FAZER LOGIN"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara.
Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan. Dia butuh nutrisi untuk bisa menghadapi Nyonya di rumah ini. "Bejo kamu dipanggil Nyonya!" seru Bibi dan Bejo berdecak mendengar itu. Baru juga mau nyuap, sudah kembali mendapatkan panggilan dari Nyonya besar. Bejo terpaksa meninggalkan piringnya kemudian melangkah menuju ruang kerja milik Nyonya Mila. Ruangan itu sangat rapi, cantik, dan didominasi dengan warna pink. Cewek abis pokoknya. Yang Bejo tau, Nyonya Mila baru berusia tiga puluh tahun. Masih mudalah ya. Beda lima sampai enam tahun dengannya. Langkah Bejo terhenti di depan ruang kerja wanita itu kemudian mengetuk pintu sebelum masuk. Bejo menarik nafas dalam sebelum melangkah menemui Mila. "Masuk!" Tanpa menunggu lama, langkahnya membawa dia untuk bisa melihat Nyonya Mila yang tengah duduk di kursi kerja. Pandangan wanita itu begitu tajam memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Namun dari tatapan mata itu tersirat sebuah gurat frustasi yang Bejo temukan. "Duduk!" "Baik, Nyonya." "Malam ini kamu sudah siap?" Deg Ditembak pertanyaan seperti itu tentu saja jantung Bejo mendadak kaku. Sempat seperkian detik tidak berdetak hingga Bejo menyentuh dadanya. "Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nyonya Mila dan Bejo meringis mendengar itu. "Nyonya sudah yakin sama saya?" "Bukankah ini tugasmu? Dibayar berapa kamu sama suami saya sampai-sampai kamu menyanggupi tugas ini? Apa kamu sudah tau masalah yang saya alami selama ini?" cecar Nyonya Mila dan Bejo menjawab dengan anggukan. "Berapa?" "Banyak, Nyonya." "Oke, tantangan kamu dari saya pun harus bisa kamu lakukan." "Tantangan apa, Nyonya?" tanya Bejo bingung. Ada lagi ternyata tantangannya selain menjamah Nyonya Mila untuk menyembuhkan wanita itu. Bejo begitu sangat penasaran sekali tetapi dia cukup berhati-hati akan tantangan dari Nyonya Mila. "Mudah saja, saya akan menambah bayarannya sama besarnya dengan apa yang kamu dapatkan dari suami saya asal kamu bisa membuat saya hamil." Bejo tercengang mendengar itu. Kemarin tugasnya hanyalah menjamah agar Nyonya Mila bisa sembuh dan menerima sentuhan dari Tuan Saka. Sekarang, justru wanita itu memberikan tugas tambahan dengan syarat harus bisa sampai hamil. Namun mana mungkin menolak? Bejo menelan kasar salivanya seketika mengingat akan nominal yang ia dapatkan nanti. "Bagaimana? Kalau kamu bisa, saya akan memberikan sebesar apa yang kamu dapatkan dari suami saya. Bukankah itu sangat menguntungkan untukmu?" "Tapi Nyonya, Tuan meminta saya hanya untuk sekedar menyentuh Nyonya, membuat Nyonya terbiasa bercinta dan menerima milik Tuan. Bagaimana kalau sampai Tuan tau saya menghamili Nyonya? Bisa mati saja, Nyonya." "Saya tidak perduli. Itu tugas kamu memikirkan bagaimana caranya agar kamu tidak mati di tangannya. Saya hanya ingin membalasnya atas apa yang dia lakukan. Kamu tentu paham, rencana ini sangat gila." "Tapi bukankah ini akan membuat Tuan membenci Nyonya? Bagaimana jika Nyonya malah dicerai oleh Tuan jika beliau tau anak yang dikandung Nyonya bukan anaknya?" "Untuk yang itu bukan urusanmu! Tugasmu dari saya hanya satu. Hamili saya! Paham!" sahut Nyonya Mila yang ternyata rencananya lebih gila dari Tuan Saka. Itu artinya, mereka benar-benar bercinta dan bukan hanya sekedar masuk saja. Namun benar-benar sampai klimaks dan membuang benih ke dalam rahim wanita itu. Gila! Gila! "Tunggu! Nominal yang Tuan berikan sangat besar Nyonya. Apa Nyonya sanggup