MasukDi lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.
Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar, punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainnya, tangan kiri menopang layar pad tipis berbingkai logam gelap. Cahaya layar memantul samar di wajahnya, menyoroti garis rahangnya yang tegas dan tatapan matanya yang tajam namun nyaris tak bernyawa.
Di layar, deretan artikel berita bergulir satu per satu. Judul demi judul. Skandal. Penyelidikan. Korupsi. Satu headline berhenti tepat di tengah layar:
"Kandidat Unggulan Dimitri Ribeiro Terseret Kasus Penggelapan Dana Saat Menjabat Sebagai Ketua Komisi Anggaran di Câmara dos Deputados."
Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Cane. Tidak ada alis yang terangkat, tidak ada sudut bibir yang bergerak, tidak ada kilatan keterkejutan. Berita yang cukup untuk mengguncang peta politik seluruh negara itu tampak tidak lebih mengejutkan dari laporan cuaca baginya.
Ia menggeser layar dengan ibu jari. Artikel berikutnya terbuka, analisis politik, spekulasi media, opini publik yang mulai berbalik arah. Nama Dimitri terus muncul, kini selalu bersanding dengan kata skandal dan penyelidikan federal.
Sunyi.
Lalu Cane mengembuskan asap cerutu tipis dari sela bibirnya. Baru setelah itu sudut mulutnya bergerak sedikit, bukan senyum. Hanya bayangannya. Bayangan yang jauh lebih berbahaya.
"Pastikan media tidak menurunkan berita ini sampai dua bulan ke depan," gumamnya pelan kepada Dante Silva, tangan kanannya, yang berdiri tegak di sudut ruangan.
Nada suaranya rendah dan datar, tanpa infleksi emosi sedikit pun. Namun justru itulah yang membuat kalimatnya terdengar seperti vonis yang sudah tidak bisa naik banding.
"Baik, Tuan."
Cane menyentuh layar sekali lagi. Grafik elektabilitas Dimitri yang anjlok tajam dalam waktu kurang dari dua belas jam terbuka di hadapannya. Matanya menyipit nyaris tak terlihat, bukan karena terkejut, melainkan karena puas dengan presisi yang telah ia rancang.
Abu cerutu di tangannya panjang, masih utuh, belum jatuh. Sebuah detail kecil yang mengatakan banyak tentang betapa stabilnya pria ini, bahkan saat sedang membaca berita yang baru saja meruntuhkan karier seseorang.
Dengan gerakan santai, ia melempar tabletnya ke atas meja dan menghancurkan cerutu yang masih menyala di asbak. Tanpa melirik ke arah Dante, ia bertanya,
"Apa sudah disiapkan?"
"Sudah, Tuan Cane. Hanya menunggu kedatangan Anda."
Cane menghabiskan sisa winenya dalam satu tegukan. Menyambar jasnya dari sandaran sofa, kasar, bukan karena terburu-buru, tapi karena ia tidak pernah merasa perlu berhati-hati dengan sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Lalu ia melangkah lebar keluar ruangan, membawa serta aura yang mendominasi setiap sudut yang ia lewati, sementara Dante mengekor diam di belakangnya, patuh, tidak bersuara, mengikuti ritme langkah tuannya tanpa perlu diperintah.
— ✵ —
Lantai beton ruang bawah tanah itu lembap, memantulkan pijar lampu neon yang berkedip sekarat di langit-langit rendah. Udaranya berat, campuran bau besi berkarat dan pengap tempat yang telah lama dilupakan matahari.
Pria-pria bertubuh tegap bersiaga di titik-titik strategis. Dua orang mematung di depan pintu baja tebal, sisanya melebur dalam bayang-bayang sudut ruangan. Di bawah temaram lampu, tato kepala serigala terhunus pedang tampak permanen di leher dan punggung tangan mereka, segel bisu bahwa mereka adalah properti yang tunduk sepenuhnya di bawah kaki Santino Cane Barrone.
Di tengah ruangan, tepat di bawah sorot lampu yang paling terang, seorang pria bersimpuh. Tubuhnya ringkih, terus menggigil di atas beton dingin. Aristhos, ilmuwan yang kini tidak lebih dari onggokan daging berminyak dengan baju penjara yang apak. Dua pria di sampingnya mencengkeram bahunya begitu kuat, memastikan ia tetap berlutut meski persendiannya sudah gemetar hebat.
