LOGINDi tempat yang sangat berbeda, puncak menara BRN Corp, kesunyian terasa seperti sesuatu yang sengaja diciptakan. Bukan sepi karena tidak ada orang, tapi sepi karena tidak ada yang berani bersuara lebih dari perlu. Aroma maskulin yang tajam, jejak parfum berat, dan asap cerutu mahal menyatu dalam udara ber-AC yang dingin.
Cane berdiri membelakangi pintu, menatap kota yang terbentang di balik dinding kaca.
Pintu ganda terbuka tanpa suara. Mateo, sang Komisaris Besar Polisi Federal, melangkah masuk dengan langkah seseorang yang terbiasa memasuki ruangan orang lain seolah itu miliknya.
"Kau tahu, pemandangan dari sini selalu membuatku ingin menangkapmu, atau justru menyembahmu," suara Mateo berat, menggema di keheningan ruangan.
Cane tidak berbalik.
"Tergantung berapa harga borgolmu malam ini, Mateo."
Mateo terkekeh sinis. Ia berjalan mendekati meja kerja mahoni yang sangat luas, lalu dengan gerakan santai namun terukur, mengeluarkan sebuah flashdisk perak dari saku jasnya.
Tuk.
Benda kecil itu mendarat di atas meja, tepat di bawah sorot lampu yang temaram.
"Itu berkas penyelidikan dari departemen narkotika dan pencucian uang minggu ini," ujar Mateo sambil menyandarkan tubuh ke kursi kulit di depan meja. Ia melonggarkan dasinya. Lencana Federal di dadanya berkilau tertimpa cahaya. "Namamu ada di urutan pertama daftar target. Tapi jangan khawatir…"
Mateo menjeda, menyalakan cerutunya sendiri dengan korek api perak.
"Datanya sudah hangus bersama server mereka yang 'kebetulan' korsleting hebat semalam. Investigasi itu mati sebelum sempat melahirkan surat perintah tangkap."
Cane akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, namun matanya tajam seperti predator yang tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia menatap flashdisk itu sejenak, lalu menatap Mateo.
"Korsleting? Kau makin kurang kreatif dengan alasanmu, Komisaris."
"Kreativitas itu untuk seniman, Cane. Untuk kita? Yang penting efektivitas."
Mateo mengembuskan asap ke udara.
"Setengah jajaran menteri di Brasilia sedang berkeringat dingin menunggu kabarmu. Kau memegang dompet mereka, dan aku memegang leher mereka. Jadi katakan, siapa yang kau inginkan duduk di kursi presiden nanti?"
"Pastikan Marcus Matetau yang naik dari PNC."
Suara Cane keluar rendah dan final, hampir seperti vonis mati yang tidak memerlukan pengantar.
"Pastikan kandidat lain tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk bergerak."
Wajah Mateo sedikit mengeras.
"Masalahnya ada satu orang yang mustahil dibungkam: Dimitri dari PPR. Dia disokong penuh oleh Darius Barnard, kau tahu sendiri siapa dia, pemilik bank swasta terbesar di Brasil. Uang Darius tidak berseri. Dan Dimitri?"
Ia berhenti sejenak, seolah enggan melanjutkan.
"Sialnya, dia punya wajah 'orang suci' yang dipuja media. Rakyat mencintainya seperti juru selamat."
Mendengar nama itu, sudut bibir Cane bergerak, tipis, hampir tidak terlihat.
"Orang suci pun punya harga, Mateo. Dimitri? Dia hanya pencuri yang terlalu pintar bersembunyi."
Ia melangkah mendekati meja. Gelas wiskinya diletakkan di atas permukaan mahoni dengan bunyi denting yang tegas.
"Dia mengeruk dana infrastruktur saat masih memegang anggaran di Câmara. Uangnya mengalir ke perusahaan cangkang di Cayman. Cari angka yang cukup untuk membuat rakyat Brasil ingin membakarnya hidup-hidup."
Matanya bergerak ke arah Mateo, dingin, tidak berkedip.
"Katakanlah… 800 juta Real."
Mateo mengangkat alisnya, seperti mengagumi karya seni yang sangat kotor.
"Angka yang manis untuk sebuah skandal. Rakyat akan langsung menelannya."
"Atur teknisnya. Aku ingin kau menaikkan kasus ini ke permukaan besok pagi. Gunakan unit khususmu untuk penggeledahan 'mendadak' di kediamannya."
Mata Cane mengunci Mateo.
"Pastikan dia gagal bahkan sebelum surat suara dicetak."
Mateo tersenyum lebar, senyum yang tidak akan nyaman untuk diterima oleh siapa pun yang menjadi targetnya. Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu pergi tanpa basa-basi.
Setelah pintu tertutup, Cane berjalan tenang menuju dinding kaca. Sosoknya yang menjulang, 193 sentimeter dari kepala hingga ujung sepatu pantofel yang mengkilat, tampak angkuh di tengah kemewahan lantai 45, menatap panorama São Paulo yang terbentang luas di bawahnya. Rimba beton yang seolah berlutut di hadapan sang penguasa.
