Share

TAS 5

last update publish date: 2025-09-23 16:13:29

Sam meletakkan botol air minum yang baru saja dia teguk separuh. Kaus olahraganya basah oleh keringat, rambutnya sedikit berantakan, napasnya masih tak teratur dan berat.

“Kau sudah bangun?” suaranya berubah serak karena baru saja berlari jauh. "Sudah sarapan?"

Aku mengangguk kecil. "Baru saja...," jawabku pelan. "Aku... mau mengambil air minum untuk Irish," lanjutku lagi-lagi berbohong. Entah kenapa aku merasa harus membuat banyak kesempatan untuk lebih sering melihatnya. Karena mungkin ini akan jadi pertemuan terakhir kami.

"Oh, ya... tentu." Sam lekas membuka lemari pendingin dan menyodorkan dua buah botol air minum padaku.

Aku menerimanya dengan gugup terutama saat tangan kami bersentuhan sesaat. Rasanya seperti kejutan listrik.

Duk!

Sebuah botol terlepas dari genggamanku yang sedikit bergetar.

"Hati-hati, ini licin." Sam dengan cepat memungutnya mendahuluiku. Gerakannya sangat gesit. Tak bisa kuimbangi. Padahal aku berharap ada sentuhan tak disengaja berikutnya.

"Sial, otakku memang bermasalah," rutukku dalam hati.

Bergegas aku memeluk kedua botol itu dan berbalik menyembunyikan wajah. Tapi suara Sam menghentikan langkahku seketika.

"Audrey?"

Aku terpaku sejenak sebelum menoleh perlahan.

"Bagaimana keadaanmu? Tidak masuk angin?" tanyanya lagi sambil mendekat.

Aku tak menjawab. Pikiranku meminta pergi saat tubuhku justru membeku. Kupeluk botol-botol itu lebih erat. Berusaha keras menelan ludah, karena tenggorokanku mendadak kering.

Dia melangkah semakin mendekat, pelan, namun setiap langkahnya seperti menghimpit udara di antara kami.

Aku tahu aku seharusnya pergi. Tapi kenapa rasanya kakiku menolak bergerak?

Pria itu berhenti dua langkah di depanku. Sorot matanya mengamatiku, seolah menimbang. “Kau tidak apa-apa setelah semalam? Kelihatannya kau sedikit pucat. Perlu kuambilkan obat?”

Pertanyaan sederhana itu tetap membuatku terdiam lama. “Tidak, aku baik-baik saja.”

Dia mengangguk pelan. “Baguslah. Besok kalian ikut mengantar Sean ke bandara, kan?”

Aku menatapnya dengan bimbang. Nada suaranya santai, meski matanya seakan mengukur reaksiku.

“Belum ada rencana, sebenarnya,” jawabku ragu. “Tapi… kurasa itu ide bagus. Irish juga pasti setuju. Kami bersyukur sekali kalau bisa ikut.”

Senyum itu muncul di bibir Sam, tipis namun cukup untuk membuatku berpaling sebentar, pura-pura sibuk memeriksa botol dalam dekapan.

“Tentu saja kalian harus ikut, Sean pasti senang jika ada kalian,” katanya riang.

Aku mengangguk dengan senyum samar, berharap rona wajahku tak terlalu terlihat. Sulit sekali mencoba tetap tenang walau ada sesuatu yang menyeruak di dadaku saat melihatnya begitu dekat, begitu nyata dengan aroma keringat bercampur cologne yang samar.

“Baiklah, aku… kembali ke kamar dulu,” gumamku lalu berbalik, bergegas kabur karena tak bisa lagi menahan hawa dingin dari botol yang kupeluk. Juga, gelitik aneh di telapak tanganku.

