Mag-log in"Pelan, Bejo!" Baru saja membuka kaki, tubuh Mila menegang dan wajah pun sedikit memucat. Sepertinya Mila masih merasakan ketakutan. Bisa jadi sakitnya masih terasa. Tangan Mila sudah sedikit gemetar dan Bejo merasakannya. Satu gerakan Bejo lakukan. Satu hisapan Bejo berikan hingga membuat Mila mendesis menarik nafas. Mila membusungkan dada, sedikit menahan nafas saat mendapatkan serangan darinya. "Bejo kamu keterlaluan!" kata Mila dengan suara lemah mendesis dan terdengar menggoda. Mila kewalahan dengan apa yang ia lakukan dan Bejo semakin tidak memberikan celah untuk Mila. Bejo terus memancing meningkatkankan gairah di tubuh Mila hingga wanita itu semakin gelisah. "Eeuuughhhh...." Mila mengerang kala dua jari Bejo masuk ke dalam lubang senggama yang mulai terbuka, basah, dan lancar dimasukkan. Gerakan jari Bejo bergerak pelan keluar masuk menyentuh G-spot yang membuat tubuh Mila meremang. Bejo pun merinding sebadan-badan. Jarinya merasakan kelembutan dan daging-
"Mas hallo! Mas! Mas tunggu jangan dimatikan dulu!" Mila mendesak kasar kemudian menarik ponselnya kala tak lagi ada jawaban dari Saka. Pria itu mematikan dengan sepihak yang membuat Mila semakin kesal. "Aaagghhhhhhh!" Kedua alis Bejo menukik mendengar suara Mila yang terdengar berisik. Bejo ingin membuka mata tetapi rasanya berat sekali hingga membuat Bejo menikmati lelapnya lagi. BRUGH "Eugh!" Kedua mata Bejo terbelalak kala merasakan perutnya teras engap dan berat seperti tertimpa beras sekarung. Namun setelah diperhatikan, bukan beras yang jatuh ke atas tubuhnya melainkan Mila yang kini sudah duduk di atas perutnya. "Nyonya! Apa yang anda lakukan?" tanya Bejo dengan menatap bingung. Kedua tangan Bejo pun terbuka pasrah memperhatikan. "Pusing, Jo." Kedua alis Bejo terangkat mendengar itu kemudian berusaha untuk membenarkan posisinya agar lebih nyaman tanpa menurunkan tubuh Mila darinya. Gila! Mimpi apa coba? Bangun tidur langsung didudukin sama majikan c
"Puyeng pala gue. Nyoto dulu sama minum es jeruk." "Tumben loe! Biasanya otak loe paling gacor," sahut Edo setelah mendengar keluhan dari Bejo. Baru saja Bejo keluar dari kelasnya. Langkah agak oleng setelah memaksakan untuk tetap berpikir sedangkan raga meminta untuk istirahat setelah semalam lembur. "Bukan apa, ngantuk banget. Gue kurang tidur kayaknya." "Repot! Biasanya juga tidur tinggal tidur. Kita ke basecamp aja yok! Udah lama nggak ngegame. Sibuk banget loe!" sahut Didi dan Bejo menggelengkan kepalanya seraya melangkah menuju kantin. "Nggak bisa, abis makan gue lanjut gawe. Majikan gue nungguin. Loe aja berdua dah! Gue masih banyak tugas tambahan," tolak Bejo. Ingat! Ada yang minta lagi nanti malam. Bejo harus memulihkan staminanya lagi agar bisa lebih perkasa melebihi semalam. Mereka pun mengambil tempat duduk di salah satu meja yang kosong. Bejo melirik banyaknya gorengan dan mengambil salah satu di antaranya. Bejo makan saja seraya memesan soto. "Bu,
Damn! "Gue kata apa. Kerja si Juki bagus. Ketagihan 'kan dia." Bejo menyeringai kemudian membalas pesan masuk dari Mila. [Siap, Nyonya.] Singkat saja pesan itu dia layangkan. Setelah itu melanjutkan kegiatannya. Ada dua mata kuliah yang harus dia penuhi hari ini. Sementara sebelum mengirimkan pesan itu. Di toko, Mila tengah mengawasi para karyawan yang bekerja. Kegiatan itu setiap hari dilakukan untuk mengisi waktu setelah menjadi Nyonya besar di rumah Saka. Toko itu pun sebagai hadiah ulang tahun dari Saka yang kemudian Mila kembangkan hingga memiliki banyak cabang dalam waktu yang sangat singkat. Jangan tanya bagaimana keuntungan yang didapat setelah menjadi istri dari Saka. Bahkan Mila bisa membangunkan rumah besar untuk keluarga dan juga membukakan usaha untuk mereka. "Nyonya maaf, ada tamu yang ingin bertemu." "Oh oke, sebentar saya cuci tangan dulu." Mila menuju wastafel setelah dikabarkan ada yang menunggu. Mila lebih dulu mencuci tangannya kemudian
Bajo menurunkan Mila di toko kue. Kembali Bejo membuka pintu mobil Mila dan membantu wanita itu untuk turun. Desisan lirih terdengar dan dengan gerakan cepat Bejo meraih tubuh Mila hingga wanita itu tersentak. "Bejo apa yang ingin kamu lakukan? Lupa kamu kita sedang ada dimana? Jaga sikap dan batasanmu, Bejo!" sentak Mila lirih tetapi penuh penekanan. Kedua mata Mila pun tajam menatap Bejo geregetan. Bejo yang baru saja menyentuh bawah bokong dan juga punggung Mila pun segera melepaskan dan menarik diri setelah menyadari tengah berada di mana. "Maaf Nyonya, saya reflek tadi karena Nyonya kesakitan. Niatnya ingin bertanggung jawab apalagi itu semua karena saya tetapi lupa kalau kita hanya sopir dan majikan. Sekali lagi maaf, Nyonya!" Bejo mengangguk sopan. Bejo kelepasan karena memang kalau dipikir-pikir yang menyebabkan Mila sakit adalah si Juki. Jadi Bejo harus bertanggungjawab atas kelakuan si botak nakal itu. Setidaknya ada gerakan yang meringankan sakit Mila walaupun
Bejo beranjak dari atas tubuh Mila dan membiarkan sisa cairan kental miliknya terbuang begitu saja mengotori perut dan sprei wanita itu. Dia menyeringai melihat cairan yang dikeluarkan begitu banyak kemudian melirik Mila sedang mendesis dengan menatap tak suka akan benih yang Bejo sia-siakan terbuang. "Sudah ku katakan jangan dulu dilepaskan." "Besok bisa lagi, Nyonya. Tugasku akan benar-benar aku laksanakan, tapi sebelum Nyonya benar-benar disentuh oleh Tuan maka akan aku pastikan dulu kalau Nyonya sudah tidak lagi merasakan sakit." "Katakan saja kalau kamu ketagihan! Kamu sedang ingin mengulur waktu, Bejo!" Sahut Mila dan Bejo terkekeh mendengar itu. Bejo menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Mila. Sejak awal hanya Bejo yang bergerak sampai berhasil menjebol gawang. Setelahnya pun Bejo yang lebih aktif dari pada Mila. Jadi tidak heran kalau Bejo pun merasakan lelah saat ini. Bejo tersenyum mengingat apa yang ia lakukan tadi. Apalagi posisi Mila tanpa perlawanan. Wa
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.