Share

Bab 03

Author: Bawah Tanah
last update Huling Na-update: 2025-10-16 11:55:09

"Hah... Diam aja di sini tidak mungkin, sekarang kalau pulang tidak membawa apa-apa Mak pasti marah, selain itu perut sudah mulai keroncongan, harus makan apa jika tetap diam di sini? sudah masak belum ya Mak?"

Parman memegangi perutnya yang terasa sudah meminta diisi. "Huh terpaksa kayaknya walaupun sedikit aku harus mendapatkan kayu bakar."

Parman saat itu mengeluarkan korek api dari dalam saku celana, ia nyalakan berusaha mencari daun dan ranting kering, mau membuat api unggun kecil agar bisa menerangi tempat tersebut, supaya bisa mencari kayu bakar untuk ia bawa pulang.

"Untung aja di depanku banyak ranting kering kayaknya cukup nih buat masak malam ini." Gumamnya sambil mengeluarkan golok dari sarungnya, kemudian mulai mengambil satu persatu ranting kayu yang sudah pada kering itu.

Entah apa yang dipikirkan Parman saat ini, dalam kondisi sudah malam begini tentunya seperti apa kondisi ibunya di rumah, setelah menanti kepulangannya dari sore hingga malam tiba belum kunjung tiba. Namun nampaknya Parman tidak memikirkan masalah itu, ia terus mengumpulkan ranting kayu, akhirnya terkumpul sebesar pinggang anak balita, segera ia ikat dengan tali seadanya.

"Akhirnya dapat juga, lebih baik aku pulang sudah malam, perut sudah tidak tahan harus segera diisi." Sesudah memadamkan api unggun yang masih menyala, dan kini obor di tangannya sudah ia nyalakan, segera melangkahkan kaki, perlahan keluar dari kebun tersebut.

Setengah jam kemudian ia telah sampai ke depan rumah rumah panggungnya, segera masuk lewat pintu dapur yang sudah memperhatikan kondisinya, sebab jangankan untuk membetulkan rumah yang sudah lapuk begitu, untuk makan sehari-hari pun kalau ibu Sarti tidak mencari banting tulang sehari-hari, tentu entah bisa makan atau tidak, karena Parman kesehariannya hanya makan dan tidur.

Begitu kayu bakar itu ditaruh dekat tungku yang dingin. Parman sangat terkejut ketika matanya melihat ibunya sudah berdiri sambil tolak pinggang di dekatnya, sedang melotot tajam padanya, nampaknya wanita tua itu betul-betul sangat kesal.

"Kamu ngapain aja di kebun Parman, mengapa jam segini baru pulang? Otakmu ditaruh di mana, Mak menunggu dari sore tidak muncul juga, ngapain aja jam segini baru pulang, jangan-jangan di kebun malah tidur ya?"

Parman saat itu bukannya menjawab pertanyaan ibunya malah duduk, matanya mencari makanan sambil memegangi perut yang sudah keroncongan. "Kamu mendengar ucapan Mak tidak? Matamu jangan malah celangak celunguk ke sana kemari mencari apa kamu Parman?!" Wanita paruh baya itu semakin marah.

"Ya tentunya mencari apa lagi kalau bukan makanan Mak, perutku sudah lapar meminta diisi, mana nasi atau makanan apa kek, yang penting bisa mengganjal perut yang sakit ini Mak."

Ibu Sarti saat itu sampai menggeleng-gelengkan kepala, betul-betul sangat geram. "Oh jadi kamu mau makan, ternyata kamu bisa merasa lapar juga ya, Mak kira perutmu tidak perlu diisi makanan cukup tidur saja."

"Ya tentunya, namanya manusia mana ada yang tidak akan merasa tidak lapar Mak. Mak ini ada-ada saja, sudah ah jangan bercanda, mana nasi atau ubi kek, yang penting bisa menghilangkan perutku yang sakit Mak."

Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, entah masa bodoh atau pura-pura tidak mengerti kondisi rumah yang masih dingin tidak ada tanda-tanda tungku habisnya menyala, sebab ibunya mau masak bagaimana sedangkan kayu bakarnya baru sampai.

