공유

BAB 5

작가: RAJJA-M
last update 게시일: 2026-05-28 17:06:12

Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.

Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainnya, tangan kiri menopang layar pad tipis berbingkai logam gelap. Cahaya layar memantul samar di wajahnya, menyoroti garis rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam namun nyaris tak bernyawa.

Di layar, deretan artikel berita bergulir satu per satu. Judul demi judul. Skandal. Penyelidikan. Korupsi. Satu headline berhenti tepat di tengah layar:

"Kandidat Unggulan Dimitri Ribeiro Terseret Kasus Penggelapan Dana Saat Menjabat Sebagai Ketua Komisi Anggaran di Câmara dos Deputados."

Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Cane. Tidak ada alis yang terangkat, tidak ada sudut bibir yang bergerak, tidak ada kilatan keterkejutan. Berita yang cukup untuk mengguncang peta politik seluruh negara itu tampak tidak lebih mengejutkan dari laporan cuaca baginya.

Ia menggeser layar dengan ibu jari. Artikel berikutnya terbuka—analisis politik, spekulasi media, opini publik yang mulai berbalik arah. Nama Dimitri terus muncul, kini selalu bersanding dengan kata skandal dan penyelidikan federal.

Sunyi.

Lalu Cane mengembuskan asap cerutu tipis dari sela bibirnya. Baru setelah itu sudut mulutnya bergerak sedikit—bukan senyum. Hanya bayangannya. Bayangan yang jauh lebih berbahaya.

"Pastikan media tidak menurunkan berita ini sampai dua bulan ke depan," gumamnya pelan kepada Dante Silva, tangan kanannya, yang berdiri tegak di sudut ruangan.

Nada suaranya rendah dan datar, tanpa infleksi emosi sedikit pun. Namun justru itulah yang membuat kalimatnya terdengar seperti vonis yang sudah tidak bisa naik banding.

"Baik, Tuan."

Cane menyentuh layar sekali lagi. Grafik elektabilitas Dimitri yang anjlok tajam dalam waktu kurang dari dua belas jam terbuka di hadapannya. Matanya menyipit nyaris tak terlihat—bukan karena terkejut, melainkan karena puas dengan presisi yang telah ia rancang.

Abu cerutu di tangannya panjang, masih utuh, belum jatuh. Sebuah detail kecil yang mengatakan banyak tentang betapa stabilnya pria ini—bahkan saat sedang membaca berita yang baru saja meruntuhkan karier seseorang.

Dengan gerakan santai, ia melempar tabletnya ke atas meja dan menghancurkan cerutu yang masih menyala di asbak. Tanpa melirik ke arah Dante, ia bertanya,

"Apa sudah disiapkan?"

"Sudah, Tuan Cane. Hanya menunggu kedatangan Anda."

Cane menghabiskan sisa winenya dalam satu tegukan. Menyambar jasnya dari sandaran sofa—kasar, bukan karena terburu-buru, tapi karena ia tidak pernah merasa perlu berhati-hati dengan sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Lalu ia melangkah lebar keluar ruangan, membawa serta aura yang mendominasi setiap sudut yang ia lewati, sementara Dante mengekor diam di belakangnya—patuh, tidak bersuara, mengikuti ritme langkah tuannya tanpa perlu diperintah.

— ✵ —

Lantai beton ruang bawah tanah itu lembap, memantulkan pijar lampu neon yang berkedip sekarat di langit-langit rendah. Udaranya berat—campuran bau besi berkarat dan pengap tempat yang telah lama dilupakan matahari.

Pria-pria bertubuh tegap bersiaga di titik-titik strategis. Dua orang mematung di depan pintu baja tebal, sisanya melebur dalam bayang-bayang sudut ruangan. Di bawah temaram lampu, tato kepala serigala terhunus pedang tampak permanen di leher dan punggung tangan mereka—segel bisu bahwa mereka adalah properti yang tunduk sepenuhnya di bawah kaki Santino Cane Barrone.

Di tengah ruangan, tepat di bawah sorot lampu yang paling terang, seorang pria bersimpuh. Tubuhnya ringkih, terus menggigil di atas beton dingin. Aristhos—ilmuwan yang kini tidak lebih dari onggokan daging berminyak dengan baju penjara yang apak. Dua pria di sampingnya mencengkeram bahunya begitu kuat, memastikan ia tetap berlutut meski persendiannya sudah gemetar hebat.

