แชร์

Bab 149. Pak Ganteng

ผู้เขียน: weni3
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-17 17:14:33

"Aku sedang proses persidangan."

"Jadi..."

"Sebentar lagi juga menjanda."

Naomi tersenyum pada Ridwan, bukan bangga, hanya ingin menunjukan jika dia baik-baik saja dengan statusnya yang sekarang agar tidak ada pertanyaan lagi untuknya dari pria itu.

"Semoga semua urusan kamu segera selesai."

"Ya, mudah-mudahan. Hanya tidak menyangka saja nasib kita hampir sama, sama-sama buruk. Semoga kamu segera mendapatkan penggantinya ya. Kamu pasti sangat mencintainya sampai sudah tujuh tahun belu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 149. Pak Ganteng

    "Aku sedang proses persidangan." "Jadi..." "Sebentar lagi juga menjanda." Naomi tersenyum pada Ridwan, bukan bangga, hanya ingin menunjukan jika dia baik-baik saja dengan statusnya yang sekarang agar tidak ada pertanyaan lagi untuknya dari pria itu. "Semoga semua urusan kamu segera selesai." "Ya, mudah-mudahan. Hanya tidak menyangka saja nasib kita hampir sama, sama-sama buruk. Semoga kamu segera mendapatkan penggantinya ya. Kamu pasti sangat mencintainya sampai sudah tujuh tahun belum menikah lagi. Jarang-jarang laki-laki bisa bertahan sampai selama itu," kata Naomi tetapi pria itu hanya tersenyum dengan tatapan jauh ke depan. Naomi menatap Ridwan dengan lekat, sepertinya memang ada sesuatu yang tengah disembunyikan. Mungkin ada hal pribadi yang tidak ingin diceritakan. Naomi pun tidak lagi bertanya atau membahas soal itu. "Mungkin belum menemukan sosok yang tepat. Aku duda bawa anak. Tentu saja aku mengutamakan anakku setiap mau bertindak." Naomi menganggukkan kepala

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 148. Ridwan

    Naomi menoleh ke belakang. Terlihat Brilly juga masih diam memperhatikannya. Naomi masih di sana. Belum beranjak sama sekali bahkan belum bergeser memberikan jalan pada wanita yang datang hendak bertemu dengan Brilly. Mana bawaannya banyak lagi. Ini sich niat sekali menjenguk dan mencari perhatian. Naomi bingung ingin tetap di sana atau pergi, sampai dimana Gani mendekati. "Ada apa, Nyonya?" "Oh ini, ada yang ingin menjenguk Kak Brilly," jawab Naomi kemudian melirik kembali wanita yang kini tersenyum dan terlihat sangat berekspresi sekali. "Oh anda." "Iya, aku datang ingin menjenguk Mas Brilly. Minggir dulu ya Naomi! Sepertinya kamu ingin pulang ya? Sudah selesai 'kan menjenguknya? Gantian ya!" kata Monic kemudian menggesernya hingga dia keluar ruangan. Naomi masih sempat melihat ke dalam. Brilly nampak diam masih memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa sampai dimana pintu ditutup dan dia tidak lagi bisa melihat apa yang terjadi di dalam.Haish! Itu pasti ulah Monic ya

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 147. Balas Dendam

    "Ya, tanpa aku harus banyak mengeluarkan tenaga, dia masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Aku tau dia akan mempersulitmu, Sayang. Apalagi setelah tau jika aku menyukaimu dan berniat meneruskan hubungan kekeluargaan kita." "Jadi kecelakaan itu pun Kakak tau?" "Hhmm...." "Kenapa nekat kalau sudah tau mobilnya dalam bahaya? Kenapa nggak keluar saja kalau tau akan celaka?" tanya Naomi dengan amat sangat gemas sekali. "Kalau aku menghindar itu artinya aku membiarkan dia mempersulit hubungan kalian. Lagi pula dengan begini, dia tau jika perbuatan itu akan menyulitkan dirinya sendiri. Semoga saja dia cepat sadar." "Tapi kaki Kakak?" tanya Naomi lagi seraya melirik kaki Brilly. Namun jawaban dari Brilly membuatnya tertegun. "Anggap saja ini sebagian dari pengorbananku untukmu, Naomi." "Kak tapi ini sangat mengerikan. Kamu benar-benar...." Naomi menggelengkan kepalanya. Sungguh Brilly sangat nekat. Dia sampai kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan jika hal ini tidak seha

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR    Bab 146. Lubang Kematian

