Home / Rumah Tangga / TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR / Bab 02. Menjadi Selingkuhanku

Share

Bab 02. Menjadi Selingkuhanku

Author: weni3
last update publish date: 2025-10-13 18:00:59

Brilly, saudara kembar dari Lian mengejar mobilnya yang melaju kencang. Sesekali Naomi melihat ke arah spion mobil pria itu mengikuti tak ingin sampai tertinggal jauh dan kehilangan jejaknya.

Beruntung jalanan sudah mulai lengang hingga tidak terlalu menimbulkan huru hara bagi pengendara lain.

Naomi semakin mempercepat laju mobilnya seiring air mata yang tak lagi bisa ia hentikan. Sungguh sakit! Sakit sekali! Dunia seolah runtuh di depan matanya.

Ckiiittt

Naomi keluar dari mobilnya setelah dia menghentikan mobilnya tepat di jembatan yang di bawahnya adalah jalan tol. Naomi berlari dan berdiri di jembatan itu dengan langkah gontai dan penampilannya yang berantakan.

"AAAKHHHHHHH!"

Naomi berteriak berulang kali. Hancur! Dia menjatuhkan tubuhnya di sana. Naomi meringkuk menangisi kembali apa yang terjadi.

Dia terisak dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri. Sedih, marah, kecewa, ingin mati, semua itu Naomi rasakan saat ini dan karena Lian.

"Kamu jahat, Mas! Kamu bodoh! Kamu pria bodoh yang pernah aku kenal. Aku menyesal mencintai kamu! Aku benci sama kamu, Mas!" teriak Naomi di sela tangisnya yang semakin menjadi.

Naomi semakin menunduk dengan kedua kaki ditekuk hingga wajahnya tak terlihat.

Brilly yang sejak tadi masih ada di dalam mobil pun segera keluar setelah sedikit paham dengan apa yang terjadi pada Naomi.

Duda tanpa anak itu pun turun dari mobil kemudian melangkah mendekati Naomi. Brilly berjongkok dan menatap penuh pada Naomi yang terlihat sangat terpuruk dengan masalah yang terjadi.

"Butuh teman curhat?" tanya Brilly membuat Naomi mendongak menatap pria itu. Naomi hampir lupa jika ada Brilly yang tadi dia ajak pergi.

Sebenarnya bukan ingin mengajaknya tapi Naomi tidak ingin Brilly melihat apa yang terjadi di dalam rumahnya. Namun pria itu ternyata mengikuti dan kini ada di hadapannya.

Pria yang sangat mirip dengan suaminya, hanya saja Brilly lebih terlihat berkharisma. Entah karena apa, tapi memang duda satu ini lebih terlihat mahal dari pada Lian.

Apa lagi sekarang setelah Naomi tau perbuatan buruk Lian. Naomi semakin membenci pria itu.

"Aku nggak butuh itu, Kak. Kenapa Kakak mengikuti aku? Aku jadi terlihat sangat menyedihkan di matamu sekarang. Adikmu sangat berengsek. Dia pria bajingan yang sudah menghancurkanku, Kak! Aku menyesal mengenalnya."

Naomi mengusap air matanya. Dia mendongak berusaha agar air mata itu tak lagi turun membasahi pipinya dan berusaha untuk lebih kuat walaupun memang sakitnya sampai ke tulang. Rasanya Naomi membenci takdirnya, membenci suaminya dan membenci malam ini.

Sesak dadanya tapi yang lebih menyesakkan lagi kala mengingat akan kenyataan bahwa dia kalah dengan seorang pembantu. Pantas saja hampir setahun ini jarang dikunjungi oleh Lian, ternyata ada mainan baru yang membuat suaminya betah hingga rajin pulang padahal dulu hampir gila kerja.

"Apa yang Lian lakukan hingga kamu seperti ini? Apa penyakit lamanya kambuh? Dengan siapa dia berselingkuh?" tanya Brilly membuat kedua mata Naomi menyipit.

Pria itu sepertinya sangat paham tau sekali bagaimana adiknya. Semenjak kedua mertuanya memutuskan tinggal di luar kota untuk mengurus bisnis yang ada di sana.

Brilly dan Lian memang tetap tinggal di Jakarta karena pekerjaan mereka, hanya saja, Lian semakin tak tau aturan setelah merasa bebas.

Lian kaluar masuk club malam dengan bergonta-ganti pasangan dan berkumpul dengan circle pertemanan yang merusak hidup pria itu.