Cane berdiri tepat di hadapannya.
Dengan tinggi 193 sentimeter, bayangan tubuhnya menelan habis sosok Aristhos yang menyedihkan di bawahnya. Aristhos harus mendongak hingga lehernya terasa kaku, hanya untuk mendapati dirinya menatap ujung dagu pria yang seolah dipahat dari batu karang. Kemeja hitam Cane yang digulung hingga siku memperlihatkan guratan urat tangannya yang tenang saat ia menyesap cerutu. Ia tidak segera berbicara. Ia hanya berdiri, menikmati pemandangan di bawah kakinya dengan tatapan kosong yang sangat angkuh, seolah bukan sedang melihat manusia, melainkan sekadar kotoran yang tidak sengaja terinjak oleh sepatunya.
Cane mendengus pendek. Tawa kering yang tidak mencapai matanya.
"Namamu sudah dihapus dari catatan federal, Aristhos. Bagi dunia, kau sudah mati membusuk di dalam sel."
Ia melangkah maju. Ujung sepatu pantofelnya yang mengilat nyaris menyentuh dahi pria tua itu. Cane sedikit menunduk, membiarkan bayangannya menelan sosok Aristhos sepenuhnya.
"Aristhos…"
Cane mengecap nama itu dengan nada yang mengandung sinis dan kebosanan sekaligus.
"Ilmuwan jenius yang diagung-agungkan, kini berakhir sebagai tikus penjara. Lihat dirimu… kau bahkan tidak lebih berharga dari debu yang menempel di sepatuku."
Aristhos perlahan mengangkat kepala. Matanya yang cekung berair karena takut, bukan karena sedih. Ia menatap sepatu Cane, lalu beralih ke wajah yang sedingin es itu.
"U-untuk apa… kau membawaku ke sini?" Suaranya pecah. Giginya gemeletuk. "A-aku tidak punya apa-apa lagi… mereka sudah membakar semuanya…"
Cane mengembuskan asap cerutunya tepat ke wajah Aristhos. Pria tua itu tersedak, terbatuk-batuk dalam kepulan yang menyesakkan.
"Berhenti bersandiwara, Aristhos. Itu membosankan."
Bisiknya, suaranya sedatar garis kematian.
"Laboratoriummu memang sudah jadi abu, tapi kita berdua tahu… rumus Oblivion itu masih tersimpan rapi di balik tempurung kepalamu yang menjijikkan ini."
Cane mengarahkan ujung cerutunya yang masih menyala, berhenti hanya beberapa senti di depan dahi Aristhos. Bara panas itu tidak menyentuh kulit, tapi intimidasi yang terpancar membuat Aristhos mematung sepenuhnya. Manik matanya membesar perlahan, memerah seiring aliran adrenalin yang memuncak. Seluruh tubuhnya gemetar hebat di bawah ancaman yang tidak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Bahunya merosot lemas.
"K-kau… kau menginginkan cairan itu?" bisiknya patah-patah. "T-tapi itu berbahaya… jika salah dosis, sarafnya akan…"
"Aku tidak butuh ceramah kesehatan."
Cane mencengkeram rahang Aristhos dengan satu tangan, memaksa pria itu menatap langsung ke dalam kegelapan matanya. Jarak itu begitu dekat sehingga Aristhos bisa mencium aroma cerutu dan sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih dingin dan lebih berbahaya, yang tidak punya nama.
"Aku tidak mengeluarkanmu dari neraka itu secara gratis. Aku tidak pernah melakukan amal, apalagi pada sampah sepertimu."
Cane menyentakkan tangannya. Rahang Aristhos terlempar kasar ke samping, hampir membuat pria tua itu terjungkal.
"Kau berutang nyawa padaku, Aristhos. Dan aku tidak butuh ucapan terima kasih."
Ia menatap Aristhos dari ketinggiannya, seperti seseorang yang sedang menimbang apakah sebuah aset rusak masih layak dipertahankan atau tidak.
"Kau akan memproduksi Oblivion untukku. Aku ingin narkoba baru itu membanjiri pasar dalam waktu dekat."
Nada suaranya rendah, membawa bobot ancaman yang tidak memerlukan teriakan untuk terasa absolut.
