”Arumi tertawa kecil dan mengangguk. “Aku akhirnya selesai.”Edo menunduk sopan. “Terima kasih sudah datang.”Alvin menepuk bahu Edo singkat. Tidak banyak kata, tapi isy
Saat semua orang bergembira dan menjabat tangan Edo dan Arumi bergantian. Alvin terdiam sambil menatap Edo tanpa berkedip. Lalu, perlahan, ia menyeret Edo ke pojok ruangan.“Sejak kapan?” Alvin melipat kedua yang tangannya di perut sambil menatap Edo tanpa jeda.“Umm... maaf, Om. Kami semakin dekat saat kembali bersama ke luar negeri. Karena satu kampus juga, kami jadi sering bertemu.” Edo menjelaskan.“Kenapa kalian diam-diam? Belva tau?”Edo menggeleng. “Arumi bilang, kalau Belva tau, ia akan langsung cerita pada Om. Arumi mau ini menjadi kejutan.”“Oh yaa.” Alvin mendelik. “Aku memang sangat terkejut.”Edo menunduk santun. “Maaf, Om.”Lalu, Alvin teringat sesuatu. “Belva pernah bilang kamu sudah memiliki kekasih.”“Kami tidak berjodoh.” Edo menghela napas. “Kami sudah putus sebelum aku memutuskan sekolah lagi.”“Begitu.”“Aku minta restu, Om.”Alvin mendekat ke telinga Edo dan mengancam, “Kupatahkan lehermu kalau sampai menyakiti putriku!”Setelahnya, Alvin bergabung pada keluargan
Pagi itu datang dengan situasi yang berbeda. Alvin memeluk dan mengelus punggung Belva yang terbuka. Wanita itu masih nyaman tidur dalam dekapan.“Sayang, aku harus siap-siap ke rumah sakit,” ucap Alvin.“Umm... aku masih mau dipeluk begini.” Belva menggumam sambil mengeratkan pelukannya.Alvin terkekeh. “Lima menit lagi. Oke?”Tidak ada jawaban. Hingga lima menit berikutnya, Alvin mengangkat tubuh Belva dan membopongnya ke kamar mandi.“Aku masih mau tiduran.” Belva merengut kala Alvin melepas pakaiannya.“Sekalian aku mandi, Sayang. Setelah aku berangkat, kamu bisa tidur lagi.”Akhirnya, Belva pasrah dimandikan sang suami. Dengan manja, Belva mengalungkan lengannya di leher Alvin saat tangan lelaki itu mengusap sabun ke seluruh tubuh istrinya. Mereka bertatapan, berciuman hingga kedua kaki Belva kini naik ke pinggang Alvin.Sambil menjaga keseimbangannya di lantai yang basah, Alvin membantu Belva bergerak di atas tubuhnya. Setelah sama-sama mendapat pelepasan, Belva menjejakkan kaki