Cane berdiri tepat di hadapannya.

Dengan tinggi 193 sentimeter, bayangan tubuhnya menelan habis sosok Aristhos yang menyedihkan di bawahnya. Aristhos harus mendongak hingga lehernya terasa kaku, hanya untuk mendapati dirinya menatap ujung dagu pria yang seolah dipahat dari batu karang. Kemeja hitam Cane yang digulung hingga siku memperlihatkan guratan urat tangannya yang tenang saat ia menyesap cerutu. Ia tidak segera berbicara. Ia hanya berdiri, menikmati pemandangan di bawah kakinya dengan tatapan kosong yang sangat angkuh—seolah bukan sedang melihat manusia, melainkan sekadar kotoran yang tidak sengaja terinjak oleh sepatunya.

Cane mendengus pendek. Tawa kering yang tidak mencapai matanya.

"Namamu sudah dihapus dari catatan federal, Aristhos. Bagi dunia, kau sudah mati membusuk di dalam sel."

Ia melangkah maju. Ujung sepatu pantofelnya yang mengilat nyaris menyentuh dahi pria tua itu. Cane sedikit menunduk, membiarkan bayangannya menelan sosok Aristhos sepenuhnya.

"Aristhos…"

Cane mengecap nama itu dengan nada yang mengandung sinis dan kebosanan sekaligus.

"Ilmuwan jenius yang diagung-agungkan, kini berakhir sebagai tikus penjara. Lihat dirimu… kau bahkan tidak lebih berharga dari debu yang menempel di sepatuku."

Aristhos perlahan mengangkat kepala. Matanya yang cekung berair karena takut—bukan karena sedih. Ia menatap sepatu Cane, lalu beralih ke wajah yang sedingin es itu.

"U-untuk apa… kau membawaku ke sini?" Suaranya pecah. Giginya gemeletuk. "A-aku tidak punya apa-apa lagi… mereka sudah membakar semuanya…"

Cane mengembuskan asap cerutunya tepat ke wajah Aristhos. Pria tua itu tersedak, terbatuk-batuk dalam kepulan yang menyesakkan.

"Berhenti bersandiwara, Aristhos. Itu membosankan."

Bisiknya, suaranya sedatar garis kematian.

"Laboratoriummu memang sudah jadi abu, tapi kita berdua tahu… rumus Oblivion itu masih tersimpan rapi di balik tempurung kepalamu yang menjijikkan ini."

Cane mengarahkan ujung cerutunya yang masih menyala—berhenti hanya beberapa senti di depan dahi Aristhos. Bara panas itu tidak menyentuh kulit, tapi intimidasi yang terpancar membuat Aristhos mematung sepenuhnya. Manik matanya membesar perlahan, memerah seiring aliran adrenalin yang memuncak. Seluruh tubuhnya gemetar hebat di bawah ancaman yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Bahunya merosot lemas.

"K-kau… kau menginginkan cairan itu?" bisiknya patah-patah. "T-tapi itu berbahaya… jika salah dosis, sarafnya akan—"

"Aku tidak butuh ceramah kesehatan."

Cane mencengkeram rahang Aristhos dengan satu tangan—memaksa pria itu menatap langsung ke dalam kegelapan matanya. Jarak itu begitu dekat sehingga Aristhos bisa mencium aroma cerutu dan sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih berbahaya, yang tidak punya nama.

"Aku tidak mengeluarkanmu dari neraka itu secara gratis. Aku tidak pernah melakukan amal, apalagi pada sampah sepertimu."

Cane menyentakkan tangannya. Rahang Aristhos terlempar kasar ke samping, hampir membuat pria tua itu terjungkal.

"Kau berutang nyawa padaku, Aristhos. Dan aku tidak butuh ucapan terima kasih."

Ia menatap Aristhos dari ketinggiannya—seperti seseorang yang sedang menimbang apakah sebuah aset rusak masih layak dipertahankan atau tidak.

"Kau akan memproduksi Oblivion untukku. Aku ingin narkoba baru itu membanjiri pasar dalam waktu dekat."

Nada suaranya rendah, membawa bobot ancaman yang tidak memerlukan teriakan untuk terasa absolut.

"Setiap tetes yang kau buat adalah harga untuk kepalamu. Jika kau gagal, aku sendiri yang akan memastikan sisa hidupmu terasa jauh lebih lama dan menyakitkan daripada kematian itu sendiri."