"Setiap tetes yang kau buat adalah harga untuk kepalamu. Jika kau gagal, aku sendiri yang akan memastikan sisa hidupmu terasa jauh lebih lama dan menyakitkan daripada kematian itu sendiri."
Aristhos memejamkan mata rapat-rapat. Membiarkan harga dirinya luruh ke lantai beton, bersama seluruh sisa martabat yang ia miliki.
"B-baik… aku akan melakukannya… tolong, jangan bunuh aku."
Cane mendengus. Ia berbalik, memunggungi pria itu seolah Aristhos sudah tidak lagi menarik untuk dipandang.
"Mulai detik ini, kau adalah properti-ku. Kau bernapas hanya jika aku mengizinkannya."
Ia memberikan isyarat dagu kepada Dante. Dengan tenang, Cane menerima kain linen mahal dari asistennya, mengelap tangannya dengan gerakan yang sangat perlahan, seperti baru saja menyentuh sesuatu yang kotor, lalu membuang kain itu sembarangan ke lantai.
Dante mengangguk. Matanya sedingin baja saat menatap dua anak buah di sana.
"Bawa dia. Bersihkan sampai tidak ada lagi bau penjara yang tersisa. Aku tidak ingin satu partikel pun dari makhluk ini mencemari laboratorium Tuan Cane."
Aristhos diseret berdiri dengan paksa. Kakinya yang lemas terseret di atas beton saat mereka membawanya pergi.
Cane melangkah keluar tanpa menoleh. Aroma cerutunya menggantung di udara, sisa-sisa dari sebuah otoritas yang tidak perlu bersuara keras untuk dirasakan oleh semua orang di ruangan itu.
Mobil berhenti tepat di depan kantor polisi. Begitu petugas jaga di depan gerbang melihat pelat mobil yang terparkir, sikapnya berubah seketika, ia buru-buru berdiri tegak dan membungkuk hormat. Beberapa petugas lain yang kebetulan berada di halaman ikut menunduk, saling berbisik begitu menyadari siapa pemilik kendaraan itu.Enzo keluar dari mobil dengan tenang, seolah tak menyadari atau tak peduli dengan keributan kecil yang timbul karena kehadirannya. Ia berjalan ke sisi lain, membuka pintu, lalu tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Elena dan menaruhnya di atas bahunya begitu saja."Turunkan aku! Bajingan, turunkan!" Elena meronta, tangannya memukul-mukul punggung Enzo, kakinya menendang ke udara. "Tolong! Ada yang bisa tolong aku, tidak? Pria ini menculikku!"Beberapa petugas yang berdiri di dekat pintu masuk hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing, seolah pemandangan seorang wanita diangkut di atas bahu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi serius, apal
Suasana di dalam kabin mobil terasa pengap, diisi oleh napas memburu dan ketegangan yang kian menumpuk. Elena sama sekali tidak tinggal diam. Tangan kanannya memang terikat erat oleh necktie ke pergelangan Enzo, tetapi tangan kirinya masih bebas bergerak leluasa.Tanpa suara, ia menyelipkan tangan itu ke dalam tas, meraba layar ponsel secara buta sementara matanya tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan darurat untuk Isabela, mengirimkan kabar bahwa dirinya tengah dibawa pergi menuju kantor polisi.Namun, Enzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya mulai curiga saat melihat Elena mendadak terlalu tenang. Pria itu melirik sekilas ke samping dan mendapati pantulan cahaya kecil dari layar ponsel yang tersembunyi di balik tas.Tanpa aba-aba, tangan bebas Enzo terulur cepat dan merampas ponsel itu dari genggaman Elena. Tapi terlambat, layar ponsel menunjukkan status pesan telah terkirim."Kembalikan!" Elena berusaha m
