Share

Bab 150. Mantan

Author: weni3
last update publish date: 2026-05-19 23:57:10

"Pak Ridwan, Om. Dia itu guru matematika yang ganteng sekali. Kalau di sekolah juga baik. Nggak pernah marah-marah sama Gwen dan teman-teman. Pak Ridwan juga baik sama Mami. Tadi membelikan Mami minum dan mengajak Mami ngobrol. Jadi Mami nggak bosan menunggu Gwen."

"Oh gitu.... Mami mana, Nak?"

" Duh mati aku! Gwen kenapa juga curhatnya sampai ke sana."

Naomi meringis kemudian menghindari. Dia memilih kembali ke ruang praktik tanpa ketahuan oleh Gwen. Naomi diam-diam menutup kembali pi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 152. Gembel

    Lian sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sekarang Lian bukan saja menjadi gelandangan tetapi berpura-pura tidak bisa bicara. Bukan hanya itu, terkadang Lian pun berpura-pura bodoh dan tuli. Itu semua dilakukan oleh Lian sebagai cara untuk menutupi identitas agar tidak mudah diketahui oleh polisi. Akalnya cukup cerdik. Bahkan Lian tidak sama sekali menunjukkan badan tegapnya. Lian berjalan dengan sedikit membungkuk dan langkah yang terlihat terpincang-pincang padahal sehat dan tak ada kekurangan. "Sana! Ngapain malah lihatin gue aja? Kerja! Kita gelandangan tapi butuh makan. Kita orang nggak punya dan tetap harus usaha, tapi terserah kalau loe mau mati sia-sia. Jangan lagi di sini! Sana pergi!" Orang tersebut mendorong tubuh Lian hingga terjatuh ke tanah. Padahal bisa saja Lian bertahan tetapi penyamaran Lian begitu sangat sempurna. Lian menjadi orang yang amat sangat lemah. Rambut yang sudah sedikit panjang dibiarkan berantakan hingga gimbal dan kumis juga jenggot yang tak

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 151. Bukan Mantan-mantanan

    "Ikh Gwen terlalu kecil untukmu jadikan Intel, Kak. Jangan begitu! Nggak ada yang nyaman sama laki-laki lain. Lagian aku nggak mudah jatuh cinta kok. Kalau mau mungkin sejak dulu kami jadian. Apalagi dari tampan dan baik sama aku tapi memang kamu nggak saling suka. Kami hanya berteman. Eh kebetulan ketemu tadi, ya sudah kami minum bareng aja. Kayaknya yang harusnya curiga tuh aku loh. Mantan yang tadi datang tuh ya jelas mantan. Bukan mantan-mantanan." Gantian Naomi yang menyindir Brilly. Kalau dia jelas ada buktinya dan memang benar yang datang menemui Brilly adalah mantan istri. Bukan hanya tuduhan tak mendasar. Bibir Naomi sudah merengut saja menatap wajah Brilly di layar ponselnya. Tatapan keduanya bertemu sebatas layar. Namun tembus sampai mata dan hati keduanya. "Aku tidak memperdulikannya." "Tapi dia datang jelas-jelas menggodamu, Kak. Aku santai saja sich. Kalau mau silahkan kembali!" kata Naomi. Begitulah kalau wanita sudah cemburu. Gengsi untuk mengakui padaha

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 150. Mantan

    "Pak Ridwan, Om. Dia itu guru matematika yang ganteng sekali. Kalau di sekolah juga baik. Nggak pernah marah-marah sama Gwen dan teman-teman. Pak Ridwan juga baik sama Mami. Tadi membelikan Mami minum dan mengajak Mami ngobrol. Jadi Mami nggak bosan menunggu Gwen." "Oh gitu.... Mami mana, Nak?" " Duh mati aku! Gwen kenapa juga curhatnya sampai ke sana." Naomi meringis kemudian menghindari. Dia memilih kembali ke ruang praktik tanpa ketahuan oleh Gwen. Naomi diam-diam menutup kembali pintu ruangannya agar Gwen tidak memberikan ponsel itu padanya. "Gwen kamu tuh! Yang ada Kak Brilly salah paham dan .... Akh! Yang ada aku dituduh selingkuh. Belum-belum sudah membuat pria itu ragu." Bukan Naomi takut, tapi Naomi pun tidak ingin Brilly berpikiran macam-macam dengannya. Apalagi di saat pria itu dalam keadaan yang seperti sekarang. Naomi takut, Brilly mengira dia tidak mau atau sengaja dekat dengan laki-laki lain karena kondisi Brilly yang buruk. Hanya saja, untuk menjelask

