LOGINDimas membuka matanya kembali. Sorot matanya kini begitu jernih, tajam, namun tenang seperti permukaan danau di tengah musim dingin. Ia menolak menjadi penjaga penjara bagi wanita yang ia inginkan."Tidak, Bram," jawab Dimas akhirnya. Suara baritonnya terdengar begitu lembut, datar, namun penuh dengan kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. "Tarik mundur kedua tim yang ada di jalan samping. Jangan ada satu orang pun yang mendekati pagar rumah itu malam ini."Bram yang sedang menanti perintah eksekusi sedikit tertegun. Ia memutar tubuhnya sedikit ke belakang, menatap Dimas dengan raut wajah tidak mengerti. "Maaf, Pak Dimas? Kita... kita membiarkan mereka di sana? Kita sudah berhasil melacak lokasi persembunyian ini setelah mengerahkan seluruh jaringan malam ini, Pak.""Aku tidak tuli dengan instruksiku sendiri, Bram," balas Dimas tanpa menoleh dari kaca jendela. Sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat sulit diartikan—bukan senyum kekalaha
Rintik hujan turun dengan tempo yang begitu lambat, mengetuk-nketuk kaca jendela mobil hitam pekat yang terparkir senyap di seberang jalan. Suasana malam di kawasan pinggiran kota itu begitu tenang, seolah tidak pernah terjadi insiden perkelahian berdarah di tangga darurat Genta Pustaka, seolah pemadaman listrik yang sempat melumpuhkan gedung pencakar langit itu hanyalah mimpi buruk yang lenyap tertiup angin malam.Di dalam kabin mobil berpelapis kulit yang hangat dan harum oleh aroma tembakau mahal serta kopi hitam, Dimas Adiwijaya duduk tenang di kursi belakang. Tatapan matanya lurus, menembus kaca gelap berbahan tahan peluru, terarah tepat pada jendela lantai dua sebuah rumah bergaya minimalis yang dikelilingi pagar kayu di seberang sana.Dari balik jendela yang tirainya tidak tertutup rapat itu, sebuah pemandangan sederhana tersaji hangat. Lampu ruangan berwarna kuning keemasan menyala lembut. Di sana, di ruang tengah rumah persembunyian tersebut, terlihat Ruby sedang duduk di tep
Sementara Ruby akhirnya bisa tertidur pulas karena kelelahan di bawah selimut tebal dalam rumah persembunyian Reza yang aman dan tak tersentuh, neraka dunia justru sedang meledak di sudut lain ibu kota. Ketenangan malam itu dikoyak habis-habisan oleh amarah seorang Dimas Adiwijaya. Bagai seekor monster yang hartanya baru saja dicuri, Dimas membalikkan setiap batu di kota ini demi menemukan Vico, pria yang ia yakini sebagai dalang di balik hilangnya Ruby.Jaringan bawah tanah Dimas bergerak sangat cepat. Uang dan kekuasaan berbicara jauh lebih lantang daripada hukum. Seluruh informan, preman bayaran, hingga peretas bayangan dikerahkan malam itu juga. Mereka menyisir setiap apartemen mewah, menelusuri riwayat kartu kredit, melacak sinyal ponsel, hingga menggeledah setiap kelab malam rahasia yang memiliki afiliasi dengan saudara tirinya itu. Tidak butuh waktu lama bagi mesin perburuan Dimas untuk mengendus mangsanya.Hanya berselang tiga jam sejak insiden pemadaman listrik di Genta Pusta
Rahang Dimas mengeras. Urat-urat di pelipisnya menonjol hingga nyaris meledak. Penyusupan. Sabotase terencana. Otak brilian sang CEO langsung berusaha berpikir cepat.Sabotase listrik tingkat tinggi ini terjadi persis ketika ia sedang berada di tangga darurat, sibuk menghajar Vico habis-habisan. Pemadaman ini jelas bukan ulah kebetulan, melainkan sebuah taktik pengalihan isu yang sangat rapi. Dan di dunia ini, hanya ada satu bajingan yang memiliki motif, dendam, dan akses dana tak terbatas untuk menyewa komplotan bayaran demi mengacaukan sistem keamanan Genta Pustaka malam ini.Vico. Saudara tirinya itu pasti sudah merencanakan semuanya."Di mana Vico?!" bentak Dimas dengan suara bariton yang menggelegar, membuat kepala keamanan itu terlonjak kaget dan mundur selangkah."M-maksud Bapak, Tuan Vico?" jawab pria berseragam safari itu dengan suara gemetar."Kumpulkan sepuluh orangmu yang paling tangkas sekarang juga! Bawa senjata lengkap. Ikut aku ke lantai atas!" perintah Dimas mutlak, t
Setiap kali kaki Ruby ragu untuk memijak anak tangga, Reza akan menahannya dengan sabar, memberikan kode berupa remasan lembut di telapak tangannya agar istrinya itu tetap tenang. Pria itu bergerak menuruni tangga dengan kelincahan dan kesunyian yang tidak wajar untuk ukuran seorang mekanik bengkel biasa. Langkah kakinya seringan kucing, napasnya teratur tanpa suara, seolah kegelapan adalah teman lama yang sangat ia kenal.Ruby terus mengikuti langkah suaminya dalam diam. Adrenalin yang sejak tadi membakar urat nadinya kini mulai bercampur dengan rasa lelah yang luar biasa. Namun, genggaman tangan Reza yang hangat dan kokoh menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Ruby.Bagaimana Reza bisa mendapatkan kemampuan bergerak layaknya seorang agen operasi khusus? Namun, Ruby menelan semua pertanyaan itu. Ia tahu ini bukan saatnya menuntut penjelasan.Setelah menuruni entah berapa puluh anak tangga dalam keheningan yang menegangkan, la
"Reza?" panggil Ruby dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sebuah helaan napas lega terdengar dari sosok di depannya. Kedua lengan kokoh itu kemudian merengkuh tubuh mungil Ruby, menariknya ke dalam pelukan yang luar biasa hangat dan protektif. Wajah pria itu tenggelam di ceruk leher Ruby, mengecupnya berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur."Iya, ini aku, By. Maaf aku bikin kamu ketakutan setengah mati. Aku harus bergerak cepat dan tanpa suara supaya keparat di atas sana tidak menyadari keberadaanku," ucap Reza, suaranya terdengar sedikit serak menahan emosi.Tangis Ruby akhirnya pecah. Ia membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza. Tangannya meremas kemeja flanel yang dikenakan pria itu seolah takut Reza akan menghilang jika ia melepaskannya. Seluruh rasa takut, teror, dan keputusasaan yang menyiksanya sejak sore tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Su
Aroma aspal basah yang menguap setelah hujan mendadak kalah oleh bau anyir yang pekat. Ruby berdiri dengan lutut gemetar di atas rumput taman lobi yang basah. Matanya melebar, terkunci pada sosok Dimas yang terkapar beberapa meter di depannya. Kemeja putih yang beberapa puluh menit lalu diganti Dim
"Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.
Ruby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat."Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Re
"Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponse







