Share

TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA
TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA
Author: RAJJA-M

BAB 1

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-05-28 16:58:36

Malam di Rio de Janeiro selalu punya cara sendiri untuk memeluk manusia, lembap, hangat, dan sedikit terlalu dekat. Udara asin dari laut menyelinap di celah-celah gedung, merayap pelan di sepanjang jalanan yang mulai sepi. Di bawah temaram lampu jalan, aspal legam memantulkan cahaya keemasan, seperti genangan air yang tenang, atau cermin retak yang masih berusaha menunjukkan dunia apa adanya.

Sesekali sebuah kendaraan melintas cepat, lalu lenyap ditelan kesunyian. Malam menyimpan segalanya dalam pelukannya, termasuk hal-hal yang seharusnya tidak terjadi.

Di tengah keheningan itu, sebuah taksi kuning bergaris biru tiba-tiba tersentak. Mesinnya mati.

Sopir mengumpat lirih, memutar kunci kontak berkali-kali, namun yang menyambutnya hanya bunyi klik kering yang menghina. Di kursi belakang, dua rekan Isabela mulai melayangkan protes, suara mereka saling beradu dengan pembelaan sang sopir yang bersikeras mesinnya baru diperbaiki kemarin. Perdebatan itu tidak ada yang menang, dan tidak ada yang peduli.

Isabela tidak ikut bicara.

Kepalanya terasa seringan kapas, dunianya sedikit miring, seolah bumi baru saja bergeser satu derajat dari porosnya. Tanpa suara, tanpa pamit, ia membuka pintu dan turun ke jalanan.

Langkahnya mengambang, bukan karena ia melangkah dengan pasti, tapi karena kesadarannya yang mulai menipis akibat alkohol. Di belakangnya, suara perdebatan itu makin memudar, terdengar seperti gumaman dari bawah permukaan air yang dalam. Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Semua orang terlalu sibuk dengan kap mobil yang mogok.

Tak. Tak. Tak.

Tumit sepatunya mengetuk trotoar dengan ritme yang lamban. Isabela mengerjapkan mata, mencoba fokus pada jalanan di depan, namun lampu-lampu jalan tampak memuai, berpendar lebar seperti barisan bulan kembar yang mengawasinya dengan sabar.

"Kenapa jalannya sangat panjang…"

Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.

Beberapa menit berlalu. Bangunan-bangunan mulai jarang. Suara kota memudar sepenuhnya. Udara berubah lebih dingin, lebih lembap, membawa aroma yang tajam dari arah yang tidak ia kenal.

Langkahnya terhenti.

Alisnya berkerut samar.

"Bau amis…"

Ia melangkah lagi.

Bruk.

"Auu…"

Tubuhnya menabrak sesuatu yang kokoh. Bukan tembok yang dingin. Bukan tiang besi yang keras. Sesuatu itu terasa hangat dan tegap, seperti menabrak dinding yang memiliki napas.

Isabela mendongak dengan wajah kesal. Perlahan, dengan gerakan yang lebih lambat dari seharusnya, ia mengangkat jari telunjuknya dan menusuk-nusuk dada pria di depannya, tepat di atas jantungnya, seolah sedang memastikan bahwa objek besar ini benar-benar nyata.

"Apa ini… sangat keras…"

Tatapannya bergerak naik. Perlahan. Berat.

Sosok pria itu berdiri menjulang, menciptakan bayangan yang seolah menelan seluruh raga Isabela dalam kegelapan. Di bawah pencahayaan yang minim, wajahnya tampak samar, siluet yang diam dan sama sekali tidak bergeming. Namun Isabela bisa merasakan sepasang mata gelap yang menatapnya tajam dari ketinggian itu. Tatapan yang sangat dalam, sangat tenang, dan sangat mengintimidasi, seolah mampu menembus benaknya tanpa meminta izin.

Napas Isabela tersentak.

"… Iblis."

Kata itu keluar seperti bisikan polos seorang anak kecil yang baru saja melihat monster di balik pintu.

"Jangan lihat aku seperti itu… menakutkan," gumamnya pelan, bibirnya sedikit mengerucutkan diri karena terintimidasi.

Dan di situlah, meski dalam pengaruh alkohol yang cukup berat untuk merobohkan orang dewasa, sesuatu di dalam diri Isabela mengaktifkan mode darurat.

Di wajah pria itu, tepat di pipinya, terdapat bercak merah segar. Dalam benak Isabela yang sedang kacau, hanya ada satu kesimpulan logis: pria menyeramkan ini baru saja mengalami kecelakaan hebat.

Ekspresinya berubah. Dari kesal, menjadi sangat heroik.

Dengan gerakan rusuh namun penuh tekad, ia mulai menggeledah tas kecilnya. Tangannya masuk dan keluar dari berbagai kantong, hampir bergulat dengan isi tasnya sendiri, sampai akhirnya, setelah hampir semenit penuh perjuangan, ia berhasil mengeluarkan selembar plester luka bergambar kartun yang mencolok.

Dengan jemari yang sedikit gemetar namun tidak tergoyahkan, Isabela berjinjit.

"Sstt… diam ya, jangan bergerak," bisiknya serius, sambil menempelkan plester itu tepat di dahi sang pria dan menepuk-nepuk permukaannya agar merekat kuat.

Isabela tidak menyadari bahwa ia baru saja menempelkan plester lucu di atas sisa percikan darah orang lain yang sudah mengering di wajah sang 'iblis'. Ia tidak menyadari pula bahwa noda merah di blazer pria itu kini telah berpindah ke bajunya, dan tangannya ikut ternoda oleh sisa darah yang masih basah di wajah pria tersebut.

Di kegelapan di belakang pria itu, beberapa bayangan kekar bergerak maju secara refleks, siap menarik kasar gadis konyol yang baru saja berani menyentuh bos mereka.

Namun pria itu mengangkat tangannya. Satu gerakan kecil. Pelan. Hampir tidak terlihat.

Sarung tangan hitamnya menahan udara. Cerutu yang masih menyala di sela jarinya meninggalkan jejak asap tipis.

Para bawahannya kembali mematung, kali ini dalam kebingungan yang tidak mereka ungkapkan.

Sunyi kembali berkuasa.

Lalu ponsel di dalam tas Isabela berdering keras. Kesadarannya yang rapuh langsung teralih. Ia berbalik begitu saja, tanpa permisi, tanpa melihat ke belakang, dan mulai berjalan lagi dengan langkah yang masih goyah, mengangkat teleponnya seolah adegan tadi tidak pernah terjadi.

"Halo… Ayah…"

Suara ayahnya terdengar berderak penuh kecemasan.

"Bela? Kau di mana sayang? Teman-temanmu bilang kau hilang!"

"Di jalan…"

"Jalan apa? Beri Ayah patokan!"

"Sebentar… aku cari dulu…"

Isabela menyipitkan mata, menatap ke arah pelabuhan yang gelap di kejauhan. Ia terus berjalan menjauh, perlahan tertelan kabut malam.

Ia tidak menyadari bahwa di belakangnya, pria itu masih berdiri di tempat yang sama. Diam. Tidak bergerak. Plester kartun itu masih menempel di dahinya, absurd di tengah wajah yang sekeras batu karang.

Ia menghisap cerutunya dalam-dalam. Mengembuskan asap tipis ke udara malam. Matanya mengikuti punggung kecil Isabela yang perlahan menghilang dari pandangan, langkah demi langkah, sampai bayang-bayang malam menelannya sepenuhnya.

Ia tidak memalingkan pandangan sampai sosok itu benar-benar lenyap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
leman
bagusss banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 67

    Mobil berhenti tepat di depan kantor polisi. Begitu petugas jaga di depan gerbang melihat pelat mobil yang terparkir, sikapnya berubah seketika, ia buru-buru berdiri tegak dan membungkuk hormat. Beberapa petugas lain yang kebetulan berada di halaman ikut menunduk, saling berbisik begitu menyadari siapa pemilik kendaraan itu.Enzo keluar dari mobil dengan tenang, seolah tak menyadari atau tak peduli dengan keributan kecil yang timbul karena kehadirannya. Ia berjalan ke sisi lain, membuka pintu, lalu tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Elena dan menaruhnya di atas bahunya begitu saja."Turunkan aku! Bajingan, turunkan!" Elena meronta, tangannya memukul-mukul punggung Enzo, kakinya menendang ke udara. "Tolong! Ada yang bisa tolong aku, tidak? Pria ini menculikku!"Beberapa petugas yang berdiri di dekat pintu masuk hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing, seolah pemandangan seorang wanita diangkut di atas bahu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi serius, apal

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 66

    Suasana di dalam kabin mobil terasa pengap, diisi oleh napas memburu dan ketegangan yang kian menumpuk. Elena sama sekali tidak tinggal diam. Tangan kanannya memang terikat erat oleh necktie ke pergelangan Enzo, tetapi tangan kirinya masih bebas bergerak leluasa.Tanpa suara, ia menyelipkan tangan itu ke dalam tas, meraba layar ponsel secara buta sementara matanya tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan darurat untuk Isabela, mengirimkan kabar bahwa dirinya tengah dibawa pergi menuju kantor polisi.Namun, Enzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya mulai curiga saat melihat Elena mendadak terlalu tenang. Pria itu melirik sekilas ke samping dan mendapati pantulan cahaya kecil dari layar ponsel yang tersembunyi di balik tas.Tanpa aba-aba, tangan bebas Enzo terulur cepat dan merampas ponsel itu dari genggaman Elena. Tapi terlambat, layar ponsel menunjukkan status pesan telah terkirim."Kembalikan!" Elena berusaha m

