LOGINBrilly, saudara kembar dari Lian mengejar mobilnya yang melaju kencang. Sesekali Naomi melihat ke arah spion mobil pria itu mengikuti tak ingin sampai tertinggal jauh dan kehilangan jejaknya. Beruntung jalanan sudah mulai lengang hingga tidak terlalu menimbulkan huru hara bagi pengendara lain.
Naomi semakin mempercepat laju mobilnya seiring air mata yang tak lagi bisa ia hentikan. Sungguh sakit! Sakit sekali! Dunia seolah runtuh di depan matanya. Ckiiittt Naomi keluar dari mobilnya setelah dia menghentikan mobilnya tepat di jembatan yang di bawahnya adalah jalan tol. Naomi berlari dan berdiri di jembatan itu dengan langkah gontai dan penampilannya yang berantakan. "AAAKHHHHHHH!" Naomi berteriak berulang kali. Hancur! Dia menjatuhkan tubuhnya di sana. Naomi meringkuk menangisi kembali apa yang terjadi. Dia terisak dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri. Sedih, marah, kecewa, ingin mati, semua itu Naomi rasakan saat ini dan karena Lian. "Kamu jahat, Mas! Kamu bodoh! Kamu pria bodoh yang pernah aku kenal. Aku menyesal mencintai kamu! Aku benci sama kamu, Mas!" teriak Naomi di sela tangisnya yang semakin menjadi. Naomi semakin menunduk dengan kedua kaki ditekuk hingga wajahnya tak terlihat. Brilly yang sejak tadi masih ada di dalam mobil pun segera keluar setelah sedikit paham dengan apa yang terjadi pada Naomi. Duda tanpa anak itu pun turun dari mobil kemudian melangkah mendekati Naomi. Brilly berjongkok dan menatap penuh pada Naomi yang terlihat sangat terpuruk dengan masalah yang terjadi. "Butuh teman curhat?" tanya Brilly membuat Naomi mendongak menatap pria itu. Naomi hampir lupa jika ada Brilly yang tadi dia ajak pergi. Sebenarnya bukan ingin mengajaknya tapi Naomi tidak ingin Brilly melihat apa yang terjadi di dalam rumahnya. Namun pria itu ternyata mengikuti dan kini ada di hadapannya. Pria yang sangat mirip dengan suaminya, hanya saja Brilly lebih terlihat berkharisma. Entah karena apa, tapi memang duda satu ini lebih terlihat mahal dari pada Lian. Apa lagi sekarang setelah Naomi tau perbuatan buruk Lian. Naomi semakin membenci pria itu. "Aku nggak butuh itu, Kak. Kenapa Kakak mengikuti aku? Aku jadi terlihat sangat menyedihkan di matamu sekarang. Adikmu sangat berengsek. Dia pria bajingan yang sudah menghancurkanku, Kak! Aku menyesal mengenalnya." Naomi mengusap air matanya. Dia mendongak berusaha agar air mata itu tak lagi turun membasahi pipinya dan berusaha untuk lebih kuat walaupun memang sakitnya sampai ke tulang. Rasanya Naomi membenci takdirnya, membenci suaminya dan membenci malam ini. Sesak dadanya tapi yang lebih menyesakkan lagi kala mengingat akan kenyataan bahwa dia kalah dengan seorang pembantu. Pantas saja hampir setahun ini jarang dikunjungi oleh Lian, ternyata ada mainan baru yang membuat suaminya betah hingga rajin pulang padahal dulu hampir gila kerja. "Apa yang Lian lakukan hingga kamu seperti ini? Apa penyakit lamanya kambuh? Dengan siapa dia berselingkuh?" tanya Brilly membuat kedua mata Naomi menyipit. Pria itu sepertinya sangat paham tau sekali bagaimana adiknya. Semenjak kedua mertuanya memutuskan tinggal di luar kota untuk mengurus bisnis yang ada di sana. Brilly dan Lian memang tetap tinggal di Jakarta karena pekerjaan mereka, hanya