**

Bandara pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari sudah cukup tinggi. Suara pengumuman berulang-ulang di pengeras suara bercampur dengan derap langkah para penumpang yang lalu lalang. Aku duduk di kursi tunggu, menatap punggung Sean yang sejak tadi diam seribu bahasa. Pandangannya kosong ke arah landasan yang samar terlihat di balik kaca tebal.

Irish di sebelahnya tak henti mencoba menghidupkan suasana. “Hei, setidaknya kau tidak akan merindukan masakanku, kan? Karena aku tidak pernah masak,” ujarnya sambil menyenggol bahu Sean. Candaan yang hambar itu hanya membuat sudut bibir Sean bergerak sedikit. Entah karena menahan senyum, atau sekadar lelah.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Dari sejak perjalanan tadi, Sean hampir tidak berbicara sepatah kata pun. Wajar jika dia kecewa. Ibunya tidak bisa ikut mengantar, padahal ini momen besar. Momen keberangkatan pertamanya untuk hidup di luar rumah.

Irish masih saja berusaha bercerita soal perjalanan liburan yang tidak pernah terjadi, mengungkit kejadian konyol semalam, bahkan memamerkan emotikon-emotikon aneh di ponselnya. Aku ikut tersenyum hambar, sesekali melirik angka di jam tangan digital yang terasa bertukar sangat lambat.

“Aku ke toilet dulu,” pamitku akhirnya. Suaraku nyaris tenggelam oleh riuh bandara. Aku butuh jeda dari suasana yang berat sebelah itu.

Irish hanya melambaikan tangan tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Sean mengangguk tipis, tetap dengan wajah yang sulit dibaca.

Aku melangkah cepat melewati deretan penumpang, mataku menyapu tanda arah toilet yang tak jauh dari gerbang keberangkatan. Tapi langkahku terhenti ketika melihat sosok yang tak asing.

Sam Arsen.

Dia berdiri tak jauh dari pintu toilet, satu tangan menyanggah pinggang, tangan satunya memegang ponsel di telinga. Kemeja birunya tampak rapi, namun kerutan di dahinya memperlihatkan bahwa pikirannya tidak setenang penampilannya.

“Kau keterlaluan! Di hari sepenting ini kau bahkan tidak menemani Sean?” suaranya terdengar jelas meski tidak keras. Nada yang menahan amarah.

Aku spontan melipir ke dekat tembok, bukan karena ingin menguping—setidaknya bukan itu niat awalnya—tapi ada sesuatu di nadanya yang membuatku berhenti.

“Sean butuh dukungan kita sekarang. Tidak mudah baginya hidup di luar rumah untuk pertama kali.”

Aku menggigit bibir bawahku. Rasanya tidak pantas berada di sini, tetapi kakiku lagi-lagi menolak bergerak. Suaranya menyusup begitu saja ke telingaku.

“Kau melakukan ini karena tidak suka dengan keputusan Sean? Kau pikir aku memaksanya?”

Jantungku mencelos. Jadi benar, mereka sedang berselisih soal ini. Tentang keputusan Sean. Tentang kepergiannya.

“Lalu apa? Jangan terus menerus menjadikan pasienmu alasan untuk setiap ketidakhadiranmu dalam keluarga.”

Hening sejenak. Aku bisa mendengar desah napasnya yang berat, menahan frustasi. Pria kharismatik ini terlihat menyedihkan sekarang.

“Ini bahkan tidak butuh waktu lama, halo? Ha—” Sam berhenti, menatap layar ponselnya dengan kesal. Telepon itu terputus sepihak.

Tangannya yang mengepal di sisi tubuh bergerak mengusap wajahnya dengan kasar. Untuk sesaat aku melihatnya berbeda. Bukan lagi sosok yang selalu tenang, melainkan ayah yang kelelahan berjuang sendiri.

Aku menatapnya penuh rasa iba, hingga menyadari dia akan berbalik.

Aku panik. Aku harus pergi sebelum dia melihatku. Kubalikkan tubuhku secepat yang kubisa, meski nasib berkata lain.

