LOGIN"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya.
"Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah Saka kesempatan untuk menikah lagi. Malu saya tuh setiap kali ditanya oleh teman-teman arisan tentang kamu tapi nggak ada yang bisa saya banggakan dari kamu, Mila!" PLAAAAKKK Bejo mengusap pipinya sendiri setelah menyaksikan dengan mata kepala betapa ngamuknya wanita tua itu yang tiba-tiba menampar Nyonya Mila. "Oh jadi ini mertuanya Nyonya, pantes aja. Kasihan juga kalau begini. Bisa mental Nyonya kalau sampai terus-terusan dirong-rong sama mertua modelan ibu tiri." Bejo menyilangkan tangan di dada memperhatikan apa yang terjadi dengan Nyonya Mila dan juga mertua dari wanita itu. "Mah, Mila sudah berusaha tapi memang belum dikasih kepercayaan. Lagi pula satu tahun waktu yang belum terlalu lama, Mah. Masih banyak yang lebih dari itu tapi mereka sabar menunggu. Mila nggak diam aja kok, Mah." Kedua mata Nyonya Mila nampak memerah menyimpan kesedihan begitu pun dengan mertua galak itu. Kedua mata wanita tua itu pun terlihat memerah tapi karena penuh amarah. "Telan bulat-bulat sabarmu itu, Mila! Kata sabarmu tidak bisa menghilangkan rasa malu saya di depan teman-teman arisan saya. Lagi pula saya kok curiga memang yang bermasalah itu kamu! Kamu yang nggak bisa! Kamu yang sudah membuat Saka susah memberikan cucu untuk keluarga kami!" Bejo menelan kasar salivanya melihat wanita tua itu menunjuk-nunjuk wajah Nyonya Mila. Bejo diam di balik tangga, memperhatikan sikap wanita tua itu dengan kedua tangan terkepal kuat. "Nenek-nenek kalau ngomong nggak ada remnya. Ngegas aja udah kayak rem blong. Gue sumpahin tuh bibir kecengklak!" gumam Bejo yang makin lama semakin emosi melihat apa yang ada di depan matanya saat ini. "Gue kalau punya mertua kayak itu. Udah gue santet jadi bogel! Ngeselin banget punya mulut nggak bisa dijaga. Bukannya ngasih dukungan malah bikin orang tambah mental. Jadi nggak sabar pengen gue buntingin si Nyonya." Bejo mendengus kesal dan semakin memperhatikan percakapan kedua wanita di sana. Tatapan mata Bejo terus mengarah pada bibir wanita tua itu dan juga wajah Nyonya Mila yang terlihat berusaha untuk tetap tegar menghadapi ibu mertua kejam. "Ini sich demit aja kalah galaknya." Bejo menggelengkan kepala kala melihat wanita tua itu amat sangat gemas dan ingin kembali memberikan sebuah tamparan pada Mila tetapi ditahan oleh majikannya. "Nah! Gitu, Nyonya! Lawan! Udah bener begitu. Jangan mau dihajar terus!" Bejo meninju udara melihat apa yang Nyonya Mila lakukan saat ini. "Aku memang belum bisa hamil Mah, tapi aku tidak mandul! Akan aku buktikan dalam waktu dekat ini, aku bisa hamil. Satu lagi! Mamah nggak perlu pakai kekerasan begini! Tanpa tamparan dari Mamah, aku sudah sadar kalau sejak awal memang Mamah nggak suka sama aku." Mila melepaskan tangan Ibu mertua dengan sedikit menyentak hingga membuat kedua mata beliau terlihat semakin tak terima dan tubuh terhuyung ke belakang. "Kamu itu memang menantu kurang ajar ya! Udah nggak bisa nyenengin orang tua, berani kamu melawan saya! Kamu kampungan tau nggak! Salah memang sejak awal Saka memilih kamu menjadi istri. Kamu nggak tau sopan santun." Mila menyeringai mendengar apa yang wanita tua