LOGINSatu Tahun Kemudian, São Paulo
Langit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio, yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru diseduh, dan denyut kehidupan yang sedang memuncak dalam hiruk-pikuknya.
Di sudut kafe sederhana dekat trotoar, Isabela menurunkan ponsel dari telinganya.
"Iyah, Ibu… tenang saja. Aku tidak akan gegabah lagi. Sungguh."
"Ada apa?" tanya Lena dari balik cangkir kopi.
Isabela menghela napas panjang.
"Ibuku. Dia mengingatkan agar aku tidak menyentuh alkohol selama di sini."
Tawa Lena pecah ringan, hampir membuat ia tersedak kopinya.
"Tentu saja. Kalau kau sudah menyentuh alkohol, seluruh jati dirimu seolah terbang ke planet lain. Selalu ada saja kelakuan ajaib, tiba-tiba masuk ke mobil orang asing yang sedang parkir, tidur meringkuk di trotoar sambil memeluk tiang listrik, bahkan mencoba memesan kopi pada mesin ATM karena kau pikir itu barista yang kurang ramah."
Lena menjeda, matanya berkilat geli.
"Dan kau ingat kejadian di Rio malam itu? Ayahmu mencarimu setengah mati, hampir menelepon polisi. Tapi setelah berjam-jam menyisir jalanan, kau tiba-tiba ditemukan meringkuk seperti orang bodoh tepat di depan toko ayahmu sendiri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya kau bisa sampai ke sana tanpa ada yang melihat."
Isabela mengerucutkan bibirnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jemarinya memainkan bibir gelas.
"Entahlah. Aku sendiri tidak paham mengapa tubuhku bisa selemah itu."
Lena mencondongkan tubuh, suaranya turun setingkat.
"Tapi apa kau benar-benar tidak mengingat apa pun malam itu, setelah kau turun dari taksi? Aku dan Ivy panik setengah mati. Kami langsung lari ke toko ayahmu untuk melapor, dan ayahmu menutup toko malam itu juga hanya untuk ikut menyisir jalanan. Kau seperti hantu yang tiba-tiba muncul saat kami semua sudah hampir menyerah."
Isabela menggeleng pelan. Ingatan itu tetap kosong, seperti halaman buku yang sengaja dirobek, dan tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.
"Aku tidak ingat apa pun, sungguh. Yang kuingat hanya bangun keesokan pagi, dan ibuku marah. Dia bertanya mengapa baju dan tanganku ada bercak darah, sampai mengira aku habis memukul seseorang."
Isabela berhenti sejenak, matanya menatap isi gelasnya.
"Tapi anehnya, tidak ada seorang pun yang datang menuntut setelah itu."
Lena mengangguk pelan.
"Aneh… tapi wajar kalau ibumu khawatir. Sekarang kau jauh dari mereka, tinggal dengan nenekmu. Kalau kau mabuk lagi, nenekmu yang repot."
"Iyah," sahut Isabela singkat. Ia cepat-cepat mengalihkan topik.
"Tapi omong-omong, rasanya baru kemarin kita kuliah, dan sekarang sudah sibuk cari kerja. Waktu cepat sekali berlalu."
Lena tersenyum hangat.
"Dulu aku yang kuliah di Rio dan tinggal di rumah nenek, sementara kau santai di rumah orang tuamu. Sekarang berbalik, aku pulang, kau yang pindah ke sini."
Isabela terkekeh pelan.
"Benar juga. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak tega membiarkan nenekku sendirian. Lagipula orang tuaku tidak akan mengizinkan aku tinggal sendiri."
"Lalu soal pekerjaan, apa kau sudah dapat panggilan?"
Wajah Isabela sedikit berbinar.
"Aku dipanggil wawancara lusa."
"Bagus."
Lena menepuk bahu Isabela ringan.
"Malam ini kau harus ikut makan malam di rumahku. Sekalian berjumpa Ayah dan Ibuku."
"Iyah, sudah lama tidak bertemu ibumu. Aku merindukannya."
"Kalau begitu, ayo," ujar Lena sambil berdiri dan meraih tasnya. "Sebelum malam tiba, aku ingin mengajakmu berkeliling São Paulo."
Mereka menyusuri jalan raya yang ramai, São Paulo yang tidak pernah benar-benar berhenti. Mobil mereka terhenti di pinggir jalan, tertarik oleh aroma gurih dari sebuah gerobak makanan yang mengepul asap harum ke udara sore.