saja, Lian semakin tak tau aturan setelah merasa bebas. Lian kaluar masuk club malam dengan bergonta-ganti pasangan dan berkumpul dengan circle pertemanan yang merusak hidup pria itu. Kala itu Brilly sudah menikah jadi tidak terlalu memikirkan Lian karena sibuk dengan keluarga. Hanya saja yang pria itu tau, setelah menikah dengan Naomi, Lian tidak lagi begitu. Naomi banyak membawa perubahan pada hidup Lian. Sampai dimana Brilly bercerai, Lian dan Naomi terlihat semakin bahagia. Namun siapa sangka jika malam ini kepulangan pria itu disambut dengan tangis Naomi yang memilukan. "Penyakit lama?" tanya Naomi yang kemudian mengusap kasar wajahnya. "Maksud Kakak, Lian sudah pernah berselingkuh sebelumnya?" "Lian pecinta wanita, aku tidak mengatakan dia berselingkuh," jawab Brilly dengan tatapan datar. "Masuk mobil! Kamu akan semakin menyedihkan jika seperti ini." "Itu semua karena adikmu, Kak! Aku benci dia! Hiks... " Naomi membuang muka. Dia tidak mengatakan dengan siapa suaminya berselingkuh. Naomi malu sendiri jika menyebut nama pembantu itu. "Masuk dulu ke dalam mobil! Jangan di sini! Akan sangat memalukan jika ada yang mengenalimu. Masuk mobilku saja! Ada minum di dalam agar kamu bisa lebih tenang." Naomi pun menurut dan mengikuti langkah Brilly. Mungkin dia sudah sengat menyedihkan sekali saat ini. Naomi pun masuk setelah Brilly membukakan pintu mobil untuknya. Dia terduduk dan kembali menghapus air matanya yang tak kunjung henti mengeluarkan bulir kesakitan. Tak lama, Brilly pun masuk dan menyodorkan satu botol air mineral yang masih tersegel tapi sudah dibuka oleh pria itu. Naomi pun menerimanya dan segera meminumnya. Sedikit lega meskipun rasanya masih sangat sesak. "Terimakasih Kak," ujar Naomi kemudian mengembalikan kembali botol minum itu pada Brilly. Kembali Naomi menunduk dan tak lama dia melihat ada kotak tisu yang Brilly berikan padanya. Namun, Naomi bukan mengambilnya melainkan menoleh menatap wajah Brilly yang terlihat santai memperhatikannya. "Apa Kakak kasihan padaku?" tanya Naomi tanpa mengambil tisu dari tangan Brilly hingga pria itu membenarkan duduknya dan meletakkan kembali kotak tisu di dasbor mobil. "Ya," jawab Brilly setelah beberapa detik Naomi menunggu jawaban dari Kakak iparnya. "Mau bantu aku?" tanya Naomi lagi dan kini kembali tatapan keduanya beradu. Brilly terdiam sejenak sampai dimana pria itu kembali membuka suara. "Apa?" tanya Brilly singkat yang membuat Naomi tersenyum getir. "Aku ingin Kakak menjadi selingkuhanku." Kedua alis Brilly menukik mendengar itu. Pria itu terlihat sangat terkejut mendengar permintaan Naomi. Namun dengan cepat Naomi menganggukkan kepala membenarkan. "Itu alasanku tidak memergoki Mas Lian dan memakinya. Aku ingin dia pun tau rasanya diabaikan. Aku juga ingin tau rasanya menjadi dia seperti apa. Persetan dengan dosa. Aku sakit, dia juga harus merasakan hal yang sama. Dia bahagia dengan permainannya saat ini. Aku pun harus merasakan kegilaan yang dia lakukan hingga aku bisa merasakan bahagia sepertinya." "Tapi kamu akan merusak dirimu dan juga persaudaraan kami." "Bukankah aku sudah dia rusak? Kaca itu sudah pecah Kak. Seandainya diperbaiki pun tidak akan kembali sempurna. Jika Kakak tidak mau, maka aku bisa melakukan itu dengan