itu katakan. "Mau sehebat apapun, sebaik apapun yang dilakukan. Aku kan tetap buruk dimata seorang pembenci karena Mila seperti apa yang Mamah pikirkan. Mila akan tetap buruk karena Mamah tidak suka dengan Mila." "Iya, memang saya tidak suka. Makanya saya datang dan ingin memperingatkan kamu. Saya kasih waktu tiga bulan. Kalau sampai dalam waktu tiga bulan kamu belum juga bisa hamil, maka tinggalkan anak saya! Mengerti kamu!" "Saya terima tantangan dari Mamah," jawab Mila dan Bejo menepuk sekali tangannya mendengar itu. "Nah! Gitu, Nyonya! Ditantang? Ambil! Gue buntingin loe malam ini juga! Gedek banget liat Mak lampir begitu." Bejo ikut emosi jadinya. Tak lama wanita tua itu pun segera pergi dan dia segera mendekati Nyonya Mila. Bejo melirik keluar sampai dimana suara mobil sudah terdengar meninggalkan rumah ini. "Nyonya," panggil Bejo dan wanita itu mengangkat satu tangan membuatnya merapatkan bibir. "Oke, silahkan istirahat, Nyonya!" Mila pun segera pergi dan Bejo memperhatikan sampai dimana wanita itu berhenti di ujung tangga. "Bukankah kamu mau ke kampus, Bejo?" "Iya, Nyonya." "Saya akan bersiap-siap dan antar saya dulu ke toko." "Nyonya nggak istirahat dulu? Itu omongannya terlalu pedas, Nyonya. Saya tunggu sampai Nyonya sedikit tenang." "Saya sudah biasa." Kedua alis Bejo menukik mendengar jawaban dari Nyonya Mila yang kemudian meneruskan langkah menuju kamar. Bejo menggeleng kepala dan berbalik ke kamar. "Gila sich! Kuat juga mentalnya si Nyonya tapi gue rasa itu perempuan sampai kamar mewek. Akh! Terlalu sayang sebuah berlian disia-siakan. Kalau gue punya bini begini. Nggak bisa hamil juga tetap gue sayang. Kurang apa coba? Mau nyari yang sempurna? PO sama Tuhan sampai mati!" Bejo merapikan buku-buku dan memasukkan ke dalam tasnya. Memang sudah ada perjanjian kalau waktu bekerja akan menyesuaikan dengan jadwal ngampusnya. Kebetulan memang Bejo ngampus di siang hari. Jadi tidak mengganggu pekerjaannya menjadi sopir. "Bejo! Ayo buruan!" Deg Bejo terkejut kala mendengar suara Nyonya Mila yang tiba-tiba begitu dekat. Perasaan tadi baru aja naik ke kamar. Sontak Bejo menoleh dan melihat Nyonya Mila dengan penampilan yang anggun siap untuk berangkat. "Eh iya, Nyonya. Ayo! Tapi maaf Nyonya, itu roknya nggak ada yang lebih pendek lagi?" "Kenapa? Mata kamu sakit melihat ini? Suami saya saja bahkan menjual harga diri saya demi untuk bisa memuaskan dia nantinya. Jadi kamu nggak perlu repot!" jawab wanita itu kemudian melangkah menjauh. Bejo meringis mendengarnya. Dia berdecak kemudian menutup pintu kamar dan melangkah menuju mobilnya. Sepanjang jalan, Bejo memperhatikan tubuh majikannya. "Cakep, bohay, seksi, tapi stres sama penyakit dan tuntutan suami serta mertua. Kasihan amat dah ini perempuan," cibir Bejo. Bejo segera membukakan pintu belakang untuk wanita itu tetapi Nyonya Mila justru menunjuk pintu bagian depan. "Nyonya mau duduk di depan?" tanya Bejo dan Mila menganggukkan kepalanya. "Oh oke, tapi nggak apa-apa, Nyonya?" "Nggak masalah, bukankah kita memang harus belajar untuk lebih dekat?" tanya wanita itu balik kemudian melangkah mendekati Bejo yang kini membukakan pintu depan. Dari pandangan mata Bejo, terlihat jelas dia menemukan setumpuk kekecewaan di