Share

BAB 2

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-05-28 17:02:12

Satu Tahun Kemudian, São Paulo

Langit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio, yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru diseduh, dan denyut kehidupan yang sedang memuncak dalam hiruk-pikuknya.

Di sudut kafe sederhana dekat trotoar, Isabela menurunkan ponsel dari telinganya.

"Iyah, Ibu… tenang saja. Aku tidak akan gegabah lagi. Sungguh."

"Ada apa?" tanya Lena dari balik cangkir kopi.

Isabela menghela napas panjang.

"Ibuku. Dia mengingatkan agar aku tidak menyentuh alkohol selama di sini."

Tawa Lena pecah ringan, hampir membuat ia tersedak kopinya.

"Tentu saja. Kalau kau sudah menyentuh alkohol, seluruh jati dirimu seolah terbang ke planet lain. Selalu ada saja kelakuan ajaib, tiba-tiba masuk ke mobil orang asing yang sedang parkir, tidur meringkuk di trotoar sambil memeluk tiang listrik, bahkan mencoba memesan kopi pada mesin ATM karena kau pikir itu barista yang kurang ramah."

Lena menjeda, matanya berkilat geli.

"Dan kau ingat kejadian di Rio malam itu? Ayahmu mencarimu setengah mati, hampir menelepon polisi. Tapi setelah berjam-jam menyisir jalanan, kau tiba-tiba ditemukan meringkuk seperti orang bodoh tepat di depan toko ayahmu sendiri. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya kau bisa sampai ke sana tanpa ada yang melihat."

Isabela mengerucutkan bibirnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jemarinya memainkan bibir gelas.

"Entahlah. Aku sendiri tidak paham mengapa tubuhku bisa selemah itu."

Lena mencondongkan tubuh, suaranya turun setingkat.

"Tapi apa kau benar-benar tidak mengingat apa pun malam itu, setelah kau turun dari taksi? Aku dan Ivy panik setengah mati. Kami langsung lari ke toko ayahmu untuk melapor, dan ayahmu menutup toko malam itu juga hanya untuk ikut menyisir jalanan. Kau seperti hantu yang tiba-tiba muncul saat kami semua sudah hampir menyerah."

Isabela menggeleng pelan. Ingatan itu tetap kosong, seperti halaman buku yang sengaja dirobek, dan tidak ada yang mau menjelaskan kenapa.

"Aku tidak ingat apa pun, sungguh. Yang kuingat hanya bangun keesokan pagi, dan ibuku marah. Dia bertanya mengapa baju dan tanganku ada bercak darah, sampai mengira aku habis memukul seseorang."

Isabela berhenti sejenak, matanya menatap isi gelasnya.

"Tapi anehnya, tidak ada seorang pun yang datang menuntut setelah itu."

Lena mengangguk pelan.

"Aneh… tapi wajar kalau ibumu khawatir. Sekarang kau jauh dari mereka, tinggal dengan nenekmu. Kalau kau mabuk lagi, nenekmu yang repot."

"Iyah," sahut Isabela singkat. Ia cepat-cepat mengalihkan topik.

"Tapi omong-omong, rasanya baru kemarin kita kuliah, dan sekarang sudah sibuk cari kerja. Waktu cepat sekali berlalu."

Lena tersenyum hangat.

"Dulu aku yang kuliah di Rio dan tinggal di rumah nenek, sementara kau santai di rumah orang tuamu. Sekarang berbalik, aku pulang, kau yang pindah ke sini."

Isabela terkekeh pelan.

"Benar juga. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak tega membiarkan nenekku sendirian. Lagipula orang tuaku tidak akan mengizinkan aku tinggal sendiri."

"Lalu soal pekerjaan, apa kau sudah dapat panggilan?"

Wajah Isabela sedikit berbinar.

"Aku dipanggil wawancara lusa."

"Bagus."

Lena menepuk bahu Isabela ringan.

"Malam ini kau harus ikut makan malam di rumahku. Sekalian berjumpa Ayah dan Ibuku."

"Iyah, sudah lama tidak bertemu ibumu. Aku merindukannya."

"Kalau begitu, ayo," ujar Lena sambil berdiri dan meraih tasnya. "Sebelum malam tiba, aku ingin mengajakmu berkeliling São Paulo."

Mereka menyusuri jalan raya yang ramai, São Paulo yang tidak pernah benar-benar berhenti. Mobil mereka terhenti di pinggir jalan, tertarik oleh aroma gurih dari sebuah gerobak makanan yang mengepul asap harum ke udara sore.

"Coba ini," kata Lena, menyodorkan tusuk daging.

Isabela menggigitnya. Matanya membulat.

"Kenapa enak sekali?"

"Karena ini São Paulo, bukan diet center."

Isabela memutar bola matanya malas.

"Kau tahu," lanjut Lena, mengunyah pelan sebelum melanjutkan, "Rio itu seperti lukisan. Indah, santai, memikat. Tapi São Paulo…"

"Seperti apa?"

"Seperti mesin raksasa. Dia bergerak terus. Kalau kau lengah, dia bisa menelanmu."

Isabela tersenyum samar, melirik Lena di sampingnya.

"Aku jadi penasaran, bagaimana kota ini akan menelanku."

Mereka melanjutkan langkah. Di tikungan berikutnya, seorang musisi jalanan memetik gitar, menyanyikan lagu lembut berbahasa Portugis. Suaranya mengalir pelan di antara lampu lalu lintas yang berganti warna, dan orang-orang di sekitar sana berjoget bahagia tanpa alasan yang perlu dijelaskan. Isabela buru-buru mengeluarkan ponsel, mengabadikan momen itu sebelum ia sempat memikirkannya.

"Ingin ikut berjoget?" tanya Lena.

"Bagaimana menurutmu?"

Lena hanya mengangkat alis. Dan tidak butuh waktu lama, mereka berdua sudah larut di antara kerumunan yang menari, tertawa lebar menikmati musik yang mengalir dari jari-jari sang musisi.

Isabela tidak menyadari bahwa dari kejauhan, sebuah Rolls-Royce Phantom VIII hitam sedang diam di persimpangan, mesinnya menyala, jendelanya terbuka sedikit.

Di dalam mobil itu, seorang pria berbadan tegap duduk dengan sempurna tenang. Asap cerutu mengalir keluar dari celah jendela yang sempit, tipis dan pelan, seperti napas makhluk yang tidak perlu terburu-buru. Wajahnya tegas, profil rahangnya tajam, jenis wajah yang tidak memerlukan ekspresi untuk mengintimidasi.

Saat lampu merah menyala, fokusnya terkunci hanya pada satu titik di keramaian itu: seorang gadis dengan rambut hitam panjang yang bergerak mengikuti musik, pipinya merona karena tawa yang tidak ia tahan-tahan. Tatapan itu tidak berkedip. Dalam, lapar, dan memiliki bobot yang tidak dimiliki oleh tatapan orang biasa.

Di sudut bibirnya, sesuatu bergerak. Bukan senyum. Hanya bayangannya.

Lampu berganti hijau. Mobil itu meluncur pergi.

— ✵ —

Malam Hari, Kediaman Keluarga Lena

Meja makan keluarga Lena hangat dalam segala artinya, uap mengepul dari hidangan rumahan, denting sendok dan garpu berpadu dengan obrolan ringan. Tuan Luiz memecah suasana dengan nada santai namun penuh perhatian.

"Apa kau sedang berlibur di São Paulo, Bela?"

Isabela meletakkan alat makannya sejenak, lalu menggeleng pelan.

"Ah, tidak, Tio Luiz. Aku datang karena ada panggilan kerja. Lusa ada jadwal wawancara."

"Perusahaan apa?"

"Di BRN Corp, Tio."

Gerakan tangan Tuan Luiz terhenti.

"BRN Corp? Maksudmu, Barrone Corporation?"

"Iyah, Tio."

Tuan Luiz mengembuskan napas panjang. Raut wajahnya berubah, lebih serius, namun tetap penuh kekaguman yang tidak tersembunyi.

"Itu perusahaan nomor satu di Brazil saat ini. Mereka memegang hampir semua sektor, minyak, ritel, properti, dan banyak lagi. Seleksi mereka sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa menembus dinding mereka."

"Benar," sela Ibu Lena. "Sepuluh tahun terakhir pertumbuhannya luar biasa pesat. Mereka benar-benar menguasai jantung ekonomi Brasil sekarang."

Ibu Lena menambahkan dengan nada lebih rendah, seperti sedang membicarakan sesuatu yang tidak semua orang boleh dengar.

"Apalagi sejak putranya mengambil kendali penuh. Perusahaan itu maju dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal."

Lena, yang sejak tadi tampak sibuk dengan makanannya, tiba-tiba angkat suara.

