Masuk
"Mas aku minta maaf banget kalau malam ini aku lembur, tapi kamu nggak usah khawatir! Aku sudah minta tolong sama Maryam untuk membuatkan makan malam untukmu. Oh ya, apa Kak Brilly jadi datang? Jangan terus bertengkar dengannya ya, Mas! Kalian itu saudara," kata Naomi yang saat ini tengah menghubungi suaminya.
"Apa? Si duda itu? Ngeselin aja, dia datang hanya saat suntuk dengan pekerjaannya. Jika tidak seperti sedang tertelan bumi. Jangankan jejaknya di sini, kabarnya saja tidak ada. Jangan pulang terlalu malam, Sayang! Aku menunggumu di rumah." "Iya, Mas. Ini masih ada customer banyak. Aku nggak bisa tinggal gitu aja. Nanti aku kabarin lagi kalau sudah pulang ya, Mas." "Iya Sayang, I love you." "I love you too, Mas." Naomi, wanita 32 tahun yang sukses dengan karirnya sebagai dokter skincare dan juga pemilik salon kecantikan yang cukup ternama. Kesibukannya kadang membuatnya tak ada waktu di rumah. Namun bukan berarti dia tidak menjadi istri yang baik. Naomi selalu mengutamakan suaminya, meskipun disibukkan dengan pekerjaan dan juga anak yang sudah bertumbuh semakin besar. Naomi masih sangat fokus pada Lian dan berusaha menjadi yang terbaik untuk pria itu. "Gimana, Cha? Masih banyak tamu yang akan datang malam ini? Besok lagi jadwalnya diatur ya. Kalau jam siang kosong, kamu bisa tukar jadwal di jam siang. Jadi sampai numpuk di malam semua." "Baik Dok, tapi gimana ya, kadang mereka juga nggak ada waktu untuk datang siang kecuali weekend. Ini tinggal satu kok, Dok. Apa mau close, Dok? Dokter capek kayaknya." "Yang penting udah konfirmasi dulu sebelumnya. Kamu harus kerja sama dengan bagian depan. Kalau nunggu sampai antri juga kasihan. Yang ini langsung aku kerjakan, setelah ini close ya. Soalnya saya sendirian. Jujur memang capek banget. Katanya Dokter Kartika besok udah masuk. Bisa dech besok buka sampai malam." "Siap Dok, saya atur buat jadwal besok dulu ya," ujar asisten Naomi yang bernama Ocha. Sudah lama Ocha ikut dengannya dan menjadi karyawan yang paling ia percaya. "Semoga cepat selesai, aku nggak enak sama Mas Lian. Janji pulang sore malah kemaleman begini." Naomi pun segera menuju ruangan praktiknya. Sementara yang dipikirkan justru sedang mengusal gemas pada Maryam, asisten rumah tangga yang sudah satu tahun ini bekerja di sana. Maryam masih muda, gadis itu berumur 21 tahun, yang memang Naomi datangkan dari kampung setelah tau orang tua gadis itu sangat butuh biaya untuk berobat. Maka dari itu Naomi membantunya dengan menjadikan anaknya asisten rumah tangga yang kebetulan sedang dibutuhkan karena yang sebelumnya harus pulang dikarenakan sudah tidak boleh lagi bekerja oleh anak beliau. Siapa sangka, Maryam bukan hanya membantu menuntaskan urusan rumah tangga saja tapi juga menuntaskan hasrat majikannya. "Eugh.... Pak nanti kalau non Gwen bangun gimana?" "Nggak akan, Sayang. Dia baru banget tidur. Ayo sebentar saja sebelum istri saya pulang!" ajak Lian yang sudah tidak tahan. Sejak tadi Lian merusuh di dapur menganggu Maryam yang sedang membersihkan peralatan dapur usai masak. Tangan Lian sudah tidak bisa dikondisikan, pria itu menyentuh mana saja yang membuatnya semakin bergairah. Rasanya sudah tidak sabar ingin kembali menikmati tubuh Maryam yang sudah membuatnya candu. Semua itu berawal dari Maryam yang kala itu kedapatan sedang vidio call dengan kekasihnya dan mulai buka-bukaan. Mana tau jika Lian tergoda dengan tubuh Maryam. Pas sekali saat itu Naomi tidak bisa pulang karena ada tugas luar kota. Rayuan dengan sedikit ancaman membuat Maryam pun jatuh ke tangan Lian