pria lain. Aku hanya ingin merasakan kegilaan yang sama seperti apa yang Lian lakukan saat ini. Aku sakit, Kak! Kakak tidak tau bagaimana ada di posisiku!" kata Naomi dengan suara yang gemetar tetapi begitu menggebu melayangkan keinginannya. "Aku sudah pernah." Deg Naomi yang sempat kembali terisak kini tertegun saat mendengar jawaban dari Brilly. "So? Kakak mau menerima penawaranku? Apapun itu yang Kakak mau, akan aku berikan. Uang atau apapun itu. Aku akan berikan asal Kakak mau menjadi selingkuhanku." "Jangan menjadi rendah dengan pikiran sesaatmu itu Naomi!"Naomi membuang muka kala melihat mobil Brilly sudah mulai menjauh dan pria itu pun membunyikan klakson padanya sebelum benar-benar keluar dari pagar rumah. Benar apa yang ia pikirkan tadi. Brilly pasti berpikir jika dia sudah baikan dengan Lian. Padahal itu semua karena terpaksa dan dipaksa. Bukan karena suka. Akh sial! Naomi merasa sangat murah sekali hatinya di depan Brilly. Bagaimana tidak jika semalam mengadu pada pria itu sambil menangis dan mengajak selingkuh tetapi paginya ketahuan sedang berhubungan badan dengan Lian. Sungguh Naomi sangat malu sekali. Naomi pun masuk ke rumah untuk mengambil tas. Namun langkahnya terhenti kala melihat adanya Lian yang tengah berbicara pada Maryam. Dengan cepat dia bersembunyi di balik pintu dan merangkak mendekati sofa agar lebih dekat mendengar apa yang sedang dua orang itu bicarakan. "Apa sich kamu kok ngambek begitu? Jangan marah! Nanti malam aku kasih jatah. Apa yang semalam kurang atau kamu sedang ingin beli sesuatu? Aku
"Sedang sarapan. Aku mau mandi dulu, Mas." Naomi segera masuk kamar mandi dan tidak memperdulikan tatapan Lian yang penuh gairah. Dia sebisa mungkin menghindari tetapi tangan Lian menghalangi. Lian begitu iseng menyentuh dadanya hingga dirinya tersentak. "Mau aku bantu mandinya, Sayang?" bisik Lian. "Tidak usah, Mas. Aku sedang buru-buru, Gwen menungguku di bawah," tolaknya dengan lantang dan tegas kemudian menampik tangan Lian. Naomi segera masuk kamar mandi dan tidak lupa menutup pintu kemudian menguncinya agar Lian tidak berkesempatan untuk masuk. Bener saja, baru juga dikunci, dorongan dari luar dan pergerakan daun pintu membuat kedua mata Naomi menyipit melihat itu. "Terserah kamu, Mas! Kalau memang sudah tidak tahan, kamu gesek saja punyamu dengan daun pintu itu atau minta pada selingkuhanmu sana! Untungnya tadi belum sampai masuk." "Jijik aku membayangkan milikmu keluar masuk punya pembantu murahan seperti Maryam. Sepertinya nanti aku harus perawatan karena s
"Mas hentikan!" Naomi menahan pergerakan Lian tetapi apalah daya saat pakaiannya justru dilucuti hingga menyisakan dua kain tipis saja yang menutupi bagian intinya. Semua yang ada pada dirinya terpampang jelas dan Lian terlihat sangat menginginkan sekali hingga terus berusaha untuk menggodanya. Tatapan pria itu berkabut gairah yang Naomi yakini sedang sangat horny saat ini. "Mas aku sedang tidak enak badan. Lagian kamu sudah lama tidak meminta. Kanapa tiba-tiba merusuh sekali seperti ini. Apa kamu tidak kerja?" Lian meraih apa-apa yang membuat suara lenguhan Naomi terdengar indah. Nafas Naomi memburu, hingga tak mampu lagi bertahan dan semakin sulit melepaskan diri dari pria itu. Sebenarnya tidaklah salah jika Lian meminta. Toh Lian suaminya tetapi pengkhianatan dan apa yang Lian lakukan bersama Maryam semalam membuat Naomi semakin enggan. Apalagi membayangkan mulut Lian mendamba tubuh Maryam dengan kata-kata yang sangat frontal. Najis dia membiarkan tubuhnya menjadi
