LOGIN"Aku tahu. Kamu cuma suka laki-laki, kan? Tidak ada fantasi tersembunyi di sana?" Kairo mengangkat dagu Yessica dan mengamati wajahnya. "Sayang sekali. Aku mungkin suka melihatmu bermesraan dengan perempuan lain." Mulut Yessica terbuka dan pikirannya langsung buntu. Apa-apaan ini? Andree kembali tenang dan menggelengkan kepala. "Pergi sana, Kairo. Kalau kamu mau melihat itu, masuk ke kamarmu dan tonton film porno. Aku tidak akan berbagi Yessica dengan orang lain." Kairo mengangkat bahu. "Kamu yang sedang berkencan dengan perempuan lain." "Aku tidak berkencan dengannya. Kami hanya pergi bersama untuk menyenangkan orang tua kami dan agar pers tidak mengira kami melakukan persis seperti yang sebenarnya kami lakukan bersama Yessica." Tatapan Andree beralih kepada Yessica dengan ekspresi meminta maaf. Yessica meraih tangannya dan menggenggamnya. Dia tahu kesepakatan mereka. Mereka harus membuat per
"Aku mengerti." Giancha mengembuskan napas. "Kata Marlin, Dia bilang ingin mendapat informasi langsung tentang seperti apa Kairo di ranjang." Yessica tertawa. "Hubunganmu dengan adikmu aneh." "Kamu punya saudara?" Kairo bersandar di meja dengan kedua tangan terlipat di dada. "Tidak. Aku anak tunggal. Sebenarnya, pasti menyenangkan punya saudara." Yessica memecahkan beberapa gelembung dengan ujung jarinya. "Orang tuaku sebenarnya tidak terlalu ingin punya anak. Mereka memang merencanakanku, tentu saja, tetapi aku bukan prioritas mereka. Jadi, punya saudara laki-laki atau perempuan pasti menyenangkan karena ada teman di rumah. Namun, mungkin kami justru akan diabaikan bersama-sama." Kata-kata itu keluar begitu saja saat Yessica terus memecahkan gelembung demi gelembung, sampai akhirnya dia menyadari apa yang baru saja diungkapkann
Melalui kaca pancuran yang berembun, Yessica melihat bak mandi yang mengepul dengan lapisan busa mengambang di permukaannya. Aroma herbal memenuhi udara. Rasa bergairah menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Yessica sudah bertahun-tahun tidak berendam di bak mandi. Apartemennya bahkan tidak memiliki bak mandi yang bisa digunakan, seandainya dia punya waktu untuk menikmatinya. Bak mandi itu sendiri sangat indah, tetapi Yessica tidak pernah mengizinkan dirinya menikmati kemewahan seperti ini. Sampai sekarang. Kairo mengambil spons dan sabun Yessica, sementara Giancha mengambil sampo miliknya. Tidak lama kemudian, tubuh Yessica sudah dipenuhi busa. Bagian dalam tubuh Yessica terasa panas, dan pancuran bukan satu-satunya hal yang basah. Ketika Kairo berlutut untuk mencuci kakinya, Yessica menggigit bibir dan menahan napas. Kairo mengangkat mata birunya menatap Yessica lalu terseny
Kedua tangan besar Kairo bertumpu di atas pinggul Yessica. Kedua ibu jarinya menekan otot yang tegang, dan Yessica pun mengerang ketika otot-otot itu sedikit mengendur. Yessica membuka mata. Belum ada yang bangun. "Perlu yang lain, Sayang?" Bisikan rendah Kairo membuat Yessica semakin gelisah. Dia berharap bisa berbalik dan melakukan semua hal nakal yang mampu diciptakan pikirannya bersama Kairo, untuk Kairo, dan kepadanya. Namun, isi perutnya terasa seperti berada di dalam mesin penghancur sampah yang dipenuhi pecahan kaca. "Ibuprofen?" Mungkin sekalian rahim baru untuk menggantikan yang sedang dihancurkan sekarang? Kairo bergerak sedikit dan Yessica mendengar geraman pelan. "Hati-hati dengan sikumu." Suara serak Giancha mengusik kesunyian di sekitar mereka. "Gadis ini sedang kram. Jadilah pahlawan dan ambilkan obat untuknya." Kairo terus memijat punggung bawah Yessica. Kasur pun sedikit bergerak. Giancha duduk dan mengusap rambut gelapnya. Tatapan mengantuknya bertemu de
Stefan tidak bisa tidur. Dia duduk di tepi ranjang, lalu bangkit. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Pengakuan cinta Yessica terus terngiang di kepalanya, membuatnya tetap terjaga. Mungkin itu hanya kekhilafan sesaat karena Yessica sedang terbawa suasana ketika mencapai klimaks bersama mereka.Namun, bahkan kata-kata yang diucapkan saat sedang terbawa gairah bisa mengandung kebenaran. Mungkin Yessica memang mulai jatuh cinta kepada mereka. Sama seperti mereka semua yang sepertinya mulai jatuh cinta kepadanya.Namun, pertanyaan tentang ke mana hubungan ini akan berjalan terus mengganggu pikiran Stefan. Pertanyaan itu muncul setiap kali dia memejamkan mata. Apa yang bisa mereka miliki setelah ini?Yessica adalah karyawan mereka. Ya, berhubungan seks dengannya bisa menimbulkan masalah, tetapi jatuh cinta adalah persoalan yang berbeda. Mereka bisa berhubungan seks tanpa melibatkan perasaan. Mereka sudah pernah melakukannya sebelumnya. Tidak pernah me
Mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun, dan Giancha tahu Stefan akan melakukan sesuatu yang berbeda. Hanya saja, Giancha tidak tahu seperti apa perubahan itu. Stefan berdiri di antara kedua lutut Giancha dan mencengkeram celana dalam Yessica, lalu menariknya dengan kuat hingga robek. Yessica pun menarik napas, hampir tidak percaya, tetapi rahimnya justru semakin basah. Yessica menyukai permainan yang kasar. Stefan mendorong tubuh Yessica ke dada Giancha. Giancha menggigil ketika jari-jari Stefan mengoleskan pelumas pada rudalnya yang berada di dalam Yessica. Mata Yessica melebar ketika menyadari apa yang dilakukan Stefan. Lalu ujung rudal Stefan menekan rudal Giancha, dan Stefan mendorongnya masuk ke dalam rahim Yessica yang sudah sempit bersama rudal Giancha sekaligus. Giancha mengerang karena rangsangan yang bercampur antara rudal Stefan bergesekan dengan miliknya, sementara rahim Yessica mencengkeram keduanya. Yessica mengerang saat menerima keduanya. Saat rudal Stefan
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