mata majikan wanitanya. Namun Bejo berusaha untuk tak menyinggung apapun. "Silahkan dipasang sabuk pengamannya, Nyonya!" kata Bejo kemudian menutup pintu dan bergegas menempati kursi kemudi. Bejo pun bersiap melajukan mobilnya tetapi tubuhnya mendadak kaku kala merasakan sentuhan tangan Nyonya Mila tepat di dadanya. "Ada apa, Nyonya?" tanya Bejo dengan jantung yang berdebar hebat. "Sial! Baru gini aja udah deg-degan jantung gue. Gimana kalau nyentuh nich cewek?" kata Bejo dalam hati dengan sedikit melirik Nyonya Mila. "Pengamanmu nggak dipakai, Bejo?" tanya Mila dengan suara yang setengah berbisik dan terdengar manja membuat kedua mata Bejo terpejam serta nafas menjadi terasa berat.Bajo menurunkan Mila di toko kue. Kembali Bejo membuka pintu mobil Mila dan membantu wanita itu untuk turun. Desisan lirih terdengar dan dengan gerakan cepat Bejo meraih tubuh Mila hingga wanita itu tersentak. "Bejo apa yang ingin kamu lakukan? Lupa kamu kita sedang ada dimana? Jaga sikap dan batasanmu, Bejo!" sentak Mila lirih tetapi penuh penekanan. Kedua mata Mila pun tajam menatap Bejo geregetan. Bejo yang baru saja menyentuh bawah bokong dan juga punggung Mila pun segera melepaskan dan menarik diri setelah menyadari tengah berada di mana. "Maaf Nyonya, saya reflek tadi karena Nyonya kesakitan. Niatnya ingin bertanggung jawab apalagi itu semua karena saya tetapi lupa kalau kita hanya sopir dan majikan. Sekali lagi maaf, Nyonya!" Bejo mengangguk sopan. Bejo kelepasan karena memang kalau dipikir-pikir yang menyebabkan Mila sakit adalah si Juki. Jadi Bejo harus bertanggungjawab atas kelakuan si botak nakal itu. Setidaknya ada gerakan yang meringankan sakit Mila walaupun
Bejo beranjak dari atas tubuh Mila dan membiarkan sisa cairan kental miliknya terbuang begitu saja mengotori perut dan sprei wanita itu. Dia menyeringai melihat cairan yang dikeluarkan begitu banyak kemudian melirik Mila sedang mendesis dengan menatap tak suka akan benih yang Bejo sia-siakan terbuang. "Sudah ku katakan jangan dulu dilepaskan." "Besok bisa lagi, Nyonya. Tugasku akan benar-benar aku laksanakan, tapi sebelum Nyonya benar-benar disentuh oleh Tuan maka akan aku pastikan dulu kalau Nyonya sudah tidak lagi merasakan sakit." "Katakan saja kalau kamu ketagihan! Kamu sedang ingin mengulur waktu, Bejo!" Sahut Mila dan Bejo terkekeh mendengar itu. Bejo menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Mila. Sejak awal hanya Bejo yang bergerak sampai berhasil menjebol gawang. Setelahnya pun Bejo yang lebih aktif dari pada Mila. Jadi tidak heran kalau Bejo pun merasakan lelah saat ini. Bejo tersenyum mengingat apa yang ia lakukan tadi. Apalagi posisi Mila tanpa perlawanan. Wa
Kedua mata Mila basah. Bejo diam memperhatikan dengan terengah setelah usahanya dipastikan berhasil. Seluruh batangnya masuk dan kini masih terbenam di sana memberikan waktu untuk Mila beradaptasi. Bejo mengusap air mata Mila. Dia menunduk mengecup kedua mata wanita itu. Bejo tersenyum melihat Mila yang kini melihatnya. "Apa sakit sekali, Nyonya?" Mila pun mengangguk. Genangan air di mata wanita itu terus mengalir tak ingin berhenti. Bejo meringis melihat itu dan mencoba melirik ke bawah. "Loe berhasil, Juk," gumam Bejo dan kembali mendongak menatap wajah Mila yang kini memejam dengan menggigit bibir bawah. "Gas Juk! Pelan-pelan!" ujar Bejo dalam hati. Bejo menggerakkan pinggulnya. Pelan tapi pasti sampai Mila memegang dan ingin menutup kedua kaki tetapi dengan cepat kedua tangan Bejo menahan lutut Mila dan kembali membukanya agar dia bisa lebih leluasa. "Sakit Bejo!" Bejo sedikit menarik diri melihat tubuh Mila yang terlihat sangat seksi. Posisi yang pas tanpa bis
