LOGIN“Aku harus menjawab ini sekarang.” Vivian bangkit dari sisi ranjang, meraih ponselnya di atas nakas. “Aku akan berada di ruang kerja. Kalau mengantuk, kamu bisa tidur lebih dulu. Tidak perlu menungguku,” imbuhnya lembut, disertai senyum yang terasa sekilas, lalu pergi.
Adrian tidak bereaksi. Ia hanya menatap punggung istrinya yang menjauh hingga pintu kamar tertutup pelan. Ia di tinggalkan dalam kondisi setengah terbakar, hanya demi sebuah panggilan. Panggilan yang belakangan ini terasa terlalu sering. Terlalu penting. Tapi Adrian sudah tidak heran. Ini bukan kali pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ia kalah oleh suara dari seberang sana. Adrian mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Menunggu Vivian kembali terasa sia-sia. Ia tahu, besar kemungkinan malam ini akan berakhir sama seperti sebelumnya. Dirinya sendirian, dengan hasrat yang kembali di pendam. *** Safira menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. Hari ini adalah hari pertamanya masuk kantor. Ia membuka lemari, mengeluarkan beberapa potong pakaian yang sudah ia siapkan. Di atas ranjang terlipat sebuah blus putih sederhana dan rok hitam selutut. Ia menatapnya lama, menggigit bibir. “Apa dandananku ini sudah pantas? Semua orang di kantor pasti memakai baju bagus. Sementara aku…” Ia menatap bayangan dirinya di cermin. Dengan sedikit canggung, ia mencoba memulas bedak tipis, lalu memoleskan lip balm agar bibirnya tidak terlalu pucat. Hasilnya tetap sederhana, tapi cukup membuatnya merasa sedikit percaya diri. Ketika ia melangkah keluar kamar, kebetulan bertemu Vivian yang baru saja keluar dari ruang kerja pribadi. Vivian tampak rapi seperti biasa, mengenakan blazer krem dengan rambut sebahu yang tertata. “Safira,” sapa Vivian dengan senyum hangat. “Wah, cantik sekali pagi ini. Cocok sekali jadi anak kantoran.” Safira tersipu, buru-buru menunduk. “Tante, jangan bercanda, aku masih canggung sekali. Takut salah kostum.” Vivian menepuk bahunya lembut. “Kamu terlihat sopan dan profesional. Itu yang paling penting. Jangan terlalu khawatir soal penampilan. Nanti lama-lama terbiasa.” Safira mengangguk kecil. “Iya, Tante. Terima kasih nasehatnya.” Mereka lalu menuruni tangga bersama. “Oh, iya. Tumben sekali pagi ini Tante masih di rumah. Biasanya Tante selalu terburu-buru,” ujar Safira berbasa-basi. Vivian yang mendengarnya langsung terkekeh. “Kalau tidak terburu-buru berarti pekerjaanku sedang santai, Safira.” Saat langkah mereka sampai di ruang makan, aroma roti panggang dan kopi langsung memenuhi udara. Safira tertegun ketika melihat Adrian sudah duduk di kursi panjang, membolak-balik koran sambil menyeruput kopi. Pagi itu ia mengenakan setelan jas gelap di padukan dengan dasi hitam sederhana namun elegan. “Selamat pagi, Om Adrian,” sapanya hati-hati. Adrian mengangkat pandangan dari koran, menatapnya sebentar. Tatapannya tenang, tapi dalam. Senyum tipis tersungging di bibirnya. “Pagi, Safira. Sudah siap untuk bekerja?” Safira meremas ujung rok hitamnya gugup. “I… iya, Om. Meski masih agak takut salah.” Adrian meletakkan koran, menyandarkan tubuh ke kursi. “Takut salah itu wajar. Yang penting kamu bisa cepat belajar.” Suaranya tenang, tapi entah kenapa selalu terdengar seperti perintah yang tak bisa di tolak. Vivian duduk di samping Adrian, menyiapkan roti di