Share

Bab 04. Mandul

Author: weni3
last update publish date: 2026-06-04 19:54:54

"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya.

"Apaan sich? Heboh banget!"

"Kalau begitu, seenggaknya kasihlah Saka kesempatan untuk menikah lagi. Malu saya tuh setiap kali ditanya oleh teman-teman arisan tentang kamu tapi nggak ada yang bisa saya banggakan dari kamu, Mila!"

PLAAAAKKK

Bejo mengusap pipinya sendiri setelah menyaksikan dengan mata kepala betapa ngamuknya wanita tua itu yang tiba-tiba menampar Nyonya Mila.

"Oh jadi ini mertuanya Nyonya, pantes aja. Kasihan juga kalau begini. Bisa mental Nyonya kalau sampai terus-terusan dirong-rong sama mertua modelan ibu tiri."

Bejo menyilangkan tangan di dada memperhatikan apa yang terjadi dengan Nyonya Mila dan juga mertua dari wanita itu.

"Mah, Mila sudah berusaha tapi memang belum dikasih kepercayaan. Lagi pula satu tahun waktu yang belum terlalu lama, Mah. Masih banyak yang lebih dari itu tapi mereka sabar menunggu. Mila nggak diam aja kok, Mah."

Kedua mata Nyonya Mila nampak memerah menyimpan kesedihan begitu pun dengan mertua galak itu. Kedua mata wanita tua itu pun terlihat memerah tapi karena penuh amarah.

"Telan bulat-bulat sabarmu itu, Mila! Kata sabarmu tidak bisa menghilangkan rasa malu saya di depan teman-teman arisan saya. Lagi pula saya kok curiga memang yang bermasalah itu kamu! Kamu yang nggak bisa! Kamu yang sudah membuat Saka susah memberikan cucu untuk keluarga kami!"

Bejo menelan kasar salivanya melihat wanita tua itu menunjuk-nunjuk wajah Nyonya Mila. Bejo diam di balik tangga, memperhatikan sikap wanita tua itu dengan kedua tangan terkepal kuat.

"Nenek-nenek kalau ngomong nggak ada remnya. Ngegas aja udah kayak rem blong. Gue sumpahin tuh bibir kecengklak!" gumam Bejo yang makin lama semakin emosi melihat apa yang ada di depan matanya saat ini.

"Gue kalau punya mertua kayak itu. Udah gue santet jadi bogel! Ngeselin banget punya mulut nggak bisa dijaga. Bukannya ngasih dukungan malah bikin orang tambah mental. Jadi nggak sabar pengen gue buntingin si Nyonya."

Bejo mendengus kesal dan semakin memperhatikan percakapan kedua wanita di sana. Tatapan mata Bejo terus mengarah pada bibir wanita tua itu dan juga wajah Nyonya Mila yang terlihat berusaha untuk tetap tegar menghadapi ibu mertua kejam.

"Ini sich demit aja kalah galaknya."

Bejo menggelengkan kepala kala melihat wanita tua itu amat sangat gemas dan ingin kembali memberikan sebuah tamparan pada Mila tetapi ditahan oleh majikannya.

"Nah! Gitu, Nyonya! Lawan! Udah bener begitu. Jangan mau dihajar terus!" Bejo meninju udara melihat apa yang Nyonya Mila lakukan saat ini.

"Aku memang belum bisa hamil Mah, tapi aku tidak mandul! Akan aku buktikan dalam waktu dekat ini, aku bisa hamil. Satu lagi! Mamah nggak perlu pakai kekerasan begini! Tanpa tamparan dari Mamah, aku sudah sadar kalau sejak awal memang Mamah nggak suka sama aku."

Mila melepaskan tangan Ibu mertua dengan sedikit menyentak hingga membuat kedua mata beliau terlihat semakin tak terima dan tubuh terhuyung ke belakang.

"Kamu itu memang menantu kurang ajar ya! Udah nggak bisa nyenengin orang tua, berani kamu melawan saya! Kamu kampungan tau nggak! Salah memang sejak awal Saka memilih kamu menjadi istri. Kamu nggak tau sopan santun."

Mila menyeringai mendengar apa yang wanita tua itu katakan. "Mau sehebat apapun, sebaik apapun yang dilakukan. Aku kan tetap buruk dimata seorang pembenci karena Mila seperti apa yang Mamah pikirkan. Mila akan tetap buruk karena Mamah tidak suka dengan Mila."

