공유

6

작가: Re_
last update 게시일: 2026-01-14 18:51:18

Siang itu, Marquess Aiden menunggangi Grave, kuda berwarna kelabu gelap di sepanjang jalur batu yang membelah wilayah timur. Tembok kota sedang diperkuat, bunyi palu dan besi beradu memenuhi udara. Aiden berhenti sejenak, menilai susunan balok dan jarak celah panah dengan tatapan tajam.

“Perlebar pondasi setengah kaki. Tanah di sini lembek,” peritahnya singkat. Para mandor segera membungkuk patuh.

Ia hendak melanjutkan inspeksi ketika derap kuda lain mendekat cepat, Raymond turun dan memberi salam.

“Tuan,” ucap Raymond. “Utusan Dewan Kerajaan baru tiba.”

Aiden tidak menoleh,

”Katakan.”

Raymond menelan ludah.

“Tanggal pernikahan telah ditetapkan. Dua puluh hari dari sekarang.”

Untuk sesaat seolah angin berhenti. Tangan Aiden yang memegang kendali kuda menegang, kulit sarungnya berderit halus. Ia akhirmya menoleh dengan tatapan tajam.

“Dua puluh hari?”suaranya rendah, nyaris tanpa intonasi.

“Ya, Tuan. Dewan beralasan, demi stabilitas politik.”

Aiden tertawa singkat,

”Stabilitas,” katanya pelan dengan ekspresi muak.

“Dewan kerajaan tampaknya lupa siapa yang menjaga perbatasan, mereka bertindak seolah hidup manusia bisa diatur seperti jadwal jamuan.”

Ia memutar kudanya dengan tajam. Debu beterbangan. Pekerja terdiam, menahan nafas.

Raymond kembali mendekat ketika Aiden turun dari kudanya. Nigel segera menahan kendali, sementara Aiden melangkah ke sisi bangunan yang masih setengah jadi.

“Tuan, ada lagi yang Dewan Kerajaan sertakan.”

Aiden tak menjawab, ia berlutut, menyentuh bahu pondasi dengan ujung jarinya, menilai kelembaban tanah.

“Calon pengantin anda, Putri Baron-Shilla.”

“Aiden bangkit perlahan. “Aku tahu namanya,” katanya datar.

Raymond mengeluarkan gulungan kain tipis dari tabung kulit,

“Ini lukisannya, Tuan. Sesuai kebiasaan, Dewan meminta Anda-“

“Tidak perlu.”

Kata itu memotong Raymond sebelum menyelesaikan kalimatnya. Tangannya berhenti di udara.

“Tuan?” Raymon ragu.

“Aku tidak memilihnya.” Aiden menegaskan.

“Kabarnya, Lady shilla-“

“Cukup, Raymond.” Aiden berbalik. Tatapannya tajam, namun tenang. Jenis ketenangan yang membuat orang enggan membantah.

“Katakan padaku, apakah lukisan itu akan memperkuat tembok? menenangkan perbatasan? atau menghentikan Dewan yang bertindak semaunya?”

Raymond segera menunduk. “Tidak, Tuan.”

“Kalau begitu simpan.” Aiden melangkah menjauh.

”Aku tidak tertarik menatap seseorang yang dipilihkan seolah aku sedang memilih kuda untuk parade.”

Raymond menarik kembali lukisan itu, jarinya mengepal tanpa sadar. “Baik, Tuanku.”

Aiden berhenti sejenak.

“Catat juga ini,” katanya tanpa menoleh.

“Aku akan menjalani pernikahan itu jika perlu, tapi jangan harap aku menyambutnya dengan rasa ingin tahu.”

Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Raymond berdiri dengan lukisan yang tak pernah dibuka, sebuah wajah yang bahkan belum diberi kesempatan untuk dilihat.”

***

Raymond duduk lemas di ruang makan, menghela nafas panjang tak hanya sekali.

“Apa yang mengganggu fikiranmu, sobat. Kau tampak ... kacau.” Garry datang dari arah halaman. Melepas sarung tangan kulitnya, dan duduk di hadapannya.