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 65

    Isabela sudah menghabiskan setengah pagi menunggu, dan begitu jam menunjukkan waktu yang cukup sopan untuk keluar rumah, Elena sudah lebih dulu berdiri di depan gerbang dengan kacamata hitam besar dan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan."Ayo, aku sudah bosan di rumah," ujar Elena, menarik lengan Isabela sebelum ia sempat protes. "Lagipula kau butuh jalan-jalan, anggap saja olahraga setelah drama makanan mahal dari bos seksimu itu.""Itu bukan drama," Isabela membela diri, meski pipinya sedikit memerah mengingat kotak makanan seharga delapan ratus real itu masih tersimpan rapi di atas lemari es rumahnya, seolah kotak kosong itu sendiri adalah bukti sesuatu yang tidak ingin ia akui."Terserah kau menyebutnya apa." Elena sudah membuka pintu mobil, melambai agar Isabela cepat masuk. "Yang jelas kita ke mall sekarang. Aku butuh cuci mata, dan kau butuh berhenti memikirkan dua laki-laki sekaligus.""Memikirkan dua laki-laki? Omong kosong. Dengarkan aku, aku hanya akan mencintai Theo

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 64

    Konvoi keluar dari jalan tol dua puluh menit sebelum tengah hari, berbelok ke simpang tanpa nama yang hanya dikenali oleh mereka yang memang perlu mengenalinya. Jalan tanah, lalu pagar baja setinggi tiga meter berdiri di antara pepohonan, kawat listrik berkilau tipis di bagian atasnya. Pos jaga bergerak sekali, mengonfirmasi, dan pagar itu membuka tanpa suara.'Kawasan Fantasma.'Di dalam gerbang, sebuah truk kontainer besar baru saja berhenti di dekat gudang utama, mesinnya masih berdengung rendah. Beberapa pria berseragam tanpa identitas bergerak cepat di sekelilingnya, satu memberi aba-aba dengan tangan, yang lain menyambungkan derek portabel ke bagian atas kontainer. Rantai berdenting. Logam bergesekan dengan logam.Mobil Cane melambat, sejajar sesaat dengan truk itu sebelum berbelok ke jalur yang berbeda.Cane menatap ke luar jendela, tidak lama, hanya cukup untuk melihat tulisan samar di sisi kontainer yang sengaja dibuat tidak terbaca dari jarak jauh. Salah satu penjaga menoleh

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 63

    "Biar kubantu." Cane ikut masuk, tubuhnya menutup pintu hingga orang-orang di luar tak bisa lagi melihat apa yang terjadi di dalam.Cane melihat Isabela yang masih sibuk mencari-cari di dalam mobil, alisnya bertaut bingung tak menemukan apa pun. Ia hanya menatapnya sejenak dalam diam, seolah menikmati betapa tidak sadarnya gadis itu akan apa yang akan terjadi berikutnya.Tanpa aba-aba, satu tangannya sudah menangkup tengkuk Isabela, jemarinya menyusup ke helai rambutnya dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat gadis itu tak bisa menoleh ke mana pun selain padanya. Bibir mereka bertemu sebelum Isabela sempat mengeluarkan satu kata pun.Ciuman itu tidak lembut. Ada sesuatu yang lapar di dalamnya, seolah Cane sudah menahan diri terlalu lama dan kini tak berniat lagi bersikap sabar. Isabela mencoba mundur secara refleks, punggungnya menabrak sandaran kursi, tapi tangan Cane yang lain sudah melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat alih-alih memberinya ruang untuk lari.Napas

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 62

    Elena baru saja menyalakan mobil ketika Isabela tiba-tiba mencengkeram lengannya, wajahnya berubah tegang seketika."Elena, kita harus cepat, gawat, ini gawat," ujar Isabela, suaranya nyaris panik tanpa sempat memberi penjelasan lebih lanjut."Aduh, ada apa denganmu, santai saja. Kau membuatku kaget." Elena menginjak gas sebelum sabuk pengaman Isabela sepenuhnya terkunci.Mobil melesat keluar dari area parkir dengan decitan ban yang membuat dua orang di trotoar menoleh kaget. Isabela mencengkeram pegangan pintu erat-erat, buku-buku jarinya memutih."Elena, pelan-pelan.""Kalau pelan-pelan, nenekmu bakal bertemu Presiden Cane sebelum kita sampai di sana." Elena membelokkan setir tajam ke kanan, menyalip sebuah angkutan umum lokal yang berhenti mendadak di lampu merah. "Tenang saja, aku sudah biasa."Isabela tidak yakin itu kalimat yang menenangkan.Di persimpangan berikutnya, sebuah motor memotong jalur mereka tanpa aba-aba. Elena membanting setir, ban berdecit keras, spion kiri nyaris

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 7

    Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 6

    Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 5

    Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 4

    Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status