LOGIN
Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia, lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan, seperti genangan air yang tenang, atau cermin retak yang masih berusaha menunjukkan dunia apa adanya.
Sesekali sebuah kendaraan melintas cepat, lalu lenyap ditelan kesunyian. Malam menyimpan segalanya dalam pelukannya, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.
Di tengah keheningan itu, sebuah taksi kuning bergaris biru tersentak. Mesinnya mati.
"Astaga." Sopir menghantam kemudi dengan telapak tangannya. Ia memutar kunci kontak berkali-kali, namun yang menyambutnya hanya bunyi klik kering yang menghina.
"Kita harus bagaimana sekarang?" Di kursi belakang dua rekan rekan isabela mulai melayangkan protes, suara mereka saling beradu dengan pembelaan sang sopir yang bersikeras mesinnya baru diperbaiki kemarin. perdebatan itu tidak ada yang menang, dan tidak ada yang peduli.
Isabela tidak ikut bicara.
Kepalanya terasa seringan kapas, dunianya sedikit miring, seolah bumi baru saja bergeser satu derajat dari porosnya. Tanpa suara, tanpa pamit, ia membuka pintu dan turun ke jalanan.
Langkahnya mengambang, bukan karena ia melangkah dengan pasti, tapi karena kesadarannya yang mulai menipis akibat alkohol. Di belakangnya, suara perdebatan itu makin memudar, terdengar seperti gumaman dari bawah permukaan air yang dalam. Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Semua orang terlalu sibuk dengan kap mobil yang mogok.
Tak. Tak. Tak.
Tumit sepatunya mengetuk trotoar dengan ritme yang lamban. Isabela mengerjapkan mata, mencoba fokus pada jalanan di depan, namun lampu-lampu jalan tampak memuai, berpendar lebar seperti barisan bulan kembar yang mengawasinya dengan sabar.
"Kenapa jalannya sangat panjang…"
Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Ia hanya ingin udara. Sedikit udara segar. Itu saja.
Beberapa menit berlalu. Bangunan-bangunan mulai jarang. Toko-toko telah tutup, hanya menyisakan cahaya redup dari beberapa jendela. Suara kota memudar sepenuhnya, digantikan bunyi ombak yang samar dari kejauhan. Udara berubah lebih dingin, lebih lembap, membawa aroma tajam dari arah yang tidak ia kenal.
Langkahnya terhenti.
"Bau amis…" gumamnya, alisnya berkerut samar.
Ia tidak mengenali tempat ini. Namun alih-alih kembali, kakinya justru terus melangkah, seolah punya kehendak sendiri.
— ✵ —
Di sebuah gudang tua dekat pelabuhan, pintu setengah terbuka membiarkan cahaya putih menyentuh lantai beton yang basah. Beberapa pria berpakaian hitam berdiri berjajar, kepala tertunduk.
"Sudah beres, Tuan," ujar salah satu dari mereka. "Barangnya sudah siap dikirim ke São Paulo malam ini juga."
Pria itu berdiri beberapa langkah di depan mereka. Tinggi, tegap, setelan hitamnya nyaris sempurna meski udara malam begitu lembap. Sebatang cerutu menyala di sela jarinya, asap tipis mengikuti arah angin.
"Kapal yang mana?"
"Sama seperti biasa, Tuan. Kapal Dona Lúcia, berangkat sebelum subuh."
"Amankan jalur kontainer setelah keluar dari Santos. Aku tidak mau ada satu pun gangguan."
"Sudah kami atur, Tuan."
Ia mengangguk singkat. Tatapannya bergeser sejenak ke sosok yang tergeletak diam di sudut lantai, lalu kembali dingin seperti semula.
"Sudah selesai?"
"Sudah, Tuan."
Ia berbalik, hendak pergi. Namun langkahnya terhenti tanpa alasan yang jelas.
Tak. Tak. Tak.
Suara langkah kaki, samar, dari luar gudang.
Salah satu anak buahnya refleks meraih bagian dalam jasnya. "Siapa itu?"
Pria itu mengangkat satu tangan. Diam. Isyarat itu cukup untuk membekukan seisi ruangan.
Langkah itu semakin dekat, lalu berhenti di ambang cahaya. Seorang perempuan berdiri di sana, rambutnya berantakan tertiup angin laut, langkahnya tidak stabil seperti setiap pijakan membutuhkan pertimbangan yang berat.
Pria itu menatapnya.
Perempuan itu menatap balik, namun matanya tidak benar-benar fokus, seolah sedang berusaha keras memastikan sosok di depannya nyata atau hanya bagian dari kabut yang mengaburkan penglihatannya.
Ia melangkah maju. Tanpa ragu. Tanpa sadar ke mana ia melangkah.