“Kudengar, Tuan Aiden menolak lukisan calon pengantinnya.”

Lagi-lagi Raymond menghela nafas panjang.

“Menolak adalah kata yang halus.”

Garry melirik tabung di atas meja. “Seberapa buruk?”

“Beliau bahkan tidak mau menoleh,” jawab Raymond.

“Aku baru menyebut nama, dan itu sudah cukup.”

Garry melipat tangan di meja.

”Sejak tanggal pernikahan dimajukan, suasana berubah.”

“Berubah?” Raymond tertawa pendek, lelah.

“Beliau menahan diri, dan itu lebih berbahaya.”

Hening jatuh, dari kejauhan terdengar suara kesatria berlatih.

“Apakah Lady Shilla, benar selemah rumor?” tanya Garry akhirnya. Dia mendengar selentingan dari para pelayan yang bekerja.

Raymond menatap tabung itu,”Aku tidak tahu.”

“Bagaimana dengan Tuan?”

“Beliau bahkan tidak mau mendengarkan, sepertinya beliau sama sekali tidak perduli.”

“Dingin,” gumam Garry.

“Bukan,” bantah Raymond pelan.

“Justru karena tidak ingin kejam.”

Garry mengangkat alis. Rautnya penuh curiga,

“Jadi beliau memilih tidak melihatnya sama sekali. Dan emosinya?”

Raymond menghembuskan nafas, “Tinggi, tertekan. Beliau tampak tenang, tapi aku mengenalnya, itu bukan ketenangan. Itu badai yang dikurung.”

Garry mengangguk pelan, penjelasan itu justru menguatkan kesimpulan yang ia bangun sendiri. Tuan Aiden tidak menyukai wanita. Beliau benar membencinya.

Garry menatap tabung itu lagi. ”Apa yang akan kau lakukan dengan lukisan itu.”

Raymond ragu sejenak, lalu menurunkannya.

“Kusimpan, sejauh mungkin dari hadapannya.”

Garry tersenyum tipis. “Bijak.”

***

Ruang makan kesatria mulai ramai menjelang malam. Garry duduk di bangku panjang. Wajahnya terlihat serius.

Rowan menoleh sambil mematahkan rotinya,“Wajahmu terlihat sedang memikul beban negara.”

Garry menghela nafas berat, “Aku baru saja mencapai kesimpulan penting.”

Rowan mengangkat kepala, tertarik. “Kesimpulan penting biasanya berbahaya jika datang darimu. Coba katakan.”

“Tuan Aiden tidak menyukai wanita.”

Sendok Phillip terjatuh ke mangkuk,

“lagi? Bukankah karena itu kau mendapat hukuman jaga malam selama 2 bulan,” ucapnya heran. Garry sama sekali tak belajar dari pengalaman.

“Aku sudah menghubungkan semua petunjuk,” kata Garry mantap.

Rowan mengerutkan kening, “petunjuk apa?”

“Beliau menolak lukisan calon pengantin. Emosinya naik setiap kali pernikahan di sebut. Dan menurut Raymond-“ Garry berhenti sejenak. Menegaskan. “ itu badai yang dikurung.”

Phillip mengangguk pelan, “Badai memang biasanya merusak.”

“Lihat?” Garry menunjuk Phillip. “Phillip faham.”

“Kesimpulanmu tidak logis.” Nigel muncul tiba-tiba.

“Logis sekali,” bantah Garry. Beliau komandan. Hidupnya selalu tentang perang, dan wanita-“ Garry menggerakkan tangan.” Tidak masuk formasi.”

Phillip berfikir keras, ”tapi bukankah itu berarti beliau belum terbiasa, bukan membenci.

Gary menggeleng. “Tuan kadang berinteraksi dengan nona Rosaline,” katanya menatap Phillip, “Wajahnya juga seperti berbicara denagn tembok. Jangan merusak teoriku Phillip.”

”Kalau ucapanmu terdengar Tuan lagi, hukuman jaga malammu akan berlanjut.” ucap Nigel datar.