sampai menyerahkan kesucian yang akhirnya membuat Lian tidak bisa hanya cukup sekali. Semua sudah berlangsung sampai saat ini dengan jatah Maryam lebih banyak dari pada Naomi. Rasa daun muda lebih nikmat bagi Lian serta adrenalin pria itu pun bekerja dengan aktif yang membuat tantangan semakin besar dan itu semakin membuat Lian ketagihan. Lian selalu puas setiap kali bisa menyalurkan hasrat pada Maryam karena imajinasi yang bermain lebih liar dari pada jika bersama dengan Naomi. "Bapak yakin aman?" tanya Maryam yang kemudian berbalik dan mulai membuka kancing pakaian Lian. Tentu saja Maryam sangat ahli karena sudah sering melakukan itu. Bahkan kadang Maryam yang menggoda Lian duluan. "Sangat yakin, Sayang. Dia sudah tidak tahan. Kita ke kamar sekarang!" bisik Lian kemudian mengangkat tubuh Maryam dan membawa wanita itu masuk kamar. Mereka pun tak bisa lagi menahan rasa ingin yang sudah sangat menggebu sampai lupa menutup pintu. Berisik, suara desahan Maryam begitu tak tertahan menggoda Lian yang semakin bersemangat mencumbu. Lian mengabsen seluruh tubuh Maryam hingga membuat pria itu tak tahan untuk masuk lebih dalam. Pergerakan dari Lian membuat Maryam semakin gila. Suara manja wanita itu semakin tak terkendali dan bersahutan dengan suara erangan dari Lian yang semakin bersemangat bergerak liar di atas tubuh Maryam. Mereka sampai tidak mendengar suara mobil datang. Naomi sudah pulang karena tidak ingin membuat Lian menunggu lama dan ingin mengejar waktu makan malam bersama. Dia bergegas turun tanpa lebih dulu menghubungi Lian jika sudah sampai di rumah. Senyum lebar Naomi perlihatkan karena tidak hanya ingin bertemu dengan Lian saja, dia pun merindukan putrinya yang sudah mulai masuk sekolah dasar sekarang. Namun rumah terlihat sepi. Naomi pun memutuskan untuk langsung menuju kamar. Hanya saja, saat kaki jenjangnya hendak menaiki anak tangga, pergerakan Naomi terhenti dan senyum yang sejak tadi begitu merekah pun mendadak hilang saat telinganya dengan jelas mendengar suara desahan seorang wanita dan samar-samar suara suaminya pun terdengar di sana. Deg Naomi menoleh ke arah kamar pembantu di samping dapur. Dia yakin suara itu dari sana. Langkah Naomi perlahan membawa tubuhnya menuju sumber suara yang semakin terdengar nyata. Jantung Naomi berdebar kencang saat ini. Dia menggigit bibir bawahnya saat mendengar wanita itu memanggil nama suaminya. Sepertinya sangat enak hingga menjerit tak tertahan. Naomi tidak bodoh, dia mengenal suara itu hanya saja Naomi ingin melihat sendiri apa yang terjadi. Tangannya gemetar menggeser pintu untuk lebih jelas melihat apa yang mereka lakukan. Naomi menutup mulut saat melihat dua orang yang ia kenal sedang saling mencumbu tanpa busana di ranjang yang sudah sangat berantakan. Kedua air matanya jatuh menyaksikan itu semua hingga perlahan kakinya mundur dengan gelengan kepala. Dia tidak menyangka jika suaminya berselingkuh dan yang lebih parahnya lagi yang menjadi selingkuhan adalah pembantunya. "Kenapa harus dia, Mas? Kamu gila! Astaga... Aku kurang apa? Tidak! Mas Lian kamu jahat!" Naomi memilih pergi dari sana. Hatinya hancur dan dadanya sesak melihat suaminya begitu menikmati tubuh wanita lain. Naomi langsung keluar rumah dengan memaksa kakinya untuk terus berlari menjauh. Naomi menahan isak tangisnya dengan kedua mata yang sudah penuh air mata. Dia tidak melihat jika di depannya datang seseorang hingga keduanya saling bertabrakan dan tangan orang itu menahan pinggulnya. "Naomi, ada apa? Kamu... " "Ikut aku, Kak!"Cup "Semangat!" "Ups! Sorry ganggu. Gue nggak lihat. Beneran!" "Ck, ganggu aja!" umpat Brilly kesal sedangkan Naomi sontak membuang muka menutupi wajahnya yang mungkin saat ini sudah sangat merona. "Sorry, gue masuk mau ngasih tau loe kalau bentar lagi siap operasi. Maaf ya Mbak Naomi. Nggak sengaja," kata Gani seraya menggaruk kepala. Bohong sekali memang kalau pria itu tidak melihat apa-apa. Maka dari itu meminta maaf akan keteledorannya. Begini yang Naomi takutkan, akhirnya terjadi juga padahal durasi baru sebentar. "Mbak-mbak! Nyonya!" tegur Brilly. "Iya maaf, Nyonya. Lupa kalau sebentar lagi mau jadi Nyonya Brilly ya, Bu. Maaf ya, Bu. Lanjut dech! Tapi palingan juga cuma lima menitan. Soalnya tim medis udah otw kemari." "Udah sana keluar dulu! Bikin cewek gue malu aja loe. Nggak nyaman dia jadinya." "Iya, iya, sorry. Lanjut dah! Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak! Manukku siap...." "Haish... Sialand, Gani!" umpat Brilly lagi setelah mendengar Gani y
Naomi datang dengan membawakan buah-buahan untuk Brilly. Sepanjang jalan Naomi bingung memikirkan apa yang harus dia bawakan untuk Brilly. Terlebih keinginan Brilly yang sangat tidak mungkin. Tidak mungkin juga jika datang dengan tangan kosong. Apalagi ada mertua. Alhasil apa yang ada di otaknya, dia bawakan saja untuk Brilly. Naomi melangkah kecil menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju kamar VIP. Keraguan melanda karena ada mertua tetapi mendengar Brilly begitu sangat menunggu kedatangannya membuat Naomi tidak bisa mengabaikan pria itu begitu saja. Naomi tiba di depan pintu kamar yang dia tuju. Tatapannya mengarah pada nomor kamar tersebut. Kamar ini sama dengan kamar yang Brilly sebutkan tadi. Naomi menarik nafas dalam sebelum masuk. Naomi lebih dulu menenangkan diri. Padahal sudah bertemu setiap hari akan tetapi dengan hubungannya yang sekarang dengan Brilly membuat Naomi seperti kembali ke masa lalu saat dia baru mengenal cinta. "Aku harus bersikap sebagai ipar, adi
Pagi ini, Naomi mengurus Gwen sendiri. Apalagi di rumah tidak ada Mami dan Daddy yang sudah beberapa pekan sangat memperhatikan mereka. Tidak adanya mereka terasa sepi. Kedua mertuanya tidak pulang. Mereka menginap di rumah sakit menunggu Brilly yang mana hanya sendiri karena Gani harus pulang. Sebenarnya Brilly sudah meminta keduanya untuk pulang. Brilly justru kasihan pada Naomi dan Gwen. Namun Mami dan Daddy lebih mengkhawatirkan Brilly yang hanya sendiri. Di rumah ada Maryam yang walaupun musuh Naomi sebelumnya tetapi wanita itu sama sekali tidak berani macam-macam sskarang. Apalagi Daddy sudah sangat wanti-wanti pada Maryam. Sampai berani mengganggu Naomi, nyawa taruhannya. "Kita berangkat berdua, Mi? Om belum pulang?" "Belum bisa pulang, Nak. Oma dan Opa ada di rumah sakit menemani Om Brilly. Doakan Om Brilly lekas sembuh ya." "Iya, Mi. Kasihan Om Brilly, tapi Gwen siapa yang jemput sekolah, Mi?" "Nanti Mami yang antar jemput Gwen, Sayang. Kalau bukan Mami,
"Assalamualaikum... Brilly.... Ya ampun, ini kaki kamu kenapa? Kepala kamu, tangan kamu, begitu kok ya bilang baik-baik saja. Ini buruk, Brilly." Mami sangat terkejut sekali dengan kondisi Brilly saat ini. Beliau berlari mendekati Brilly yang terlihat lemas di ranjang pesakitan. "Hanya terjepit mobil, Mi." "Hanya lagi!" sahut Mami gemas sekali. Apapun yang menjadi alasan dari Brilly membuat Mami amat sangat sewot sekali. Pasalnya memang keadaan Brilly yang sebenarnya itu cukup buruk. "Kamu tuh tebuat dari apa sich? Perasaan Mami melahirkan kamu sama seperti Lian. Kenapa kamu tuh udah babak belur begini, masih bisa bilang nggak apa-apa? Ini tuh sakit semua, Nak." Gani dan Daddy hanya diam saja kalau sudah Ibu Ratu marah-marah. Brilly sendiri hanya meringis mendengar ocehan tersebut. Tidak ada pembelaan yang keluar dari mulut Brilly. Pria itu sangat mengerti dan menghormati Mami. "Lain kali itu hati-hati! Jangan sampai begini! Kamu tuh memangnya punya nyawa berapa? Apa