Naomi berdiri di depan jendela kamar seraya menatap langit malam dengan menikmati secangkir coklat yang mampu menghangatkan tubuhnya. Sakit hatinya terasa sampai ke tulang. Hembusan nafas berat begitu sangat menyiksa. Namun Naomi dipaksa tetap bertahan di tengah pengkhianatan yang terjadi di rumah besar ini. Dia bertahan bukan untuk menikmati kesakitan, tetapi bertahan karena ada yang dia perjuangkan. Naomi merasakan tubuhnya sangat lelah. Kegiatan yang padat, air mata yang terkuras, dan hati yang babak belur membuatnya butuh waktu untuk istirahat panjang. Namun mulai malam ini rasanya tubuh sangat berat untuk kembali menikmati ranjangnya. Itu karena Naomi tak minat satu ranjang dengan Lian, tapi tidak mungkin juga dia berpindah ke tempat lain. Apa alasannya? Tentu saja Lian akan bertanya. Ingatan akan kegilaan yang Lian lakukan bersama dengan Maryam begitu mengganggu pikiran hingga menumpuk rasa benci di hatinya. Sampai akhirnya Naomi memutuskan tetap singgah di pera
Naomi menghela nafas kesal melihat apa yang ia bawa. Tidak pernahnya begini, biasanya ia gunakan saat bermain dengan Lian dan hanya untuk fantasi saja tapi kali ini dia terkesan ingin menggunakannya sendiri. Gila! Main sendiri? Sudah seperti tidak memiliki suami saja. Naomi menanggalkan pakaian tipisnya kemudian menghadap ke cermin. Naomi menatap dirinya dari pantulan cermin tersebut dan mengangkat mainan yang ia bawa. "Kurang apa aku, Mas?" Kedua mata Naomi terpejam kuat dan melempar mainan untuk memuaskan dirinya itu begitu saja. Namun tak lama Naomi menoleh menatap benda itu. "Tapi dibanding kamu, aku lebih baik memuaskan diriku dengan mainanku. Kamu yang memilih pembantu itu, Mas. Maka jangan harap kamu bisa mendapatkannya juga dariku. Seujung kuku pun aku tidak akan membiarkan kamu menyentuhku lebih dalam lagi." Sementara di bawah, Brilly batu saja masuk ke dalam rumah setelah dipikir sudah cukup waktu yang diberikan untuk memberi jeda. Orang pertama yang menyapa te
"Sayangnya aku tidak perduli, Kak. Aku sakit, bahkan aku sudah lama tidak dia sentuh lagi. Apa aku masih harus setia jika sudah diperlakukan seperti ini? Tidak, Kak! Katakan aku gila, aku tidak perduli itu. Kalau Kakak tidak mau ya sudah. Aku akan mencari pria lain yang mau denganku," ujar Naomi kemudian keluar dari mobil itu. Dia berlari menuju mobilnya tapi dengan cepat Brilly pun mengejar dan menahan Naomi yang hendak masuk ke dalam mobil. "Lepas, Kak! Aku ingin mencari kesenanganku sendiri seperti adikmu mencari kesenangannya! Jangan ganggu aku kalau Kakak tidak mau membantuku! Aku ingin bersenang-senang seperti dia yang bersenang-senang di belakangku!" Naomi bersikeras pergi dari sana tetapi Brilly lagi-lagi menggagalkannya. Pria itu merebut kunci mobil Naomi agar tidak bisa pergi. Bukan apa, Brilly tidak ingin Naomi tersesat. Ada Gwen yang masih sangat membutuhkan ibunya. Bagaimana jika Naomi nekat tapi justru dimanfaatkan oleh orang lain? Apalagi Naomi yang memiliki segalan