"Iya, memang saya tidak suka. Makanya saya datang dan ingin memperingatkan kamu. Saya kasih waktu tiga bulan. Kalau sampai dalam waktu tiga bulan kamu belum juga bisa hamil, maka tinggalkan anak saya! Mengerti kamu!"

"Saya terima tantangan dari Mamah," jawab Mila dan Bejo menepuk sekali tangannya mendengar itu.

"Nah! Gitu, Nyonya! Ditantang? Ambil! Gue buntingin loe malam ini juga! Gedek banget liat Mak lampir begitu."

Bejo ikut emosi jadinya. Tak lama wanita tua itu pun segera pergi dan dia segera mendekati Nyonya Mila. Bejo melirik keluar sampai dimana suara mobil sudah terdengar meninggalkan rumah ini.

"Nyonya," panggil Bejo dan wanita itu mengangkat satu tangan membuatnya merapatkan bibir.

"Oke, silahkan istirahat, Nyonya!"

Mila pun segera pergi dan Bejo memperhatikan sampai dimana wanita itu berhenti di ujung tangga.

"Bukankah kamu mau ke kampus, Bejo?"

"Iya, Nyonya."

"Saya akan bersiap-siap dan antar saya dulu ke toko."

"Nyonya nggak istirahat dulu? Itu omongannya terlalu pedas, Nyonya. Saya tunggu sampai Nyonya sedikit tenang."

"Saya sudah biasa."

Kedua alis Bejo menukik mendengar jawaban dari Nyonya Mila yang kemudian meneruskan langkah menuju kamar. Bejo menggeleng kepala dan berbalik ke kamar.

"Gila sich! Kuat juga mentalnya si Nyonya tapi gue rasa itu perempuan sampai kamar mewek. Akh! Terlalu sayang sebuah berlian disia-siakan. Kalau gue punya bini begini. Nggak bisa hamil juga tetap gue sayang. Kurang apa coba? Mau nyari yang sempurna? PO sama Tuhan sampai mati!"

Bejo merapikan buku-buku dan memasukkan ke dalam tasnya. Memang sudah ada perjanjian kalau waktu bekerja akan menyesuaikan dengan jadwal ngampusnya. Kebetulan memang Bejo ngampus di siang hari. Jadi tidak mengganggu pekerjaannya menjadi sopir.

"Bejo! Ayo buruan!"

Deg

Bejo terkejut kala mendengar suara Nyonya Mila yang tiba-tiba begitu dekat. Perasaan tadi baru aja naik ke kamar. Sontak Bejo menoleh dan melihat Nyonya Mila dengan penampilan yang anggun siap untuk berangkat.

"Eh iya, Nyonya. Ayo! Tapi maaf Nyonya, itu roknya nggak ada yang lebih pendek lagi?"

"Kenapa? Mata kamu sakit melihat ini? Suami saya saja bahkan menjual harga diri saya demi untuk bisa memuaskan dia nantinya. Jadi kamu nggak perlu repot!" jawab wanita itu kemudian melangkah menjauh.

Bejo meringis mendengarnya. Dia berdecak kemudian menutup pintu kamar dan melangkah menuju mobilnya. Sepanjang jalan, Bejo memperhatikan tubuh majikannya.

"Cakep, bohay, seksi, tapi stres sama penyakit dan tuntutan suami serta mertua. Kasihan amat dah ini perempuan," cibir Bejo.

Bejo segera membukakan pintu belakang untuk wanita itu tetapi Nyonya Mila justru menunjuk pintu bagian depan.

"Nyonya mau duduk di depan?" tanya Bejo dan Mila menganggukkan kepalanya.

"Oh oke, tapi nggak apa-apa, Nyonya?"

"Nggak masalah, bukankah kita memang harus belajar untuk lebih dekat?" tanya wanita itu balik kemudian melangkah mendekati Bejo yang kini membukakan pintu depan.

Dari pandangan mata Bejo, terlihat jelas dia menemukan setumpuk kekecewaan di mata majikan wanitanya. Namun Bejo berusaha untuk tak menyinggung apapun.

"Silahkan dipasang sabuk pengamannya, Nyonya!" kata Bejo kemudian menutup pintu dan bergegas menempati kursi kemudi.

Bejo pun bersiap melajukan mobilnya tetapi tubuhnya mendadak kaku kala merasakan sentuhan tangan Nyonya Mila tepat di dadanya.