Ia memutar gelas wine merah di tangannya, membiarkan cairan gelap itu berputar perlahan. Jemarinya yang panjang bergerak ritmis, mengikuti putaran wine, sebuah kontras yang tajam dengan memori pelabuhan penuh darah setahun lalu.
Di tangan kiri, sebatang cerutu. Ia membawanya ke bibir, menghisapnya dalam, lalu mengembuskan asap pelan ke udara dingin.
Santino Cane Barrone. Nama itu bukan sekadar identitas, ia adalah peringatan, yang meluncur dalam bisikan penuh hormat dan ketakutan. Bukan karena ada yang memerintahkan. Bukan karena ada yang mengancam. Tapi karena semua orang, tanpa perlu diajarkan, tahu, nama itu layak untuk keduanya.
Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan ingatannya terseret pada gadis yang menari di lampu merah sore tadi. Rambut hitam panjang yang bergerak mengikuti pinggul. Wajah yang bersinar, pipi yang merona karena tawa yang tidak ditahan. Seperti sesuatu yang sama sekali tidak seharusnya ada di dunia yang sama dengan dirinya.
Cane membuka mata.
Ia menghisap cerutunya sekali lagi, kali ini lebih dalam. Asapnya diembuskan perlahan, berat, seolah ada sesuatu yang sedang ia pertimbangkan, sesuatu yang belum selesai ia putuskan.
"Gadis yang manis." Gumamnya pelan, nada suaranya mengandung sesuatu yang lebih dari sekadar komentar. Sorot matanya bergeser, menuju titik di luar kaca, menembus kerlip kota yang tidak pernah tidur, seperti seseorang yang baru saja mulai menyusun rencana.
Rapat hari itu berlangsung lebih lama dari yang Cane perkirakan. Beberapa kepala divisi masih membahas soal alokasi anggaran kuartal ini sebelum akhirnya rapat itu selesai juga. Ketika akhirnya ia keluar dari ruang rapat, jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan waktu makan siang.Ia melangkah menyusuri lorong menuju ruangannya sendiri, dan seperti biasa, langkahnya berbelok dulu ke arah meja Isabela yang letaknya tidak jauh dari ruangannya. Sepanjang jalan, ia sudah menyiapkan satu dua kalimat jahil di kepalanya, sekadar untuk melihat wajah kesal gadis itu.Namun begitu sampai di sana, kursi itu kosong. Tidak ada tas, tidak ada tanda-tanda Isabela di sana.Cane berdiri sebentar di depan meja itu, menatapnya tanpa ekspresi berarti sebelum berbalik.Mungkin ia sedang makan di kantin lantai tiga, pikirnya, atau mungkin sudah keluar duluan. Ia tidak ambil pusing. Ia menuju lift pribadi, turun ke basement, lalu masuk ke mobilnya sendiri menuju restoran yang biasa ia datangi bersama
Pagi itu, jalanan sudah mulai ramai. Kendaraan berlalu-lalang di jalan utama, sementara beberapa orang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.Isabela sudah bersiap seperti biasa. Ia keluar dari rumah dan berjalan menuju depan gang untuk menunggu taksi sebelum berangkat kerja.Namun begitu sampai di depan gang, langkahnya terhenti. Theo berdiri di sana, bersandar santai di sisi mobilnya.Isabela mendekat, kening sedikit berkerut. "Theo, kau buat apa di sini?"Theo memutar tubuhnya menghadapnya, senyum hangat langsung muncul di wajahnya. "Bela. Aku ingin mengantarmu. Boleh?"Isabela tersenyum. "Tentu saja, tapi tumben sekali.""Ingin saja," jawab Theo ringan, membuka pintu mobil untuknya. "Ayo, masuk."Mobil melaju meninggalkan gang. Beberapa menit pertama hening, hanya suara mesin dan udara pagi yang samar dari celah pendingin udara. Isabela memandang keluar jendela, sesekali Theo meliriknya, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi urung."Maaf soal kemarin," akhirnya Theo membuka s
Kini, di dalam restoran, mereka bertiga duduk di satu meja. Kedua pria itu saling menatap, seolah jejak permusuhan terlihat jelas di mata mereka, sementara Isabela hanya bisa menatap keduanya dengan bingung, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.Tidak ada yang bicara. Hanya suara ombak samar dari luar jendela dan denting sendok garpu dari meja lain yang mengisi keheningan itu.Isabela membuka menu di tangannya, mencoba mencairkan suasana yang terasa aneh baginya, meski ia tidak tahu persis kenapa. Matanya berpindah dari satu halaman ke halaman lain, kening berkerut pelan. Semuanya terlihat enak. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.Sebelum ia sempat membuka mulut untuk bertanya, Cane sudah lebih dulu memanggil pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja mereka. Ia bahkan tidak melirik ke arah Theo yang duduk di seberangnya, seolah kursi itu kosong."Apa makanan unggulan di sini?" tanya Cane, nadanya datar, tanpa basa-basi."Ikan, Tuan," jawab pelayan itu sopan. "Restoran kami memang