Aristhos memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan harga dirinya luruh ke lantai beton, bersama seluruh sisa martabat yang ia miliki.

"B-baik… aku akan melakukannya… tolong, jangan bunuh aku."

Cane mendengus. Ia berbalik, memunggungi pria itu seolah Aristhos sudah tidak lagi menarik untuk dipandang.

"Mulai detik ini, kau adalah properti-ku. Kau bernapas hanya jika aku mengizinkannya."

Ia memberikan isyarat dagu kepada Dante. Dengan tenang, Cane menerima kain linen mahal dari asistennya—mengelap tangannya dengan gerakan yang sangat perlahan, seperti baru saja menyentuh sesuatu yang kotor—lalu membuang kain itu sembarangan ke lantai.

Dante mengangguk. Matanya sedingin baja saat menatap dua anak buah di sana.

"Bawa dia. Bersihkan sampai tidak ada lagi bau penjara yang tersisa. Aku tidak ingin satu partikel pun dari makhluk ini mencemari laboratorium Tuan Cane."

Aristhos diseret berdiri dengan paksa. Kakinya yang lemas terseret di atas beton saat mereka membawanya pergi.

Cane melangkah keluar tanpa menoleh. Aroma cerutunya menggantung di udara—sisa-sisa dari sebuah otoritas yang tidak perlu bersuara keras untuk dirasakan oleh semua orang di ruangan itu.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 44

    Ruangan itu tidak punya nama resmi di dalam sistem manapun.Tidak ada di denah gedung, tidak ada di dokumen perizinan, tidak ada di catatan apapun yang bisa ditemukan oleh orang yang tidak seharusnya menemukannya. Dindingnya beton bertulang, langit-langitnya rendah, dan satu-satunya ventilasi adalah sistem sirkulasi udara yang mendengung pelan di balik panel baja di dinding belakang. Meja di tengahnya panjang dan berat — kayu gelap tanpa ornamen, tanpa keanggunan yang tidak perlu. Kursi-kursi di sekelilingnya terisi.Delapan orang.Delapan kepala divisi yang masing-masing mengendalikan satu urat nadi dari tubuh organisasi ini — jalur laut, distribusi darat, keuangan, pengamanan, intelijen, operasi lapangan, kontrak sipil, dan satu kursi di ujung kiri yang ditempati oleh pria dengan rambut mulai memutih di pelipisnya yang tidak pernah menatap langsung ke ujung meja berlawanan.Karena di ujung meja berlawanan, Cane duduk.Satu tangan di atas meja, jarinya tidak bergerak. Tangan lainnya

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 43

    Isabela membuka matanya pelan.Langit-langit putih. Tirai yang masih tertutup rapat dengan sedikit cahaya memaksa masuk dari celah tipis di tengahnya.Ia meraih ponselnya dari meja samping — refleks, bahkan sebelum benar-benar sadar sepenuhnya.Layar menyala.Tidak ada notifikasi.Ia mengerutkan dahi. Jempolnya bergerak — membuka pesan, menggulir ke atas, memastikan tidak ada yang terlewat. Tidak ada. Nama yang ia cari tidak ada di sana. Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda baca kecil yang menunjukkan seseorang sedang mengetik.Theo.Isabela meletakkan ponselnya kembali ke meja.Pelan — terlalu pelan untuk sekadar malas."Ck."Satu suara kecil untuk dirinya sendiri. Ia menatap langit-langit sebentar — lalu memutuskan tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang, dan bangkit.— ✵ —Kamar mandi itu bersih dan dingin dengan cara yang menyenangkan.Ia berdiri di bawah air hangat lebih lama dari yang diperlukan — bukan karena ada yang perlu dipikirkan, tapi kadang hangat itu sendiri sudah c

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 42

    Lift itu berhenti di lantai yang benar.Cane melangkah keluar lebih dulu — Dante dua langkah di belakangnya, seperti biasa, seperti selalu. Koridor hotel itu sepi di jam seperti ini, lampu-lampu dinding menyala redup, karpet tebal yang meredam suara langkah sampai tidak ada.Di depan pintu suite, dua orang berdiri di posisi mereka — tegak, tidak bergerak, mata lurus ke depan. Mereka mengangguk saat Cane mendekat.Cane berhenti."Di mana dia?""Di dalam, Tuan.""Sudah makan malam?""Sudah dari tadi, Tuan."Cane tidak menjawab lagi. Mengambil kartu kunci dari saku dalamnya, membuka pintu, masuk.— ✵ —Suite itu tenang.Lampu ruang tengah masih menyala — redup, bukan terang penuh, seperti seseorang menyalakannya untuk berjaga-jaga lalu lupa mematikannya sebelum tidur. Di meja kecil dekat sofa ada gelas kosong dan bungkus sesuatu yang sudah dilipat rapi ke tepinya.Tidak ada suara dari mana pun.Cane melepas jasnya. Meletakkannya di sandaran kursi. Matanya bergerak ke arah pintu kamar Isa