Kedua alis Mila menukik menatapnya. Bejo tau itu pasti karena ada yang mendesak masuk ke dalam lubang kenikmatan yang seharusnya sudah tak asing lagi menerima. Usapan satu jari Bejo begitu lembut bergerak. Terasa becek dan sesak tetapi Bejo yakin rasanya sangat kuat. Kedua tangan Mila mencengkram kuat lengan Bejo dan bibirnya digigit kuat hingga terasa perih di dalam sana. "Ah Bejo! Ini sakit." "Pejamkan matamu, Nyonya! Ini baru satu jari yang masuk. Jangan takut! Sakit itu akan berubah menjadi rasa nikmat, Nyonya!" bisik Bejo yang kemudian mencium leher Mila memberikan sengatan di sana yang membuat Mila kembali mendongak dengan nafas memburu. Bejo kembali mengeksekusi, terus dan tak mau melepaskan sekalipun Mila mengatakan kesakitan. Malam ini, miliknya harus bisa lolos masuk ke dalam milik Mila yang terasa hangat. "Mendesahlah jika kamu mulai merasa nyaman, Nyonya! Rapatkan kakimu di pinggulku!" Tangan Bejo memukul bokong Mila memberikan sengatan gairah yang menggetar
"Masuk, Jo!" Bejo menarik nafas dalam sebelum melangkah mendekati. Dia menelan kasar salivanya. Tatapan mata terus memperhatikan tubuh Mila yang sudah hampir bugil. Jantung Bejo berdebar kencang. Kedua tangan mendadak berkeringat tetapi mata menolak untuk lepas dari pandangan yang indah itu. Kaki jenjang Mila tak lagi polos. Heels yang Mila kenakan menambah nilai keseksian yang wanita itu punya. Kedua bokong yang penuh begitu sangat menggemaskan. Dari belakang saja sudah terlihat sangat seksi. Sudah pasti dari depan tidak akan mengecewakan hati. Namun apa haknya untuk meminta kesempurnaan. Bukankah tidak ada kerugian sama sekali yang Bejo dapatkan dari kerja sama gila ini? "Nyonya tidak jadi mengenakan lingerie?" tanya Bejo berusaha untuk tetap santai menguasai dirinya. Langkah Bejo perlahan membawanya mendekati Mila yang masih diam menatap luar jendela. Bahkan Mila sama sekali belum melihat ke arahnya. Mila membiarkan gorden itu terbuka hingga otak Bejo semakin li
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu akan sangat ditunggu-tunggu oleh Bejo. Namun di luar ekspektasi kalau dia akan melakukannya dengan wanita berkelas yang ternyata istri orang. Woooowwww tentu saja itu di luar nalarnya. Bejo tak memiliki jiwa pembinor tapi dituntut untuk mengeksekusi milik orang lain. "Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak!" Bejo bersenandung lirih seraya membersihkan bulu-bulu di bawah sana. "Juki, loe mau gue pake. Harus kuat, gagah dan perkasa! Kita jebol gawang yang katanya susah itu. Nggak ada kata gagal Juki walaupun loe belum pernah gue pake!" Selama ini jangankan memecah dara perawan, memanjakan dengan senam lima jari saja Bejo sangat jarang melakukannya. Bukan tidak ingin apalagi tidak s
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







