Share

BAB 18 TEH KEDUA

Author: Incik
last update publish date: 2026-10-06 20:38:56

Teh yang aku bikin keasinan. Aku salah ambil toples, kukira gula ternyata garam.

Rayhan yang minum pertama langsung batuk keras.

"Ya Allah, Ya, ini teh apa kuah sayur?" katanya, ketawanya nahan kesel.

Aku panik, langsung mau buang ke wastafel. Malu.

Ibu Rani nahan tangan ku kenceng. Cincin mainan di jari kanan ku tabrakan sama cincin kawin ku di kiri.

"Jangan dibuang!" katanya.

"Bu, gak enak, biar aku bikin lagi aja," aku maksa.

"Gak usah! Jangan buang-buang terus!" Suara Ibu Rani naik. Tiba-ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    bab 21 KEMBALI KE KANTOR

    Jam 7.30. Rayhan harus berangkat ke kantor pelabuhan.Seragamnya udah rapi, sepatu udah disemir semalem. Tapi dia gak langsung pergi. Dia masih di depan pintu, megang helm."Ya," dia manggil aku pelan, "kuncinya gimana?"Kunci yang semalem aku simpen di saku daster, pagi tadi aku kasih ke Ibu Rani, sekarang ada di atas meja makan. Ibu Rani taruh lagi setelah tas hitamnya lengkap.Ibu lagi di kamar, lagi nyusun baju yang tadi dibawain Anisa. Pintunya kebuka setengah.Aku ambil kunci itu, aku masukin lagi ke saku daster ku."Kamu berangkat aja, Han. Kunci sama aku. Nanti kalau Ibu mau keluar, izinnya ke aku. Kayak kesepakatan semalem."Rayhan angguk, tapi mukanya masih nahan."Aku takutnya Ibu nanya ke aku, 'Rayhan mana kuncinya?' Terus aku jawab gak tau, kesannya aku lepas tangan."Aku narik tangan Rayhan, aku ajak agak jauh dari pintu kamar Ibu."Han, denger. Tadi Anisa dateng, kamu grogi. Aku liat. Bukan karena kamu masih sayang, tapi karena kamu takut aku mikir kamu masih sayang."R

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    bab 20 PAGI SETELAH KUNCI DI SAKU

    Jam 5.30 pagi. Aku kebangun duluan.Kunci yang semalem aku masukin ke saku daster masih ada. Dingin.Di bawah, kamar Ibu Rani pintunya udah kebuka setengah. Lampunya mati, tapi tas hitamnya udah gak ada di samping kasur. Kosong lagi tempatnya.Jantung ku langsung deg."Han, Han bangun," aku bisik sambil narik selimut Rayhan. "Tas Ibu gak ada."Rayhan langsung duduk. Rambutnya masih berantakan. Dia ngeliat ke saku daster ku."Kunci masih ada?""Masih."Dia lega. "Berarti Ibu gak pergi lewat pintu. Coba cek dapur."Kami turun pelan-pelan.Di dapur, Ibu Rani lagi duduk. Sendirian. Di depan dia ada 2 gelas.Satu gelas gede, isinya teh manis masih ngebul. Satu gelas kecil, bekas dia minum teh asin semalem yang udah dicuci Rayhan.Tas hitamnya ada di atas meja. Udah gak kosong. Isinya dilipet rapi, tapi di atas lipetan ada kerudung coklat yang semalem aku masukin. Dia keluarin lagi."Ya," Ibu Rani manggil pelan. "Ini kerudungnya kebesaran. Rani pakai punya kamu aja ya yang kemarin?"Aku die

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 19 JAM 8 MALAM

    Kunci masih di tengah meja. Gak ada yang ambil.Teh asin yang aku bikin masih di situ, udah dingin.Rayhan yang duduk di depan ku dari tadi cuma ngeliatin gelas itu. Akhirnya dia ambil HP."Aku telpon travelnya ya, Ya? Biar gak jadi nunggu di gang. Kasihan bapaknya."Aku nahan tangannya. "Jangan dulu, Han."Ibu Rani yang di pojok dapur, megang tas hitam kosongnya, langsung noleh. "Kenapa jangan?""Soalnya kalau kita yang cancel, Ibu nanti ngerasa kita yang ngusir Ibu, terus Ibu yang maksa pergi. Padahal Ibu belum mutusin."Rayhan ngerti. Dia taruh lagi HP nya.Aku jalan ke Ibu Rani. "Bu, tas hitam ini dari siang kosong di atas kulkas. Rayhan liat itu jadi takut, makanya dia taruh kunci di tengah meja. Dia jagain pintu bukan karena mau ngurung Ibu, tapi karena dia takut Ibu pergi diam-diam."Ibu Rani peluk tasnya. "Rani juga takut di sini, Ya. Rumah ini bukan rumah Rani."Rayhan berdiri. "Bu, ini rumah Alya. Rumah Alya ya rumah Ibu juga. Kalau Ibu pergi, Alya gimana?"Aku ambil tas hit