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 41

    "Tujuh puluh."Marco tertawa — pendek, genuine, seperti orang yang mendengar sesuatu yang menggelikan. "Cane. Kita bicara empat blok lepas pantai. Aku yang urus semuanya dari awal — perizinan, orang-orangnya, pemilik lamanya." Ia berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati. "Semua proses itu ada harganya. Kau paham itu.""Aku paham." Cane mengangguk pelan. "Dan jaringan distribusinya milikku. Tanker-tankernya milikku. Dermaga transit-nya milikku." Ia memiringkan kepala sedikit. "Kau bisa jual minyak itu ke siapa tanpa semua itu, Marco?"Senyum Marco tidak hilang — tapi berubah. Sedikit. Seperti sesuatu di baliknya sedang menyesuaikan diri."Baiklah. Enam puluh empat puluh." Ia mencoba lagi. "Itu batas yang masuk akal.""Tujuh puluh.""Cane—""Tujuh puluh."Hening.Marco menatapnya — lama, dengan cara orang yang sedang menimbang. Dua pria di sampingnya tidak bergerak, tidak bersuara, tidak memberikan apapun untuk dibaca.Lalu Marco tersenyum lagi — kali ini berbeda. Lebih tipis. L

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 40

    Pesan itu masuk diam-diam di antara percakapan yang sedang berlangsung.Cane membacanya sekali.Tidak dua kali.Ponsel itu ia letakkan kembali di atas lutut dengan gerakan yang terlalu tenang — tangan kanan rileks, jari-jari tidak menekan apa-apa, seperti pesan itu tidak lebih penting dari laporan cuaca.Di luar jendela, Madrid bergerak seperti kota yang tidak tahu ia sedang dilewati."Dante.""Ya, Tuan.""Apa yang dilakukan Bianca?""Hanya mengajak makan, Tuan." Dante menjawab dari kursi depan — nada datar, nada seseorang yang sudah lama belajar bahwa tugasnya adalah melaporkan, bukan mengomentari. "Mereka mengobrol sebentar. Nona Bianca pergi lebih dulu."Hening.Cane tidak menjawab langsung. Matanya masih di luar — menyapu gedung-gedung yang berganti, lampu-lampu yang mulai menyala di beberapa sudut kota seiring sore yang perlahan turun.Lalu ia mengambil ponselnya.Mengetik satu baris.Mengirim.Menyimpannya lagi.Mobil bergerak.— ✵ —Perjalanan memakan waktu tiga jam lebih.Kelu

  • THE DEVIL'S LITTLE SECRETARY - A Mafia Romance    BAB 39

    Toko itu ramai dengan cara yang menyenangkan.Isabela berjalan di antara rak-rak dengan langkah yang tidak terburu-buru, satu tangan menenteng kantong belanjaan, satu tangan memegang ponsel di telinga."Elena, kau tidak akan percaya.""Apa? Cepat bilang.""Kau tahu, dia sepertinya sedang kerasukan." Isabela berhenti di depan etalase, menatap sesuatu sebentar sebelum melanjutkan. "Dia memberiku kartu hitam. Bilangnya hitung saja sebagai uang saku."Hening dua detik."Isabela.""Apa.""Kau di Madrid sekarang. Dengan kartu hitam. Dan kau meneleponku sambil jalan-jalan santai seperti ini?""Iya, memangnya kenapa?" Isabela mengangkat satu blus, memandangnya sebentar, lalu mengembalikannya. "Oh iya, aku sudah belikan oleh-oleh untukmu. Tadi aku lihat tas yang sangat cantik — tapi aku tidak jadi beli karena aku tidak tahu seleramu.""Bela! Beli saja apapun yang kau suka — seleramu dan seleraku sama, kau sudah kenal aku berapa tahun?""Benar juga." Isabela tertawa kecil. "Nanti aku lihat lagi

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status