"Coba ini," kata Lena, menyodorkan tusuk daging.
Isabela menggigitnya. Matanya membulat.
"Kenapa enak sekali?"
"Karena ini São Paulo, bukan diet center."
Isabela memutar bola matanya malas.
"Kau tahu," lanjut Lena, mengunyah pelan sebelum melanjutkan, "Rio itu seperti lukisan. Indah, santai, memikat. Tapi São Paulo…"
"Seperti apa?"
"Seperti mesin raksasa. Dia bergerak terus. Kalau kau lengah, dia bisa menelanmu."
Isabela tersenyum samar, melirik Lena di sampingnya.
"Aku jadi penasaran, bagaimana kota ini akan menelanku."
Mereka melanjutkan langkah. Di tikungan berikutnya, seorang musisi jalanan memetik gitar, menyanyikan lagu lembut berbahasa Portugis. Suaranya mengalir pelan di antara lampu lalu lintas yang berganti warna, dan orang-orang di sekitar sana berjoget bahagia tanpa alasan yang perlu dijelaskan. Isabela buru-buru mengeluarkan ponsel, mengabadikan momen itu sebelum ia sempat memikirkannya.
"Ingin ikut berjoget?" tanya Lena.
"Bagaimana menurutmu?"
Lena hanya mengangkat alis. Dan tidak butuh waktu lama, mereka berdua sudah larut di antara kerumunan yang menari, tertawa lebar menikmati musik yang mengalir dari jari-jari sang musisi.
Isabela tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sebuah Rolls-Royce Phantom VIII hitam sedang diam di persimpangan, mesinnya menyala, jendelanya terbuka sedikit.
Di dalam mobil itu, seorang pria berbadan tegap duduk dengan sempurna tenang. Asap cerutu mengalir keluar dari celah jendela yang sempit, tipis dan pelan, seperti napas makhluk yang tidak perlu terburu-buru. Wajahnya tegas, profil rahangnya tajam, jenis wajah yang tidak memerlukan ekspresi untuk mengintimidasi.
Saat lampu merah menyala, fokusnya terkunci hanya pada satu titik di keramaian itu: seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang bergerak mengikuti musik, pipinya merona karena tawa yang tidak ia tahan-tahan. Tatapan itu tidak berkedip. Dalam, lapar, dan memiliki bobot yang tidak dimiliki oleh tatapan orang biasa.
Di sudut bibirnya, sesuatu bergerak. Bukan senyum. Hanya bayangannya.
Lampu berganti hijau. Mobil itu meluncur pergi.
— ✵ —
Malam Hari, Kediaman Keluarga Lena
Meja makan keluarga Lena hangat dalam segala artinya, uap mengepul dari hidangan rumahan, denting sendok dan garpu berpadu dengan obrolan ringan. Tuan Luiz memecah suasana dengan nada santai namun penuh perhatian.
"Apa kau sedang berlibur di São Paulo, Bela?"
Isabela meletakkan alat makannya sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Ah, tidak, Tio Luiz. Aku datang karena ada panggilan kerja. Lusa ada jadwal wawancara."
"Perusahaan apa?"
"Di BRN Corp, Tio."
Gerakan tangan Tuan Luiz terhenti.
"BRN Corp? Maksudmu, Barrone Corporation?"
"Iyah, Tio."
Tuan Luiz mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya berubah, lebih serius, namun tetap penuh kekaguman yang tidak tersembunyi.
"Itu perusahaan nomor satu di Brazil saat ini. Mereka memegang hampir semua sektor, minyak, ritel, properti, dan banyak lagi. Seleksi mereka sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa menembus dinding mereka."
"Benar," sela Ibu Lena. "Sepuluh tahun terakhir pertumbuhannya luar biasa pesat. Mereka benar-benar menguasai jantung ekonomi Brasil sekarang."
Ibu Lena menambahkan dengan nada lebih rendah, seperti sedang membicarakan sesuatu yang tidak semua orang boleh dengar.
"Apalagi sejak putranya mengambil kendali penuh. Perusahaan itu maju dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal."
Lena, yang sejak tadi tampak sibuk dengan makanannya, tiba-tiba angkat suara.
"Tapi aku pernah dengar bisik-bisik bahwa mereka menghasilkan uang dari bisnis yang tidak sepenuhnya bersih, lalu mencucinya lewat properti dan aset fisik yang legal. Kasino besar, klub malam di seluruh Brasil hingga Spanyol, kabarnya semuanya milik mereka."
