Share

BAB 3

Author: RAJJA-M
last update publish date: 2026-05-28 17:03:43

Di tempat yang sangat berbeda, puncak menara BRN Corp, kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udara ber-AC yang dingin.

Cane berdiri membelakangi pintu, menatap kota yang terbentang di balik dinding kaca.

Pintu ganda terbuka tanpa suara. Mateo, sang Komisaris Besar Polisi Federal, melangkah masuk dengan langkah seseorang yang terbiasa memasuki ruangan orang lain seolah itu miliknya.

"Kau tahu, pemandangan dari sini selalu membuatku ingin menangkapmu, atau justru menyembahmu," suara Mateo berat, menggema di keheningan ruangan.

Cane tidak berbalik.

"Tergantung berapa harga borgolmu malam ini, Mateo."

Mateo terkekeh sinis. Ia berjalan mendekati meja kerja mahoni yang sangat luas, lalu dengan gerakan santai namun terukur, mengeluarkan sebuah flashdisk perak dari saku jasnya.

Tuk.

Benda kecil itu mendarat di atas meja, tepat di bawah sorot lampu yang temaram.

"Itu berkas penyelidikan dari departemen narkotika dan pencucian uang minggu ini," ujar Mateo sambil menyandarkan tubuh ke kursi kulit di depan meja. Ia melonggarkan dasinya. Lencana Federal di dadanya berkilau tertimpa cahaya. "Namamu ada di urutan pertama daftar target. Tapi jangan khawatir…"

Mateo menjeda, menyalakan cerutunya sendiri dengan korek api perak.

"Datanya sudah hangus bersama server mereka yang 'kebetulan' korsleting hebat semalam. Investigasi itu mati sebelum sempat melahirkan surat perintah tangkap."

Cane akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, namun matanya tajam seperti predator yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia menatap flashdisk itu sejenak, lalu menatap Mateo.

"Korsleting? Kau makin kurang kreatif dengan alasanmu, Komisaris."

"Kreativitas itu untuk seniman, Cane. Untuk kita? Yang penting efektivitas."

Mateo mengembuskan asap ke udara.

"Setengah jajaran menteri di Brasilia sedang berkeringat dingin menunggu kabarmu. Kau memegang dompet mereka, dan aku memegang leher mereka. Jadi katakan, siapa yang kau inginkan duduk di kursi presiden nanti?"

"Pastikan Marcus Matetau yang naik dari PNC."

Suara Cane keluar rendah dan final, hampir seperti vonis mati yang tidak memerlukan pengantar.

"Pastikan kandidat lain tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk bergerak."

Wajah Mateo sedikit mengeras.

"Masalahnya ada satu orang yang mustahil dibungkam: Dimitri dari PPR. Dia disokong penuh oleh Darius Barnard, kau tahu sendiri siapa dia, pemilik bank swasta terbesar di Brasil. Uang Darius tidak berseri. Dan Dimitri?"

Ia berhenti sejenak, seolah enggan melanjutkan.

"Sialnya, dia punya wajah 'orang suci' yang dipuja media. Rakyat mencintainya seperti juru selamat."

Mendengar nama itu, sudut bibir Cane bergerak, tipis, hampir tidak terlihat.

"Orang suci pun punya harga, Mateo. Dimitri? Dia hanya pencuri yang terlalu pintar bersembunyi."

Ia melangkah mendekati meja. Gelas wiskinya diletakkan di atas permukaan mahoni dengan bunyi denting yang tegas.

"Dia mengeruk dana infrastruktur saat masih memegang anggaran di Câmara. Uangnya mengalir ke perusahaan cangkang di Cayman. Cari angka yang cukup untuk membuat rakyat Brasil ingin membakarnya hidup-hidup."

Matanya bergerak ke arah Mateo, dingin, tidak berkedip.

"Katakanlah… 800 juta Real."

Mateo mengangkat alisnya, seperti mengagumi karya seni yang sangat kotor.

"Angka yang manis untuk sebuah skandal. Rakyat akan langsung menelannya."

"Atur teknisnya. Aku ingin kau menaikkan kasus ini ke permukaan besok pagi. Gunakan unit khususmu untuk penggeledahan 'mendadak' di kediamannya."

Mata Cane mengunci Mateo.

"Pastikan dia gagal bahkan sebelum surat suara dicetak."

Mateo tersenyum lebar, senyum yang tidak akan nyaman untuk diterima oleh siapa pun yang menjadi targetnya. Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu pergi tanpa basa-basi.

Setelah pintu tertutup, Cane berjalan tenang menuju dinding kaca. Sosoknya yang menjulang, 193 sentimeter dari kepala hingga ujung sepatu pantofel yang mengkilat, tampak angkuh di tengah kemewahan lantai 45, menatap panorama São Paulo yang terbentang luas di bawahnya. Rimba beton yang seolah berlutut di hadapan sang penguasa.

Ia memutar gelas wine merah di tangannya, membiarkan cairan gelap itu berputar perlahan. Jemarinya yang panjang bergerak ritmis, mengikuti putaran wine, sebuah kontras yang tajam dengan memori pelabuhan penuh darah setahun lalu.

Di tangan kiri, sebatang cerutu. Ia membawanya ke bibir, menghisapnya dalam, lalu mengembuskan asap pelan ke udara dingin.

Santino Cane Barrone. Nama itu bukan sekadar identitas, ia adalah peringatan, yang meluncur dalam bisikan penuh hormat dan ketakutan. Bukan karena ada yang memerintahkan. Bukan karena ada yang mengancam. Tapi karena semua orang, tanpa perlu diajarkan, tahu, nama itu layak untuk keduanya.

Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan ingatannya terseret pada gadis yang menari di lampu merah sore tadi. Rambut hitam panjang yang bergerak mengikuti pinggul. Wajah yang bersinar, pipi yang merona karena tawa yang tidak ditahan. Seperti sesuatu yang sama sekali tidak seharusnya ada di dunia yang sama dengan dirinya.

Cane membuka mata.

Ia menghisap cerutunya sekali lagi, kali ini lebih dalam. Asapnya diembuskan perlahan, berat, seolah ada sesuatu yang sedang ia pertimbangkan, sesuatu yang belum selesai ia putuskan.

"Gadis yang manis." Gumamnya pelan, nada suaranya mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar komentar. Sorot matanya bergeser, menuju titik di luar kaca, menembus kerlip kota yang tidak pernah tidur, seperti seseorang yang baru saja mulai menyusun rencana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Devil's Little Secretary   PENUTUP

    Halo, guys.Akhirnya sampai juga di bab terakhir, dan jujur aku masih agak nggak percaya. Novel ini resmi tamat.Soal bab bonus, aku putuskan nggak aku tulis ya. Komentar di bab bonus sebelumnya sedikit banget, kayaknya cuma satu orang doang yang mau wkwk, jadi aku tutup ceritanya di sini aja. Maaf kalau ada yang masih penasaran.Sekarang aku mau jujur sedikit. Karakter yang paling nggak aku suka di novel ini sebenarnya Isabela. Nggak tahu kenapa, ya nggak suka aja. Terus kenapa aku tulis? Aku nulis novel dari 2022, dan beberapa novelku sebelumnya nggak pernah tamat. Ini pertama kalinya aku bisa namatin satu novel, guys, wkwk. Dan yang lucu, hampir semua novelku karakternya sama kayak Bela. Tiap bikin novel baru, yang muncul lagi-lagi karakter kayak dia. Mungkin karena aku belum bisa menyelesaikan karakter ini, makanya dia terus terngiang-ngiang sampai aku kesal sendiri. Sekarang akhirnya dia selesai, dan rasanya lega banget.Sebenarnya di tengah jalan aku sempat mau nyerah, guys. Tapi

  • The Devil's Little Secretary   BAB 170

    Entah berapa lama waktu berlalu ketika Cane akhirnya menarik diri.Napas Isabela masih memburu, pipinya merah, rambutnya berantakan. Cane menurunkannya perlahan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu mengambil kemeja yang tergeletak di lantai dan mengenakannya tanpa mengancingkan sebagian besar. Ponselnya bergetar lagi di nakas. Ia hanya membaca layarnya sekali.“Cane?” Isabela menarik selimut sampai ke dada, suaranya serak. “Kau mau ke mana?”“Ada yang harus kuselesaikan.”Isabela menoleh ke arah kaca. Siluet putih itu masih berdiri di sana, kecil dan basah di tengah halaman yang gelap.“Dia belum pergi,” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Cane, dia masih di bawah. Dia kehujanan. Aku ikut.”Ia sudah menyingkap selimut ketika tangan besar menahan bahunya.“Tidak.”“Tapi...”“Isabela.” Suara Cane tidak keras, tetapi tidak ada ruang untuk membantah. Ia menunduk dan mencium keningnya, singkat dan dalam. “Tetap di sini.”Ia berdiri, mengambil cerutu dari kotak kayu di meja samping tempat tidur, l

  • The Devil's Little Secretary   BAB 169

    Pukul tujuh lewat dua puluh menit malam, Bianca berdiri di depan cermin panjang di kamarnya dengan gaun putih gading yang sudah menempel sempurna di tubuhnya.Bordir mutiara di dadanya memantulkan cahaya lampu kristal. Ekor gaun panjang itu terhampar di lantai marmer seperti sungai susu. Rambutnya digelung rapi, kerudung tipis tersemat di puncaknya, dan bibirnya dipoles merah gelap yang sengaja ia pilih. Ia sedang berkabung, tetapi malam ini semua orang akan melihat bahwa Bianca Barnard tidak pernah kalah.Ia menatap pantulan dirinya lama sekali. Bertahun-tahun ia menunggu malam ini. Bertahun-tahun ia menelan penghinaan, menahan lidah, dan tersenyum pada orang-orang yang tidak layak menerimanya, semua demi satu pemandangan: Cane berdiri di ujung lorong, dan seluruh negeri menyaksikan.Dua hari lalu, Dante meneleponnya dengan suara datar seperti biasa. Presiden meminta pernikahan digelar malam ini, tertutup, dan disiarkan ke seluruh negeri tepat pukul sembilan, persis seperti yang ia mi