“Dasar pengadu,” Garry mencibir.

Phillip mengangkat tangan ragu-ragu, bagaimana jika Tuan hanya tidak ingin menikah dengan orang yang salah.”

Rowan tersenyum bijak, “Itu kesimpulan paling masuk akal saat ini.

Gary menghela nafas, “Kalian semua membuatku ragu.”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    14

    Ruang kerja Aiden tertutup rapat, peta terbentang di atas meja, lilin menyala terang. Empat kesatria berdiri berhadap-hadapan dengan Aiden, sementara Raymond berdiri sedikit di belakang , diam mengamati.Nigel melangkah maju lebih dulu.“Tuan, kami datang untuk membicarakan Eleanor,” kata Nigel mantap.“Katakan,” kata Aiden singkat.“Ravenford harus menyerang Eleanor.”Garry menunduk sebentar sebelum angkat suara,“Kita serang selagi mereka lengah, kesempatan ini tidak akan datang dua kali.”Aiden memandang peta , lalu mengangkat kepala,“Apa alasan sebenarnya kalian ingin perang?”Nigel menarik nafas,“Kami tahu Tuan telah banyak berkorban demi Ravenford.”“Jelaskan.”“Pernikahan Tuan,” lanjut Nigel.“Itu bukan keputusan yang lahir dari keinginan pribadi.”Aiden terdiam, tidak membantah.Rowan berkata pelan, “Menikahi putri Baron Eleanor, itu adalah bentuk kompromi politik yang memaksa.”Garry menambahkan lirih,”Dan Tuan, menahan ketidaksukaan pada putri Baron demi kestabilan wilay

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    13

    Aiden masuk. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Hazel duduk di dekat jendela dengan mantel yang membungkus tubuhnya. Di balut cahaya pagi, tampak kecil dan rapuh di kursi besar itu.“Kau seharusnya masih beristirahat,” katanya.“Tuan.” Hazel hendak bangkit memberi salam, namun tubuhnya terhuyung begitu dia berdiri. Aiden bergegas, tangannya hampir menyentuh bahu Hazel, namun dia menahannya. Gadis itu bertopang pada sandaran kursi dengan tangan gemetar.“Aku masuk karena pintunya terbuka,” katanya pelan. “Kau tidak perlu memberi salam. Aku tidak butuh itu,” ucapnya dingin.“Terimakasih atas kebijaksanaan Tuan. Tubuh ini sering tak menuruti keinginan saya,” jawab Hazel lemah.“Duduklah,”perintahnya,“Kemarin. Kau tampak lebih baik. Wajahmu bahkan memerah. Apa kau makan dengan benar, di mana pelayanmu?”“Astaga. Ternyata, Tuan sangat perhatian. Saya merasa tersanjung.” Hazel menyuguhkan senyum lembut.“Aku hanya-, Aku tak ingin rengekanmu terdengar sampai Eleanor,” sahut Aiden c

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    12

    Cahaya matahari pagi masuk lembut melalui tirai kamar, Hazel sudah terjaga lebih dulu. Udara Ravenford yang dingin membuatnya harus lebih banyak bergerak, usai berlari-lari kecil dia membuat gerakan ringan untuk menghangatkan diri.Namun ketika pintu kamar terbuka dan pelayan masuk membawa sarapan, Hazel telah berubah. Dia bersandar di samping tempat tidur, Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat disengaja, nafasnya bahkan dibuat lebih pelan dari biasanya.Ia batuk kecil, tertahan sopan.“My lady,” ujar pelayan itu cemas. ”Apakah Anda sudah merasa lebih baik?”Hazel tersenyum tipis, senyum yang rapuh.“Sedikit,” jawabnya lirih.”Tubuhku memang tidak pernah terlalu kuat. Apa kau melihat Lily?”“Kepala Pelayan Alistair sedang berbicara dengannya My lady, saya pelayan yang dipilih untuk melayani Anda di kastel ini.”Hazel menganguk lemah. Ia membiarkan pelayan membantu memakaikan mantel, berpura-pura berat berdiri terlalu lama. Setiap gerakannya diukur, tidak berlebihan tapi cukup mena