Naomi dan Gwen turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mami dan Daddy yang sedang menikmati makanan mereka. Sebenarnya sudah sejak tadi Naomi dan Gwen dipanggil tetapi Naomi baru keluar setelah kondisi hatinya sudah lebih baik. Masih tentang Brilly yang kecelakaan. Mungkin kedua mertuanya mencoba menutup akan itu. Mereka tidak ada yang mengabarinya tetapi Gwen tidak bisa diam. Gwen berlari mendekati Oma dan Opanya dengan langkah kecil yang membuat kedua orang tua tersebut menoleh memerhatikan. "Gwen sudah bangun?" "Iya Oma, Oma, Om di rumah sakit. Kepala Om sakit. Tadi Gwen telepon Om," kata Gwen mengadu pada Omanya. Mami terkejut mendengar celotehan putrinya sedangkan Naomi tidak ikut bicara dan menempatkan diri di samping Mami. Naomi tau, mungkin Mami dan Daddy tidak mau membuatnya panik tapi mereka tidak tau kalau Naomi sudah mendengar semuanya tadi. "Oh ya? Ya ampun, Gwen sudah bicara sama Om Brilly? Terus gimana, Nak? Bagaimana kabar Om Brilly sekarang?
"Om kenapa itu kepalanya? Kok ada putih-putihnya? Apa Om jatuh? Om dimana sekarang? Apa Om sedang di rumah sakit? Gwen jenguk ya?" Brilly mengulum senyum mendengar itu, mendengar ocehan putrinya yang sangat ingin tau. Brilly menatap penuh kerinduan. Bisa jadi dalam waktu seminggu dia tidak bisa bertemu dengan Gwen. "Iya Om sakit. Doakan Om cepat sembuh ya!" "Gwen mau kesana." "Jangan dulu, Nak! Kasihan Mami baru sembuh. Nanti ya kalau Mami sudah sehat dan kuat lagi. Tunggu saja sampai Om pulang. Mami biar istirahat di rumah." "Tapi Mami sudah sehat, Om. Mami sudah bisa gendong Gwen tadi." Brilly menatap gemas putrinya, tetapi sepertinya bukan hanya pada putrinya saja melainkan pada Naomi yang kini diam memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa. Naomi masih diam, Naomi masih enggan bicara pada Brilly. Naomi hanya menelponkan pria itu untuk putrinya. Namun ada hal yang Naomi ingin tau. Kenapa Brilly bisa sampai kena musibah seperti ini. Ah! Andai dia tidak tau takdir,
"Duh tapi gimana dengan Gwen kalau aku tinggal pergi?" Naomi menggigit ujung tangannya seraya mondar mandir di balkon kamar. Jangan sampai Gwen ditinggal kemudian Maryam bertemu dengan putrinya. Naomi tidak mau sampai Gwen mendengar apa yang mungkin nanti bisa berdampak buruk pada putrinya. N
"Ini hasilnya Tuan." Brilly tersenyum sinis melihat hasil yang sudah ada di tangan. Apa yang pria itu minta sudah ada di tangan dan akan di uji lab. Entah firasat itu benar atau tidak. Yang jelas semua membutuhkan bukti yang akurat. Selama menunggu hasil, Brilly menahan agar Naomi tidak pergi.
"Shit! Kamu menggodaku Maryam. Apa yang kamu lakukan sialand? Tanganmu lancang, Wanita murahan!" umpat Lian kala tangan Maryam bergerak dan mulai meraba menimbulkan rasa yang luar biasa hingga membangkitkan gairah pria itu. Lian marah saat Maryam senakal sebelumnya. Maryam tidak berhenti dan ter
"Mau bagaimana pun aku, mereka ini orang-orang penting bagiku. Jadi tidak perlu menceramahiku, Brilly! Jika aku pergi, harusnya kamu pun ikut pergi." "Bagaimana kalau aku tidak mau, hhm?" tanya Brilly dengan kedua tangan menyilang di dada. Brilly justru menantang Lian dan akan tetap tinggal d