membayar saya dengan nominal yang sama?" tanya Bejo sedikit memberikan kesempatan pada wanita itu untuk bisa berpikir ulang. Siapa tau Nyonya Mila mau berubah pikiran. Sebenarnya enak-enak saja baginya tetapi resiko tentu sangat besar. Bisa jadi nyawa taruhannya jika Saka tak terima. Malas Bejo memikirkan cara selanjutnya untuk menghadapi Tuan Saka jika dia berhasil menghamilinya Nyonya Mila. "Berapa?" "Sepuluh miliar." Bejo memperhatikan mimik wajah wanita itu. Bejo sama sekali tidak melepas pandangannya dan ingin sekali melihat reaksi dari wanita itu setelah tau nominalnya. "Akan aku transfer setelah aku benar-benar dinyatakan positif hamil." Bejo menarik nafas dalam mendengar jawaban dari Nyonya Mila. Fiks! Sakit hati sekali sepertinya wanita ini pada suaminya hingga menyanggupi uang yang harus di berikan padanya. "Dua puluh miliar. Ugh... Duit gue sebanyak apa nanti? Auto gendut rekening gue," batin Bejo. "Kamu sanggup?" "Saya usahakan tetapi apa Nyonya benar-benar bisa diajak kerja sama? Saya ya begini adanya. Nyonya mau tidur sama saya?" Nyonya Mila kembali melihat penampilan Bejo. Wanita itu bersilang tangan di dada kemudian meminta Bejo untuk beranjak dari duduknya. "Berdiri!" Bejo pun segera berdiri gagah menghadap pada Mila yang detail memperhatikan sampai ke titik sensitif yang tentunya akan berperan penting nantinya. "Besar atau kecil?" "Wah jangan ragukan, Nyonya. Nanti Nyonya bisa lihat sendiri." Nyonya Mila menganggukkan kepala kemudian meminta Bejo untuk berputar. "Berbalik!" "Siap, Nyonya." Bejo pun berbalik dan entah apa yang diperhatikan oleh wanita itu saat dia sedang dalam posisi seperti ini. Bejo menunggu sampai wanita itu memintanya untuk kembali berputar. "Oke. Nanti malam tidur sama saya!" Bejo pun segera berbalik dengan kedua alis terangkat mendengar apa yang Nyonya Mila katakan. Entah hubungan apa yang akan terjalin diantara mereka. Kontrak sudah dia sepakati oleh kedua pihak dan waktunya Bejo untuk bersiap melaksanakan tugasnya. "Baik, Nyonya." "Oke, kamu bisa pergi sekarang dan jangan lupa! Jam satu kamu harus antar saya ke toko." "Siap, Nyonya. Saya ijin makan dulu." "Hhmm..." Bejo pun segera pergi dari sana. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Langkahnya kembali ke dapur dan mengangkat lagi piring yang berisikan makanan miliknya tadi. "Dua puluh miliar." Bejo menyeringai membayangkan uang itu kemudian makan dengan sangat lahap. Namun suara mobil yang datang membuatnya menoleh memperhatikan siapa yang berkunjung dari celah jendela. "Itu siapa?" Gumam Bejo seraya menghabiskan makannya. Dia melihat ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan sangat angkuhnya. Kedua alis Bejo menukik melihat itu dan dia meringis kala mendengar suara wanita tersebut menggelegar berisik sekali. "Mila! Mila! Keluar kamu, Mila! "Siapa sich, heboh banget!" gumam Bejo seraya mencuci tangan kemudian mendekati wanita paruh baya yang terlihat sinis sekali. "Maaf, anda mencari Nyonya Mila?" "Iya, dimana dia?" "Ada di atas. Sebentar saya panggilan dulu!" kata Bejo kemudian menaiki tangga menuju ruang kerja Mila. Namun sebelum Bejo masuk ke dalam ruang kerja Nyonya Mila, wanita cantik itu sudah keburu keluar. "Mau apa lagi kamu ke sini?" "Itu Nyonya ada..." "Oh ya, jangan lupa dicukur sampai bersih itunya. Saya nggak suka yang lebat," tunjuk Nyonya Mila ke bagian bawah hingga Bejo seketika menutupi pangkal pahanya."Pelan, Bejo!" Baru saja membuka kaki, tubuh Mila menegang dan wajah pun sedikit memucat. Sepertinya Mila masih