  • The Devil's Little Secretary   BAB 168

    Lonceng Katedral Sé berdentang sepuluh kali, rendah dan panjang, dan gemanya menyebar sampai ke ujung Praça da Sé yang pagi itu tidak boleh dilewati siapa pun.Pagar besi sudah dipasang sejak subuh. Mobil-mobil hitam berjajar di kaki tangga batu, dan pria-pria bersetelan gelap berdiri di setiap pintu dengan kedua tangan terlipat di depan. Di sisi kiri tangga, kru Grupo Rocha Mídia memasang kamera di atas tripod. Mereka hanya menerima satu instruksi. Rekam semuanya, tayangkan nanti.Di ruang samping di balik altar, Isabela berdiri menghadap cermin tua berbingkai kayu. Gaun putihnya sederhana, hanya renda tipis di sepanjang lengan, dan kerudungnya jatuh lembut sampai ke punggung. Setiap kali ia menarik napas, kain itu bergerak pelan seperti riak di permukaan air.Di belakangnya, ibunya merapikan ujung kerudung dengan jari yang tidak mau berhenti gemetar. Neneknya duduk di kursi kayu dengan saputangan di genggaman, dan Elena bersandar di dinding dengan senyum yang ia tahan sejak tadi.“Ib

  • The Devil's Little Secretary   BAB 167

    Cane menunduk, dan bibirnya tidak langsung menyentuh. Ia berhenti selebar satu helaan napas dari bibir Isabela, cukup dekat untuk berbagi hangat yang sama, cukup jauh untuk memberinya waktu. Waktu yang tidak Isabela pakai. Ia hanya berdiri di sana dengan mata setengah terpejam dan kepalan yang masih menggenggam kemeja itu.Ciuman pertama datang pelan, hampir ragu, seperti pria yang tidak percaya bahwa ia benar-benar diizinkan. Bibirnya menekan sekali, menarik diri sedikit, lalu kembali dengan kesabaran yang membuat lutut Isabela melemas lebih dulu sebelum ia sempat menolak.Tangan Cane naik ke sisi wajahnya. Ibu jarinya menyapu tulang pipi yang masih basah, menghapus sisa air mata, lalu menyelip ke belakang kepalanya dan menahannya di sana tanpa menekan. Di balik jendela balkon, tirai menggembung lalu mengempis. Di bawah sana ombak pecah di karang dan menarik diri, berulang, sabar.“Isabela.”Hanya namanya. Diucapkan rendah di antara dua napas, dengan nada yang belum pernah ia dengar d

  • The Devil's Little Secretary   BAB 166

    Lisboa pagi hari berbau roti panggang dan air asin.Isabela terbangun pelan, kesadarannya datang sepotong-sepotong. Suara ombak dari bawah jendela. Tirai putih yang menggembung lalu mengempis ditiup angin laut. Cahaya pagi yang sudah cukup tinggi jatuh pucat di lantai kayu, merayap sampai ke kaki ranjang.Ia menggeliat malas, menarik selimut sampai ke dagu, dan hampir terlelap lagi ketika hidungnya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.Asap. Hangat, pekat, sedikit manis, dengan ujung getir yang terlalu ia kenal.Matanya terbuka.Di ambang pintu balkon, seorang pria berdiri membelakanginya. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Bahunya lebar dan tegak, satu tangan terselip di saku celana, sementara tangan lainnya menahan cerutu yang ujungnya menyala merah di antara dua jari. Di hadapannya Lisboa terhampar di bawah cahaya pagi, atap-atap jingga yang bertingkat sampai ke sungai, kubah putih gereja, dan laut kebiruan di kejauhan. Asap cerutu naik pelan, lalu terbawa angin k

  • The Devil's Little Secretary   BAB 6

    Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam

  • The Devil's Little Secretary   BAB 5

    Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny

  • The Devil's Little Secretary   BAB 4

    Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"

  • The Devil's Little Secretary   BAB 2

    Satu Tahun Kemudian — São PauloLangit tengah hari membentang terik di atas barisan gedung tinggi São Paulo, memantulkan cahaya putih menyilaukan pada kaca-kaca jendela yang seolah berpijar. Kota ini tidak membawa aroma laut seperti Rio—yang ada hanya wangi aspal panas, tajamnya kopi yang baru dise

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status