LOGIN“Jadi kau mau menerima tawaran itu?” Irish bertanya serius padaku.Aku yang sejak tadi duduk bersandar di kepala ranjang hanya bisa mengangguk pelan. Jemariku masih sibuk memainkan ujung selimut karena gugup.“Aku tak punya cara lain lagi.”Irish yang duduk di sebelahku menghela napas panjang. Rambut wisudanya tadi sudah dilepas dan kini jatuh berantakan di bahunya. Meski begitu, wajahnya masih terlihat lelah setelah seharian menghadiri acara kelulusan.“Kau benar,” gumamnya akhirnya.Suasana kamar mendadak sunyi. Sejak datang tadi, aku sudah menceritakan semua hal yanb terjadi saat dia tak ada. Tak ada lagi yang kusembunyikan.Rasanya aneh, akhirnya bisa bicara tanpa takut dihakimi.Irish juga tidak terlihat terlalu terkejut lagi. Mungkin karena dia sudah mengetahui inti masalahnya lebih dulu dari Sean dan Sam.“Kau pasti melewati banyak masa sulit sendirian.”Irish meraih tanganku pelan. Genggamannya yang hangat membuat dadaku langsung sesak.“Maaf karena tak mempercayaimu.”Aku bur
Irish menatapku dengan mata merah dan penuh emosi yang bercampur aduk. Marah. Kecewa. Sedih. Juga... terluka.“Kenapa kau tidak mau jujur selama ini dan membiarkan aku terus salah sangka?”Tangannya mencengkeram kedua lenganku lalu mengguncang tubuhku cukup keras.“Aku terus membencimu, Audrey!”Aku hanya bisa tertunduk diam. Bibirku bergetar pelan saat berusaha menahan air mata yang mulai memenuhi pelupuk mata.Apa yang harus kukatakan sekarang?Bahwa aku takut?Bahwa aku terlalu malu dengan kenyataan hidupku sendiri?Atau bahwa aku bahkan tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana?Irish perlahan melepaskan pegangannya dengan lemah. Dia mundur setengah langkah sambil menutup wajahnya sesaat. Isak kecil terdengar dari bibirnya.“Kupikir kau bercanda soal rasa sukamu pada paman,” ucapnya lirih dengan suara tercekat. “Kupikir itu cuma kekaguman remaja sepertiku... tapi ternyata...”Aku langsung mengangkat wajah dan menatapnya penuh kebingungan.“Dari mana kau tahu soal aku dan paman?”
Pesan terakhir Max tak berhenti berputar dalam kepalaku.Sepanjang jalan aku terus memikirkannya. Aku tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya sebelum kondisiku menarik perhatian semua orang. Aku membuka layar kamera, menatap wajahku dan langsung meringis. "Astaga... mukaku terlihat seperti donat."Berat badanku entah naik berapa kilo sekarang. Aku mungkin tak menyadarinya jika bukan karena teguran Max."Mungkin dia benar, aku harus membatasi pergaulan sekarang." Aku melirik dua benda yang kuletakkan di kursi sebelahku, lalu bergumam pelan, "sebaiknya kutitipkan saja." Sopir melirikku dari spion sebelum mobil berhenti. "Perlu kutemani, Nona?"“Tidak perlu,” kataku pada sopir sebelum membuka pintu mobil. “Tunggu di sini saja. Aku tidak akan lama.”“Baik, Nona.”Aku menghembuskan napas keras kemudian melangkah masuk ke area kampus yang masih sangat ramai. Acara wisuda rupanya baru saja selesai. Di mana-mana orang sibuk tertawa, berfoto dan membawa bi
Seluruh tubuhku membeku di tempat karena terkejut.Wajahku langsung memanas. "K—kau," ibu sampai kehilangan kata melihat kejadian tak terduga itu.Sam mundur perlahan tanpa canggung. “Selamat malam, Audrey.”Aku mengangguk sekali, meski jantungku rasanya hampir meloncat keluar. Lalu dia pergi begitu saja. Meninggalkanku berdiri kaku di depan rumah dengan wajah panas merona dan ibu yang masih menatapku tidak percaya."Apa dia sudah gila? Bagaimana kalau ada tetangga yang melihat?" Ibu langsung keluar dan menarikku masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tertutup keras. Namun aku masih berdiri mematung di depan ibu, seolah tubuhku tertinggal beberapa menit di belakang bersama kecupan hangat di keningku tadi.Ya Tuhan...Dia sungguh berani melakukannya di depan ibu.Aku tanpa sadar mengangkat tangan menyentuh kening sendiri. Masih terasa hangat. Dan entah kenapa, semakin kuingat ekspresi tenang Sam setelah melakukannya, semakin sulit menahan senyum yang terus naik sendiri.“Audrey! Berhenti