Braak!

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 247

    “Audrey…”Nada panggilan khas Max terdengar rendah, namun cukup untuk membuatku menegang.Dia melangkah mendekat hingga jarak di antara kami hampir hilang. Kepalanya menunduk, mendekat ke wajahku. Napasku tercekat, tertahan tanpa sadar.“Mungkin,” ujarnya pelan, “kau mau sedikit berbagi cerita denganku? Soal rencana pendekatanmu… atau prioritasmu saat di lokasi nanti?”Aku tahu dia sedang memancing reaksiku dan aku tidak siap.Aku tak tahu semerah apa wajahku sekarang, tapi dari sorot matanya, jelas aku gagal menyembunyikan perubahan ekspresiku."Kau terlihat gugup," gumamnya dengan sudut bibir terangkat naik.Mataku mengerjap cepat. Tak bisa bicara.Max menahan tawa. Bahunya sedikit bergerak, lalu dia menghela napas pendek, seolah memutuskan berhenti menggodaku.“Oke. Ke depannya,” lanjutnya, suaranya kembali tenang, “jangan selalu merendah. Orang-orang seperti mereka lebih suka sikap percaya diri daripada sekadar rendah hati. Apalagi… rendah diri.”Aku menelan ludah.“Apa mereka… ti

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 246

    “Kerja bagus hari ini,” ucap Max singkat ketika mobil berhenti di depan rumahku.Aku tertegun. Itu pertama kalinya dia mengatakan hal seperti itu dengan wajah cerah. Tidak datar seperti biasa.“Terima kasih,” jawabku tersipu.Max mengangguk lalu meraih mantel dan menutupi tubuhku. "di luar gerimis," katanya.Aku terhenyak. Tak bisa memberi penolakan setelah dia memujiku. Sopir membuka pintu. Aku turun perlahan. Max juga keluar sebentar, mengamatiku berjalan pergi dan menoleh berkali-kali padanya. Entah apa yang ingin kupastikan.Untungnya di segera masuk kembali ke mobil dan dibawa pergi. Meninggalkan aku dalam sunyi yang aneh di tengah halaman yang mulai basah oleh rintik hujan.“Sejak kapan kau pulang diantar pria seperti itu?”Aku terlonjak kaget dan menoleh cepat.“Astaga, Sean! Kau bisa membuatku jantungan,” keluhku mengelus dada.Sean tidak tersenyum. Tatapannya serius mengamatiku dari ujung kepala sampai kaki.“Siapa dia?”“Bosku.” Jawabanku cepat sambil berjalan ke teras.Sea

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 245

    "Kau sungguh mau pergi?" tanya Sam mendekat. "Dengannya?" Aku menghela napas panjang lalu mengangguk keras. "Masih ada tugas yang harus kuselesaikan." "Audrey—" "Sudah kubilang," selaku cepat meski dengan suara bergetar. "Aku akan baik-baik saja." Sam tetap menatapku dengan ekspresi keheranan. "Kumohon, kali ini percaya padaku. Aku sedang memperjuangkan semuanya." "Sebentar lagi hujan, masuk." Suara Max ikut memperingatkan kami untuk mengakhiri pertemuan itu. "Aku pergi dulu... Sam," bisikku lalu berbalik darinya. Saat masuk ke dalam mobil, aku sempat melihat Sam mengepalkan tangan. Wajahnya keras. Seolah menahan sesuatu. Namun situasi memaksanya diam. Beberapa orang mulai keluar dari gedung dan menghampirinya. Pintu mobil tertutup. Suara dari luar langsung teredam. Mobil melaju perlahan ke jalanan. Sunyi. Max menyandarkan punggungnya. Lalu, tanpa menoleh, dia berkata pelan, “Keputusan yang bagus.” Aku sedikit terkejut. Menoleh padanya. “Maksudmu?” “Kau t