piring. “Jangan buat Safira menjadi bertambah tegang, Adrian. Harusnya kamu beri semangat saja.” Adrian hanya tersenyum, lalu menyesap lagi kopinya. Safira berusaha fokus pada sarapannya, tapi tiap kali ia merasa tatapan Adrian jatuh ke arahnya, ia jadi salah tingkah. Safira merasa tatapan Adrian semakin aneh dan berani. Setelah selesai sarapan, Vivian segera berdiri. “Aku harus berangkat sekarang,” ujarnya mengecup pipi Adrian yang masih duduk santai seraya menikmati kopinya. Sejujurnya, Adrian mulai muak dengan sikap Vivian. Istrinya itu selalu tampil seolah hidup mereka baik-baik saja di hadapan orang lain. Rapi, sempurna, tanpa celah. Padahal kenyataannya jauh berbeda. Vivian tak pernah benar-benar memberi apa yang seharusnya ia dapatkan sebagai seorang suami. Ironisnya, wanita itu tetap bersikap seakan telah menjalankan perannya dengan sempurna sebagai istri. “Safira, Tante berangkat lebih dulu.” Vivian lalu berjalan mendekati Safira. “Oh iya, nanti kamu berangkat bersama Om Adrian saja, ya.” Safira langsung menoleh cepat. “Eh, bersama? Dengan Om Adrian?” “Ya. Itu lebih efisien.” Adrian menanggapi cepat, nada suaranya seolah itu sudah keputusan mutlak. Safira hanya bisa mengangguk, meski wajahnya memerah. ‘Ya Tuhan, berangkat bersama Om Adrian naik mobil ke kantor? Aku bisa mati canggung sepanjang jalan.’ Mobil Adrian berhenti di depan gedung tinggi menjulang. Dinding kacanya memantulkan cahaya matahari pagi, membuat bangunan itu tampak semakin megah. Di depan lobi, karyawan berlalu-lalang dengan setelan rapi, sebagian membawa map dan laptop. Safira menelan ludah. Tangannya meremas erat tali tas kecil di pangkuan. Baru pertama kali ia melihat suasana perkantoran sebesar ini, apalagi tahu bahwa ia akan bekerja di dalamnya. Pintu mobil dibuka oleh seorang satpam. Adrian turun lebih dulu. Safira buru-buru mengikuti, langkahnya sedikit kaku. Saat berdiri di samping Adrian, ia menyadari betapa berbedanya aura mereka. Pria itu terlihat seperti penguasa gedung ini dan memang benar adanya. “Jangan menunduk terus,” suara berat Adrian terdengar. “Kamu karyawan di sini, bukan tamu. Jadi berjalanlah dengan percaya diri.” Safira terperanjat, lalu cepat-cepat menegakkan tubuh meski wajahnya memerah. “Iya, Om.” Adrian menoleh sekilas, tatapannya tajam tapi ada senyum tipis di ujung bibirnya. “Di kantor, panggil aku Pak Adrian.” “I-iya, Pak Adrian,” Safira mengoreksi dengan suara pelan. Di lantai delapan, mereka memasuki ruang divisi keuangan. Ruangan luas dengan deretan meja komputer rapi, dipenuhi karyawan muda yang sibuk. Begitu melihat Adrian, beberapa orang langsung berdiri dan memberi salam. “Selamat pagi, Pak Adrian.” “Selamat pagi, Pak.” Adrian hanya mengangguk singkat, lalu berjalan tenang menuju ruang meeting kecil di dalam divisi. Safira melangkah di belakangnya, merasa semua mata tertuju padanya. Safira langsung menunduk, wajahnya panas. Ia tidak berani menoleh barang sedikit saja. Seorang wanita paruh baya mendekat, berpenampilan ramah. “Kamu pasti Safira, ya? Kenalkan saya Bu Ratna, supervisor di sini. Mulai hari ini kamu akan menjadi asisten staf di divisi keuangan. Sementara ini kamu akan bantu urus laporan harian, nanti kalau Rafael, putra Pak Adrian sudah masuk, kamu akan langsung di bawah koordinasinya.” Safira menunduk sopan. “Iya, Bu. Senang bisa bergabung.” Bu Ratna