Bruk.
"Auu…"
Tubuhnya menabrak dada pria itu, keras dan tegap seperti menabrak dinding yang memiliki napas. Ia bahkan tidak bergeser setengah langkah.
Isabela mendongak dengan wajah kesal. Perlahan, dengan gerakan yang lebih lambat dari seharusnya, ia mengangkat jari telunjuknya dan menekan-nekan dada pria di depannya, tepat di atas jantungnya, seolah sedang memastikan bahwa objek besar ini benar-benar nyata.
"Keras sekali…" gumamnya, nyaris seperti keluhan seorang anak kecil.
"Apa?" Pria itu menunduk sedikit, suaranya rendah, datar.
"Ini." Isabela menekan dadanya sekali lagi, seakan itu jawaban yang cukup jelas.
Beberapa anak buah di belakang saling melirik. Tidak ada satu pun yang berani tertawa.
Isabela mendongak lebih tinggi, berusaha melihat wajah pria di hadapannya, namun penglihatannya kembali berbayang, silau oleh sisa cahaya lampu gudang.
Sosok itu berdiri menjulang, menciptakan bayangan yang seolah menelan seluruh raganya dalam kegelapan. Namun Isabela bisa merasakan sepasang mata gelap yang menatapnya tajam dari ketinggian itu. Tatapan yang sangat dalam, sangat tenang, dan sangat mengintimidasi, seolah mampu menembus benaknya tanpa meminta izin.
Napas Isabela tersentak.
"… Iblis," bisiknya polos, seperti anak kecil yang baru saja melihat monster di balik pintu. "Jangan lihat aku seperti itu… menakutkan," gumamnya lagi, bibirnya mengerucut sedikit.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan, seolah menunggu apa yang akan dilakukan perempuan aneh ini selanjutnya.
Dan di situlah, meski dalam pengaruh alkohol yang cukup berat untuk merobohkan orang dewasa, sesuatu di dalam diri Isabela mengaktifkan mode darurat.
Matanya menangkap bercak merah segar di pipi pria itu. Dalam benaknya yang kacau, hanya ada satu kesimpulan logis: pria menyeramkan ini baru saja mengalami kecelakaan hebat.
Ekspresinya berubah. Dari kesal, menjadi sangat heroik.
"Tunggu… jangan bergerak," ujarnya serius, mulai menggeledah tas kecilnya dengan gerakan rusuh. Tangannya masuk dan keluar dari berbagai kantong, hampir bergulat dengan isi tasnya sendiri, sampai akhirnya ia berhasil mengeluarkan selembar plester luka bergambar kartun beruang.
Pria itu memperhatikan gerakannya tanpa ekspresi. Salah satu anak buahnya bergerak setengah langkah. "Tuan."
Ia mengangkat tangan sekali lagi. Tidak.
Isabela berjinjit. "Sstt… diam ya," bisiknya, lalu menempelkan plester itu tepat di dahi pria itu, menepuk-nepuk permukaannya agar merekat kuat.
Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menempelkan plester lucu itu di atas sisa percikan darah orang lain yang sudah mengering. Ia juga tidak menyadari noda merah di blazer pria itu kini berpindah ke bajunya sendiri, dan tangannya ikut ternoda oleh sisa darah yang masih sedikit basah.
Di kegelapan di belakang pria itu, beberapa bayangan kekar bergerak maju secara refleks, siap menarik kasar perempuan konyol yang baru saja berani menyentuh bos mereka.
Pria itu mengangkat tangannya lagi. Satu gerakan kecil. Pelan. Hampir tidak terlihat, tapi cukup.
"Biarkan dia."
Suaranya rendah, namun setiap orang di ruangan itu tahu itu bukan sekadar perintah biasa.
Para anak buahnya kembali mematung, kali ini dalam kebingungan yang tidak mereka ungkapkan.
Isabela sama sekali tidak menyadari apa yang baru saja hampir terjadi padanya. Ia menepuk plester itu sekali lagi, puas dengan hasil kerjanya sendiri.
"Sudah," gumamnya, tersenyum kecil dan bangga, seolah baru saja menyelesaikan tugas yang sangat penting.
Pria itu menatapnya lama. "Siapa namamu?"
Isabela mengerjap. Butuh beberapa detik sebelum pertanyaan itu benar-benar sampai ke otaknya yang sedang berkabut. "…Isabela," jawabnya akhirnya, pelan, seperti baru mengingat nama sendiri.
"Isabela siapa?"
Ia mengerutkan kening, mencoba berpikir, namun pikirannya seperti tergelincir sebelum sempat menemukan jawabannya. "…lupa," gumamnya jujur, lalu terkekeh kecil pada dirinya sendiri.
