로그인Bajo menurunkan Mila di toko kue. Kembali Bejo membuka pintu mobil Mila dan membantu wanita itu untuk turun. Desisan lirih terdengar dan dengan gerakan cepat Bejo meraih tubuh Mila hingga wanita itu tersentak. "Bejo apa yang ingin kamu lakukan? Lupa kamu kita sedang ada dimana? Jaga sikap dan batasanmu, Bejo!" sentak Mila lirih tetapi penuh penekanan. Kedua mata Mila pun tajam menatap Bejo geregetan. Bejo yang baru saja menyentuh bawah bokong dan juga punggung Mila pun segera melepaskan dan menarik diri setelah menyadari tengah berada di mana. "Maaf Nyonya, saya reflek tadi karena Nyonya kesakitan. Niatnya ingin bertanggung jawab apalagi itu semua karena saya tetapi lupa kalau kita hanya sopir dan majikan. Sekali lagi maaf, Nyonya!" Bejo mengangguk sopan. Bejo kelepasan karena memang kalau dipikir-pikir yang menyebabkan Mila sakit adalah si Juki. Jadi Bejo harus bertanggungjawab atas kelakuan si botak nakal itu. Setidaknya ada gerakan yang meringankan sakit Mila walaupun
Bejo beranjak dari atas tubuh Mila dan membiarkan sisa cairan kental miliknya terbuang begitu saja mengotori perut dan sprei wanita itu. Dia menyeringai melihat cairan yang dikeluarkan begitu banyak kemudian melirik Mila sedang mendesis dengan menatap tak suka akan benih yang Bejo sia-siakan terbuang. "Sudah ku katakan jangan dulu dilepaskan." "Besok bisa lagi, Nyonya. Tugasku akan benar-benar aku laksanakan, tapi sebelum Nyonya benar-benar disentuh oleh Tuan maka akan aku pastikan dulu kalau Nyonya sudah tidak lagi merasakan sakit." "Katakan saja kalau kamu ketagihan! Kamu sedang ingin mengulur waktu, Bejo!" Sahut Mila dan Bejo terkekeh mendengar itu. Bejo menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Mila. Sejak awal hanya Bejo yang bergerak sampai berhasil menjebol gawang. Setelahnya pun Bejo yang lebih aktif dari pada Mila. Jadi tidak heran kalau Bejo pun merasakan lelah saat ini. Bejo tersenyum mengingat apa yang ia lakukan tadi. Apalagi posisi Mila tanpa perlawanan. Wa
Kedua mata Mila basah. Bejo diam memperhatikan dengan terengah setelah usahanya dipastikan berhasil. Seluruh batangnya masuk dan kini masih terbenam di sana memberikan waktu untuk Mila beradaptasi. Bejo mengusap air mata Mila. Dia menunduk mengecup kedua mata wanita itu. Bejo tersenyum melihat Mila yang kini melihatnya. "Apa sakit sekali, Nyonya?" Mila pun mengangguk. Genangan air di mata wanita itu terus mengalir tak ingin berhenti. Bejo meringis melihat itu dan mencoba melirik ke bawah. "Loe berhasil, Juk," gumam Bejo dan kembali mendongak menatap wajah Mila yang kini memejam dengan menggigit bibir bawah. "Gas Juk! Pelan-pelan!" ujar Bejo dalam hati. Bejo menggerakkan pinggulnya. Pelan tapi pasti sampai Mila memegang dan ingin menutup kedua kaki tetapi dengan cepat kedua tangan Bejo menahan lutut Mila dan kembali membukanya agar dia bisa lebih leluasa. "Sakit Bejo!" Bejo sedikit menarik diri melihat tubuh Mila yang terlihat sangat seksi. Posisi yang pas tanpa bis
Kedua alis Mila menukik menatapnya. Bejo tau itu pasti karena ada yang mendesak masuk ke dalam lubang kenikmatan yang seharusnya sudah tak asing lagi menerima. Usapan satu jari Bejo begitu lembut bergerak. Terasa becek dan sesak tetapi Bejo yakin rasanya sangat kuat. Kedua tangan Mila mencengkram kuat lengan Bejo dan bibirnya digigit kuat hingga terasa perih di dalam sana. "Ah Bejo! Ini sakit." "Pejamkan matamu, Nyonya! Ini baru satu jari yang masuk. Jangan takut! Sakit itu akan berubah menjadi rasa nikmat, Nyonya!" bisik Bejo yang kemudian mencium leher Mila memberikan sengatan di sana yang membuat Mila kembali mendongak dengan nafas memburu. Bejo kembali mengeksekusi, terus dan tak mau melepaskan sekalipun Mila mengatakan kesakitan. Malam ini, miliknya harus bisa lolos masuk ke dalam milik Mila yang terasa hangat. "Mendesahlah jika kamu mulai merasa nyaman, Nyonya! Rapatkan kakimu di pinggulku!" Tangan Bejo memukul bokong Mila memberikan sengatan gairah yang menggetar
"Masuk, Jo!" Bejo menarik nafas dalam sebelum melangkah mendekati. Dia menelan kasar salivanya. Tatapan mata terus memperhatikan tubuh Mila yang sudah hampir bugil. Jantung Bejo berdebar kencang. Kedua tangan mendadak berkeringat tetapi mata menolak untuk lepas dari pandangan yang indah itu. Kaki jenjang Mila tak lagi polos. Heels yang Mila kenakan menambah nilai keseksian yang wanita itu punya. Kedua bokong yang penuh begitu sangat menggemaskan. Dari belakang saja sudah terlihat sangat seksi. Sudah pasti dari depan tidak akan mengecewakan hati. Namun apa haknya untuk meminta kesempurnaan. Bukankah tidak ada kerugian sama sekali yang Bejo dapatkan dari kerja sama gila ini? "Nyonya tidak jadi mengenakan lingerie?" tanya Bejo berusaha untuk tetap santai menguasai dirinya. Langkah Bejo perlahan membawanya mendekati Mila yang masih diam menatap luar jendela. Bahkan Mila sama sekali belum melihat ke arahnya. Mila membiarkan gorden itu terbuka hingga otak Bejo semakin li
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu akan sangat ditunggu-tunggu oleh Bejo. Namun di luar ekspektasi kalau dia akan melakukannya dengan wanita berkelas yang ternyata istri orang. Woooowwww tentu saja itu di luar nalarnya. Bejo tak memiliki jiwa pembinor tapi dituntut untuk mengeksekusi milik orang lain. "Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak!" Bejo bersenandung lirih seraya membersihkan bulu-bulu di bawah sana. "Juki, loe mau gue pake. Harus kuat, gagah dan perkasa! Kita jebol gawang yang katanya susah itu. Nggak ada kata gagal Juki walaupun loe belum pernah gue pake!" Selama ini jangankan memecah dara perawan, memanjakan dengan senam lima jari saja Bejo sangat jarang melakukannya. Bukan tidak ingin apalagi tidak s
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