tersenyum. “Bagus. Ayo, saya perkenalkan pada tim.” Safira berjalan mengikuti Bu Ratna, berusaha tersenyum meski jantungnya berdetak cepat. Ia berkenalan dengan beberapa rekan kerja. Ada Rina, staf junior yang cerewet. Dika, pria humoris yang suka melontarkan candaan, dan beberapa lainnya yang tampak masih menatapnya dengan rasa penasaran. “Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan tanya padaku, ya,” kata Rina sambil berbisik. “Oh ya, kamu harus hati-hati. Di sini semua orang suka sekali menggosipkan Pak Adrian.” Safira membelalakkan mata. “Eh, bukanya tidak boleh bergosip seperti itu. Beliau kan atasan kita.” Rina hanya cekikikan. “Safira, sepertinya kamu memang harus belajar seperti apa dunia kantor sesungguhnya.” Safira hanya bisa meringis. Ia memang belum tahu dunia kantor. Dan ia harap, ia bisa menjalaninya dengan mudah. Tak lama kemudian, panggilan rapat terdengar. Semua staf divisi berkumpul di ruang meeting. Adrian berdiri di depan, menatap mereka satu per satu dengan wibawa yang tak bisa di tawar. “Divisi keuangan adalah urat nadi perusahaan. Semua transaksi, semua laporan, semua keputusan besar berawal dari angka-angka kalian. Jadi jangan pernah main-main,” suaranya berat dan dalam, membuat ruangan seketika hening. Safira duduk di barisan belakang, berusaha fokus mendengarkan. Tapi sesekali, tatapan Adrian berhenti pada dirinya lebih lama dari yang seharusnya. Setiap kali itu terjadi, jantungnya langsung melonjak tak karuan. Kenapa Adrian selalu menatapnya seperti itu? Pertanyaan itu selalu berulang di benaknya, berputar tanpa jawaban. Tapi Safira hanya bisa diam tanpa berani mencari tahuAdrian dan Safira melangkah masuk ke rumah hampir bersamaan. Mereka baru saja pulang bekerja. Hari pertama bekerja langsung menguras tenaga Safira. Jauh dari bayangannya tentang pekerjaan kantoran yang rapi dan ringan.Tanpa sadar ia menghela napas terlalu keras. Adrian yang berjalan lebih dulu menoleh.Pria itu menatap Safira yang berdiri di belakangnya. “Apa kamu lelah, Safira?”“Eh, i-iya, Om. Sedikit,” jawab Safira jujur, berusaha tersenyum. “Ini pertama kalinya saya benar-benar terjun ke dunia kantor.”“Wajar,” kata Adrian tenang. “Nanti juga terbiasa.”Safira hanya mengangguk, lalu memilih pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat ingin makan malam, rupanya dapur masih kosong. Tidak ada seorang pun di sana. Namun, semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan.Safira baru ingin duduk saat ia mendengar langkah kaki berat memasuki ruang makan. Ia menoleh, menatap Adrian yang baru memasuki ruang makan.“Makan, Safira.” Pria itu berujar santai. Lalu menarik kursi tempat bia
“Aku harus menjawab ini sekarang.” Vivian bangkit dari sisi ranjang, meraih ponselnya di atas nakas. “Aku akan berada di ruang kerja. Kalau mengantuk, kamu bisa tidur lebih dulu. Tidak perlu menungguku,” imbuhnya lembut, disertai senyum yang terasa sekilas, lalu pergi.Adrian tidak bereaksi. Ia hanya menatap punggung istrinya yang menjauh hingga pintu kamar tertutup pelan. Ia di tinggalkan dalam kondisi setengah terbakar, hanya demi sebuah panggilan.Panggilan yang belakangan ini terasa terlalu sering. Terlalu penting.Tapi Adrian sudah tidak heran. Ini bukan kali pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir ia kalah oleh suara dari seberang sana.Adrian mengusap wajahnya kasar, lalu menghembuskan napas panjang sambil menatap langit-langit kamar. Menunggu Vivian kembali terasa sia-sia. Ia tahu, besar kemungkinan malam ini akan berakhir sama seperti sebelumnya. Dirinya sendirian, dengan hasrat yang kembali di pendam.***Safira menghela napas panjang, duduk di tepi ranjang. Hari ini ad