"Siapa yang bercanda Parman?! Kali ini nada suara wanita paruh baya itu semakin tinggi saking kesalnya. "Kamu benar-benar lapar ingin makan?"

"Ya tentunya Mak, kalau tidak lapar untuk apa saat ini aku meminta makanan?"

"Tuh makan arang atau kayu bakar yang baru saja kamu bawa, kamu ini otaknya ditaruh di mana Parman? Sudah bangkotan begini masih seperti anak-anak, mau bagaimana menyalakan tungku jika kayunya tidak ada, pakai pikiranmu itu," wanita paruh baya itu kian kesal. "Bukankah kamunya juga baru pulang dari kebun membawa kayu bakar yang tidak seberapa itu?"

Parman tidak menjawab apapun selain diam, kalau ibunya sudah semarah itu, Parman tak pernah berani menyela apapun selain diam, walau diam nya itu seperti biasa, tak pernah memasukan apapun yang dinasehatkan ibunya ke dalam otak, entah benar-benar tidak mengerti atau saking malasnya, sehingga apapun yang nasehatkan wanita tua itu belum ada satupun yang mampu merubah kelakuannya.

"Sekarang kalau kamu lapar silakan masak sendiri. Mak mau tidur sudah malam, tuh di pojok ada beras setengah liter kamu masak sendiri, mulai hari ini dan seterusnya Mak sudah tidak sanggup memberi makan kamu lagi, cari sendiri kalau lapar, jangan hanya makan tidur mulu sehari-harinya, Parman."

Wanita paruh baya itu langsung membalikkan badannya masuk ke dalam kamarnya, seperti nyata sudah sangat marah terhadap Parman yang sulit diatur olehnya.

"Aduh Mak, mengapa tega banget terhadapku, bagaimana caranya masak, aku kan belum pernah masak Mak?"

"Itu urusanmu Parman, Mak kan sudah mengatakan, mulai hari ini dan seterusnya, kamu harus mengisi perutmu sendiri dengan cara apapun terserah itu urusanmu, kalau kamu setiap hari maunya tinggal makan tanpa harus mencari mengeluarkan keringat, Mak kasihan terhadap mu Parman."

"Kasihan kenapa memangnya denganku Mak?" Tanyanya betul-betul Parman belum memahami apapun yang diutarakan ibunya.

Di dalam kamar, wanita tua itu kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil mengurut dada, berusaha meredam emosi yang bergolak memenuhi rongga dadanya, ia sadar mau bagaimanapun keadaannya.

Parman anaknya sendiri selain itu, ia punya anak hanya satu-satunya, tempat menggantungkan harapan jauh lebih baik di masa depan, walaupun saat ini kelakuannya masih sangat jauh dari harapan yang diinginkannya.

"Mengapa malah diam, apa sudah tidur jangan-jangan perut Mak sudah penuh oleh makanan ya? Ah Mak ini tega banget. Kenapa tidak menyisakan sedikit buatku, bukan malah menyuruh aku memasak sendiri."

"Mak juga belum makan apapun Parman, kamu ini otaknya ditaruh di mana, berasnya kan masih ada, memangnya kita selalu punya beras banyak? Kalau sudah dimasak beras setengah liter itu sudah tidak akan ada lagi di pojokan. Lagipula, kapan kalau Mak punya makanan di makan sendiri tidak menyisakannya untukmu?"

"Iya sih, Mak tak pernah tidak menyisakan makanan untukku, lagian Mak bicaranya begitu, kenapa sudah tidak mau memberi makan aku lagi, atau jangan-jangan Mak sudah tidak menganggap aku anak lagi?"

"Bukan begitu Parman, dengarkan baik-baik dan ingat serta simpan dalam otakmu. Mak sudah tua entah berapa lama lagi hidup di alam dunia, kalau saat ini kamu tidak mulai mandiri sendiri, tentunya sampai kapanpun kamu tidak akan berpikir dewasa." Dahi Parman sampai mengernyit sepertinya tengah berpikir.