"Ada apa, Nyonya?" tanya Bejo dengan jantung yang berdebar hebat.

"Sial! Baru gini aja udah deg-degan jantung gue. Gimana kalau nyentuh nich cewek?" kata Bejo dalam hati dengan sedikit melirik Nyonya Mila.

"Pengamanmu nggak dipakai, Bejo?" tanya Mila dengan suara yang setengah berbisik dan terdengar manja membuat kedua mata Bejo terpejam serta nafas menjadi terasa berat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ridwan Budi
bener kata bejo mertua kayak demet mlh lebih serem mertua nya nyonya nya
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
wah ..mertuanya jahat banget ,kamu akan nyesal nanti kalo mila Hamil dan Bejo lucu banget hihihi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 139. Suka Nakal

    "Ini kok nggak bisa dihubungin lagi sih! Hiiihhh sebel banget! Udah pasti ada sesuatu ini sama mereka khususnya sama Mila. Besok pagi aku akan ke sana. Aku akan tanyakan sendiri sama si Sri. Lihat saja kalau sampai dia nggak mau melanjutkan informasinya!""Kenapa sih, Mah? Kamu kok marah-marah begitu? Ada apa? Cepat keriput kamu kalau bawaannya emosi terus.""Papah kok doainnya begitu? Jangan bikin Mamah tambah sensi deh! Ini tuh emang lagi emosi banget. Bukan apa, Pah. Si Sri itu...""Sri siapa?""Bibi di rumahnya Saka. Tadi Mamah tuh telepon dia. Tanya-tanya sama dia soal Saka dan Mila, dia tuh udah mau cerita, udah ngomong kalau mereka nggak seromantis keliatannya. Mereka bermasalah, Pah. Cuma ya itu, giliran udah mau cerita, tau-tau nggak aktif nomornya. Hapenya mati, 'kan ngeselin banget, Pah. Pokoknya feeling mamah tuh kuat tentang Saka sama Mila. Nggak bisa dua orang itu tuh bertahan lama. Si mandul itu cuma nyusahin aja jadi perempuan. Nggak guna juga di keluarga kita.""Jang

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 138. Cepu

    "Iya Nyonya besar bagaimana? Maaf Nyonya, saya baru saja dari kamar mandi." "Lama kamu tuh! Nggak tau siapa yang menghubungi. Gimana anak saya dan mantu mandul saya itu? Apa yang kamu lihat dari mereka, Sri?" "Maaf Nyonya besar, saya nggak nyangka kalau akan mendapatkan telepon dari Nonya besar. Kalau untuk Nyonya dan Tuan Saka, saya lihat memang agak kurang harmonis, Nyonya. Hanya saja itu wajar dalam berumah tangga." "Kamu jangan menutupi apapun dari saya Sri! Kamu ngomong aja kalau emang mereka itu banyak masalah. Jangan kamu tutup-tutupi!" "Nggak ada, Nyonya besar." "Nggak ada gimana? Kamu bilang tadi ada masalah sekarang kamu bilang lagi nggak ada apa-apa. Kamu aja omongannya nggak bisa dipegang. Cerita, Sri! Jangan kamu tutupi! Saya bisa saja memulangkan kamu kalau kamu berani berbohong. Siapa yang mempekerjakan kamu di sana? Kamu pikir Mila? Saya, Sri! Ingat itu! Saya yang mengajukan kamu pada Saka!" "Iya, Nyonya besar. Maaf tapi memang sebelumnya jarang bertengkar hanya

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 137. Aku Mau di Kolam

    Bejo lebih dulu mandi dan membersihkan diri sebersih bersihnya karena Mila sesuka itu. Bahkan persiapan dia lakukan hampir satu jam di kamar mandi hingga semua jari terlihat keriput. "Nah kalau begini, mau dijilat, disedot, dihisap, dimut, gue pede."Bejo keluar dengan tubuh yang sangat segar. Masih dengan berbalut handuk sebatas pinggung. Bejo melangkah mendekati meja yang di depan sana ada kaca berukuran kecil untuknya melihat penampilannya sendiri.Minyak wangi disemprotkan keseluruh badan. Dia menyeringai kala wangi maskulin begitu sangat menggoda. Ini sudah kesekian kalinya tetapi untuk kegiatan ranjang tidak akan pernah membuatnya bosan. Hanya saja, sambil menunggu waktu. Bejo lebih dulu menyiapkan bahan untuk proposalnya. Sejenak dia bergelut dengan kata dan juga mengasah otak. Tanpa dia tau kalau Mila pun tengah mempersiapkan diri di kamar. "Kalau pakai yang ini gimana ya?" Mila melihat lingerie yang kini ada di tangannya. Semua stok lingerie baru sudah digunakan dan tidak

