Share

BAB 4

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-05-28 17:04:44

Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.

Layar menyala.

09.15.

Jantungnya berhenti.

"Tuhan! Aku mati!"

Jadwal wawancara pukul 09.00. Itu artinya seharusnya ia sudah duduk rapi di dalam gedung BRN Corporation sejak lima belas menit yang lalu, bukan baru saja tersadar dari tidur dengan rambut kusut dan pikiran yang masih separuh bermimpi.

Isabela melompat dari tempat tidur. Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang mungkin tidak pernah ia capai dalam keadaan waras.

Kamar mandi. Air dingin yang membuat saraf-sarafnya terlonjak. Cermin yang memantulkan wajah seseorang yang sedang panik tapi masih mencoba terlihat profesional. Tangannya gemetar saat mengancingkan kemeja putih sutra, menarik celana bahan high-waist hitam ke pinggangnya, menyapukan maskara tipis dengan gerakan yang tidak sepenuhnya lurus. Lipstik nude dioleskan sekadarnya. Rambut hanya disisir dengan jemari agar jatuh alami di bahu, tidak ada waktu untuk lebih dari itu.

Suara lembut dari balik pintu.

"Bela? Sarapan dulu, Nak. Ini roti bakar kesukaanmu."

Isabela membuka pintu dengan gerakan yang lebih kasar dari yang ia niatkan, sambil sibuk menyampirkan tas di bahunya.

"Maaf, Nek! Bela terlambat parah!"

"Tapi perutmu kosong…"

"Tidak sempat, Nek! Doakan saja Bela tidak langsung diusir!"

Ia hanya sempat mencium udara di dekat pipi neneknya sebelum berlari keluar menuju jalanan.

Keberuntungan sedang berlibur pagi itu.

Sebuah truk besar mogok tepat di jalur utama menuju distrik bisnis, menciptakan sumbatan yang tidak bergerak dan tidak berbelas kasih. Isabela menatap jam digital di dasbor taksi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. 09.30. 09.45. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu kesempatan yang runtuh.

Pukul 10.05, taksinya berhenti di depan gedung pencakar langit BRN Corporation.

Terlambat satu jam lebih lima menit.

Gedung itu berdiri seperti raksasa kaca yang tidak peduli pada siapa pun yang berdiri di bawahnya, dingin, angkuh, dan sangat besar. Isabela berlari melintasi lobi yang sangat luas, langkah sepatunya bergema di atas marmer yang dipoles hingga mengkilap seperti danau beku. Napasnya hampir habis dan wajahnya memerah saat ia akhirnya tiba di meja resepsionis.

"Maaf…"

Isabela membungkuk, mencoba meraup oksigen.

"Nama saya Isabela Mareu. Saya ada jadwal wawancara pukul sembilan. Saya tahu ini sangat tidak sopan… saya terlambat satu jam lebih karena kemacetan total… apakah… apakah saya masih diperbolehkan masuk?"

Ia sudah bersiap untuk kata penolakan.

Namun resepsionis itu tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, matanya beralih ke monitor di sampingnya, mengecek sesuatu dengan teliti. Ekspresinya berubah menjadi sangat formal setelah membaca instruksi yang tertera di layar.

"Nona Isabela Mareu?"

"Iyah, benar saya."

"Kebetulan sekali, Nona Mareu. Tim penguji baru akan beralih ke agenda berikutnya, tapi jadwal Anda masih ada di sistem. Silakan langsung menuju lift."

Isabela membeku. Ia mengerjapkan mata tidak percaya.

"Benarkah? Saya… saya pikir saya sudah kehilangan kesempatan ini."

Resepsionis itu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia justru keluar dari mejanya dan secara pribadi mengantar Isabela menuju lift khusus berlapis krom mengkilap.

"Silakan, Nona Mareu. Langsung ke lantai 40. Anda sudah ditunggu."

— ✵ —

Lantai 40

Lift berhenti dengan denting halus. Isabela melangkah keluar dan diarahkan menuju sebuah ruangan kedap suara yang sangat elegan. Sebelum memutar knop pintu, ia berhenti sejenak, merapikan bajunya yang sedikit kusut, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup terlalu cepat.

"Tenang, Bela… tarik napas. Pasti bisa."

Ia melangkah masuk.

Di dalam ruangan itu, tiga penguji duduk dengan wajah formal di balik meja panjang. Begitu Isabela masuk, mereka saling lirik, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10.10. Dalam pikiran mereka, nama gadis ini seharusnya sudah dicoret sejak lama. Namun instruksi dari lantai paling atas sangat mutlak, dan tidak ada yang cukup berani untuk mempertanyakannya.

"Nona Isabela Mareu, silakan duduk," ujar penguji pria di tengah.

Sesi wawancara dimulai. Isabela menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan cara yang khas untuknya, langsung, jujur, dan sama sekali tidak berusaha terlihat lebih dari apa adanya.

"Saya sangat loyal pada pekerjaan saya, Tuan. Dan… jujur saja, standar gaji yang ditawarkan di sini adalah motivasi terbesar saya."

Ia tersenyum lebar, tulus, dengan mata yang sedikit berbinar.

Setelah beberapa menit, penguji utama menutup map.

"Wawancaranya selesai, Nona Mareu. Besok atau malam ini kami akan memberikan kabar mengenai hasil seleksi Anda."

"Baik, terima kasih."

Isabela beranjak dari kursinya dan keluar.

Begitu pintu tertutup rapat, suasana formal itu langsung runtuh. Penguji wanita mengembuskan napas panjang, raut wajahnya jengkel.

"Siapa sebenarnya gadis itu? Bagaimana bisa Bos bersikeras menjadikannya sekretaris?"

Ia memijat pangkal hidungnya.

"Tim sekretariat kita sudah diisi jajaran lulusan terbaik dunia. Lalu untuk apa kita menambah satu kursi lagi, untuk seseorang yang bahkan tidak bisa datang tepat waktu?"

"Entahlah," sahut penguji pria, menggelengkan kepala. "Instruksi dari lantai atas sangat aneh kali ini. Dia terlambat satu jam lebih, tapi kita dilarang memulangkan dia. Benar-benar tidak masuk akal."

— ✵ —

Sementara itu, di lantai paling atas, Cane duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan yang terpaku pada layar monitor CCTV.

Penampilannya tidak seperti biasa. Jas mahalnya sudah teronggok di sofa. Dasinya ditarik paksa hingga melonggar, satu-satunya tanda bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu ketenangannya, meski wajahnya sama sekali tidak menunjukkan itu.

Ia sudah mematung lebih dari satu jam. Hanya untuk mengawasi pergerakan seorang gadis di layar yang terbagi-bagi dalam kotak-kotak kecil itu. Ada raut bingung yang terselip di balik sorot matanya, ia sendiri tampaknya tidak benar-benar mengerti mengapa ia rela membuang waktu untuk hal ini.

Cane meraih cerutu dari kotak kayu di atas meja, menyulutnya, menghisapnya dalam-dalam. Asap tipis mengepul, mengaburkan sebagian wajahnya yang mengeras kaku.

"Satu jam lebih." Gumamnya rendah, nada suaranya dipenuhi ejekan yang tidak ia sembunyikan. "Bahkan di hari pertama saja, gadis ini sudah berani terlambat."

Tangannya yang kokoh bergerak menekan tombol telepon internal.

"Hubungi dia sekarang. Katakan dia diterima dan mulai bekerja besok pagi. Jam tujuh tepat di mejanya."

Jeda singkat.

"Jika dia terlambat satu detik saja, bawa dia langsung ke ruanganku."

Ia memutus sambungan sepihak.

— ✵ —

Isabela akhirnya bisa bernapas lega saat bertemu Lena di sebuah restoran sederhana. Ia bercerita dengan nada santai, terlalu santai untuk seseorang yang baru saja selamat dari bencana.

"Kau tahu aku terlambat satu jam tadi. Untung saja orang-orang di sana sangat baik padaku. Mereka tetap mengizinkanku ikut wawancara."

Sendok Lena berhenti di udara. Matanya membelalak.

"Hah? Satu jam? Apa kau gila? Mengapa kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan terlambatmu itu? Dari kuliah sampai sekarang sama saja!"

Isabela hanya berkedip pelan, tetap tenang menghadapi omelan itu.

Lena mendengus, lalu menyipitkan mata.

"Sangat tidak masuk akal perusahaan seperti BRN masih mengizinkanmu wawancara setelah kau terlambat satu jam. Itu aneh. Sangat aneh."

"Entahlah. Mungkin karena mereka tahu aku gadis yang baik."

Lena hampir tidak tahan.

"Berhenti omong kos…"

Dretttt.

Getaran ponsel di atas meja memotong kalimat itu sebelum selesai. Layar menyala, nomor tak dikenal. Lena secara otomatis terdiam, matanya langsung terpaku pada ekspresi sahabatnya.

"Halo?"

"Selamat siang. Apakah ini Nona Isabela Mareu?"

"Iyah, benar saya."

"Kami menghubungi dari departemen rekrutmen BRN Corporation. Kami ingin menginformasikan bahwa Anda diterima untuk posisi sekretaris eksekutif. Anda dapat mulai bekerja besok pukul tujuh pagi. Harap datang tepat waktu."

Jeda singkat. Lalu suara itu menambahkan, sopan, tapi sangat jelas,

"Dan mohon jangan terlambat lagi."

Telepon terputus.

Sunyi.

Isabela masih memegang ponselnya di udara, seolah otaknya belum sempat mengejar arti kata-kata tadi. Di depannya, Lena mencondongkan tubuh perlahan.

"…Bela."

Tidak ada jawaban.

"Isabela."

Pelan-pelan Isabela menoleh.

"Ya?"

"Jangan bilang… kau diterima."

Isabela berkedip. Lalu menjawab dengan nada polos yang benar-benar tidak dibuat-buat,

"Sepertinya… iya, Lena."

Hening sepersekian detik.

"APA?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 67

    Mobil berhenti tepat di depan kantor polisi. Begitu petugas jaga di depan gerbang melihat pelat mobil yang terparkir, sikapnya berubah seketika, ia buru-buru berdiri tegak dan membungkuk hormat. Beberapa petugas lain yang kebetulan berada di halaman ikut menunduk, saling berbisik begitu menyadari siapa pemilik kendaraan itu.Enzo keluar dari mobil dengan tenang, seolah tak menyadari atau tak peduli dengan keributan kecil yang timbul karena kehadirannya. Ia berjalan ke sisi lain, membuka pintu, lalu tanpa banyak bicara mengangkat tubuh Elena dan menaruhnya di atas bahunya begitu saja."Turunkan aku! Bajingan, turunkan!" Elena meronta, tangannya memukul-mukul punggung Enzo, kakinya menendang ke udara. "Tolong! Ada yang bisa tolong aku, tidak? Pria ini menculikku!"Beberapa petugas yang berdiri di dekat pintu masuk hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing, seolah pemandangan seorang wanita diangkut di atas bahu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi serius, apal

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 66

    Suasana di dalam kabin mobil terasa pengap, diisi oleh napas memburu dan ketegangan yang kian menumpuk. Elena sama sekali tidak tinggal diam. Tangan kanannya memang terikat erat oleh necktie ke pergelangan Enzo, tetapi tangan kirinya masih bebas bergerak leluasa.Tanpa suara, ia menyelipkan tangan itu ke dalam tas, meraba layar ponsel secara buta sementara matanya tetap lurus ke depan seolah tak terjadi apa-apa. Jemarinya bergerak cepat mengetik pesan darurat untuk Isabela, mengirimkan kabar bahwa dirinya tengah dibawa pergi menuju kantor polisi.Namun, Enzo yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik wanita di sampingnya mulai curiga saat melihat Elena mendadak terlalu tenang. Pria itu melirik sekilas ke samping dan mendapati pantulan cahaya kecil dari layar ponsel yang tersembunyi di balik tas.Tanpa aba-aba, tangan bebas Enzo terulur cepat dan merampas ponsel itu dari genggaman Elena. Tapi terlambat, layar ponsel menunjukkan status pesan telah terkirim."Kembalikan!" Elena berusaha m

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 65

    Isabela sudah menghabiskan setengah pagi menunggu, dan begitu jam menunjukkan waktu yang cukup sopan untuk keluar rumah, Elena sudah lebih dulu berdiri di depan gerbang dengan kacamata hitam besar dan senyum lebar yang tidak bisa disembunyikan."Ayo, aku sudah bosan di rumah," ujar Elena, menarik lengan Isabela sebelum ia sempat protes. "Lagipula kau butuh jalan-jalan, anggap saja olahraga setelah drama makanan mahal dari bos seksimu itu.""Itu bukan drama," Isabela membela diri, meski pipinya sedikit memerah mengingat kotak makanan seharga delapan ratus real itu masih tersimpan rapi di atas lemari es rumahnya, seolah kotak kosong itu sendiri adalah bukti sesuatu yang tidak ingin ia akui."Terserah kau menyebutnya apa." Elena sudah membuka pintu mobil, melambai agar Isabela cepat masuk. "Yang jelas kita ke mall sekarang. Aku butuh cuci mata, dan kau butuh berhenti memikirkan dua laki-laki sekaligus.""Memikirkan dua laki-laki? Omong kosong. Dengarkan aku, aku hanya akan mencintai Theo