Tawa Cane belum benar-benar reda ketika mobil berbelok memasuki gang sempit tempat rumah Isabela berada. Lampu jalan di sana lebih redup, berkedip-kedip malas, tapi cukup untuk memperlihatkan wajah Isabela yang masih merah padam."Sudah sampai," ujar Cane, menghentikan mobil tepat di depan gang. Ia melirik Isabela dari sudut mata, masih menyimpan senyum jahil di ujung bibirnya. "Atau kau masih mau membahas soal punyaku tadi? Kau mau mencobanya lagi? Aku siap kapanpun kau mau.""Diam!" Isabela buru-buru membuka sabuk pengaman, wajahnya semakin panas. "Aku turun sekarang juga.""Secepat itu?" Cane pura-pura kecewa, meski tangannya sudah bergerak mematikan mesin. "Padahal aku baru mau menawarkan diri mengantarmu sampai depan pintu.""Tidak perlu," jawab Isabela cepat, tangannya sudah memegang gagang pintu. "Aku bisa jalan sendiri, cuma beberapa meter."Cane bersandar ke jok, mengamatinya dengan tatapan geli. "Kau selalu buru-buru kalau sudah dekat rumah. Kenapa? Takut aku ikut masuk?"Is
Langit sore mulai berubah jingga ketika Cane duduk di balik meja kerjanya, membaca sisa siaran berita yang baru saja berakhir di layar tabletnya. Foto Heitor Vasconcelos memenuhi layar, berdiri tegap di atas podium dengan setelan jas gelap dan pita merah putih tersemat di dada, lambang Frente Nacional de Segurança dan deretan bendera berjajar di belakangnya.Jenderal Vasconcelos Resmi Diusung partai Frente Nacional de Segurança (FNDS) sebagai Calon Presiden!Cane menggeser layar ke bawah, membaca sekilas paragraf yang membahas acara pengukuhan yang digelar semalam di sebuah gedung konvensi besar di ibu kota, dihadiri ratusan simpatisan dan disiarkan langsung ke berbagai stasiun televisi nasional. Beberapa foto memperlihatkan deretan pejabat duduk di kursi kehormatan, wali kota, sejumlah anggota parlemen, bahkan beberapa nama pengusaha besar yang selama ini dikenal dekat dengan lingkaran militer. Semua tersenyum lebar ke arah kamera, seolah sudah sepakat siapa yang akan mereka dukung se
Pagi itu sinar matahari jatuh cerah di antara gedung-gedung tinggi pusat kota. Sebuah taksi berhenti tepat di depan gedung BRN Corporation. Isabela turun sambil membenarkan tali tasnya, lalu menatap sekilas gedung menjulang di hadapannya sebelum melangkah masuk.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya langsung menyapa."Pagi, Asisten Isabela.""Pagi, Bela."Isabela membalas semuanya dengan senyum kecil, bahkan sempat menyapa resepsionis yang duduk di meja depan. Tidak ada yang aneh pagi itu, sampai ia berhenti di area lift.Beberapa karyawan sudah berkumpul di sana, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi mengobrol pelan sambil menunggu pintu terbuka. Isabela ikut berdiri di antara mereka, sama sekali tidak memperhatikan apa pun selain perutnya yang sejak tadi terasa kosong.Tangannya masuk ke dalam tas, mengeluarkan sebuah roti."Untung masih ada satu," gumamnya sambil membuka bungkusnya perlahan.Namun baru saja roti itu mendekati mulutnya, sebuah tangan tiba-tiba menariknya
Hari PertamaAlarm itu berbunyi pukul 05.30. Isabela, dalam kondisi setengah sadar, meraihnya dengan gerakan yang sudah ia latih selama bertahun-tahun—tangan kanan menjulur ke kanan, telapak mendarat di layar, dan senyap. Ia kembali memejamkan mata. Alarm kedua berbunyi pukul 05.45, dan bernasib sa
Rolls-Royce hitam itu berhenti dengan tenang di depan pintu masuk The Obsidian.Pintu ganda berbalut beludru di ujung koridor terbuka lebar saat Cane melangkah masuk—bukan karena ia mendorongnya terlalu keras, melainkan karena ia melangkah seolah dunia memang seharusnya menyingkir untuknya.Di dalam
Di lantai paling atas gedung BRN Corporation, keheningan terasa berbeda. Lebih tebal. Lebih dingin. Seperti udara pun sudah belajar untuk tidak bersuara sembarangan di ruangan ini.Cane duduk bersandar di kursi kulit hitamnya yang besar—punggung tegak, satu kaki bertumpu santai di atas lutut lainny
Sinar matahari São Paulo tidak mengenal basa-basi. Ia masuk melalui celah gorden dengan cara yang agresif, menusuk tepat di kelopak mata Isabela yang masih terpejam. Ia melenguh pelan, meraba nakas dengan gerakan malas mencari ponselnya.Layar menyala.09.15.Jantungnya berhenti."Tuhan! Aku mati!"