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 244

    Sam mendengus kecut. “Terburu-buru.”“Efisien,” balas Max.“Tergantung kalau kau tahu kapan harus berhenti.”“Dan kau tahu?”Sam tidak menjawab. Langsung mengangkat paddle. “Satu koma tujuh.”"Satu koma delapan."Masih tidak ada gerakan dari Sam.Beberapa orang mulai berbisik. Mengira ini sudah selesai.Aku melirik Sam. Dia masih diam. Tapi rahangnya sedikit mengeras."Kenapa ketua komite lelang ikut berburu barang?" Sam tersenyum sinis."Karena ini barang bagus. Aku tertarik," jawab Max balas tersenyum tipis. Wajah Sam kembali mengeras. Suara panitia lelang terdengar. “Satu koma delapan ke—”Paddle terangkat. Tenang. Tepat waktu.“Dua miliar.”Suara Sam yang rendah cukup untuk menghentikan segalanya. Ruangan kembali hidup. Bisik-bisik muncul lagi. Sebuah angka besar yang cukup untuk mengatakan bahwa dia belum selesai.Aku menelan ludah. Ini sudah mulai sedikit gila. Aku tahu benda itu karya seni berharga. Tapi menawarnya dengan harga di luar nalar, itu sungguh tak masuk akal. Seben

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 243

    “Apa yang kau lakukan?” tanyaku panik.Sam akhirnya berhenti. Berbalik menghadapku.Tatapannya langsung mengunci.“Aku yang seharusnya bertanya.”Aku menelan ludah.“Apa maksudmu?”“Apa yang kau lakukan bersamanya?” suaranya rendah, tapi jelas menahan sesuatu."Aku sedang belajar.""Belajar apa? Belajar jadi pendampingnya?" ketus Sam. “Ini pekerjaanku,” jawabku cepat. “Aku hanya—”“Audrey.”Dia memotong.Nada suaranya tidak keras.Tapi cukup untuk membuatku diam.“Aku tidak suka kau bekerja dengannya.”Aku tertegun.“Itu tidak ada hubungannya dengan—”“Ada,” potongnya lagi. “Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihat.”Aku mengerutkan kening. “Melihat apa?”“Cara dia menatapmu.”Sunyi.Aku sedikit tersentak.“Itu hanya—”“Jangan bilang profesional.”Aku terdiam.Karena itu memang yang ingin kukatakan.“Dia tidak seperti itu,” lanjut Sam. “Aku tahu dia.”Aku menghela napas pelan.“Itu hanya candaan,” kataku akhirnya. “Soal perjodohan, soal pakaian… itu tidak serius.”Sam menatapku

  • TERGODA AYAH SAHABATKU   TAS 242

    Aku menoleh menatap Max dengan alis bertaut."Dalam pengawasanku sebagai atasanmu," lanjutnya lalu segera melepaskan genggaman dari pergelangan tanganku. Kembali bersikap biasa.Aku mengerutkan kening. “Termasuk urusan pribadiku?”Dia mengendikkan bahu. “Kalau itu berdampak pada pekerjaanmu.”Aku mengepalkan tangan. “Itu bukan hakmu.”"Kalau kau tidak suka dengan caraku dan setiap keputusanku…" katanya menggantung. Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin. "Kau boleh pergi."Aku menatapnya lurus. Dia tahu aku sangat butuh pekerjaan ini. Dia tahu aku akan menurut demi bisa tetap di sini.“Kau pasti tahu jawabannya," ucapku getir. Max mengangguk kecil. “Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”Aku tidak menjawab.Max menjauh sejenak, menarik jasnya lalu menatapku. “Kalau kau memilih tetap di sini,” katanya datar, “berarti kau harus belajar lebih cepat.”Aku mengangguk lemah. "Sudah kulakukan.”Max menghela napas. “Maksudku... bersiap dan ikut denganku, sekarang.”Mataku membulat. “K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status