"Lena," suara Tuan Luiz turun, tajam dan singkat. "Jaga bicaramu. Kata-kata seperti itu bisa membawa kita ke tempat yang tidak ingin kita datangi."
Lena meringis, tapi rasa penasarannya tidak luntur.
"Aku kan hanya mendengar gosip, Ayah. Tapi aku jadi penasaran soal putranya itu. Masih mudakah dia? Pasti punya pesona yang luar biasa. Wah, aku benar-benar penasaran!"
Tuan Luiz dan istrinya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putri mereka.
"Pikiranmu hanya penuh pria tampan," ujar Tuan Luiz, terkekeh pelan sambil meletakkan alat makannya. "Tapi jangan berharap terlalu tinggi, Lena. Sampai detik ini, sosoknya sangat tertutup dari publik. Namanya beredar di mana-mana, tapi tidak ada yang tahu pasti seperti apa rupa seorang Santino Cane Barrone."
Ia mengangguk kecil, seolah mengakui sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.
"Namanya saja sudah terdengar berwibawa, Ayah," sahut Lena, menyengir lebar.
"Sudahlah, habiskan makanmu," potong Ibu Lena.
Di sudut meja, Isabela hanya diam menyimak. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan teori konspirasi atau seberapa eksklusifnya sang pemilik perusahaan. Baginya, pekerjaan ini adalah kesempatan besar, satu-satunya yang datang sejauh ini. Ia kembali menyuap makanannya dalam diam, sementara percakapan di meja beralih ke topik-topik yang lebih ringan dan aman.
Halo, guys.Akhirnya sampai juga di bab terakhir, dan jujur aku masih agak nggak percaya. Novel ini resmi tamat.Soal bab bonus, aku putuskan nggak aku tulis ya. Komentar di bab bonus sebelumnya sedikit banget, kayaknya cuma satu orang doang yang mau wkwk, jadi aku tutup ceritanya di sini aja. Maaf kalau ada yang masih penasaran.Sekarang aku mau jujur sedikit. Karakter yang paling nggak aku suka di novel ini sebenarnya Isabela. Nggak tahu kenapa, ya nggak suka aja. Terus kenapa aku tulis? Aku nulis novel dari 2022, dan beberapa novelku sebelumnya nggak pernah tamat. Ini pertama kalinya aku bisa namatin satu novel, guys, wkwk. Dan yang lucu, hampir semua novelku karakternya sama kayak Bela. Tiap bikin novel baru, yang muncul lagi-lagi karakter kayak dia. Mungkin karena aku belum bisa menyelesaikan karakter ini, makanya dia terus terngiang-ngiang sampai aku kesal sendiri. Sekarang akhirnya dia selesai, dan rasanya lega banget.Sebenarnya di tengah jalan aku sempat mau nyerah, guys. Tapi
Entah berapa lama waktu berlalu ketika Cane akhirnya menarik diri.Napas Isabela masih memburu, pipinya merah, rambutnya berantakan. Cane menurunkannya perlahan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu mengambil kemeja yang tergeletak di lantai dan mengenakannya tanpa mengancingkan sebagian besar. Ponselnya bergetar lagi di nakas. Ia hanya membaca layarnya sekali.“Cane?” Isabela menarik selimut sampai ke dada, suaranya serak. “Kau mau ke mana?”“Ada yang harus kuselesaikan.”Isabela menoleh ke arah kaca. Siluet putih itu masih berdiri di sana, kecil dan basah di tengah halaman yang gelap.“Dia belum pergi,” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Cane, dia masih di bawah. Dia kehujanan. Aku ikut.”Ia sudah menyingkap selimut ketika tangan besar menahan bahunya.“Tidak.”“Tapi...”“Isabela.” Suara Cane tidak keras, tetapi tidak ada ruang untuk membantah. Ia menunduk dan mencium keningnya, singkat dan dalam. “Tetap di sini.”Ia berdiri, mengambil cerutu dari kotak kayu di meja samping tempat tidur, l