Sam tidak menjawabku.Tatapannya justru tertuju pada rumahku yang gelap dengan rahang menegang seolah sedang memikirkan suatu keputusan yang sudah bulat di kepalanya.“Jangan berpikir untuk masuk! Pergi sebelum ibu melihat.” Aku berusaha menahannya dengan tubuhku. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu sampai depan pintu.”“Jangan bercanda!”“Aku tidak berminat bercanda malam ini.”Aku mendesis frustrasi. “Kumohon, pulanglah...”Sam justru melangkah lebih dekat. Sebelum sempat menghindar, jemarinya sudah lebih dulu menggenggam tanganku erat.Tangan hangat itu. Genggamannya yang kuat...Aku sempat terpaku sebelum berakhir jadi panik. “Sam! Ini tidak lucu.”Sam tidak bicara apapun lagi. Dia malah menarikku pelan menuju rumah. Aku buru-buru menahan langkah sambil berusaha melepaskan tangan.“Lepaskan! Kau benar-benar mau membuat keadaan makin buruk?”Dia masih tak bereaksi. Aku pun terus terseret bersamanya hingga kami hampir mencapai pintu.“Kau pikir menemui ibuku tengah malam begini a
"Ayah?" Sean menatap bingung pada Sam. Sam melirik sekilas padaku yang duduk di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tidak nyaman, lalu kembali menatap putranya.“Sean.”Sean menghela napas kecil dan menurunkan kedua tangannya dari bahuku. "Cepat turun." Kali ini Sam beralih memerintahku. Aku dengan cepat keluar dari mobil. Berdiri di belakangnya. "Ayah, ada apa?" Nada suara Sean masih terdengar hormat meski sedikit berat."Ayah ada urusan dengan Audrey."Sean langsung berkata dengan nada keberatan, “Kakek dan nenek yang menyuruhku mengantarnya pulang.”“Sekarang, Ayah yang ambil alih,” balas Sam singkat.Sean terdiam.Aku spontan memegang lengan Sam pelan. Jemariku mencengkeram kemeja pria itu dengan gugup sebelum berbisik lirih, “Sean sepertinya mabuk.”Sam langsung menoleh singkat. Tatapannya berubah lebih serius. Tanpa banyak bicara, dia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.Beberapa menit kemudian, sopir pribadi Sam turun dari mobil dengan tergesa lalu menghampiri ka
"Apa yang kalian lakukan barusan..." Napas Sean tercekat. Bibirnya gemetar mempertanyakan apapun yang dia saksikan tadi. Sam menghela napas dan akhirnya menjawab. “Seperti yang kau lihat... dia bersama Ayah.”Bersamaan dengan itu dia meraih tanganku dan menggenggamnya di depan Sean. Kejadiannya sa
Dia memperdalam ciuman itu dan membuatku makin terhanyut. Tanganku merayap naik ke tengkuknya. “Kau benar-benar akan membuatku lupa waktu,” erangku lemah.“Biarkan saja,” bisiknya di sela desahan napas yang kian memburu. Aku menarik wajah. Mencoba mengatur napas yang kacau. Dia ikut berhenti, mat
"I-ini... rumah untukku?" tanyaku terbata. Aku menatapnya tak percaya.Sam mengangguk mantap. "Ya, untuk kalian berdua." Tangannya sekali lagi bergerak mengelus perutku.Mataku tiba-tiba jadi terasa panas. Air bening menggumpal perlahan di pelupuk mata. Tapi berusaha kutahan. aku tak mau merusak mo
"Aku tak menyangka kau akan membawaku pulang," ucapku tersenyum pada Sam. Tanganku bergelayut manja di lengannya saat kami berdiri berdampingan di balkon kamar. "Mulai sekarang ini rumah kita," jawabnya merangkulku erat.Rumah peristirahatan itu seperti pulau kecil yang terlepas dari dunia luar. K







