Home / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 62 Ratu drama

Share

Bab 62 Ratu drama

Author: Penulis Hoki
last update publish date: 2026-05-15 23:47:45

Pukul sebelas tepat, Ruby melangkah masuk ke kafe Lazuardi. Interior kafe itu sangat cantik dengan nuansa biru laut, namun suasana hatinya sedang mendung pekat.

Sesuai kesepakatan, Dimas masuk beberapa menit setelahnya, mengenakan kacamata hitam dan duduk di sudut ruangan yang agak tersembunyi namun memiliki pandangan langsung ke meja Ruby. Kehadiran Dimas yang mengawasi memberikan rasa percaya diri aneh pada Ruby.

Ruby mengedarkan pandangan dan menemukan Dina sudah duduk di dekat jendela. Wani
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 98 Uler

    Mendapat bentakan keras dari Dimas yang menggelegar di seluruh penjuru ruangan, Vico sama sekali tidak terlihat gentar. Pria berjas maroon gelap itu justru terkekeh pelan, sebuah tawa kering yang terdengar sangat meremehkan. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara setinggi dada, memberikan gestur menyerah yang jelas-jelas palsu."Oke, oke. Santai, Bro. Gue nggak akan ikut campur urusan lu sama... mainan baru lu ini," ucap Vico santai, sengaja menekan kata "mainan" untuk menginjak harga diri Ruby sekaligus memancing emosi Dimas.Tanpa menunggu balasan dari Dimas yang wajahnya sudah memerah padam menahan murka, Vico memutar tubuhnya untuk berjalan keluar. Namun, sebelum pria itu benar-benar melangkah melewati ambang pintu mahoni, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sekali lagi ke belakang.Bukan menatap Dimas, melainkan menatap langsung ke kedalaman mata Ruby.Dari balik dekapan posesif Dimas, tubuh Ruby menegang kaku saat matanya beradu pandang dengan mata elang Vico. Pria itu menyun

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 97 Dua iblis

    Pagi itu, cuaca Jakarta di luar jendela kaca gedung perkantoran mewah tempat Ruby bekerja tampak cerah, berbanding terbalik dengan awan badai yang menggelayut pekat di dalam hati wanita itu. Tubuh Ruby terasa remuk redam. Sisa pergumulan panjangnya dengan Reza semalam suntuk masih meninggalkan pegal yang luar biasa di setiap persendiannya. Namun, rasa lelah fisik itu tidak seberapa dibandingkan dengan tekanan psikologis yang harus ia hadapi begitu kakinya menginjak lantai marmer di lobi kantor.Sejak awal jam kerja, Ruby sudah merasakan firasat buruk. Dan benar saja, belum genap dua jam ia duduk di kubikelnya, interkom di mejanya berbunyi. Suara dingin Dimas Adiwijaya memerintahkannya untuk segera membawa dokumen laporan bulanan ke mejanya. Dengan langkah gontai dan jantung yang berdebar tak karuan, Ruby merapikan kerah kemejanya berulang kali, memastikan tidak ada memar atau tanda sekecil apa pun dari semalam yang terekspos. Begitu ia melangkah mendekati meja dimas. Dimas sedang ber

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 96 Penonton

    Kesabaran Reza telah menguap sepenuhnya. Pria itu tidak lagi memberikan waktu bagi Ruby untuk memproses ketakutannya. Reza langsung meraup bibir istrinya, memulai ciuman yang sangat brutal dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana. Ia melumat, menyesap, dan menggigit bibir Ruby dengan beringas, memaksa wanita itu untuk membuka mulut dan menerima invasi lidahnya.Ruby merintih tertahan, kedua tangannya meremas seprai kuat-kuat. Ciuman Reza benar-benar mendominasi, merampas seluruh pasokan oksigen dari paru-parunya.Setelah puas meluluhlantakkan bibir istrinya, wajah Reza turun menyusuri rahang. Ia menciumi leher Ruby, memberikan hisapan-hisapan kecil di atas kulit yang masih mulus—sengaja menghindari area yang membengkak.Tangan Reza tidak tinggal diam. Ia menyingkap bodysuit kulit sintetis itu, mengekspos payudara Ruby yang sedari tadi terkungkung rapat. Reza menghisap dan mempermainkan kedua puncak dada Ruby secara bergantian, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras dengan k

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 95 Takut?