Kala itu Brilly sudah menikah jadi tidak terlalu memikirkan Lian karena sibuk dengan keluarga. Hanya saja yang pria itu tau, setelah menikah dengan Naomi, Lian tidak lagi begitu.

Naomi banyak membawa perubahan pada hidup Lian. Sampai dimana Brilly bercerai, Lian dan Naomi terlihat semakin bahagia.

Namun siapa sangka jika malam ini kepulangan pria itu disambut dengan tangis Naomi yang memilukan.

"Penyakit lama?" tanya Naomi yang kemudian mengusap kasar wajahnya. "Maksud Kakak, Lian sudah pernah berselingkuh sebelumnya?"

"Lian pecinta wanita, aku tidak mengatakan dia berselingkuh," jawab Brilly dengan tatapan datar.

"Masuk mobil! Kamu akan semakin menyedihkan jika seperti ini."

"Itu semua karena adikmu, Kak! Aku benci dia! Hiks... " Naomi membuang muka. Dia tidak mengatakan dengan siapa suaminya berselingkuh. Naomi malu sendiri jika menyebut nama pembantu itu.

"Masuk dulu ke dalam mobil! Jangan di sini! Akan sangat memalukan jika ada yang mengenalimu. Masuk mobilku saja! Ada minum di dalam agar kamu bisa lebih tenang."

Naomi pun menurut dan mengikuti langkah Brilly. Mungkin dia sudah sengat menyedihkan sekali saat ini. Naomi pun masuk setelah Brilly membukakan pintu mobil untuknya. Dia terduduk dan kembali menghapus air matanya yang tak kunjung henti mengeluarkan bulir kesakitan.

Tak lama, Brilly pun masuk dan menyodorkan satu botol air mineral yang masih tersegel tapi sudah dibuka oleh pria itu. Naomi pun menerimanya dan segera meminumnya. Sedikit lega meskipun rasanya masih sangat sesak.

"Terimakasih Kak," ujar Naomi kemudian mengembalikan kembali botol minum itu pada Brilly.

Kembali Naomi menunduk dan tak lama dia melihat ada kotak tisu yang Brilly berikan padanya. Namun, Naomi bukan mengambilnya melainkan menoleh menatap wajah Brilly yang terlihat santai memperhatikannya.

"Apa Kakak kasihan padaku?" tanya Naomi tanpa mengambil tisu dari tangan Brilly hingga pria itu membenarkan duduknya dan meletakkan kembali kotak tisu di dasbor mobil.

"Ya," jawab Brilly setelah beberapa detik Naomi menunggu jawaban dari Kakak iparnya.

"Mau bantu aku?" tanya Naomi lagi dan kini kembali tatapan keduanya beradu. Brilly terdiam sejenak sampai dimana pria itu kembali membuka suara.

"Apa?" tanya Brilly singkat yang membuat Naomi tersenyum getir.

"Aku ingin Kakak menjadi selingkuhanku."

Kedua alis Brilly menukik mendengar itu. Pria itu terlihat sangat terkejut mendengar permintaan Naomi. Namun dengan cepat Naomi menganggukkan kepala membenarkan.

"Itu alasanku tidak memergoki Mas Lian dan memakinya. Aku ingin dia pun tau rasanya diabaikan. Aku juga ingin tau rasanya menjadi dia seperti apa. Persetan dengan dosa. Aku sakit, dia juga harus merasakan hal yang sama. Dia bahagia dengan permainannya saat ini. Aku pun harus merasakan kegilaan yang dia lakukan hingga aku bisa merasakan bahagia sepertinya."

"Tapi kamu akan merusak dirimu dan juga persaudaraan kami."

"Bukankah aku sudah dia rusak? Kaca itu sudah pecah Kak. Seandainya diperbaiki pun tidak akan kembali sempurna. Jika Kakak tidak mau, maka aku bisa melakukan itu dengan pria lain. Aku hanya ingin merasakan kegilaan yang sama seperti apa yang Lian lakukan saat ini. Aku sakit, Kak! Kakak tidak tau bagaimana ada di posisiku!" kata Naomi dengan suara yang gemetar tetapi begitu menggebu melayangkan keinginannya.

"Aku sudah pernah."

Deg

Naomi yang sempat kembali terisak kini tertegun saat mendengar jawaban dari Brilly. "So? Kakak mau menerima penawaranku? Apapun itu yang Kakak mau, akan aku berikan. Uang atau apapun itu. Aku akan berikan asal Kakak mau menjadi selingkuhanku."

"Jangan menjadi rendah dengan pikiran sesaatmu itu Naomi!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
ini kayak Zoya dan Gama kak wen
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 177. Tamat

    Dada Naomi naik turun kala dirinya mendarat di ranjang. Mana kamar utama yang ingin dia lihat? Saat ini, seolah bukan itu yang menjadi hal utama karena Brilly tengah berada di atas tubuhnya, mengkukungnya dengan posesif. Mungkin penampilan Naomi pun sudah tak beraturan lagi sekarang. Namun rupanya Brilly tak memikirkan itu. Tatapan mata penuh cinta dan rasa ingin dapat Naomi lihat dengan jelas dari kedua mata Brilly. "Kak kamu mau apa? Katanya mau mengajakku melihat kamar? Kenapa malah posisinya begini?" tanya Naomi lirih kemudian menggigit bibir bawahnya. Perasaan Naomi tak menentu. Jantung semakin berdebar kencang dan nafas mulai memburu kala kecupan dari Brilly dia rasakan di lehernya. Naomi mendongak mendapati itu. Kedua matanya terpejam dan tubuhnya melengkung menantang. "Aku merindukanmu, Sayang." "Apa itu tidak buru-buru namanya, Kak?" "Tentu saja tidak, kamu sudah menjadi milikku sekarang. Melihat kamar dan room tour bisa nanti tapi yang ini sudah tidak bisa

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 176. SAH

    "Saya terima nikah dan kawinnya Naomi binti......" Kalimat sakral itu menggetarkan hati Naomi dan membuatnya berdebar hingga jantung tak karuan rasa. Naomi sesak nafas mendengar kalimat tersebut. Brilly dengan lancar mengucapkan kalimat itu. Semua terasa begitu cepat dan berpihak padanya. Ya Tuhan.... Ikhlas mana yang Kau kabulkan hingga memberikan pengganti dengan mudahnya? Di masjid besar ini, Naomi terduduk dengan jarak yang cukup jauh dari pria yang kini tengah mengucapkan kalimat sakral untuknya. Air mata kebahagiaan keluar tanpa bisa dia hindarkan. Genggaman tangan Naomi begitu kuat memegang telapak tangan Mami. Dia memejamkan kedua mata dan menunduk. Rasa syukur terucap kala kata sah menggema. "Alhamdulillah...." "Alhamdulillah," ucap Naomi kemudian menganggukkan kepala dan mengambil ujung tisu untuk menahan air matanya. "Selamat ya, Nak. Mami doakan kamu bahagia, Sayang." Naomi menoleh kemudian memeluk Mami. Semua di luar dugaan. Naomi pikir akan ada aca

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 175. Mendadak

    Apa yang dikatakan oleh Brilly itu benar adanya. Sebuah perkataan Brilly yang akan menikahi Naomi besok. Hal itu sangat membuat Naomi terkejut. Dia tidak pernah berpikir kalau akan menikah diwaktu yang sangat amat cepat . Naomi diberikan waktu menjanda benar-benar hanya dalam waktu hitungan bulan. Hanya untuk menuntaskan masa iddah saja. Memang sejak awal, percintaannya dengan Brilly sangat mendadak. Semua yang berkaitan dengan Brilly selalu mendadak. Mendadak jadi dekat, mendadak dibela, mendadak diperhatikan, mendadak disayang, mendadak ditinggal, sampai mendadak dilamar dan sekarang mendadak pula dinikahinya. Naomi yang merasa baru saja terpejam sudah harus kembali terjaga kala suara ketukan di pintu kamarnya begitu sangat mengusik raga. Naomi yang semula masih bergelut dengan mimpi tiba-tiba harus bangun karena panggilan dari seseorang. "Iya, sebentar!" seru Naomi dengan suara yang terdengar lemas. Naomi beranjak dari tidurnya. Dia masih sangat mengantuk sekali. Langk

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 174. Melamar

    "Kamu diajak jalan-jalan? Kenapa nggak ikut?" Deg Naomi terkejut, baru saja keluar dari kamar mandi, sudah diteror pertanyaan dari seseorang yang selama ini mengganggu pikirannya. Naomi mengusap dada kemudian melangkah menuju lemari pakaian. Dia lebih dulu mengambil pakaian ganti seraya memikirkan dari mana Brilly tau tentang pesan itu. "Aku nggak mau buat kamu cemburu. Kenapa sich, Kak? Harusnya kamu lebih tenang. Eh iya, tau dari mana?" tanya Naomi kemudian berbalik menatap Brilly. Kedua alisnya menukik memeluk pakaian ganti. Namun tidak ada jawaban dari Brilly membuat Naomi memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Mau kemana?" "Pakai pakaianku dulu, Kak." "Kenapa jauh-jauh? Di sini saja bisa." Naomi menoleh dan menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang Brilly katakan. Dia menggelengkan kepala dan kembali melangkah masuk kamar mandi. "Nggak mau ah! Kamu lagi mode gragas soalnya." BRAAAKK Naomi menutup pintu kamar mandi dengan rapat

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 173. Lamar Aja!

