Share

bab 8

Author: Melisa Satya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-04 23:28:58

"Kalau begitu aset ini ngga boleh di kasih ke papa. Soalnya papa kadang lupa ngasih aku makan."

"Papa sangat sibuk, tapi untuk kak Jesika papa selalu punya waktu. Aku harus menjaga aset itu biar bisa makan."

Tatapan Alvian semakin dalam, jawaban Lily terlalu tepat sasaran untuk ukuran orang gila.

Alvian tidak mendebatnya, usapan lembut justru mendarat di kepala Lily, membuat gadis itu tersenyum senang.

"Papamu lupa memberimu makan, tapi kan ada Bi Inah. Bi Inah tidak mungkin lupa memberimu maka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 53 mengambil kembali semuanya

    Pintu lift eksekutif berdenting halus, lalu terbuka memperlihatkan koridor lantai paling atas Adhitama Tower yang terlapisi karpet tebal. Atmosfer di ruang ini terasa begitu mencekam, jauh berbeda dari kebisingan wartawan di lantai dasar tadi.Di ujung lorong, dua pintu kayu mahoni besar menuju Ruang Rapat Utama terbuka lebar. Di dalam sana, puluhan anggota dewan direksi, tim kuasa hukum, serta wajah-wajah tak asing sudah berkumpul.Alvian tidak melepaskan jemari Lily. Pria itu menggenggamnya makin erat, seolah menyalurkan seluruh kekuatannya. Lily melirik genggaman itu sekilas, lalu membuang pandangan ke depan, menegakkan bahunya dan memasang raut wajah dingin tanpa celah.Begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruangan, seluruh percakapan terhenti seketika. Puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua.Di ujung meja rapat oval yang panjang, Tuan Adhitama duduk di kursi pimpinan. Wajah wibawanya tampak mengeras, dengan sepasang mata tajam yang menatap putra tunggalnya dan L

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 52

    Lily terkekeh hampa, menyandarkan separuh tubuhnya pada daun pintu. Tatapannya meneliti wajah Alvian—mencari celah kebohongan di balik sorot mata pria yang tampak lelah namun teramat kaku itu."Ratu?" ulang Lily dengan nada mengejek yang dingin. "Jangan menggunakan istilah manis untuk menutupi kebutuhan strategimu, Alvian. Katakan saja yang sebenarnya: tanpa kehadiranku, postingan buku nikahmu cuma akan dianggap gertakan kosong oleh dewan direksi dan Tuan Adhitama."Alvian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Rasa bersalah semalam membakar dadanya, namun keteguhan sikap Lily hari ini membuktikan bahwa benteng pertahanan istrinya sudah terkunci dari dalam. Pria itu menahan diri untuk tidak memangkas jarak atau menyentuh jemari Lily yang terkepal di balik gaun tidurnya."Terserah bagaimana kamu menilai niatku, Lily," sahut Alvian dengan suara rendah yang ditahan mati-matian agar tetap stabil. "Tapi di Jakarta, Paman Bregas dan Aluna sudah menyiapkan dokumen pembatalan hak waris atas namam

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 51

    Mobil rental yang dipesan Lily membelah kegelapan malam pesisir, meninggalkan rumah kolonial yang baru beberapa jam lalu menyandang status sebagai rumah pengantin mereka. Di dalam kabin mobil yang hening, Lily menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Air mata yang sempat dia tahan di hadapan Alvian kini meluncur bebas, membasahi pipinya yang dingin.Setibanya di rumah lamanya, Bi Inah yang kaget melihat kepulangan Lily tanpa Alvian langsung menyambutnya dengan cemas. Namun Lily hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan."Loh Non, kok datangnya sendiri?""Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau tidur di kamarku sendiri malam ini," bisik Lily parau sebelum melangkah naik ke lantai dua."Non, baik-baik saja?"Lily mengangguk sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.Dia melempar tasnya sembarangan lalu merosot di balik pintu, Lily memeluk kedua lututnya. Ingatannya berputar keras pada ucapan Alvian beberapa bulan lalu di rumah Dokter Wira—kalimat yang terpatri jelas di ingatannya tentang 'pert