"Soalnya, kamu ini hanya tubuh saja yang sudah dewasa tapi kelakuan kamu masih seperti anak yang baru gede. Makanya harus mulai berpikir dewasa jangan tergantung terhadap orang terus, walaupun terhadap Mak tidak boleh, sekali lagi ingat Mak sudah tua, kalau tiba-tiba meninggal kamu bisa apa Parman bila tidak dari sekarang mulai mandiri?"

"Iya mengerti, tapi aku lapar Mak, harus bagaimana ini?"

Mendengar apa yang diutarakan Parman, wanita tua itu kembali menghela nafas panjang. "Kamu ini benar-benar ya, baru aja di nasehati tidak ada yang masuk sedikitpun, kalau begitu terserah kamu, mau masak atau nggak bodo amat kalau kamu tak mau makan, yang penting jangan mengganggu, Mak ingin tidur besok kerja."

Parman terdiam tak bicara lagi, sesudah berulang kali memanggil ibunya, namun tak terdengar bersuara menjawab panggilannya. Mungkin saking laparnya, ia berjalan ke arah beras di plastik yang ada di pojokan.

"Harus diapain dulu beras ini sebelum dimasak?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 27

    Rani masih berdiri di depan jendela kamar mewahnya saat Parman menyapanya dengan pertanyaan tersebut, ia segera mengalihkan tatapannya pada Suganda setelah cukup lama memikirkan pemikiran yang tentunya hanya dia yang tahu, dari mulai ramangnya malam yang perlahan berganti pagi hari yang cerah.Perlahan inar pagi menyelinap lembut melalui tirai tipis, menerangi wajahnya yang halus dan berseri. Rambut hitamnya yang tergerai rapi menambah kesan anggun pada sosoknya. Matanya kemudian melirik ke arah Parman, suaminya, yang sudah bangun dari tidur, duduk di tepi tempat tidur dengan ekspresi sedikit terkejut namun hangat.Tanpa kata, Rani tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Perlahan ia melangkah mendekat, memeluk tubuh suaminya yang masih dingin, selimut yang semula menutupi tubuh Parman saat itu masih terbalut pada tubuh Rani sendiri.“Aku tidak kenapa-napa, sayang. Tidak usah khawatir,” ucapnya lembut, suaranya menenangkan.Parman tanpa ragu menarik Ran

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 26

    Karto dan Darto melangkah tertatih, napas mereka memburu namun mata tak berani berpaling dari sosok kakek tua yang berjalan di depan. Obor kecil di tangan mereka bergetar, cahayanya menari-nari di antara pepohonan lebat hutan Cisodong yang sunyi dan dingin. Suara dedaunan yang bergesekan dan ranting patah sesekali mengiringi langkah mereka, menambah berat suasana yang penuh ketegangan.Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, bayangan gubuk tua mulai muncul di antara rimbunnya pohon-pohon besar. Atapnya reyot, dindingnya rapuh, namun aura mistis yang menyelimutinya membuat Karto dan Darto nyaris lupa akan rasa takut mereka. Kakek itu menoleh, matanya menyiratkan ketegasan yang tak bisa ditawar.“Masuklah, jangan takut,” suaranya serak namun berwibawa, memerintah tanpa ruang untuk protes.Keduanya masuk ke dalam gubuk yang remang-remang. Bau dupa dan ramuan herbal menusuk hidung, sementara rak-rak kayu penuh sesak dengan botol-botol kaca berisi cairan berwarna aneh dan tulang

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 25

    Darto memutar tubuhnya pelan, obor yang digenggamnya mengeluarkan cahaya temaram yang menari-nari di antara pepohonan rimbun. Matanya yang tajam berusaha menangkap bayangan apapun di balik gelapnya hutan, namun yang terlihat hanya siluet pohon besar menjulang tinggi, seperti penjaga sunyi yang mengawasi malam itu.Tiba-tiba, kembali telinga mereka mendengar jelas suara benda jatuh bergema keras, membuat telinga Darto berdenyut kencang. Napasnya memburu, jantungnya berdetak tak menentu. Di sisi lain, Karto berdiri diam, bibirnya terkunci rapat, tanpa sepatah kata pun keluar, hanya sesekali matanya menyapu kegelapan dengan waspada.Ketika suara benda jatuh itu kembali terdengar, kali ini disusul auman harimau yang menggetarkan, keduanya seketika membeku. Getaran ketakutan merayap di seluruh tubuh mereka; keringat dingin membasahi punggung.Tidak ada jalan keluar, mereka terperangkap di tengah hutan lebat, dikelilingi bayang-bayang ancaman. Darto dan Karto saling membelakangi, posisi yan