"Tapi aku pernah dengar bisik-bisik bahwa mereka menghasilkan uang dari bisnis yang tidak sepenuhnya bersih, lalu mencucinya lewat properti dan aset fisik yang legal. Kasino besar, klub malam di seluruh Brasil hingga Spanyol, kabarnya semuanya milik mereka."

"Lena," suara Tuan Luiz turun, tajam dan singkat. "Jaga bicaramu. Kata-kata seperti itu bisa membawa kita ke tempat yang tidak ingin kita datangi."

Lena meringis, tapi rasa penasarannya tidak luntur.

"Aku kan hanya mendengar gosip, Ayah. Tapi aku jadi penasaran soal putranya itu. Masih mudakah dia? Pasti punya pesona yang luar biasa. Wah, aku benar-benar penasaran!"

Tuan Luiz dan istrinya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putri mereka.

"Pikiranmu hanya penuh pria tampan," ujar Tuan Luiz, terkekeh pelan sambil meletakkan alat makannya. "Tapi jangan berharap terlalu tinggi, Lena. Sampai detik ini, sosoknya sangat tertutup dari publik. Namanya beredar di mana-mana, tapi tidak ada yang tahu pasti seperti apa rupa seorang Santino Cane Barrone."

Ia mengangguk kecil, seolah mengakui sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan.

"Namanya saja sudah terdengar berwibawa, Ayah," sahut Lena, menyengir lebar.

"Sudahlah, habiskan makanmu," potong Ibu Lena.

Di sudut meja, Isabela hanya diam menyimak. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan teori konspirasi atau seberapa eksklusifnya sang pemilik perusahaan. Baginya, pekerjaan ini adalah kesempatan besar, satu-satunya yang datang sejauh ini. Ia kembali menyuap makanannya dalam diam, sementara percakapan di meja beralih ke topik-topik yang lebih ringan dan aman.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 94

    Rapat hari itu berlangsung lebih lama dari yang Cane perkirakan. Beberapa kepala divisi masih membahas soal alokasi anggaran kuartal ini sebelum akhirnya rapat itu selesai juga. Ketika akhirnya ia keluar dari ruang rapat, jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu makan siang.Ia melangkah menyusuri lorong menuju ruangannya sendiri, dan seperti biasa, langkahnya berbelok dulu ke arah meja Isabela yang letaknya tidak jauh dari ruangannya. Sepanjang jalan, ia sudah menyiapkan satu dua kalimat jahil di kepalanya, sekadar untuk melihat wajah kesal gadis itu.Namun begitu sampai di sana, kursi itu kosong. Tidak ada tas, tidak ada tanda-tanda Isabela di sana.Cane berdiri sebentar di depan meja itu, menatapnya tanpa ekspresi berarti sebelum berbalik.Mungkin ia sedang makan di kantin lantai tiga, pikirnya, atau mungkin sudah keluar duluan. Ia tidak ambil pusing. Ia menuju lift pribadi, turun ke basement, lalu masuk ke mobilnya sendiri menuju restoran yang biasa ia datangi bersama

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 93

    Pagi itu, jalanan sudah mulai ramai. Kendaraan berlalu-lalang di jalan utama, sementara beberapa orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.Isabela sudah bersiap seperti biasa. Ia keluar dari rumah dan berjalan menuju depan gang untuk menunggu taksi sebelum berangkat kerja.Namun begitu sampai di depan gang, langkahnya terhenti. Theo berdiri di sana, bersandar santai di sisi mobilnya.Isabela mendekat, kening sedikit berkerut. "Theo, kau buat apa di sini?"Theo memutar tubuhnya menghadapnya, senyum hangat langsung muncul di wajahnya. "Bela. Aku ingin mengantarmu. Boleh?"Isabela tersenyum. "Tentu saja, tapi tumben sekali.""Ingin saja," jawab Theo ringan, membuka pintu mobil untuknya. "Ayo, masuk."Mobil melaju meninggalkan gang. Beberapa menit pertama hening, hanya suara mesin dan udara pagi yang samar dari celah pendingin udara. Isabela memandang keluar jendela, sesekali Theo meliriknya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi urung."Maaf soal kemarin," akhirnya Theo membuka s

