تسجيل الدخولGiancha mencengkeram pinggul Yessica lalu menarik tubuhnya ke atas hingga menempel padanya. Suaranya terdengar tepat di telinga Yessica."Kamu akan duduk di atas rudalku, lalu bosmu akan meniduri wajahmu, diikuti Andree, kemudian Kairo. Kamu tidak boleh klimaks atau bergerak sampai aku menyuruhmu. Kalau kamu melakukannya, semuanya berhenti dan kamu kembali bekerja. Mengerti, Harimau Betina?"Bahkan jika Yessica klimaks, rasanya tidak akan seintens apa yang sedang Giancha bangun di dalam dirinya. Yang akan benar-benar menghancurkannya adalah setelah dia menerima semuanya dari mereka."Ya, Tuan."Giancha duduk di kursi sambil menarik Yessica bersamanya, tetap mempertahankan rudalnya tertanam dalam di dalam rahim Yessica. Stefan berdiri di depan Yessica dan membuka celananya.Yessica menjilat bibir sambil menunggu. Hukuman seperti ini sanggup dia jalani sepanjang hari. Stefan mengeluarkan rudalnya, tetapi Yessica tidak bisa membung
Tatapan mata gelap Andree turun ke mata Yessica dan dia tersenyum."Bagus. Kita perlu mengawasi itu. Kita tidak mau kebutuhan siapa pun tidak terpenuhi." Suara Stefan terdengar seperti sedang menahan tawa.Mereka sengaja menggodanya.Yessica akan mengusulkan untuk mengikat mereka malam ini. Dia akan membawa mereka sampai di ambang batas, lalu mundur sampai mereka menggeliat memohon agar dia memberi mereka pelepasan."Apa yang terjadi di sini?" tanya Kairo."Menunggu Giancha." Andree menoleh ke arah Kairo."Menunggu Giancha selesai dengan Yessica." Stefan menjauh dari kursinya, tetapi tidak berjalan memutar meja agar Yessica tidak tahu di mana dia berada. Namun, Yessica tahu dia pasti akan terus mengawasinya."Kamu butuh sesuatu?" tanya Stefan.Kairo mengambil kursi di sebelah Andree. Tatapannya menyusuri tubuh Yessica.Tiga rudal di ruangan ini dan tidak satu pun berada di rahimnya. Pengalaman yang bena
"Jangan bergerak," perintah Giancha sambil menampar bokongnya yang masih sakit.Yessica pun mendesis, tetapi berhenti menggerakkan pinggul."Maaf, Tuan."Sambil mengusap kulit yang memerah, Giancha memasukkan rudalnya sekitar satu sentimeter ke dalam rahim Yessica, ingin menancapkannya sepenuhnya. Rahim Yessica begitu panas dan basah."Mau jadi gadis baik, Harimau Betina?""Ya, Tuan." Tubuh Yessica bergetar di bawahnya, membutuhkan lebih dari yang Giancha berikan. Rahimnya selalu terasa ketat mengelilingi rudal Giancha, tetapi dengan kedua kakinya yang tertekan, rasanya semakin sempit.Giancha menggerakkan pinggulnya, masuk semakin dalam setiap kali mendorong ke depan. Gerakannya lambat dan membutuhkan seluruh kendali yang dimilikinya agar tidak menghunjamkan rudalnya terlalu dalam ke rahim Yessica. Jari-jari Yessica mencengkeram meja, mencari sesuatu untuk dijadikan pegangan. Dia mengeluarkan suara penuh kebutuhan saat panas tub
Yessica melewatinya, tetapi Giancha mengulurkan tangan setinggi pinggulnya dan menghentikannya. Yessica mendongak."Bukan berarti aku tidak ingin mengklaimmu sebagai milikku," bisiknya.Yessica menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. "Aku tahu. Ini rumit. Aku juga tidak menganggap kamu salah."Giancha mengangkat dagunya dan membungkuk untuk menciumnya dengan lembut."Kamu luar biasa dalam apa yang kamu lakukan, Harimau Betina, dan aku tidak pernah ingin menghambatmu. Sekarang ataupun di masa depan."Tangan Yessica memegang rahang Giancha. Mata birunya menatap mata Giancha."Aku tidak tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Tapi aku berterima kasih karena kamu peduli padaku."***"Kami menangkap Hendar Djatmiko pagi ini." Titto Raharjo, teman Giancha di kepolisian, menemui mereka di resepsionis. Itu kalimat pertama yang dia ucapkan.Yessica langsung bersandar pada Kairo. Kairo melingkarkan k
Giancha hampir lupa bahwa Simon berada di kantor mereka hari itu."Iya." Giancha mengusap rambut saat lift bergerak naik. "Dia adalah profesor Yessica dan pernah merayunya.""Kita tahu kenapa dia berada di acara amal?""Kampus punya satu meja di sana." Giancha bersandar ke dinding dan memperhatikan angka lantai yang bergerak naik perlahan. "Kenapa pria seperti dia mempertaruhkan pekerjaannya hanya untuk mencoba menyerang seseorang?"Semua tindakan penguntit sebelumnya sudah diperhitungkan. Yang ini terasa ceroboh."Pria itu mabuk. Mungkin dia melihat kesempatan lalu langsung meraihnya." Simon mengangkat bahu, dan lift berhenti di lantai kantor. "Kita hanya perlu menunggu dan melihat apakah mereka benar-benar menangkap pria itu."Giancha membawa Simon ke ruang rapat. Yessica berdiri dan tersenyum saat mereka melewatinya. Ketika Stefan keluar dari ruangannya, dia menjabat tangan Simon sebelum menghampiri Yessica. Stefan menuntun Ye
Tatapan Kairo menyusuri tubuh telanjang Yessica saat dia membuka celana jeans dan mengeluarkan rudalnya. Mulut Yessica pun langsung dipenuhi air liur melihat rudalnya yang sekeras baja. Kairo menggeleng sambil tersenyum kepadanya."Ini bakal cepat dan keras, tapi kamu akan menerimanya sebisamu. Benar, pelacur kecilku?"Yessica tidak sempat menjawab. Kairo mencengkeram kakinya lalu menghujamkan rudalnya dalam-dalam ke dalam diri Yessica. Protes Yessica berubah menjadi erangan.Kairo menyandarkan pergelangan kaki Yessica di bahunya lalu menurunkan tangan ke pinggul Yessica dan mengangkatnya dari tempat tidur."Aku butuh kamu klimaks dengan cepat, seperti pelacur yang baik."Kairo mengangguk kepada Andree sebelum menghentak masuk dan keluar dari tubuh Yessica. Setiap hentakan membuat panas di dalam tubuh Yessica semakin menyebar.Andree membungkuk di atas wajah Yessica lalu menempel pada buah dadanya. Dia menjilat dan
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







