Mag-log inMereka menuju hotel yang pernah mereka singgahi tempo hari. Mereka saling memandang, kadang ingin bicara tetapi seolah ditahan. Sampai Bejo terkekeh melihat bagaimana sikap Mila padanya. Bejo mencoba fokus, tapi sepertinya wanita yang ada di sampingnya mulai ngelantur. Eh kok ada tangan yang singgah tepat di pangkal paha. Bejo melirik ke arah si Juki. Dia tersenyum melihat itu kemudian menoleh singkat memandang Mila yang tidak sama sekali melihatnya tetapi tangan mulai tak bisa diam. "Ini tangan kayaknya udah nggak sabaran. Si Juki langsung keliyengan minta keluar. Baru juga nempel, udah gendut dia. Udah lama nggak terjamah soalnya." "Emang iya? Udah lama beneran?" tanya Mila hingga menoleh dengan kedua alis terangkat padanya. "Ya iyalah! Di hotel main juga kagak." "Ya ampun kayaknya kamu dendam banget sama aku. Padahal kalau diingat-ingat sih kita ada kok main." Mila memberikan sentuhan lembut yang membuatnya mulai gelisah. Bejo sedikit mengubah posisi duduk dan b
Mila masih bersandar di pundaknya. Tangannya pun sesekali mengusap pipi Mila dengan memperhatikan wajah wanita itu dengan lekat. Kasihan, tapi kagum sama cantiknya yang makin nyantik banget. Apalagi saat hidung mancung itu terlihat merona. Pertanyaannya, kok ada manusia yang hampir sempurna ini malah disakitin? "Sebelumnya udah tau kalau Tuan sama Lira, hari ini tau juga kalau Tuan sama Bu Keysa. Terus apa Nyonya akan kembali melayani, Tuan? Dilihat-lihat kok semakin disakitin, malah semakin mencintai. Nyonya bucin sama laki-laki modelan begitu?" "Nggak gitu loh Jo!" "Ya terus gimana? Dilihatnya juga begitu. Berasa pengen saya kawinin sampai nggak bisa jalan tau nggak. Nggak paham sama pikiran Nyonya. Mana nggak mau cerita kagi," sahut Bejo dan Mila menoleh lalu memukul lengannya. "Jo kamu tuh! Aku lagi sedih loh." "Ya geregetan aja. Ada ya perempuan begitu, tapi kalau emang butuh sembuh ya saya siap sampai pagi." "Kamu lagi mencari kesempatan dalam kesempitan,
"Anda nggak tau apa-apa! Jadi anda pun jangan bicara seperti itu pada saya!" lawan Bu Keysa tak terima dengan apa yang Mila katakan. Bejo pun mendekati dan berdiri di antara keduanya. Kedatangan Bejo jelas membuat kedua wanita yang sedang bersitegang tersebut kemudian menoleh padanya tetapi hanya singkat saja. Setelah itu mereka kembali meneruskan keributan yang sudah terbangun sejak tadi. "Ya kalau gitu nggak usah minta saya untuk berbagi! Kamu yang harusnya mengerti dan bukan saya! Sekarang kamu pergi dari hadapan saya! Pergi sekarang juga! Tuntut sana Mas Saka kalau memang kamu tidak terima! Bukan saya yang harus kamu datangi, karena adanya kamu, bukan inginnya saya!" Mila segera pergi dari sana seraya mengangkat meja hendak membalikkan meja tersebut. Untungnya Bejo masih berdiri di sana. Dia menahan apa yang Mila lakukan dan memandang pergerakan majikannya yang tengah diselimuti oleh kemarahan. Bu Keysa menjatuhkan diri setelah melihat Mila pergi. Bejo menoleh memperhat
Bejo menatap heran mobil yang ada di parkiran toko roti milik Mila. Namun pikirannya, wajar saja kalau Bu Keysa mampir. Mungkin mau beli roti. Tidak expect kalau ternyata Bejo menemukan wanita itu tengah duduk bersama dengan Mila di salah satu meja. "Anjir! Perasaan gue nggak enak." Bagaimana tidak, jika dia tau semua masalah yang kedua wanita itu hadapi. Bejo tidak bertanya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia memperhatikan dengan sangat teliti tanpa menyapa kedua wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Mbak, saya minta maaf kalau kedatangan saya membuat anda menangis. Saya juga sakit hati. Jika Mas Saka bisa adil, saya tidak akan meminta apapun pada Mbak. Apalagi datang untuk membongkar rahasia ini." Mila menunduk dengan tubuh gemetar. Bukan hanya hancur ini namanya tetapi hatinya remuk, halus, seperti bubuk. Sungguh ini sakit yang tidak bisa dia utarakan lagi. Katanya cinta, katanya sayang, katanya cinta, kenapa malah begini kelakuannya? "Ya Tuhan... Kenapa begitu sa
"Aaagghhhh!" Caca berlari mendekati Lira yang terjatuh di lantai dengan sangat mengenaskan. Wanita itu dibanting oleh Bejo setelah mendengar alasan yang Lira berikan. "Kak..." Uhuks Uhuks "Dek usir dia, Dek!" "Nggak perlu kalian repot ngusir gue! Gue bakal angkat kaki dari sini." Bejo dengan lantang mengatakan itu kemudian mendekati dan berjongkok di hadapan Lira. Tangannya meraih ujung pakaian Lira dan menariknya hingga tubuh wanita itu terangkat. "Ampun, Jo!" "Setelah ini, kalau Lo masih berani nyakitin Mila dan membuat majikan gue berdarah-darah hatinya, gue injek badan Lo!" ancam Bejo kemudian melangkah pergi dari sana. Bejo meninggalkan kedua orang tersebut dan membanting pintu dengan kasar. Bejo segera melajukan mobilnya menuju toko roti. Emosi sekali Bejo hingga mengeratkan kedua tangan di setir mobil. Sementara Mila saat ini tengah berdiri dengan wajah bingung setelah mendapati kedatangan seorang wanita yang pernah dia lihat. "Kamu bukannya .
"Kamu tuh ya! Aku nggak suka sama cowok ini, Ca! Dia tuh dari awal udah nggak sopan sama aku! Lagian kamu tuh jangan buta, Ca! Yang beginian kamu bawa pulang!" Lira sangat sewot sekali tetapi Bejo justru menyeringai mendengar ocehan Lira yang saat ini terlihat sangat marah dan tak terima dengan apa yang dia katakan. Namun agaknya ini bisa menjadi ajang balas dendam. Dia bisa membuat mental Lira hancur setelah menghina Mila. "Terus kalau bukan goblog apa? Orang pintar nggak akan mau jadi yang kedua apalagi ke tiga. Cuma orang goblok sama cewek kegatelan yang nggak pake otak buat deketin laki-laki beristri!" ujar Bejo dengan sewot sekali. Namun dari cara bicara masih tetap tenang dan santai. Bahkan Bejo masih santai menikmati duduknya di sofa menonton wanita jalang yang menolak di panggil bodoh. "Kurang ajar kamu ya!" Lira beranjak hendak menyiram Bejo dengan air yang ada di meja tetapi Caca menghalangi hingga mengenai pakaian wanita itu. "Kak! Kak tuh kenapa sih? Basah
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t







