Share

TAS 10

last update publish date: 2025-09-23 16:18:59

"Kau dari mana? Kupikir kau pulang," gumamnya penuh selidik.

Aku menghela napas pelan. Sangat lega dia tak menyinggung soal semalam. Mungkin dia memang benar-benar tak sadar.

"Tadi ibuku datang menjenguk, kami mengobrol di luar," jelasku. Tak mau dia berpikir aku meninggalkannya. Meski dari raut wajahnya, dia justru terlihat ingin aku tak kembali.

Dia kembali bergerak dengan tertatih. Berusaha menegakkan tubuh. Aku dengan sigap menopang tubuhnya.

“Mau kuambilkan kursi roda?” tanyaku cepat, mencoba menawarkan sesuatu yang kupikir perlu.

Sam mengernyit ringan, lalu tertawa hambar. “Tidak. Aku masih bisa melakukannya sendiri. Kau juga tak perlu menemaniku.”

“Aku tidak keberatan, sungguh,” kataku lagi, sedikit mencondongkan tubuh seolah memastikan tawaranku tulus.

Dia menghela napas, kali ini lebih panjang. “Bukan masalah keberatan atau tidak. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu dengan hal semacam itu.”

"Paman," seruku dengan nada lebih tinggi. "Beberapa jam lalu kau demam tinggi, kondisimu jelas belum pulih. Kau butuh bantuan!"

Belum sempat dia menjawab, pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk dengan membawa catatan di tangannya, matanya langsung menyapu kami dengan tatapan menyelidik.

“Kau masih di sini?” tanyanya kepadaku, nadanya agak datar.

“Ya,” jawabku singkat.

Tatapannya pindah ke Sam, lalu kembali padaku. Ada seulas senyum yang tidak bisa kutebak maksudnya. “Kalau begitu, semoga cepat pulang. Pasien butuh istirahat.”

Aku mematung, nada itu terdengar seolah dia ingin memastikan aku tidak di sini terlalu lama.

Begitu perawat pergi, Sam kembali menatapku. “Kau dengar sendiri, kan? Pulanglah. Kau sudah melakukan lebih dari cukup.”

Aku menggeleng cepat. “Tidak, aku sudah terlanjur membawa barang-barangku ke sini," tunjukku ke arah kantong di atas meja.

Sam mendesah. Seperti biasa, dia lebih memilih menyerah dan berjalan pelan ke kamar mandi. Aku berkacak pinggang dengan wajah kesal.

Sorenya, aku kembali menawarkan bantuan. "Paman butuh sesuatu? Katakan sebelum aku pergi."

Wajah Sam spontan terangkat menatapku. "Kau mau pulang?" Ada raut terkejut di sana. Yang anehnya membuatku merasa senang. Seakan dia takut aku pergi.

"Hanya pulang berganti pakaian. Aku tidak akan lama."

Dia terdiam sejenak lalu mengangguk. "Pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Baru selesai mengucapkan itu, ponselnya di atas meja berdering. Kami meliriknya bersamaan. Aku tersenyum penuh kemenangan karena posisi ponsel itu berada di sisi tangannya yang dibebat.

Kulihat Sam berusaha bergerak memutar badan sambil menahan nyeri. Tapi aku bergerak lebih cepat meraihnya. Benda itu kuserahkan pada Sam lengkap dengan ekspresi yang seolah berkata, "lihat, aku berguna, kan?"

Sam menerima ponselnya dari tanganku tanpa bicara. Namun aku bisa melihat gurat senyum samar di bibirnya. Dengan sopan aku menjauh, membiarkannya bicara tanpa terganggu. Samar-samar kudengar dia membicarakan tawaran menangani proyek di luar negeri. Hatiku mendadak gamang. Tiba-tiba takut ditinggalkan. Ini konyol. Aku bahkan tidak sekhawatir ini melepas Sean.

"Jernihkan pikiranmu, Audrey!" bentakku pada diri sendiri. Lekas kuraih tasku lalu melesat keluar.