    Suara putaran engsel pintu kamar mandi yang terbuka terdengar sangat nyaring di telinga Ruby, seolah-olah itu adalah gerbang menuju arena eksekusi. Uap hangat sisa air dari wastafel mengepul tipis, mengiringi langkah ragu-ragu dari kaki jenjangnya yang kini terbalut stocking jaring-jaring hitam.Ruby melangkah keluar dengan kepala tertunduk. Wajahnya merah padam, menahan rasa malu yang luar biasa hingga ke ubun-ubun. Kedua tangannya bersilang di depan tubuh, berusaha mati-matian menutupi area dada dari bodysuit kulit sintetis yang potongannya terlalu rendah dan mengekspos belahannya dengan sangat eksplisit.Bando dengan dua telinga kelinci panjang yang bertengger di kepalanya terasa sangat konyol, dan jepitan garter di pahanya terasa dingin menyentuh kulit. Ia merasa seperti boneka mainan murahan, jauh dari kesan elegan yang biasa ia tampilkan.Begitu Ruby mengangkat wajahnya, napasnya seketika tercekat.Di ujung ranjang, Reza sudah duduk menunggunya. Pria itu telah menanggalkan selur

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 94 Dua pilihan

    Harapan tentang momongan itu adalah doa tulusnya untuk menyembuhkan luka akibat keguguran beberapa waktu lalu, sekaligus menjadi jangkar terkuat agar Reza tidak pernah berpaling darinya.Setelah doanya selesai dipanjatkan, Ruby membuka matanya, menatap Reza penuh cinta, lalu meniup lilin-lilin itu hingga padam."Yeeey!" Reza bersorak kecil, segera meletakkan kue itu di atas nakas di sebelah lampu tidur. Tanpa membuang waktu, pria itu langsung merengkuh tubuh Ruby ke dalam pelukan yang sangat erat dan hangat. Reza mencium puncak kepala istrinya bertubi-tubi, menghirup aroma lavender yang selalu menenangkan jiwanya."Terima kasih, Za," bisik Ruby di pelukan suaminya, merasa bahwa malam ini, ia telah memenangkan kembali dunianya.Setelah sesi pelukan yang emosional itu, Reza melepaskan dekapannya. Seringai jahil yang menjadi ciri khasnya perlahan mulai terbentuk di sudut bibirnya. Tatapan matanya yang semula penuh haru kini berubah menjadi kilat nakal yang sangat familier bagi Ruby."Jan

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 93 Make a wish

    Perjalanan pulang dari kantor menuju rumah malam itu terasa seperti lintasan waktu yang berjalan dengan kecepatan siput. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Ruby lebih banyak diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap kosong pada kerlip lampu jalanan ibu kota yang berbaris membelah kemacetan. Di sebelahnya, Reza menyetir dengan tenang, sesekali bersenandung kecil mengikuti alunan lagu dari radio mobil, seolah sama sekali tidak ada hal istimewa yang terjadi hari ini.Hati Ruby berkecamuk hebat. Sepanjang hari, fokusnya telah diobrak-abrik oleh manuver psikologis Dimas Adiwijaya yang memberinya hadiah jam wecker sialan itu, sekaligus menyodorkan fakta menyakitkan bahwa suaminya sendiri melupakan hari ulang tahunnya.Setibanya di rumah, Ruby masih menyimpan setitik harapan. Mungkin Reza sedang menyiapkan kejutan. Mungkin di balik pintu rumah mereka yang gelap, akan ada taburan kelopak mawar atau teriakan 'surprise' yang akan mengusir semua pikiran kotor tentang Dimas. Namun, sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status