Pria itu tidak berkata apa-apa. Ia hanya memperhatikan wajah itu, bingung dan kikuk, sama sekali tidak menyadari di mana ia berdiri atau siapa yang ada di hadapannya.
Ponsel di dalam tas Isabela berdering keras. Kesadarannya yang rapuh langsung teralih. Ia meraba-raba tasnya, hampir menjatuhkannya sebelum berhasil mengangkat panggilan.
"Halo… Ayah…"
Suara ayahnya terdengar berderak penuh kecemasan. "Bela? Kau di mana sayang? Teman-temanmu bilang kau hilang!"
"Di jalan…"
"Jalan apa? Beri Ayah patokan!"
"Sebentar… aku cari dulu…"
Isabela berbalik begitu saja, tanpa permisi, tanpa melihat ke belakang, dan mulai berjalan menjauh dengan langkah yang masih goyah, menyipitkan mata mencari sesuatu yang bisa ia sebutkan sebagai patokan.
Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Diam. Tidak bergerak. Plester kartun itu masih menempel di dahinya, absurd di tengah wajah yang sekeras batu karang.
"Tuan." Salah satu anak buahnya akhirnya memberanikan diri bicara. "Haruskah kami mengejarnya?"
Pria itu tidak segera menjawab. Tangannya terangkat, menyentuh plester di dahinya sendiri. Jarinya berhenti di sana.
"Ikuti dia," ujarnya akhirnya. "Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya."
"Baik, Tuan."
Ia menghisap cerutunya dalam-dalam, mengembuskan asap tipis ke udara malam. Matanya mengikuti punggung kecil Isabela yang perlahan menghilang dari pandangan, langkah demi langkah, sampai bayang-bayang malam menelannya sepenuhnya.
Ia tidak memalingkan pandangan sampai sosok itu benar-benar lenyap.
Perlahan, ia melepas plester itu dari dahinya. Ditatapnya gambar beruang kecil yang tersenyum cerah di telapak tangannya, sesuatu yang begitu konyol, begitu tidak pada tempatnya di antara darah dan senjata malam itu.
"Isabela," gumamnya pelan, nyaris tertelan angin malam.
Ia memasukkan plester itu ke dalam saku jasnya.
Halo, guys.Akhirnya sampai juga di bab terakhir, dan jujur aku masih agak nggak percaya. Novel ini resmi tamat.Soal bab bonus, aku putuskan nggak aku tulis ya. Komentar di bab bonus sebelumnya sedikit banget, kayaknya cuma satu orang doang yang mau wkwk, jadi aku tutup ceritanya di sini aja. Maaf kalau ada yang masih penasaran.Sekarang aku mau jujur sedikit. Karakter yang paling nggak aku suka di novel ini sebenarnya Isabela. Nggak tahu kenapa, ya nggak suka aja. Terus kenapa aku tulis? Aku nulis novel dari 2022, dan beberapa novelku sebelumnya nggak pernah tamat. Ini pertama kalinya aku bisa namatin satu novel, guys, wkwk. Dan yang lucu, hampir semua novelku karakternya sama kayak Bela. Tiap bikin novel baru, yang muncul lagi-lagi karakter kayak dia. Mungkin karena aku belum bisa menyelesaikan karakter ini, makanya dia terus terngiang-ngiang sampai aku kesal sendiri. Sekarang akhirnya dia selesai, dan rasanya lega banget.Sebenarnya di tengah jalan aku sempat mau nyerah, guys. Tapi
Entah berapa lama waktu berlalu ketika Cane akhirnya menarik diri.Napas Isabela masih memburu, pipinya merah, rambutnya berantakan. Cane menurunkannya perlahan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu mengambil kemeja yang tergeletak di lantai dan mengenakannya tanpa mengancingkan sebagian besar. Ponselnya bergetar lagi di nakas. Ia hanya membaca layarnya sekali.“Cane?” Isabela menarik selimut sampai ke dada, suaranya serak. “Kau mau ke mana?”“Ada yang harus kuselesaikan.”Isabela menoleh ke arah kaca. Siluet putih itu masih berdiri di sana, kecil dan basah di tengah halaman yang gelap.“Dia belum pergi,” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Cane, dia masih di bawah. Dia kehujanan. Aku ikut.”Ia sudah menyingkap selimut ketika tangan besar menahan bahunya.“Tidak.”“Tapi...”“Isabela.” Suara Cane tidak keras, tetapi tidak ada ruang untuk membantah. Ia menunduk dan mencium keningnya, singkat dan dalam. “Tetap di sini.”Ia berdiri, mengambil cerutu dari kotak kayu di meja samping tempat tidur, l