Sejam kemudian aku kembali dengan langkah ringan, membawa sekantong buah yang kupilih dengan hati-hati di toko sebelah rumah sakit. Aku bahkan sempat membayangkan ekspresi Sam yang mungkin pura-pura datar namun diam-diam senang menerimanya. Namun begitu pintu kamar itu kudorong, senyum yang sudah terbit di wajahku langsung runtuh seketika.

Kamar itu… kosong. Ranjang itu kini hanya menyisakan lipatan sprei yang rapi.

Aku terdiam beberapa detik, seolah otakku menolak mencerna pemandangan yang ada di depan mata. Dengan langkah gugup aku keluar, mencari siapa pun yang bisa kutanyai. Seorang perawat lewat, dan buru-buru kutahan.

“Permisi, pasien yang di kamar tadi… ke mana, ya?” tanyaku terbata.

“Oh, keluarga Arsen sudah datang. Mereka membawa Tuan Sam pulang. Dokter sudah memberi izin, perawatannya akan dilanjutkan di rumah,” jawabnya santai, seolah berita itu bukan apa-apa.

Aku termangu. Jantungku seperti dijatuhkan dari ketinggian. Hanya satu jam aku pergi dan dalam satu jam itu segalanya berubah. Tidak ada pesan, tidak ada pemberitahuan, tidak ada kesempatan sekadar mengucapkan selamat tinggal. Rasanya seperti mimpi buruk yang terlalu nyata.

Satu jam itu… mungkin akan menjadi penyesalan terbodoh sepanjang hidupku.

**

Waktu berlalu cepat.

Siang itu, aku melangkah gontai memasuki sebuah kafe kecil di pusat kota, aroma kopi dan kue hangat langsung menyergap hidungku. Di sudut yang agak sepi, Irish sudah duduk sambil memainkan ponselnya. Begitu melihatku, ia melambaikan tangan lebar-lebar.

"Wah, selamat datang, Nona Arsitek! Sekarang kau sibuk sekali sampai susah dihubungi," sapanya setengah bercanda, setengah menggerutu.

Aku hanya tersenyum lelah dan duduk di sampingnya. "Aku harus mengejar dosenku hanya untuk bisa setor tugas. Itu pun belum tentu diliriknya."

Irish menggeleng dramatis. "Kedengaran berat sekali. Siapa sangka kau dan Sean malah masuk jurusan yang sama. Aku curiga kalian sudah merencanakan ini di belakangku."

Aku terkekeh ringan, mencoba menutupi sesuatu yang hanya aku sendiri yang tahu. "Rencana apanya? Kebetulan saja aku lolos di jurusan itu," kilahku santai.

Padahal keputusan itu sama sekali bukan kebetulan. Tiga tahun lalu, aku memilih jurusan itu dengan satu harapan sederhana. Yakni, bisa bertemu lagi dengan seseorang yang hingga kini bayangnya masih menempel di pikiranku.

Sam Arsen.

Sejak kecelakaan itu, sejak dia menghilang begitu saja dari rumah sakit, kami tak pernah lagi bertemu. Sean hanya pernah bilang di grup chat kami, ayahnya menerima tawaran proyek di luar negeri. Dan setelah itu, tak ada kabar.

Padahal awalnya aku memilih jurusan ini dengan satu alasan konyol. Aku berharap suatu hari bisa melihatnya berdiri di depan seminar kampus, atau sekadar menatap punggungnya di pameran arsitektur. Tapi sampai sekarang? Nihil. Seolah keputusanku yang nekat ini hanya jadi lelucon tak berguna.

“Tahun ini aku harap Sean benar-benar pulang untuk reuni. Cukuplah tahun-tahun kemarin dia batal pulang karena sibuk,” ucap Irish sambil menggulir layar ponselnya. “Kudengar, ayahnya juga akan pulang setelah proyeknya selesai.”