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 149. Pak Ganteng

    "Aku sedang proses persidangan." "Jadi..." "Sebentar lagi juga menjanda." Naomi tersenyum pada Ridwan, bukan bangga, hanya ingin menunjukan jika dia baik-baik saja dengan statusnya yang sekarang agar tidak ada pertanyaan lagi untuknya dari pria itu. "Semoga semua urusan kamu segera selesai." "Ya, mudah-mudahan. Hanya tidak menyangka saja nasib kita hampir sama, sama-sama buruk. Semoga kamu segera mendapatkan penggantinya ya. Kamu pasti sangat mencintainya sampai sudah tujuh tahun belum menikah lagi. Jarang-jarang laki-laki bisa bertahan sampai selama itu," kata Naomi tetapi pria itu hanya tersenyum dengan tatapan jauh ke depan. Naomi menatap Ridwan dengan lekat, sepertinya memang ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Mungkin ada hal pribadi yang tidak ingin diceritakan. Naomi pun tidak lagi bertanya atau membahas soal itu. "Mungkin belum menemukan sosok yang tepat. Aku duda bawa anak. Tentu saja aku mengutamakan anakku setiap mau bertindak." Naomi menganggukkan kepala

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 148. Ridwan

    Naomi menoleh ke belakang. Terlihat Brilly juga masih diam memperhatikannya. Naomi masih di sana. Belum beranjak sama sekali bahkan belum bergeser memberikan jalan pada wanita yang datang hendak bertemu dengan Brilly. Mana bawaannya banyak lagi. Ini sich niat sekali menjenguk dan mencari perhatian. Naomi bingung ingin tetap di sana atau pergi, sampai dimana Gani mendekati. "Ada apa, Nyonya?" "Oh ini, ada yang ingin menjenguk Kak Brilly," jawab Naomi kemudian melirik kembali wanita yang kini tersenyum dan terlihat sangat berekspresi sekali. "Oh anda." "Iya, aku datang ingin menjenguk Mas Brilly. Minggir dulu ya Naomi! Sepertinya kamu ingin pulang ya? Sudah selesai 'kan menjenguknya? Gantian ya!" kata Monic kemudian menggesernya hingga dia keluar ruangan. Naomi masih sempat melihat ke dalam. Brilly nampak diam masih memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa sampai dimana pintu ditutup dan dia tidak lagi bisa melihat apa yang terjadi di dalam.Haish! Itu pasti ulah Monic ya

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 147. Balas Dendam

    "Ya, tanpa aku harus banyak mengeluarkan tenaga, dia masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Aku tau dia akan mempersulitmu, Sayang. Apalagi setelah tau jika aku menyukaimu dan berniat meneruskan hubungan kekeluargaan kita." "Jadi kecelakaan itu pun Kakak tau?" "Hhmm...." "Kenapa nekat kalau sudah tau mobilnya dalam bahaya? Kenapa nggak keluar saja kalau tau akan celaka?" tanya Naomi dengan amat sangat gemas sekali. "Kalau aku menghindar itu artinya aku membiarkan dia mempersulit hubungan kalian. Lagi pula dengan begini, dia tau jika perbuatan itu akan menyulitkan dirinya sendiri. Semoga saja dia cepat sadar." "Tapi kaki Kakak?" tanya Naomi lagi seraya melirik kaki Brilly. Namun jawaban dari Brilly membuatnya tertegun. "Anggap saja ini sebagian dari pengorbananku untukmu, Naomi." "Kak tapi ini sangat mengerikan. Kamu benar-benar...." Naomi menggelengkan kepalanya. Sungguh Brilly sangat nekat. Dia sampai kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan jika hal ini tidak seha

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 66. Muak

    "Mami sama Papi mau pisah? Memangnya mau pisah rumah? Kok Mami minta Papi pergi? Mau kemana, Pi?" Sontak Naomi menoleh ke arah Gwen yang bertanya demikian. Naomi segera mendekati putrinya kemudian meraih kedua pipi Gwen dan menatap penuh kedua mata anaknya yang terlihat bingung. "Gwen, Mami m

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 64. Alasan

    "Kenapa, Kak? Kenapa aku tidak boleh menyakitinya? Kakak juga suka sama dia? Katakan Kak kalau Kakak memang suka!" kata Naomi dengan tatapan tak terima pada Brilly. Naomi pun melepaskan Maryam begitu saja dengan cara yang tak bersahabat. Wanita itu ambruk di lantai dingin dengan penampilan yang

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 63. Hentikan, Naomi!

    PLAKK Kedua mata Maryam terbelalak setelah mendapatkan tamparan kerasa dari orang yang tidak pernah melakukan itu padahal sudah sangat dikhianati. Siapa lagi kalau bukan Naomi. "Nyonya?" Maryam amat sangat terkejut sekali. "Apa? Apa, Maryam?" "Aaagghhh!!!" Kepala Maryam mendongak kala

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 62. Bersenang-senang

    "Apa yang membuatmu ingin keluar dari sini? Khawatir dengan seorang pengkhianat?" tanya Brilly hingga membuat Naomi merapatkan bibirnya tetapi itu hanya sejenak saja. "Tapi Kak, kalau berduaan di kamar seperti ini pun tidak dibenarkan." "Apa tawaranmu dulu masih berlaku?" "Yang mana?" tanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status