Sore itu Safira sengaja menghabiskan waktunya di dapur. Bukan karena diminta, melainkan karena rasa bosan yang perlahan menumpuk sejak beberapa hari terakhir ia tinggal di rumah Vivian. Di rumah sebesar ini, ia nyaris tak memiliki peran apapun. Semua pekerjaan rumah telah ditangani orang lain.Setiap pagi para pekerja datang, menjalankan tugasnya dengan cekatan, lalu pergi begitu pekerjaan mereka sudah selesai. Rumah kembali lengang, rapi, dan terasa terlalu tenang. Tak ada yang benar-benar tinggal, selain tukang kebun dan satpam yang berjaga di gerbang depan rumah Vivian.Safira mengaduk pelan isi mangkuk di hadapannya, mencoba menikmati kesibukan kecil itu, hingga sebuah suara memecah lamunannya.“Safira, kamu sedang apa?”Safira tersentak, lalu cepat menoleh. Ia langsung tersenyum ketika mendapati Vivian berdiri di ambang dapur. Seperti biasa, wanita itu tampak rapi dan anggun meski hanya mengenakan pakaian rumahan sederhana, kesan elegan yang seolah melekat alami pada dirinya. “A
Pagi itu Safira terbangun oleh cahaya yang menyusup melalui celah tirai kamarnya. Ia mengerjap pelan, menyadari terang yang berbeda. Bukan lagi sinar lembut dari jendela rumah lamanya, melainkan cahaya kota yang putih, hangat, dan asing.Setelah membersihkan diri, Safira langsung memilih untuk keluar kamar. Lagi-lagi ia merasakan suasana yang berbeda. Rumah terasa sunyi. Langkahnya bergema pelan di lantai marmer. Dari lantai bawah terdengar suara peralatan makan beradu pelan. Safira menuruni tangga dengan hati-hati.Di ruang makan, Adrian duduk dengan setelan kemeja abu-abu gelap, lengan digulung rapi. Sebuah tablet tergeletak di samping cangkir kopinya.Safira refleks berhenti melangkah.Adrian mendongak, dan tanpa sengaja tatapan mereka saling bertaut. Safira terlihat begitu cantik alami, segar, dengan wajah polos tanpa sentuhan riasan apapun. Ada kelembutan yang jujur terpancar dari sorot matanya, sesuatu yang jarang sekali ia temukan. Berbeda dengan Vivian yang selalu tampil sempu
Mobil hitam berhenti perlahan di depan sebuah gerbang tinggi yang megah. Lampu jalan berkilau temaram, memantul di bodi mobil yang baru saja menempuh perjalanan panjang dari stasiun. Di dalam mobil, seorang gadis muda duduk diam dengan tangan menggenggam tas kecil di pangkuannya. Jemarinya berkeringat dingin, bergetar halus seakan ikut membawa gugup yang memenuhi dadanya. “Sudah sampai, Nona,” ucap sopir dengan suara ramah, meliriknya sekilas melalui kaca spion. Safira mengangkat wajah. Pandangannya segera terpaku pada pagar besi di hadapannya. Di balik pagar, sebuah rumah besar bergaya modern tampak berdiri dengan anggun. Ini rumah Tante Vivian… batin Safira, menarik napas panjang. Hanya beberapa bulan lalu, Safira masih tinggal di rumah sederhana di sebuah desa kecil bersama ayah dan ibunya. Hidupnya tenang, meski sederhana. Hingga kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya dalam sekejap. Dunia yang dikenalnya runtuh, meninggalkannya sendiri dengan kesedihan yang nyaris