Aku hanya mengangguk, lemah. Aku sudah berhenti berharap banyak. Mungkin rasa itu tak sepenuhnya padam, tapi kini hanya jadi bara kecil yang kubiarkan meredup perlahan. Malam-malamku kadang masih ditemani bayangannya, namun aku mulai berdamai. Belajar menerima kenyataan bahwa kekaguman itu hanya sepihak dan mungkin selamanya akan tetap begitu.

“Audrey.” Suara Irish membuatku tersentak dari lamunan. “Penampilanmu banyak berubah, kupikir masuk jurusan arsitektur akan membuatmu makin tomboy,” godanya, cekikikan.

Aku tersenyum tipis. Sedikit getir. Dia pasti tertawa keras jika tahu, aku mengubah gaya rambut, cara berpakaian, bahkan caraku berjalan karena seseorang yang kini entah di mana.

Dan lucunya, aku mulai merasa seperti orang bodoh.

Ponselku bergetar di meja, notifikasi pesan masuk dari ketua tingkat. Refleks aku bangkit dari kursi, membuat Irish menatapku heran.

"Kau mau ke mana lagi?" tanyanya dengan nada separuh protes.

"Dosenku ada di sekitar sini. Aku harus menemuinya sebelum dia pergi lagi," jawabku terburu-buru sambil meraih tas.

"Hei! Kau bahkan belum memesan makanan," seru Irish, wajahnya berkerut cemberut.

"Maaf, kalau masih sempat aku akan balik lagi," kataku sekilas, sebelum benar-benar melesat keluar.

Aku tahu ekspresi manyunnya pasti belum hilang di belakang sana. Bukan pertama kalinya aku meninggalkannya begitu saja demi urusan kampus. Dia sudah mulai kebal, tapi tetap saja selalu menggerutu. Tak terima aku lebih sibuk dari dirinya.

Langkahku berpacu menaiki tangga melingkar yang berderit halus di museum tua itu. Sebuah bangunan bersejarah yang kabarnya akan segera direnovasi.

Udara lembap bercampur aroma kayu tua memenuhi paru-paruku. Entah apa yang dosenku lakukan di tempat seperti ini. Yang jelas, aku sangat membutuhkan nilainya. Aku tidak boleh lagi mendapat B di semester ini.

“Itu dia. Aku tidak akan melepasnya kali ini,” gumamku, mempercepat langkah menuju pria berkacamata yang sedang asyik menelepon di dekat jendela besar yang kusam.

Aku berhenti tepat di belakangnya, menunggu dengan sabar sampai dia selesai. Saat dia berbalik, sorot matanya memindai wajahku dengan raut heran.

“Sedang apa kau di sini?” tanyanya datar.

Aku segera menyodorkan laporan tebal yang sudah berkali-kali kurevisi hingga larut malam. “Ini, Pak… tugas saya. Maaf kalau saya sampai mengikuti Anda ke sini. Di kampus Anda hampir tidak pernah terlihat.”

Dosen itu mendengus pelan, seperti menahan komentar pedas yang sudah nyaris keluar dari bibirnya. Reputasinya sebagai dosen killer di kalangan mahasiswa senior memang tidak berlebihan. Namun sebelum dia sempat mengucap satu kata lagi, langkah-langkah lain terdengar mendekat.

“Oh, Tuan Arsen!” seru seorang staf museum menyambut tamu baru yang muncul di balik pilar.

Deg!

Tubuhku refleks menegang. Nama itu… masih begitu melekat di ingatanku. Hanya disebut saja sudah membuat napasku tercekat. Nama yang selama ini hanya ada dalam potongan kenangan yang tak pernah tuntas kupahami.

Aku ikut menoleh, mataku langsung menangkap sosok pria berkemeja biru dengan kacamata hitam, dikelilingi beberapa orang. Untuk sesaat, rasanya seperti melihat Sam Arsen sungguhan.

Pria itu berhenti di depan kami, menurunkan kacamatanya perlahan.

Aku tertegun.

Bahkan di siang terik seperti ini pun aku masih bermimpi seolah benar-benar bertemu Sam?