Pukul tujuh lewat dua puluh menit malam, Bianca berdiri di depan cermin panjang di kamarnya dengan gaun putih gading yang sudah menempel sempurna di tubuhnya.Bordir mutiara di dadanya memantulkan cahaya lampu kristal. Ekor gaun panjang itu terhampar di lantai marmer seperti sungai susu. Rambutnya digelung rapi, kerudung tipis tersemat di puncaknya, dan bibirnya dipoles merah gelap yang sengaja ia pilih. Ia sedang berkabung, tetapi malam ini semua orang akan melihat bahwa Bianca Barnard tidak pernah kalah.Ia menatap pantulan dirinya lama sekali. Bertahun-tahun ia menunggu malam ini. Bertahun-tahun ia menelan penghinaan, menahan lidah, dan tersenyum pada orang-orang yang tidak layak menerimanya, semua demi satu pemandangan: Cane berdiri di ujung lorong, dan seluruh negeri menyaksikan.Dua hari lalu, Dante meneleponnya dengan suara datar seperti biasa. Presiden meminta pernikahan digelar malam ini, tertutup, dan disiarkan ke seluruh negeri tepat pukul sembilan, persis seperti yang ia mi
Lonceng Katedral Sé berdentang sepuluh kali, rendah dan panjang, dan gemanya menyebar sampai ke ujung Praça da Sé yang pagi itu tidak boleh dilewati siapa pun.Pagar besi sudah dipasang sejak subuh. Mobil-mobil hitam berjajar di kaki tangga batu, dan pria-pria bersetelan gelap berdiri di setiap pintu dengan kedua tangan terlipat di depan. Di sisi kiri tangga, kru Grupo Rocha Mídia memasang kamera di atas tripod. Mereka hanya menerima satu instruksi. Rekam semuanya, tayangkan nanti.Di ruang samping di balik altar, Isabela berdiri menghadap cermin tua berbingkai kayu. Gaun putihnya sederhana, hanya renda tipis di sepanjang lengan, dan kerudungnya jatuh lembut sampai ke punggung. Setiap kali ia menarik napas, kain itu bergerak pelan seperti riak di permukaan air.Di belakangnya, ibunya merapikan ujung kerudung dengan jari yang tidak mau berhenti gemetar. Neneknya duduk di kursi kayu dengan saputangan di genggaman, dan Elena bersandar di dinding dengan senyum yang ia tahan sejak tadi.“Ib
Cane menunduk, dan bibirnya tidak langsung menyentuh. Ia berhenti selebar satu helaan napas dari bibir Isabela, cukup dekat untuk berbagi hangat yang sama, cukup jauh untuk memberinya waktu. Waktu yang tidak Isabela pakai. Ia hanya berdiri di sana dengan mata setengah terpejam dan kepalan yang masih menggenggam kemeja itu.Ciuman pertama datang pelan, hampir ragu, seperti pria yang tidak percaya bahwa ia benar-benar diizinkan. Bibirnya menekan sekali, menarik diri sedikit, lalu kembali dengan kesabaran yang membuat lutut Isabela melemas lebih dulu sebelum ia sempat menolak.Tangan Cane naik ke sisi wajahnya. Ibu jarinya menyapu tulang pipi yang masih basah, menghapus sisa air mata, lalu menyelip ke belakang kepalanya dan menahannya di sana tanpa menekan. Di balik jendela balkon, tirai menggembung lalu mengempis. Di bawah sana ombak pecah di karang dan menarik diri, berulang, sabar.“Isabela.”Hanya namanya. Diucapkan rendah di antara dua napas, dengan nada yang belum pernah ia dengar d
Lisboa pagi hari berbau roti panggang dan air asin.Isabela terbangun pelan, kesadarannya datang sepotong-sepotong. Suara ombak dari bawah jendela. Tirai putih yang menggembung lalu mengempis ditiup angin laut. Cahaya pagi yang sudah cukup tinggi jatuh pucat di lantai kayu, merayap sampai ke kaki ranjang.Ia menggeliat malas, menarik selimut sampai ke dagu, dan hampir terlelap lagi ketika hidungnya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.Asap. Hangat, pekat, sedikit manis, dengan ujung getir yang terlalu ia kenal.Matanya terbuka.Di ambang pintu balkon, seorang pria berdiri membelakanginya. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Bahunya lebar dan tegak, satu tangan terselip di saku celana, sementara tangan lainnya menahan cerutu yang ujungnya menyala merah di antara dua jari. Di hadapannya Lisboa terhampar di bawah cahaya pagi, atap-atap jingga yang bertingkat sampai ke sungai, kubah putih gereja, dan laut kebiruan di kejauhan. Asap cerutu naik pelan, lalu terbawa angin k
Di tempat yang sangat berbeda—puncak menara BRN Corp—kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udar
Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam
Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny
Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"