    Naomi mengangguk percaya kemudian membantu posisi Brilly agar lebih mudah dan nyaman saat makan. Naomi pun memastikan Brilly tidak sakit dengan posisi yang sekarang. "Kakinya aman, Kak?" "Aman, Sayang." "Duuuuhhh yang paling tersayang," sindir Gani dan Naomi hanya menggelengkan kepala sedangkan Brilly gemas sekali hendak melemparkan sesuatu tetapi tidak ada barang yang bisa dilempar untuk pria itu. "Jangan dihiraukan! Kamu tuh panasan makanya digodain aja." Naomi baru tau kalau bersama pasangannya Brilly akan menjadi seperti anak kecil. Begitukah jika seseorang sudah nyaman? Bahkan kini Naomi yang harus menjadi dewasa. Naomi menyuapi Brilly dengan penuh perhatian. Kedua mata mereka kadang bertemu dan Brilly sukses membuat Naomi salah tingkah. Namun Naomi ingat akan sesuatu yang dia ingin bicarakan pada Brilly. "Kak aku sudah tau yang sebenarnya. Semalam Mami datang bukan untuk menanyakan kejadian aku dengan Mas Lian tetapi menangis karena tau Mas Lian yang sudah me

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 145. Bubur Cinta

    Setelah mengantarkan Gwen ke sekolah. Naomi mampir membelikan bubur untuk dia bawa ke rumah sakit. Sebelumnya, Brilly mengatakan ingin makan bubur ayam yang dijual di dekat kantor pria itu. Awalnya tidak mau dibelikan tetapi setelah tau kalau Naomi akan datang menjenguk sebelum berangkat ke klinik. Barulah Brilly mengiyakan dan terdengar bersemangat. Naomi membeli dua bungkus untuk Gani juga. Dia sampai tepat di saat Gani hendak keluar mencari sarapan. "Eh Nyonya datang, masuk!" "Panggil Naomi saja atau yang lain. Jangan, Nyonya!" pinta Naomi dan Gani terkekeh mendengarnya. "Bukan apa, Nyonya. Tuan Brilly yang meminta saya memanggil dengan panggilan itu." Naomi pun melirik ke ranjang Brilly. Tumben sekali sebutan dan tutur kata Gani juga terdengar formal. Akh ini pasti sedang sengaja menggoda. "Gan, kalau ada tamu itu suruh masuk. Apalagi kalau sampai yang datang cewek gue. Jangan malah sengaja loe berhentiin di situ!" tegur Brilly setelah mendengar suara Naomi. N

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 144. LIAN

    Naomi duduk berdua dengan Mami si sofa kamar. Naomi masih diam tak bertanya apa tujuan beliau mengajak bicara. Diam Naomi memperhatikan sampai hatinya merasa resah. Mami sepertinya berat sekali ingin bicara. Agaknya lidah beliau kelu untuk berucap. Bisa jadi beliau bingung ingin memulai dari mana. Sampai dimana Naomi meraih tangan beliau dan Mami kembali menatapnya. "Mami sedih, Nak." "Sedih? Sedih kenapa, Mi? Apa ini ada kaitannya dengan Kak Brilly? Operasinya gagal?" tanya Naomi. Kedua matanya terlihat amat sangat gelisah. Naomi pun merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya sendiri mengingat Brilly sangat pandai menyembunyikan rasa. Apa ada kaitannya dengan orang yang sudah mencelakai Kak Brilly? "Mi, kenapa?" tanya Naomi semakin tak sabaran saja karena Mami yang kembali diam dan menundukkan kepala. Dari gurat wajah Mami dapat Naomi pastikan beliau sedang sangat terpuruk. Ada apa sebenarnya? "Mami cerita saja pada Naomi. Mami datang ingin mengatakan sesuatu yang menja

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 47. Mas Aku Ingin Sampai!

    "Sssttt.... Belum mau sudah." "Tapi aku sudah harus pulang, Baby! Jangan tahan aku lagi! Apa kurang sejak kemarin malam kita bercinta, hhm? Sekarang pun aku sudah membuatmu menggeliat berulang kali. Aku kasih satu kali lagi tapi setelah itu kita pulang ya." "Nggak mau! Kamu tuh gitu! Janjinya s

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 46. Tidak Akan Tergantikan

    [ Iya, Kak. Makasih banyak ya. Itu lebih nikmat dari pada nasi goreng restoran.] send Kak Brilly. Ya ampun laki-laki ini! Sampai di foto segala. Naomi malah jadi sering berkomunikasi dengan Brilly sedangkan dihubungi oleh Lian, dia malah kesal sekali. Pintu terbuka dan itu sangat mengejutkan N

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 45, Sssttt... Pelan!

    Naomi keluar dari kamar mandi setelah rapi dan wangi. "Akh segarnya," kata Naomi kemudian menoleh kearah Gwen yang sedang bermain seraya rebahan. "Loh kok anak Mami nggak bobo? Eh tapi tunggu! Kita makan dulu ya. Setelah itu minum obat dan Gwen harus kembali istirahat." "Iya, Mi." Naomi me

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 44. Pakaian Dalam Merah

    Brilly masuk ke kamar Naomi dan juga Lian. Sesuai apa yang Naomi pinta, Brilly mengambil pakaian ganti untuk sang adik ipar. Namun baru masuk, Brilly sudah menghela nafas berat. Entah apa yang ada di isi kepala Brilly. Langkah pria itu begitu berat tertuju pada lemari pakaian. Sudah lama tidak

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status