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 18 TEH KEDUA

    Teh yang aku bikin keasinan. Aku salah ambil toples, kukira gula ternyata garam.Rayhan yang minum pertama langsung batuk keras."Ya Allah, Ya, ini teh apa kuah sayur?" katanya, ketawanya nahan kesel.Aku panik, langsung mau buang ke wastafel. Malu.Ibu Rani nahan tangan ku kenceng. Cincin mainan di jari kanan ku tabrakan sama cincin kawin ku di kiri."Jangan dibuang!" katanya."Bu, gak enak, biar aku bikin lagi aja," aku maksa."Gak usah! Jangan buang-buang terus!" Suara Ibu Rani naik. Tiba-tiba.Satu dapur diem. Bunda Ratna yang lagi lipet baju di ruang tengah langsung berhenti, noleh ke dapur.Ini pertama kalinya seharian ini Ibu Rani bentak.Rayhan naruh gelasnya agak keras ke meja. "Bu, kenapa jadi marah? Alya kan cuma gak mau Ibu minum yang gak enak."Ibu Rani berdiri. Mukanya merah. Tangannya gemetar megang tas hitam kosong yang dari siang di atas kulkas."Rani capek! Dari tadi pagi semua barang mau dibuang! Teh mau dibuang! Tas Rani mau dilipet terus ditaruh di atas kulkas bia

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 17 PINTU YANG GAK DITARIK LAGI

    Jam 15.00. Matahari sudah miring, masuk dari jendela dapur. Kena spon pink yang tadi sudah diperes Ibu Rani. Jadi kelihatan masih basah, mengkilap. Aku ngantuk. Kekenyangan. Cincin di jari ku sudah mulai ninggalin bekas di kulit karena kekencengan masanginnya tadi. Ibu Rani lihat aku nguap, langsung ngelus punggung ku. "Alya tidur siang dulu gih. Dari kemarin di Tanjung Priok belum tidur bener kan? Di kapal kan rame." Aku geleng. "Gak mau. Kalau aku tidur, nanti Ibu pulang." Suasana langsung diem lagi. Kayak jam 10.15 tadi, tapi beda. Kalau tadi diem karena sepi, sekarang diem karena semua gak mau Ibu Rani ngomong soal pulang. Bunda Ratna yang paling cepet nangkap. Bunda duduk lagi, kali ini di sebelah tas hitam di bawah meja. Bunda angkat tas itu, taruh di atas meja makan. Di depan kami semua. "Rani," kata Bunda, "tadi pagi tas ini ada di pangkuan kamu terus. Kayak orang nahan biar gak jatuh. Sekarang Kak Ratna taruh di sini. Kita buka bareng-bareng ya, biar gak ada yang di

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 16 MAKAN SIANG

    Jam 12.40. Rumah rame lagi.Aku masih meluk Ibu Rani, cincin kawin ku udah balik lagi di jari. Rayhan yang masangin, tangannya masih nahan tangan ku, takut lepas lagi.Gita taro map biru manifest di meja, napasnya lega, "Udah, tugas selesai. Manifest aman."Bunda Ratna masih peluk Ibu Rani dari samping. Matanya berkaca-kaca."Rani, maaf ya, Kak Ratna pulang kepagian tadi jam 10.00," bisik Bunda pelan, suaranya cuma kedengeran kami yang di meja makan. "Kak Ratna denger kamu bisik di dapur tadi. _'Kak, Rani titip Alya ya. Alya 2 hari ini cerita terus kangen sama Kak Ratna.'_"Ibu Rani kaget, "Kak Ratna denger?"Bunda ngangguk, "Denger. Makanya Kak Ratna tadi di mobil nangis. Kak Ratna kira Rani pergi karena gak betah sama Kak Ratna. Ternyata Rani pergi karena ngasih tempat buat Kak Ratna kangen-kangenan sama Alya."Ibu Rani nunduk, tas hitamnya masih di pangkuan, "Iya Kak. Rumah ini kan rumah Kak Ratna juga. Rani disini udah nemenin Alya. Alya udah cerita terus, 'Bunda bentar lagi pula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status