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 50 dilema cinta Alvian

    Alvian mengusap puncak kepala Lily dengan lembut, menikmati raut kebingungan yang bercampur haru di wajah istrinya."Alvian, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku tidak kekurangan apapun.""Aku tahu, rumah ini bentuk pertanggungjawabanku sebagai suamimu, meski dalam ikatan yang kita sebut sebagai kerja sama ini, aku tetap ingin memberikannya."Lily menatap lembaran sertifikat itu dengan dada yang berdesir. Mata indahnya berkaca-kaca, memandang Alvian yang kini tak hentinya menatap wajahnya."Ada apa?"Alvian menggeleng sendu."Tidak ada, ayo masuk."Lily patuh, dia mengikuti kemana Alvian pergi. "Mari, Nyonya, Tuan. Saya siapkan teh hangat dan camilan sore dulu," pamit seorang pelayan menatap hormat.Alvian mengangguk. Dan mereka langsung naik ke lantai dua.Alvian terus berada di sisinya seolah takut jauh dari Lily."Dalam ikatan yang kamu sebutkan sebagai sandiwara ini, apakah ada yang ingin kamu perjelas?" tanya Lily."Ya, aku ingin selama kontrak kita kamu menjadi dirimu sendiri."

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 49 pulang ke rumah

    Lily menatap Alvian dengan mata membelalak penuh kejutan. Seluruh ketenangan yang dia pertahankan sejak tadi runtuh seketika, berganti dengan kilat panik dan canggung yang membuat pipinya kian memerah hangat."A-apa? Kamu tadi panggil aku, apa?" bisik Lily terbata-bata, dia reflek melangkah mundur satu tapak.Alvian justru terkekeh pelan. Senyum jahil yang sudah sangat lama tak terlihat di wajahnya kini kembali terbit dengan begitu menawan. Pria itu memangkas jarak, meraih jemari Lily yang bergetar halus lalu menyatukannya dengan genggaman tangannya."Kenapa? Kita kan sudah resmi menikah," ujar Alvian dengan nada santai namun terdengar begitu manis di telinga. "Di depan umum, kita harus membiasakan diri. Paman Bregas dan Aluna punya mata-mata di mana-mana. Kalau kita masih bersikap kaku seperti rekan bisnis, mereka bisa curiga."Bi Inah yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa haru melihat kepolosan Lily dan kejahilan Alvian yang terasa begitu alami

  • TOPENG KEGILAAN SANG PUTRI MILIARDER   bab 48 Pernikahan kontrak

    Alvian menghela napas lega lalu berdiri mengibaskan celananya. Dia menarik kursi di hadapan Lily dan duduk kembali, memajukan tubuhnya ke meja kayu dengan sorot mata yang penuh keseriusan."Katakan, Lily. Apa pun syarat yang kamu inginkan, aku akan menyetujuinya," ujar Alvian tanpa ragu.Lily menopang dagunya, menatap Alvian dengan pandangan matang dan lugas."Pertama, pernikahan ini murni kesepakatan strategi," tegas Lily pasti. "Hanya ada surat perjanjian di atas kertas yang disahkan oleh Bima secara rahasia. Tidak ada pesta besar-besaran, tidak ada ekspos media yang berlebihan, dan tidak ada tuntutan hak kewajiban suami istri dalam kehidupan pribadi kita."Alvian diam sejenak, sorot matanya terlihat berbeda lalu mengangguk mantap. "Disetujui. Aku menghormati ruang pribadimu sepenuhnya.""Kedua," lanjut Lily, jarinya mengetuk permukaan meja pelan, "Setelah Paman Bregas dan Aluna hancur secara hukum di pengadilan, serta seluruh sisa hak milik ibuku bersih tanpa celah, kita harus lan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status