Pukul tujuh lewat dua puluh menit malam, Bianca berdiri di depan cermin panjang di kamarnya dengan gaun putih gading yang sudah menempel sempurna di tubuhnya.Bordir mutiara di dadanya memantulkan cahaya lampu kristal. Ekor gaun panjang itu terhampar di lantai marmer seperti sungai susu. Rambutnya digelung rapi, kerudung tipis tersemat di puncaknya, dan bibirnya dipoles merah gelap yang sengaja ia pilih. Ia sedang berkabung, tetapi malam ini semua orang akan melihat bahwa Bianca Barnard tidak pernah kalah.Ia menatap pantulan dirinya lama sekali. Bertahun-tahun ia menunggu malam ini. Bertahun-tahun ia menelan penghinaan, menahan lidah, dan tersenyum pada orang-orang yang tidak layak menerimanya, semua demi satu pemandangan: Cane berdiri di ujung lorong, dan seluruh negeri menyaksikan.Dua hari lalu, Dante meneleponnya dengan suara datar seperti biasa. Presiden meminta pernikahan digelar malam ini, tertutup, dan disiarkan ke seluruh negeri tepat pukul sembilan, persis seperti yang ia mi
Lonceng Katedral Sé berdentang sepuluh kali, rendah dan panjang, dan gemanya menyebar sampai ke ujung Praça da Sé yang pagi itu tidak boleh dilewati siapa pun.Pagar besi sudah dipasang sejak subuh. Mobil-mobil hitam berjajar di kaki tangga batu, dan pria-pria bersetelan gelap berdiri di setiap pintu dengan kedua tangan terlipat di depan. Di sisi kiri tangga, kru Grupo Rocha Mídia memasang kamera di atas tripod. Mereka hanya menerima satu instruksi. Rekam semuanya, tayangkan nanti.Di ruang samping di balik altar, Isabela berdiri menghadap cermin tua berbingkai kayu. Gaun putihnya sederhana, hanya renda tipis di sepanjang lengan, dan kerudungnya jatuh lembut sampai ke punggung. Setiap kali ia menarik napas, kain itu bergerak pelan seperti riak di permukaan air.Di belakangnya, ibunya merapikan ujung kerudung dengan jari yang tidak mau berhenti gemetar. Neneknya duduk di kursi kayu dengan saputangan di genggaman, dan Elena bersandar di dinding dengan senyum yang ia tahan sejak tadi.“Ib
Cane menunduk, dan bibirnya tidak langsung menyentuh. Ia berhenti selebar satu helaan napas dari bibir Isabela, cukup dekat untuk berbagi hangat yang sama, cukup jauh untuk memberinya waktu. Waktu yang tidak Isabela pakai. Ia hanya berdiri di sana dengan mata setengah terpejam dan kepalan yang masih menggenggam kemeja itu.Ciuman pertama datang pelan, hampir ragu, seperti pria yang tidak percaya bahwa ia benar-benar diizinkan. Bibirnya menekan sekali, menarik diri sedikit, lalu kembali dengan kesabaran yang membuat lutut Isabela melemas lebih dulu sebelum ia sempat menolak.Tangan Cane naik ke sisi wajahnya. Ibu jarinya menyapu tulang pipi yang masih basah, menghapus sisa air mata, lalu menyelip ke belakang kepalanya dan menahannya di sana tanpa menekan. Di balik jendela balkon, tirai menggembung lalu mengempis. Di bawah sana ombak pecah di karang dan menarik diri, berulang, sabar.“Isabela.”Hanya namanya. Diucapkan rendah di antara dua napas, dengan nada yang belum pernah ia dengar d
Lisboa pagi hari berbau roti panggang dan air asin.Isabela terbangun pelan, kesadarannya datang sepotong-sepotong. Suara ombak dari bawah jendela. Tirai putih yang menggembung lalu mengempis ditiup angin laut. Cahaya pagi yang sudah cukup tinggi jatuh pucat di lantai kayu, merayap sampai ke kaki ranjang.Ia menggeliat malas, menarik selimut sampai ke dagu, dan hampir terlelap lagi ketika hidungnya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.Asap. Hangat, pekat, sedikit manis, dengan ujung getir yang terlalu ia kenal.Matanya terbuka.Di ambang pintu balkon, seorang pria berdiri membelakanginya. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Bahunya lebar dan tegak, satu tangan terselip di saku celana, sementara tangan lainnya menahan cerutu yang ujungnya menyala merah di antara dua jari. Di hadapannya Lisboa terhampar di bawah cahaya pagi, atap-atap jingga yang bertingkat sampai ke sungai, kubah putih gereja, dan laut kebiruan di kejauhan. Asap cerutu naik pelan, lalu terbawa angin k
Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam
Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny
Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"
Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar







