로그인Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.
Layar menyala.
09.15.
Jantungnya berhenti.
"Tuhan! Aku mati!"
Jadwal wawancara pukul 09.00. Itu artinya seharusnya ia sudah duduk rapi di dalam gedung BRN Corporation sejak lima belas menit yang lalu—bukan baru saja tersadar dari tidur dengan rambut kusut dan pikiran yang masih separuh bermimpi.
Isabela melompat dari tempat tidur. Tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang mungkin tidak pernah ia capai dalam keadaan waras.
Kamar mandi. Air dingin yang membuat saraf-sarafnya terlonjak. Cermin yang memantulkan wajah seseorang yang sedang panik tapi masih mencoba terlihat profesional. Tangannya gemetar saat mengancingkan kemeja putih sutra, menarik celana bahan high-waist hitam ke pinggangnya, menyapukan maskara tipis dengan gerakan yang tidak sepenuhnya lurus. Lipstik nude dioleskan sekadarnya. Rambut hanya disisir dengan jemari agar jatuh alami di bahu—tidak ada waktu untuk lebih dari itu.
Suara lembut dari balik pintu.
"Bela? Sarapan dulu, Nak. Ini roti bakar kesukaanmu."
Isabela membuka pintu dengan gerakan yang lebih kasar dari yang ia niatkan, sambil sibuk menyampirkan tas di bahunya.
"Maaf, Nek! Bela terlambat parah!"
"Tapi perutmu kosong—"
"Tidak sempat, Nek! Doakan saja Bela tidak langsung diusir!"
Ia hanya sempat mencium udara di dekat pipi neneknya sebelum berlari keluar menuju jalanan.
Keberuntungan sedang berlibur pagi itu.
Sebuah truk besar mogok tepat di jalur utama menuju distrik bisnis, menciptakan sumbatan yang tidak bergerak dan tidak berbelas kasih. Isabela menatap jam digital di dasbor taksi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. 09.30. 09.45. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu kesempatan yang runtuh.
Pukul 10.05, taksinya berhenti di depan gedung pencakar langit BRN Corporation.
Terlambat satu jam lebih lima menit.
Gedung itu berdiri seperti raksasa kaca yang tidak peduli pada siapa pun yang berdiri di bawahnya—dingin, angkuh, dan sangat besar. Isabela berlari melintasi lobi yang sangat luas, langkah sepatunya bergema di atas marmer yang dipoles hingga mengkilap seperti danau beku. Napasnya hampir habis dan wajahnya memerah saat ia akhirnya tiba di meja resepsionis.
"Maaf…"
Isabela membungkuk, mencoba meraup oksigen.
"Nama saya Isabela Mareu. Saya ada jadwal wawancara pukul sembilan. Saya tahu ini sangat tidak sopan… saya terlambat satu jam lebih karena kemacetan total… apakah… apakah saya masih diperbolehkan masuk?"
Ia sudah bersiap untuk kata penolakan.
Namun resepsionis itu tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, matanya beralih ke monitor di sampingnya—mengecek sesuatu dengan teliti. Ekspresinya berubah menjadi sangat formal setelah membaca instruksi yang tertera di layar.
"Nona Isabela Mareu?"
"Iyah, benar saya."
"Kebetulan sekali, Nona Mareu. Tim penguji baru akan beralih ke agenda berikutnya, tapi jadwal Anda masih ada di sistem. Silakan langsung menuju lift."
Isabela membeku. Ia mengerjapkan mata tidak percaya.
"Benarkah? Saya… saya pikir saya sudah kehilangan kesempatan ini."
Resepsionis itu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia justru keluar dari mejanya dan secara pribadi mengantar Isabela menuju lift khusus berlapis krom mengkilap.
"Silakan, Nona Mareu. Langsung ke lantai 40. Anda sudah ditunggu."
— ✵ —
Lantai 40
Lift berhenti dengan denting halus. Isabela melangkah keluar dan diarahkan menuju sebuah ruangan kedap suara yang sangat elegan. Sebelum memutar knop pintu, ia berhenti sejenak—merapikan bajunya yang sedikit kusut, menarik napas panjang untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup terlalu cepat.
"Tenang, Bela… tarik napas. Pasti bisa."
Ia melangkah masuk.
Di dalam ruangan itu, tiga penguji duduk dengan wajah formal di balik meja panjang. Begitu Isabela masuk, mereka saling lirik—menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10.10. Dalam pikiran mereka, nama gadis ini seharusnya sudah dicoret sejak lama. Namun instruksi dari lantai paling atas sangat mutlak, dan tidak ada yang cukup berani untuk mempertanyakannya.
"Nona Isabela Mareu, silakan duduk," ujar penguji pria di tengah.
Sesi wawancara dimulai. Isabela menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan cara yang khas untuknya—langsung, jujur, dan sama sekali tidak berusaha terlihat lebih dari apa adanya.
"Saya sangat loyal pada pekerjaan saya, Tuan. Dan… jujur saja, standar gaji yang ditawarkan di sini adalah motivasi terbesar saya."
Ia tersenyum lebar—tulus, dengan mata yang sedikit berbinar.
Setelah beberapa menit, penguji utama menutup map.
"Wawancaranya selesai, Nona Mareu. Besok atau malam ini kami akan memberikan kabar mengenai hasil seleksi Anda."
"Baik, terima kasih."
Isabela beranjak dari kursinya dan keluar.
Begitu pintu tertutup rapat, suasana formal itu langsung runtuh. Penguji wanita mengembuskan napas panjang, raut wajahnya jengkel.
"Siapa sebenarnya gadis itu? Bagaimana bisa Bos bersikeras menjadikannya sekretaris?"
Ia memijat pangkal hidungnya.
"Tim sekretariat kita sudah diisi jajaran lulusan terbaik dunia. Lalu untuk apa kita menambah satu kursi lagi—untuk seseorang yang bahkan tidak bisa datang tepat waktu?"
"Entahlah," sahut penguji pria, menggelengkan kepala. "Instruksi dari lantai atas sangat aneh kali ini. Dia terlambat satu jam lebih, tapi kita dilarang memulangkan dia. Benar-benar tidak masuk akal."
— ✵ —
Sementara itu, di lantai paling atas, Cane duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan yang terpaku pada layar monitor CCTV.
Penampilannya tidak seperti biasa. Jas mahalnya sudah teronggok di sofa. Dasinya ditarik paksa hingga melonggar—satu-satunya tanda bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu ketenangannya, meski wajahnya sama sekali tidak menunjukkan itu.
Ia sudah mematung lebih dari satu jam. Hanya untuk mengawasi pergerakan seorang gadis di layar yang terbagi-bagi dalam kotak-kotak kecil itu. Ada raut bingung yang terselip di balik sorot matanya—ia sendiri tampaknya tidak benar-benar mengerti mengapa ia rela membuang waktu untuk hal ini.
Cane meraih cerutu dari kotak kayu di atas meja, menyulutnya, menghisapnya dalam-dalam. Asap tipis mengepul, mengaburkan sebagian wajahnya yang mengeras kaku.
"Satu jam lebih." Gumamnya rendah, nada suaranya dipenuhi ejekan yang tidak ia sembunyikan. "Bahkan di hari pertama saja, gadis ini sudah berani terlambat."
Tangannya yang kokoh bergerak menekan tombol telepon internal.
"Hubungi dia sekarang. Katakan dia diterima dan mulai bekerja besok pagi. Jam tujuh tepat di mejanya."
Jeda singkat.
"Jika dia terlambat satu detik saja—bawa dia langsung ke ruanganku."
Ia memutus sambungan sepihak.
— ✵ —
Isabela akhirnya bisa bernapas lega saat bertemu Lena di sebuah restoran sederhana. Ia bercerita dengan nada santai—terlalu santai untuk seseorang yang baru saja selamat dari bencana.
"Kau tahu aku terlambat satu jam tadi. Untung saja orang-orang di sana sangat baik padaku. Mereka tetap mengizinkanku ikut wawancara."
Sendok Lena berhenti di udara. Matanya membelalak.
"Hah? Satu jam? Apa kau gila? Mengapa kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan terlambatmu itu? Dari kuliah sampai sekarang sama saja!"
Isabela hanya berkedip pelan, tetap tenang menghadapi omelan itu.
Lena mendengus, lalu menyipitkan mata.
"Sangat tidak masuk akal perusahaan seperti BRN masih mengizinkanmu wawancara setelah kau terlambat satu jam. Itu aneh. Sangat aneh."
"Entahlah. Mungkin karena mereka tahu aku gadis yang baik."
Lena hampir tidak tahan.
"Berhenti omong kos—"
Dretttt.
Getaran ponsel di atas meja memotong kalimat itu sebelum selesai. Layar menyala—nomor tak dikenal. Lena secara otomatis terdiam, matanya langsung terpaku pada ekspresi sahabatnya.
"Halo?"
"Selamat siang. Apakah ini Nona Isabela Mareu?"
"Iyah, benar saya."
"Kami menghubungi dari departemen rekrutmen BRN Corporation. Kami ingin menginformasikan bahwa Anda diterima untuk posisi sekretaris eksekutif. Anda dapat mulai bekerja besok pukul tujuh pagi. Harap datang tepat waktu."
Jeda singkat. Lalu suara itu menambahkan—sopan, tapi sangat jelas—
"Dan mohon jangan terlambat lagi."
Telepon terputus.
Sunyi.
Isabela masih memegang ponselnya di udara, seolah otaknya belum sempat mengejar arti kata-kata tadi. Di depannya, Lena mencondongkan tubuh perlahan.
"…Bela."
Tidak ada jawaban.
"Isabela."
Pelan-pelan Isabela menoleh.
"Ya?"
"Jangan bilang… kau diterima."
Isabela berkedip. Lalu menjawab dengan nada polos yang benar-benar tidak dibuat-buat—
"Sepertinya… iya, Lena."
Hening sepersekian detik.
"APA?!"
Ruangan itu tidak punya nama resmi di dalam sistem manapun.Tidak ada di denah gedung, tidak ada di dokumen perizinan, tidak ada di catatan apapun yang bisa ditemukan oleh orang yang tidak seharusnya menemukannya. Dindingnya beton bertulang, langit-langitnya rendah, dan satu-satunya ventilasi adalah sistem sirkulasi udara yang mendengung pelan di balik panel baja di dinding belakang. Meja di tengahnya panjang dan berat — kayu gelap tanpa ornamen, tanpa keanggunan yang tidak perlu. Kursi-kursi di sekelilingnya terisi.Delapan orang.Delapan kepala divisi yang masing-masing mengendalikan satu urat nadi dari tubuh organisasi ini — jalur laut, distribusi darat, keuangan, pengamanan, intelijen, operasi lapangan, kontrak sipil, dan satu kursi di ujung kiri yang ditempati oleh pria dengan rambut mulai memutih di pelipisnya yang tidak pernah menatap langsung ke ujung meja berlawanan.Karena di ujung meja berlawanan, Cane duduk.Satu tangan di atas meja, jarinya tidak bergerak. Tangan lainnya
Isabela membuka matanya pelan.Langit-langit putih. Tirai yang masih tertutup rapat dengan sedikit cahaya memaksa masuk dari celah tipis di tengahnya.Ia meraih ponselnya dari meja samping — refleks, bahkan sebelum benar-benar sadar sepenuhnya.Layar menyala.Tidak ada notifikasi.Ia mengerutkan dahi. Jempolnya bergerak — membuka pesan, menggulir ke atas, memastikan tidak ada yang terlewat. Tidak ada. Nama yang ia cari tidak ada di sana. Tidak ada pesan masuk, tidak ada tanda baca kecil yang menunjukkan seseorang sedang mengetik.Theo.Isabela meletakkan ponselnya kembali ke meja.Pelan — terlalu pelan untuk sekadar malas."Ck."Satu suara kecil untuk dirinya sendiri. Ia menatap langit-langit sebentar — lalu memutuskan tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang, dan bangkit.— ✵ —Kamar mandi itu bersih dan dingin dengan cara yang menyenangkan.Ia berdiri di bawah air hangat lebih lama dari yang diperlukan — bukan karena ada yang perlu dipikirkan, tapi kadang hangat itu sendiri sudah c
Lift itu berhenti di lantai yang benar.Cane melangkah keluar lebih dulu — Dante dua langkah di belakangnya, seperti biasa, seperti selalu. Koridor hotel itu sepi di jam seperti ini, lampu-lampu dinding menyala redup, karpet tebal yang meredam suara langkah sampai tidak ada.Di depan pintu suite, dua orang berdiri di posisi mereka — tegak, tidak bergerak, mata lurus ke depan. Mereka mengangguk saat Cane mendekat.Cane berhenti."Di mana dia?""Di dalam, Tuan.""Sudah makan malam?""Sudah dari tadi, Tuan."Cane tidak menjawab lagi. Mengambil kartu kunci dari saku dalamnya, membuka pintu, masuk.— ✵ —Suite itu tenang.Lampu ruang tengah masih menyala — redup, bukan terang penuh, seperti seseorang menyalakannya untuk berjaga-jaga lalu lupa mematikannya sebelum tidur. Di meja kecil dekat sofa ada gelas kosong dan bungkus sesuatu yang sudah dilipat rapi ke tepinya.Tidak ada suara dari mana pun.Cane melepas jasnya. Meletakkannya di sandaran kursi. Matanya bergerak ke arah pintu kamar Isa
"Tujuh puluh."Marco tertawa — pendek, genuine, seperti orang yang mendengar sesuatu yang menggelikan. "Cane. Kita bicara empat blok lepas pantai. Aku yang urus semuanya dari awal — perizinan, orang-orangnya, pemilik lamanya." Ia berhenti sebentar, memilih kata dengan hati-hati. "Semua proses itu ada harganya. Kau paham itu.""Aku paham." Cane mengangguk pelan. "Dan jaringan distribusinya milikku. Tanker-tankernya milikku. Dermaga transit-nya milikku." Ia memiringkan kepala sedikit. "Kau bisa jual minyak itu ke siapa tanpa semua itu, Marco?"Senyum Marco tidak hilang — tapi berubah. Sedikit. Seperti sesuatu di baliknya sedang menyesuaikan diri."Baiklah. Enam puluh empat puluh." Ia mencoba lagi. "Itu batas yang masuk akal.""Tujuh puluh.""Cane—""Tujuh puluh."Hening.Marco menatapnya — lama, dengan cara orang yang sedang menimbang. Dua pria di sampingnya tidak bergerak, tidak bersuara, tidak memberikan apapun untuk dibaca.Lalu Marco tersenyum lagi — kali ini berbeda. Lebih tipis. L
Pesan itu masuk diam-diam di antara percakapan yang sedang berlangsung.Cane membacanya sekali.Tidak dua kali.Ponsel itu ia letakkan kembali di atas lutut dengan gerakan yang terlalu tenang — tangan kanan rileks, jari-jari tidak menekan apa-apa, seperti pesan itu tidak lebih penting dari laporan cuaca.Di luar jendela, Madrid bergerak seperti kota yang tidak tahu ia sedang dilewati."Dante.""Ya, Tuan.""Apa yang dilakukan Bianca?""Hanya mengajak makan, Tuan." Dante menjawab dari kursi depan — nada datar, nada seseorang yang sudah lama belajar bahwa tugasnya adalah melaporkan, bukan mengomentari. "Mereka mengobrol sebentar. Nona Bianca pergi lebih dulu."Hening.Cane tidak menjawab langsung. Matanya masih di luar — menyapu gedung-gedung yang berganti, lampu-lampu yang mulai menyala di beberapa sudut kota seiring sore yang perlahan turun.Lalu ia mengambil ponselnya.Mengetik satu baris.Mengirim.Menyimpannya lagi.Mobil bergerak.— ✵ —Perjalanan memakan waktu tiga jam lebih.Kelu
Toko itu ramai dengan cara yang menyenangkan.Isabela berjalan di antara rak-rak dengan langkah yang tidak terburu-buru, satu tangan menenteng kantong belanjaan, satu tangan memegang ponsel di telinga."Elena, kau tidak akan percaya.""Apa? Cepat bilang.""Kau tahu, dia sepertinya sedang kerasukan." Isabela berhenti di depan etalase, menatap sesuatu sebentar sebelum melanjutkan. "Dia memberiku kartu hitam. Bilangnya hitung saja sebagai uang saku."Hening dua detik."Isabela.""Apa.""Kau di Madrid sekarang. Dengan kartu hitam. Dan kau meneleponku sambil jalan-jalan santai seperti ini?""Iya, memangnya kenapa?" Isabela mengangkat satu blus, memandangnya sebentar, lalu mengembalikannya. "Oh iya, aku sudah belikan oleh-oleh untukmu. Tadi aku lihat tas yang sangat cantik — tapi aku tidak jadi beli karena aku tidak tahu seleramu.""Bela! Beli saja apapun yang kau suka — seleramu dan seleraku sama, kau sudah kenal aku berapa tahun?""Benar juga." Isabela tertawa kecil. "Nanti aku lihat lagi