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 136. Curiga

    "Nyonya mikirnya kejauhan. Udah kayak jalan-jalan dari Jakut ke Jaksel. Kudu melewati kemacetan dan kesabaran yang ekstra. Ke sana terus mikirnya. Yang kesini aja nggak ada, Nyonya? Nggak mau jauh-jauh kalau Bejo, Nya. Maunya di ranjang Nyonya aja." "Jangan gombal! Saya serius tanya sama kamu. Ada rahasia apa kamu sama Caca?" "Nyonya pengen tau banget?" Sontak Mila merengut dengan melipat kedua tangan dan melengos enggan menatapya lagi. Mila diam dan Bejo terkekeh melihat itu. "Duuuh gemas banget bini orang! Coba bini sendiri. Udah gue ketekin sekarang juga. Sakingnya bini orang, jadi cuma bisa mandang." Dalam hati Bejo begitu berisik tetapi mau gimana memang adanya Mila begini sekarang. Sudah bebas mengungkapkan isi hati dan ketidak sukaannya sedangkan dia hanya kebagian gemasnya saja yang ditahan-tahan seperti tengah menahan kentut di depan Mila. "Jo kamu ngomong apa sih? Yang jelas kalau bicara!" "Katanya masih kesal kok negur?" "Oh jadi kamu nggak mau ditegur? Ok

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 135. Tanggal Hilang Perjaka

    "Aaaaaa..... Iya-iya ampun, Nyonya! Ampun!" Mila yang geregetan kemudian menarik telinga Bejo agar sadar tengah bicara dengan siapa. Bukannya minta maaf malah ngajak perang. Itulah yang Bejo lakukan hingga membuat Mila gemas sendiri jadinya. "Kamu tuh apa sih! Udah buat aku nunggu, sekarang malah mau ngajak aku gelud. Gimana konsepnya sih, Jo? Ih! Geregetan banget sama kamu tau nggak! Bikin aku uring-uringan aja!"Mila melepaskan telinga Bejo yang kini terlihat memerah. Kalau tidak begini mungkin wajah Mila yang memar karena tadi tangan Bejo sudah ancang-ancang ingin memukulnya. Maka dari itu Mila langsung main tangan juga. "Maaf Nyonya, maaf! Duh nggak tau kalau itu Nyonya. Kirain ada yang mau rampok saya tadi. Maklum baru bangun Nyonya. Kaget banget tadi.""Kamu ngapain tidur di sini? Saya tuh nyariin tau nggak! Saya pikir kamu belum datang. Bisa ngabarin 'kan? Kenapa malah buat saya nunggu? Hampir saja saya pulang naik taksi online tau nggak.""Iya maaf, Nyonya. Tadi tuh udah ng

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 134. Tai Kucing!

    "Lo serius?" tanya Bejo dengan kedua mata yang menunjukkan keterkejutannya. Caca menganggukkan kepala meyakinkannya kalau apa yang disampaikan benar adanya. Bejo pun mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Apa yang bisa membuat lo yakin?" "Aku yang capek mengurusnya. Kamu paham nggak sih, aku di titik lelah dan muak banget." "Tapi kemarin ada di sana, dia yang mau treatment 'kan?" tanya Bejo dan Caca menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi ya gitu deh! Nggak tau juga bisa sampai begitu tuh gimana. Pusing aku juga." "Terus gimana sama pacarnya yang satu?" tanya Bejo terus menggali informasi. Ajimumpung banget baginya yang memang sudah lelah semalaman mencari informasi dan siang ini malah dibuka selebar-lebarnya sampai Bejo rasanya ingin bersorak tetapi dia malah dibuat tercengang berulang kali. "Ya nggak tau dong, Jo. Kalau tau juga nggak mungkin banget. Kayaknya malah gantung soalnya udah nggak pernah lihat yang pertama ke rumah lagi." "Kira-kira lo tau siapa cowok perta

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 03. Sampai Klimaks

    "Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 02. Tepat Di Titik Sensitifnya

    "Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 01. Bercintalah Dengannya

    "Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 05. Warna Lingerie

    Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status