Isabela sudah menghabiskan setengah pagi menunggu, dan begitu jam menunjukkan waktu yang cukup sopan untuk keluar rumah, Elena sudah lebih dulu berdiri di depan gerbang dengan kacamata hitam besar dan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan."Ayo, aku sudah bosan di rumah," ujar Elena, menarik lengan Isabela sebelum ia sempat protes. "Lagipula kau butuh jalan-jalan, anggap saja olahraga setelah drama makanan mahal dari bos seksimu itu.""Itu bukan drama," Isabela membela diri, meski pipinya sedikit memerah mengingat kotak makanan seharga delapan ratus real itu masih tersimpan rapi di atas lemari es rumahnya, seolah kotak kosong itu sendiri adalah bukti sesuatu yang tidak ingin ia akui."Terserah kau menyebutnya apa." Elena sudah membuka pintu mobil, melambai agar Isabela cepat masuk. "Yang jelas kita ke mall sekarang. Aku butuh cuci mata, dan kau butuh berhenti memikirkan dua laki-laki sekaligus.""Memikirkan dua laki-laki? Omong kosong. Dengarkan aku, aku hanya akan mencintai Theo
Konvoi keluar dari jalan tol dua puluh menit sebelum tengah hari, berbelok ke simpang tanpa nama yang hanya dikenali oleh mereka yang memang perlu mengenalinya. Jalan tanah, lalu pagar baja setinggi tiga meter berdiri di antara pepohonan, kawat listrik berkilau tipis di bagian atasnya. Pos jaga bergerak sekali, mengonfirmasi, dan pagar itu membuka tanpa suara.'Kawasan Fantasma.'Di dalam gerbang, sebuah truk kontainer besar baru saja berhenti di dekat gudang utama, mesinnya masih berdengung rendah. Beberapa pria berseragam tanpa identitas bergerak cepat di sekelilingnya, satu memberi aba-aba dengan tangan, yang lain menyambungkan derek portabel ke bagian atas kontainer. Rantai berdenting. Logam bergesekan dengan logam.Mobil Cane melambat, sejajar sesaat dengan truk itu sebelum berbelok ke jalur yang berbeda.Cane menatap ke luar jendela, tidak lama, hanya cukup untuk melihat tulisan samar di sisi kontainer yang sengaja dibuat tidak terbaca dari jarak jauh. Salah satu penjaga menoleh
"Biar kubantu." Cane ikut masuk, tubuhnya menutup pintu hingga orang-orang di luar tak bisa lagi melihat apa yang terjadi di dalam.Cane melihat Isabela yang masih sibuk mencari-cari di dalam mobil, alisnya bertaut bingung tak menemukan apa pun. Ia hanya menatapnya sejenak dalam diam, seolah menikmati betapa tidak sadarnya gadis itu akan apa yang akan terjadi berikutnya.Tanpa aba-aba, satu tangannya sudah menangkup tengkuk Isabela, jemarinya menyusup ke helai rambutnya dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat gadis itu tak bisa menoleh ke mana pun selain padanya. Bibir mereka bertemu sebelum Isabela sempat mengeluarkan satu kata pun.Ciuman itu tidak lembut. Ada sesuatu yang lapar di dalamnya, seolah Cane sudah menahan diri terlalu lama dan kini tak berniat lagi bersikap sabar. Isabela mencoba mundur secara refleks, punggungnya menabrak sandaran kursi, tapi tangan Cane yang lain sudah melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat alih-alih memberinya ruang untuk lari.Napas
Elena baru saja menyalakan mobil ketika Isabela tiba-tiba mencengkeram lengannya, wajahnya berubah tegang seketika."Elena, kita harus cepat, gawat, ini gawat," ujar Isabela, suaranya nyaris panik tanpa sempat memberi penjelasan lebih lanjut."Aduh, ada apa denganmu, santai saja. Kau membuatku kaget." Elena menginjak gas sebelum sabuk pengaman Isabela sepenuhnya terkunci.Mobil melesat keluar dari area parkir dengan decitan ban yang membuat dua orang di trotoar menoleh kaget. Isabela mencengkeram pegangan pintu erat-erat, buku-buku jarinya memutih."Elena, pelan-pelan.""Kalau pelan-pelan, nenekmu bakal bertemu Presiden Cane sebelum kita sampai di sana." Elena membelokkan setir tajam ke kanan, menyalip sebuah angkutan umum lokal yang berhenti mendadak di lampu merah. "Tenang saja, aku sudah biasa."Isabela tidak yakin itu kalimat yang menenangkan.Di persimpangan berikutnya, sebuah motor memotong jalur mereka tanpa aba-aba. Elena membanting setir, ban berdecit keras, spion kiri nyaris
Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"
Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar
Satu Tahun Kemudian — São PauloLangit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio—yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru dise
Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti







