LOGINNaomi duduk dengan kedua mata yang terlihat tak lagi tenang. Di belakangnya ada Brilly yang sama sekali tidak mau meninggalkannya sendiri meskipun tadi Lian jelas-jelas sudah mengusir pria itu. Naomi pun tidak membiarkan Brilly pergi setelah melihat sikap Lian yang sempat kasar padanya. Naomi tadi sempat hampir terjatuh kala pria itu tidak terima jika dia berdekatan dengan Brilly. Lian menarik tubuhnya hingga Naomi hampir saya terjungkal. Beruntung Brilly ada di sana. Pria itu langsung menahannya hingga dia masuk ke dalam pelukan Brilly. "Kak hampir saja aku jatuh." "Tidak akan, Naomi." Naomi pun datang tanpa pengacara yang sudah dipersiapkan oleh Daddy Brian. Setelah tau Lian datang sendiri. Naomi menghentikan kerja pengacara. Setidaknya dengan begini imbang. Bukan Naomi menolak karena merasa mampu tapi tidak mau Lian semakin mengeluarkan omongan yang membuat sakit telinga. Sekarang, di depan sana sudah ada hakim dan juga anggota lainnya. Naomi sesekali memejamkan kedu
Naomi kembali berdiri setelah sempat menyurut air matanya. Dia tidak sanggup mengatakan apa-apa padanya Gwen hingga putrinya diambil alih oleh Brilly. "Kalau Mami sehat, Gwen juga senang. Sekarang Gwen ikut Oma dan Opa ya. Kalau butuh sesuatu, Gwen bilang sama Oma dan Opa!" "Iya Om." Naomi memperhatikan putrinya setelah sempat menyurut air matanya. Naomi berusaha untuk tetap tersenyum kemudian mengecup pipi Gwen. "Mami berangkat dulu ya. Gwen nggak boleh nakal! Harus nurut sama Oma dan Opa!" pesan Naomi pada Gwen yang kemudian menganggukkan kepala dan memberikan ibu jari padanya. "Iya Mami, tapi Mami pulang 'kan?" "Mami pulang, Sayang. Setelah pekerjaannya selesai, Mami langsung pulang. Salim dulu, Nak!" kata Naomi kemudian ada Gwen yang kemudian mencium tangannya. Gwen terlihat sangat patuh sekali kemudian terkekeh kala pipi gadis kecil itu dihujani kecupan oleh Brilly. "Om pergi dulu. Kamu sarapan ya sama Oma dan Opa. Om langsung berangkat sama Mamimu," kata Bril
"Aku tidak ingin sampai terjadi sesuatu dengan ibu dari anakku." Naomi tertegun mendengar apa yang Brilly katakan. Dia kembali sesak nafas. Bukan karena sakit tetapi karena Naomi merasakan begitu sangat dispesialkan oleh iparnya. "Tapi aku takut kalau sampai Lian..." "Tidak akan terjadi apa-apa denganmu selagi ada aku." Naomi merapatkan bibirnya dan tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia memilih diam dan kembali menatap ke langit. Naomi bingung bagaimana cara menanggapi Brilly. Jantungnya malah berdebar kencang merasakan tangannya yang digenggam oleh Brilly dengan usapan lembut di punggung tangan oleh ibu jari yang menyentuh pori-pori. Naomi menarik nafas dalam mencoba menenangkan diri dan kembali menoleh pada Brilly yang ternyata sejak tadi memperhatikannya. Naomi menatap penuh tanda tanya sampai dia tidak bisa jika hanya diam. "Kenapa?" tanya Naomi dengan suara yang lirih. "Senyum, Naomi! Sinarmu jangan sampai kalah dengan bintang di langit!" BLUSH "Mana ada be
"Biar nanti aku yang bersihkan," kata Brilly dan segera menaiki tangga menuju kamar Gwen. "Haish anak itu..." Daddy membuka kaca mata dan bergerak mengucak kedua mata sedangkan Mami tersenyum melihat begitu pusing suaminya. "Seperti kamu dulu, Mas. Kalau sudah suka ya akan menghalalkan segala cara. Kamu tidak ingat?" "Dulu aku tidak separah itu walaupun hasilnya membuat huru hara keluarga. Tidak taunya anak-anakku kisah rumah tangganya tragis semua. Sekarang malah Brilly yang kedapatan mulai tertarik dengan Naomi." "Percayakan saja pada Brilly. Aku yakin Brilly mengerti akan batasan. Dia tidak mungkin nyelonong saja. Lagian Naomi juga pastinya masih trauma dengan pernikahan." "Justru yang sedang rentan begini yang mudah sekali dimasukin. Aku sudah kenyang urusan percintaan, Sayang." "Padahal dulu katanya hanya denganku saja, tapi tau betul tentang itu." "Haish... Sudahlah jangan dibahas tentang itu!" kata Daddy Brian kemudian menghubungi Maryam. "Aku coba tanya
"Om kata Mami suruh keluar dulu. Maminya nggak pakai baju. Mami baru selesai mandi, nanti malu," kata Gwen yang menyampaikan apa pesan dari Naomi. Gadis kecil itu mengikuti apa yang Ibunya perintahkan tetapi Brilly malah tersenyum menatap wajah Gwen yang menggemaskan. "Kamu sayang sama Mami?" "Sayang dong, Om." "Kalau ada yang menyakiti Mami, apa Gwen akan ampuni orang itu, Nak?" tanya Brilly kemudian berjongkok mensejajarkan diri dengan Gwen. Brilly memegang lengan Gwen yang tengah diam berpikir. "Gwen nggak akan ampuni, Om. Apalagi kalau sampai buat Mami sakit, Gwen sayang sekali sama Mami. Nggak boleh ada yang buat Mami nangis." Brilly kembali tersenyum mendengar jawaban dari Gwen seraya mengusap lembut kepala putrinya. Senyuman ini adalah senyuman bangga pada orang sudah mendidik dan memberikan kasih sayang yang tulus pada Gwen hingga anak itu membalas dengan sangat tulus sekali. "Kalau begitu, bagaimana jika Gwen bekerja sama dengan Om?" "Kerja sama apa, Om
Naomi segera menarik tangannya dengan sangat kencang. Apa-apaan sich Brilly ini ya ampun. Di depan mertuanya begini. Naomi jadi tidak enak takut dikira murahan karena belum selesai dengan yang satu sudah kembali menjalin dengan yang satunya. Padahal bukan maunya, hanya memang entah kenapa pria itu jadi sangat meresahkan sekali dan semakin tidak bisa membuatnya tenang. Naomi tersenyum canggung pada kedua mertuanya kemudian melirik Brilly yang bersikap santai saja. "Iya, Mi. Sebenarnya masih mau menginap tapi Naomi sudah tidak betah dan minta pulang," jawab Brilly. "Iya tapi Naomi sudah sembuh Mi makanya minta pulang," sahut Naomi menjelaskan. "Yang penting Naomi sudah sehat 'kan?" tanya Mami memastikan dan Naomi menganggukkan kepala memberi kepastian. "Lain kali kalau tidak enak badan tuh bicara saja sama Mami! Jangan ada yang ditutupi! Kamu sakit tapi nggak bicara sama Mami. Untungnya ada orang baik yang cepat membawa kamu ke rumah sakit." "Memang selama ini yang leb
"Mami sama Papi mau pisah? Memangnya mau pisah rumah? Kok Mami minta Papi pergi? Mau kemana, Pi?" Sontak Naomi menoleh ke arah Gwen yang bertanya demikian. Naomi segera mendekati putrinya kemudian meraih kedua pipi Gwen dan menatap penuh kedua mata anaknya yang terlihat bingung. "Gwen, Mami m
"Aku tidak menyangka jika Lian bisa melakukan itu pada Kak Brilly. Lian sama sekali tidak memikirkan bagaimana persaudaraannya. Kalau aku, jelas saja! Aku akan terkhianati tetapi di balik aku yang dikhianati ternyata ada Kak Brilly yang sudah babak belur lebih dulu hatiku." Naomi masih saja tidak
"Kenapa, Kak? Kenapa aku tidak boleh menyakitinya? Kakak juga suka sama dia? Katakan Kak kalau Kakak memang suka!" kata Naomi dengan tatapan tak terima pada Brilly. Naomi pun melepaskan Maryam begitu saja dengan cara yang tak bersahabat. Wanita itu ambruk di lantai dingin dengan penampilan yang
PLAKK Kedua mata Maryam terbelalak setelah mendapatkan tamparan kerasa dari orang yang tidak pernah melakukan itu padahal sudah sangat dikhianati. Siapa lagi kalau bukan Naomi. "Nyonya?" Maryam amat sangat terkejut sekali. "Apa? Apa, Maryam?" "Aaagghhh!!!" Kepala Maryam mendongak kala