Tatapan mata pria itu menancap dalam ke arahku. Lalu, seolah waktu berhenti, dia berseru pelan, “Audrey?”

Darahku berdesir.

Dia memanggil namaku?

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 291

    Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 290

    Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 289

    Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 288

    "Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 287

    Aku bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutanku sendiri.“Anda bercanda?” tanyaku spontan, sedikit terdengar tidak sopan karena terlalu terkejut. “Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Sementara aku...”“Dari banyak ahli, hanya kau yang paling mengerti makna semua karya itu,” jelas Nyonya Miranda pelan, tapi penuh keyakinan.Aku langsung terdiam.“Tak ada yang pernah menyarankan pameran dan lelang hingga patung yang tak berharga itu bisa terjual mahal. Kau yang membuat semuanya terjadi.”Aku membuka mulut, ingin menyangkal lagi, tapi Tuan Henry ikut menambahkan,“Kau bisa melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.”Pujian itu justru membuatku semakin tidak nyaman.Aku refleks menoleh ke belakang, mencari satu orang yang seharusnya ada di rumah ini.Sam.Namun pria itu benar-benar menghilang sepenuhnya setelah perdebatan kami tadi. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara. Tidak ada tanda dia masih ada di sekitar sini.Dadaku terasa makin sesak.Apa dia tahu soal ini?B

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 286

    Aku masih berdiri canggung di dekat lorong ketika Nyonya Miranda menatapku dengan lekat. Gurat wajahnya sulit kutebak. Dadaku mulai terasa tidak nyaman akibat berdebar keras. Terlebih karena saat aku refleks menoleh ke belakang, Sean sudah tidak ada di sana.Dia menghilang sangat cepat. Padahal beberapa detik lalu dia masih berdiri di sana. Di tempat kami bicara. Panik mulai merayap perlahan di kepalaku. Apa yang harus kukatakan?“A-anda di sini?” tanyaku tergagap, berusaha terdengar normal meski tenggorokanku terasa kering.Nyonya Miranda mengangguk. “Ya, aku melihat semuanya.”Aku langsung terkesiap.Melihat semuanya?Pikiranku seketika kacau. Potongan percakapanku dengan Sean tadi berputar kembali dalam kepalaku.Wajahku langsung memucat. Kalau dia benar-benar mendengar semua, artinya... semua sudah selesai. "Aku sudah curiga sejak lama," lanjutnya menyipitkan mata. "Tapi baru kali ini aku menyaksikan sendiri."“A-aku minta maaf,” ucapku cepat sebelum sempat berpikir lebih jauh.

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 208

    “Maaf, Nona!"Spontan salah satu sekuriti mengangkat tangan, bukan untuk menyentuhku, namun sekedar untuk menghalangi. "Kami tidak bisa mengizinkan anda masuk.”"Kenapa?""Belum ada konfirmasi."Aku menatap pintu besar rumah itu. Tertutup rapat. Seolah dunia di dalamnya benar-benar terpisah dariku

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 206

    Cindy terus berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Pintu mobil terbuka lalu tertutup keras. Beberapa detik kemudian mobil itu keluar dari halaman dan menghilang dari pandanganku.Aku berdiri diam sampai suara mesinnya benar-benar tak terdengar.Baru setelah itu aku menoleh pada pelayan yang

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 204

    “Apa masih ada kejujuran yang bisa ibu dengar darimu? Selama ini ibu selalu percaya padamu, bahkan saat kau terus menerus berbohong. Kau bilang lembur di kantor?” Ibu mendengus kecut dan memalingkan wajah sejenak. “Kau lembur melayani Bosmu di tempat tidur?”“Ibu!”Suaraku melengking tertahan. Mesk

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 203

    “Kenapa jangan?” Paman bertanya heran padaku.Aku menatapnya gugup. Ruang rawat itu terasa makin sempit sejak mereka datang. Bau obat-obatan dan suara alat monitor yang berdetak pelan di luar membuat kepalaku jadi pening.“Kondisi ibu masih lemah, dia butuh perawatan dokter,” jawabku asal. Berusaha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status