    "Naomi..." "Mami..." Naomi memeluk Mami sesampainya dia di rumah. Rumah yang biasa sepi mendadak ramai kembali. Bahagia sekali Naomi melihat keberadaan Mami, Daddy dan tentunya Brilly. Sepertinya bukan hanya dia saja yang bahagia tetapi Gwen pun sama. Gwen terlihat amat sangat bahagia sekali hingga tak ingin lepas dari Daddy. "Maafkan Mami ya, Nak. Mami bukannya nggak mau mengabari kamu tapi katanya Brilly mau ngasih kejutan. Ya sudah Mami nurut aja." "Iya nggak apa-apa, Mi. Kejutannya berhasil kok, Mi. Ngejut banget pokoknya, Mi. Kak Brilly sukses buat aku menangis setiap malam. Nggak nyangka aku juga kalau Kak Brilly sampai begitu." Naomi merenggangkan pelukannya pada Mami dan menoleh ke arah Brilly yang hanya diam memperhatikannya dengan kedua tangan menyilang di dada. "Kalau begitu pantasnya aku ambekin atau gimana, Mi?" tanya Naomi yang kemudian berdecak mendengar itu. "Kalau kaya Mami sich langsung minta lamar aja, Naomi. Pas tiga bulan langsung menikah.

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 172. Sayang, ampun!

    "Hah? Aku nggak nakal. Aku masih ingat kamu. Aku juga nggak terima dia. Kami memang sering bertemu tetapi itu kebutuhan anak-anak. Bukan karena urusan orang tuanya," elak Naomi kemudian melangkah mundur sedikit memberi jarak untuk menjelaskan pada Brilly. "Kakak juga kenapa nggak ngabarin aku? Aku menghubungi Kakak, Mami, Daddy, sampai aku datang ke kantor Kakak untuk mendatangi Gani. Katanya Kakak sakit parah, tapi aku lihat Kakak malah sudah sembuh total. Kakak bisa berjalan. Kakak berdiri gagah. Kakak sengaja membohongi aku?" "Kenapa memangnya? Salah kalau aku ingin memberikan kejutan untukmu dan sengaja mengetes kesetiaanmu, hhm?" "Jadi Kakak nggak percaya sama aku? Kak Brilly nggak percaya kalau aku setia di sini nunggu Kakak? Iya? Kakak pikir aku mudah tergoda dengan laki-laki lain?" cecar Naomi. Mereka baru bertemu tetapi berujung ribut. Betul-betul seperti Tom and Jerry. Jauh dicari setelah dekat malah debat dan semua itu berawal dari rasa cemburu serta adanya oran

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 07. Keluar Masuk Punya Pembantu

    "Sedang sarapan. Aku mau mandi dulu, Mas." Naomi segera masuk kamar mandi dan tidak memperdulikan tatapan Lian yang penuh gairah. Dia sebisa mungkin menghindari tetapi tangan Lian menghalangi. Lian begitu iseng menyentuh dadanya hingga dirinya tersentak. "Mau aku bantu mandinya, Sayang?" bisik

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 06. Gesekan

    "Mas hentikan!" Naomi menahan pergerakan Lian tetapi apalah daya saat pakaiannya justru dilucuti hingga menyisakan dua kain tipis saja yang menutupi bagian intinya. Semua yang ada pada dirinya terpampang jelas dan Lian terlihat sangat menginginkan sekali hingga terus berusaha untuk menggodanya

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 05. Panas

    Naomi berdiri di depan jendela kamar seraya menatap langit malam dengan menikmati secangkir coklat yang mampu menghangatkan tubuhnya. Sakit hatinya terasa sampai ke tulang. Hembusan nafas berat begitu sangat menyiksa. Namun Naomi dipaksa tetap bertahan di tengah pengkhianatan yang terjadi di rum

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 04. Menggila

    Naomi menghela nafas kesal melihat apa yang ia bawa. Tidak pernahnya begini, biasanya ia gunakan saat bermain dengan Lian dan hanya untuk fantasi saja tapi kali ini dia terkesan ingin menggunakannya sendiri. Gila! Main sendiri? Sudah seperti tidak memiliki suami saja. Naomi menanggalkan pakaian ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status