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 92

    Kini, di dalam restoran, mereka bertiga duduk di satu meja. Kedua pria itu saling menatap, seolah jejak permusuhan terlihat jelas di mata mereka, sementara Isabela hanya bisa menatap keduanya dengan bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.Tidak ada yang bicara. Hanya suara ombak samar dari luar jendela dan denting sendok garpu dari meja lain yang mengisi keheningan itu.Isabela membuka menu di tangannya, mencoba mencairkan suasana yang terasa aneh baginya, meski ia tidak tahu persis kenapa. Matanya berpindah dari satu halaman ke halaman lain, kening berkerut pelan. Semuanya terlihat enak. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.Sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, Cane sudah lebih dulu memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. Ia bahkan tidak melirik ke arah Theo yang duduk di seberangnya, seolah kursi itu kosong."Apa makanan unggulan di sini?" tanya Cane, nadanya datar, tanpa basa-basi."Ikan, Tuan," jawab pelayan itu sopan. "Restoran kami memang

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 91

    Tawa Cane belum benar-benar reda ketika mobil berbelok memasuki gang sempit tempat rumah Isabela berada. Lampu jalan di sana lebih redup, berkedip-kedip malas, tapi cukup untuk memperlihatkan wajah Isabela yang masih merah padam."Sudah sampai," ujar Cane, menghentikan mobil tepat di depan gang. Ia melirik Isabela dari sudut mata, masih menyimpan senyum jahil di ujung bibirnya. "Atau kau masih mau membahas soal punyaku tadi? Kau mau mencobanya lagi? Aku siap kapanpun kau mau.""Diam!" Isabela buru-buru membuka sabuk pengaman, wajahnya semakin panas. "Aku turun sekarang juga.""Secepat itu?" Cane pura-pura kecewa, meski tangannya sudah bergerak mematikan mesin. "Padahal aku baru mau menawarkan diri mengantarmu sampai depan pintu.""Tidak perlu," jawab Isabela cepat, tangannya sudah memegang gagang pintu. "Aku bisa jalan sendiri, cuma beberapa meter."Cane bersandar ke jok, mengamatinya dengan tatapan geli. "Kau selalu buru-buru kalau sudah dekat rumah. Kenapa? Takut aku ikut masuk?"Is

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 90

    Langit sore mulai berubah jingga ketika Cane duduk di balik meja kerjanya, membaca sisa siaran berita yang baru saja berakhir di layar tabletnya. Foto Heitor Vasconcelos memenuhi layar, berdiri tegap di atas podium dengan setelan jas gelap dan pita merah putih tersemat di dada, lambang Frente Nacional de Segurança dan deretan bendera berjajar di belakangnya.Jenderal Vasconcelos Resmi Diusung partai Frente Nacional de Segurança (FNDS) sebagai Calon Presiden!Cane menggeser layar ke bawah, membaca sekilas paragraf yang membahas acara pengukuhan yang digelar semalam di sebuah gedung konvensi besar di ibu kota, dihadiri ratusan simpatisan dan disiarkan langsung ke berbagai stasiun televisi nasional. Beberapa foto memperlihatkan deretan pejabat duduk di kursi kehormatan, wali kota, sejumlah anggota parlemen, bahkan beberapa nama pengusaha besar yang selama ini dikenal dekat dengan lingkaran militer. Semua tersenyum lebar ke arah kamera, seolah sudah sepakat siapa yang akan mereka dukung se

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 89

    Pagi itu sinar matahari jatuh cerah di antara gedung-gedung tinggi pusat kota. Sebuah taksi berhenti tepat di depan gedung BRN Corporation. Isabela turun sambil membenarkan tali tasnya, lalu menatap sekilas gedung menjulang di hadapannya sebelum melangkah masuk.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyapa."Pagi, Asisten Isabela.""Pagi, Bela."Isabela membalas semuanya dengan senyum kecil, bahkan sempat menyapa resepsionis yang duduk di meja depan. Tidak ada yang aneh pagi itu, sampai ia berhenti di area lift.Beberapa karyawan sudah berkumpul di sana, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi mengobrol pelan sambil menunggu pintu terbuka. Isabela ikut berdiri di antara mereka, sama sekali tidak memperhatikan apa pun selain perutnya yang sejak tadi terasa kosong.Tangannya masuk ke dalam tas, mengeluarkan sebuah roti."Untung masih ada satu," gumamnya sambil membuka bungkusnya perlahan.Namun baru saja roti itu mendekati mulutnya, sebuah tangan tiba-tiba menariknya

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 3

    Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 1

    Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia—lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan—seperti

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 7

    Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 6

    Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status