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    11

    “Sadar?” ulangnya singkat.“Ya, Tuan. Beliau meminta agar tidak memanggil tabib.”“Syukurlah kalau Marchiones sudah sadar, ini adalah kabar yang sangat baik,” seru Granduke Verral Oliver bersemangat,“Sebaiknya Marquess Aiden bergegas menemui beliau, bagaimanapun ini adalah hari pernikahan kalian. Marchiones pasti sangat membutuhkan Anda.”Setelah memberi salam sopan, Aiden meninggalkan Aula. Wajahnya tetap tenang, tapi sorot matanya berubah tajam dan waspada,“Sudah berapa lama.”“Baru saja,” jawab Raymond cepat.Aiden melangkah kembali menuju kamar berpintu cokelat tempat wanita itu tadi dibaringkan.“Tuan, Lady tidak berada di kamar.”Aiden menghentikan langkahnya, “Lalu?”“Beliau di dapur kastil.”Aiden menatap Raymond dengan alis menukik.“Sepertinya Lady ingin beristirahat di sana karena meminta pelayan dapur untuk keluar sejenak.”“Maksudmu dia kelaparan?”Raymond menutup mulut.Hah!Mendengus, Aiden memutar langkahnya menuju dapur.Saat dia masuk Hazel sudah setengah duduk,

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    10

    Pintu kamar di tutup, suara berat langkah Sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menjauh. Kamar itu benar-benar sunyi ketika kelopak mata wanita itu bergerak.“Dia sudah pergi?” Hazel membuka mata.“Nona ....” Lily yang duduk di samping tempat tidur tercekat nyaris berbisik. Tangannya menggenggam lap basah, wajahnya penuh kecemasan.“Syukurlah Nona sudah sadar, saya akan memanggil Tuan Marquess.’“Tidak,” potong Hazel lalu bangun dengan cepat, tatapannya jernih menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya beralih pada Lily.“Kalau begitu Tabib.”“Apalagi itu, hanya bikin repot.”Lily terbelalak, Hazel terlihat tenang untuk seseorang yang baru saja pingsan, ‘Nona berpura-pura pingsan?” tanyanya ragu, seolah itu sebuah kejahatan.“Menurutmu?” Hazel mengedipkan sebelah mata, “Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah jatuh?”Lily menelan ludah,menatapnya dengan campuran lega dan kesal, “Saya tahu Nona banyak akal, tapi bisakah Nona berbicara dulu sebelum melakukan sesuatu, saya

  • TOPENG SANG MARCHIONES (Pengantin Pengganti Yang Liar)    9

    Kembali ke saat ini, “Ya, saya menerima.” Hazel kembali menatap kedepan. Terdengar hembusan nafas pelan dari arah sampingnya, tarikan nafas yang lebih dalam dan teratur.Pendeta melanjutkan upacara, Dia mengulurkan bantalan beludru kecil. Di atasnya terletak dua cincin sederhana tanpa emas dan perak, hanya ukiran lambang keluarga di bagian dalam.Marquess Aiden mengambil cincin itu terlebih dahulu. Meski gerakannya di perlambat,dengan kesadaran penuh ia menoleh wanita di sisinya.“Ulurkan tanganmu,” ucap pendeta.Hazel melakukannya.Aiden menggenggam jemarinya. Dengan gerakan hati-hati dia menyelipkan cincin di jari manis pengantin wanitanya seakan jari itu akan hancur saat dia menyentuhnya. Dia bahkan berhenti bernafas.Cincin itu terpasang.Tiba-tiba Hazel limbung, tubuhnya terhuyung ke samping, wajahnya terlihat pucat saat kedua kelopak matanya terpejam. Jemarinya gemetar mencengkeram ujung jas pengantin Aiden. Dalam sekejap, Aiden sudah meraih tubuhnya, menahan sebelum ia benar-

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status