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 24

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma kayu jati dan wangi parfum mahal yang samar tercium di udara hangat. Lampu-lampu temaram memantulkan cahaya lembut di dinding emas, menciptakan suasana intim yang membalut Cinta Parman dan Rani. Tubuh mereka yang basah oleh keringat saling merapat, bergantian dalam gerakan penuh gairah yang tak kenal lelah. Napas Rani tercekat, matanya yang berkilau menatap dalam ke arah Parman dengan senyum penuh kepuasan. “Aku benar-benar puas, Mas. Terima kasih ya, sayang,” bisiknya lirih, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tulus. “Aku bahagia menjadi istrimu.” Parman membalas dengan senyum hangat, tangannya lembut menyisir rambut hitam Rani yang sedikit berantakan. Ia menundukkan kepala, mencium keningnya yang halus, lalu merambat ke pipi yang memerah, dan akhirnya di bibir merah itu, penuh kelembutan dan hasrat yang sama-sama membara. Bibir mereka menyatu kembali, seolah ingin menyampaikan lebih dari kata-kata—janji, cinta, dan kehangatan yang tak terucapkan.

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 23

    Darto dan Karto melangkah menyusuri jalan semakin jauh dari warung tersebut, ingin menuju kampung Cisodong walau jaraknya masih jauh. Matahari yang tadinya cerah perlahan merunduk, menyisakan semburat jingga yang merayap di balik pepohonan. Suara desir angin dan kicau burung berganti dengan keheningan yang menekan, membuat langkah mereka semakin berat terasa.“Masih jauh, ya?” Tanya Karto, suaranya serak, menyembunyikan kelelahan yang mulai menggerogoti semangatnya.Darto hanya mengangguk pelan, tatapannya tetap fokus menatap jalur di depan. Setelah beberapa menit hening, Karto akhirnya berhenti di pinggir jalan, membelalakkan matanya pada Darto. “Kan, tadi si bapak warung sudah berkata kalau jalan kaki memakan 7 hari 7 malam mau bagaimana ceritanya kita baru berjalan sebentar kamu bertanya masih jauh segala?" Ucap Karto sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lanjut Darto. "Kita ini mau terus jalan kaki sampai kapan? Nggak mau sewa kendaraan atau gimana?”Karto menoleh, wajahnya memanca

  • TERNYATA ISTRI PEMBAWA HOKI ITU (TIREN)   Bab 22

    Kamar mewah itu dipenuhi aroma harum parfum dan desahan lembut yang saling bersahutan. Parman dan Rani bergerak lincah di atas ranjang, tangan mereka tak henti mengeksplorasi setiap lekuk tubuh, mencari titik-titik yang mampu membangkitkan gairah. Parman menarik Rani dengan lembut, tubuhnya bergeser ke atas, lalu mereka bergantian mengubah posisi, seolah menari dalam irama hasrat yang membara. Wajah Rani memerah, matanya terkadang tertutup rapat, terkadang menatap dalam ke mata suaminya, memancarkan kebahagiaan dan kerinduan yang terpendam lama."Kamu hebat banget sayang, tenagamu aku suka, seolah tidak ada lelahnya punyamu terus berdiri kokoh... Aku suka Mas teruskan... Ahhhh... Sayang..." Kembali bisikan lembut dibarengi desahan keluar dari mulut wanita cantik itu, sambil mengikuti irama goyangan pinggul Ridwan."Tentunya dong, bagaimana aku tidak bersemangat terus, punyamu sempit dan enak banget sayang... Aku benar-benar bahagia memiliki kamu..." Balas Ridwan sambil membalikkan tu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status