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 64

    Konvoi keluar dari jalan tol dua puluh menit sebelum tengah hari, berbelok ke simpang tanpa nama yang hanya dikenali oleh mereka yang memang perlu mengenalinya. Jalan tanah, lalu pagar baja setinggi tiga meter berdiri di antara pepohonan, kawat listrik berkilau tipis di bagian atasnya. Pos jaga bergerak sekali, mengonfirmasi, dan pagar itu membuka tanpa suara.'Kawasan Fantasma.'Di dalam gerbang, sebuah truk kontainer besar baru saja berhenti di dekat gudang utama, mesinnya masih berdengung rendah. Beberapa pria berseragam tanpa identitas bergerak cepat di sekelilingnya, satu memberi aba-aba dengan tangan, yang lain menyambungkan derek portabel ke bagian atas kontainer. Rantai berdenting. Logam bergesekan dengan logam.Mobil Cane melambat, sejajar sesaat dengan truk itu sebelum berbelok ke jalur yang berbeda.Cane menatap ke luar jendela, tidak lama, hanya cukup untuk melihat tulisan samar di sisi kontainer yang sengaja dibuat tidak terbaca dari jarak jauh. Salah satu penjaga menoleh

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 63

    "Biar kubantu." Cane ikut masuk, tubuhnya menutup pintu hingga orang-orang di luar tak bisa lagi melihat apa yang terjadi di dalam.Cane melihat Isabela yang masih sibuk mencari-cari di dalam mobil, alisnya bertaut bingung tak menemukan apa pun. Ia hanya menatapnya sejenak dalam diam, seolah menikmati betapa tidak sadarnya gadis itu akan apa yang akan terjadi berikutnya.Tanpa aba-aba, satu tangannya sudah menangkup tengkuk Isabela, jemarinya menyusup ke helai rambutnya dengan cengkeraman yang cukup kuat untuk membuat gadis itu tak bisa menoleh ke mana pun selain padanya. Bibir mereka bertemu sebelum Isabela sempat mengeluarkan satu kata pun.Ciuman itu tidak lembut. Ada sesuatu yang lapar di dalamnya, seolah Cane sudah menahan diri terlalu lama dan kini tak berniat lagi bersikap sabar. Isabela mencoba mundur secara refleks, punggungnya menabrak sandaran kursi, tapi tangan Cane yang lain sudah melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat alih-alih memberinya ruang untuk lari.Napas

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 62

    Elena baru saja menyalakan mobil ketika Isabela tiba-tiba mencengkeram lengannya, wajahnya berubah tegang seketika."Elena, kita harus cepat, gawat, ini gawat," ujar Isabela, suaranya nyaris panik tanpa sempat memberi penjelasan lebih lanjut."Aduh, ada apa denganmu, santai saja. Kau membuatku kaget." Elena menginjak gas sebelum sabuk pengaman Isabela sepenuhnya terkunci.Mobil melesat keluar dari area parkir dengan decitan ban yang membuat dua orang di trotoar menoleh kaget. Isabela mencengkeram pegangan pintu erat-erat, buku-buku jarinya memutih."Elena, pelan-pelan.""Kalau pelan-pelan, nenekmu bakal bertemu Presiden Cane sebelum kita sampai di sana." Elena membelokkan setir tajam ke kanan, menyalip sebuah angkutan umum lokal yang berhenti mendadak di lampu merah. "Tenang saja, aku sudah biasa."Isabela tidak yakin itu kalimat yang menenangkan.Di persimpangan berikutnya, sebuah motor memotong jalur mereka tanpa aba-aba. Elena membanting setir, ban berdecit keras, spion kiri nyaris

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 40

    Pesan itu masuk diam-diam di antara percakapan yang sedang berlangsung.Cane membacanya sekali.Tidak dua kali.Ponsel itu ia letakkan kembali di atas lutut dengan gerakan yang terlalu tenang — tangan kanan rileks, jari-jari tidak menekan apa-apa, seperti pesan itu tidak lebih penting dari laporan

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 11

    "Langit São Paulo mulai terasa lebih lembut ketika jarum jam perlahan merayap menuju waktu makan siang. Tanpa benar-benar sadar bagaimana langkah membawanya ke sana, Isabela kini sudah duduk di kursi rotan minimalis di sudut kecil Butik Lena.Tempat ini adalah ruang kreatif yang hangat. Lantainya m

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 7

    Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa

  • TERJERAT OBSESI TUAN MAFIA   BAB 6

    Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status