merasakan ketakutan. Bisa jadi sakitnya masih terasa. Tangan Mila sudah sedikit gemetar dan Bejo merasakannya. Satu gerakan Bejo lakukan. Satu hisapan Bejo berikan hingga membuat Mila mendesis menarik nafas. Mila membusungkan dada, sedikit menahan nafas saat mendapatkan serangan darinya. "Bejo kamu keterlaluan!" kata Mila dengan suara lemah mendesis dan terdengar menggoda. Mila kewalahan dengan apa yang ia lakukan dan Bejo semakin tidak memberikan celah untuk Mila. Bejo terus memancing meningkatkankan gairah di tubuh Mila hingga wanita itu semakin gelisah. "Eeuuughhhh...." Mila mengerang kala dua jari Bejo masuk ke dalam lubang senggama yang mulai terbuka, basah, dan lancar dimasukkan. Gerakan jari Bejo bergerak pelan keluar masuk menyentuh G-spot yang membuat tubuh Mila meremang. Bejo pun merinding sebadan-badan. Jarinya merasakan kelembutan dan daging-
"Mas hallo! Mas! Mas tunggu jangan dimatikan dulu!" Mila mendesak kasar kemudian menarik ponselnya kala tak lagi ada jawaban dari Saka. Pria itu mematikan dengan sepihak yang membuat Mila semakin kesal. "Aaagghhhhhhh!" Kedua alis Bejo menukik mendengar suara Mila yang terdengar berisik. Bejo ingin membuka mata tetapi rasanya berat sekali hingga membuat Bejo menikmati lelapnya lagi. BRUGH "Eugh!" Kedua mata Bejo terbelalak kala merasakan perutnya teras engap dan berat seperti tertimpa beras sekarung. Namun setelah diperhatikan, bukan beras yang jatuh ke atas tubuhnya melainkan Mila yang kini sudah duduk di atas perutnya. "Nyonya! Apa yang anda lakukan?" tanya Bejo dengan menatap bingung. Kedua tangan Bejo pun terbuka pasrah memperhatikan. "Pusing, Jo." Kedua alis Bejo terangkat mendengar itu kemudian berusaha untuk membenarkan posisinya agar lebih nyaman tanpa menurunkan tubuh Mila darinya. Gila! Mimpi apa coba? Bangun tidur langsung didudukin sama majikan c
"Puyeng pala gue. Nyoto dulu sama minum es jeruk." "Tumben loe! Biasanya otak loe paling gacor," sahut Edo setelah mendengar keluhan dari Bejo. Baru saja Bejo keluar dari kelasnya. Langkah agak oleng setelah memaksakan untuk tetap berpikir sedangkan raga meminta untuk istirahat setelah semalam lembur. "Bukan apa, ngantuk banget. Gue kurang tidur kayaknya." "Repot! Biasanya juga tidur tinggal tidur. Kita ke basecamp aja yok! Udah lama nggak ngegame. Sibuk banget loe!" sahut Didi dan Bejo menggelengkan kepalanya seraya melangkah menuju kantin. "Nggak bisa, abis makan gue lanjut gawe. Majikan gue nungguin. Loe aja berdua dah! Gue masih banyak tugas tambahan," tolak Bejo. Ingat! Ada yang minta lagi nanti malam. Bejo harus memulihkan staminanya lagi agar bisa lebih perkasa melebihi semalam. Mereka pun mengambil tempat duduk di salah satu meja yang kosong. Bejo melirik banyaknya gorengan dan mengambil salah satu di antaranya. Bejo makan saja seraya memesan soto. "Bu,
Damn! "Gue kata apa. Kerja si Juki bagus. Ketagihan 'kan dia." Bejo menyeringai kemudian membalas pesan masuk dari Mila. [Siap, Nyonya.] Singkat saja pesan itu dia layangkan. Setelah itu melanjutkan kegiatannya. Ada dua mata kuliah yang harus dia penuhi hari ini. Sementara sebelum mengirimkan pesan itu. Di toko, Mila tengah mengawasi para karyawan yang bekerja. Kegiatan itu setiap hari dilakukan untuk mengisi waktu setelah menjadi Nyonya besar di rumah Saka. Toko itu pun sebagai hadiah ulang tahun dari Saka yang kemudian Mila kembangkan hingga memiliki banyak cabang dalam waktu yang sangat singkat. Jangan tanya bagaimana keuntungan yang didapat setelah menjadi istri dari Saka. Bahkan Mila bisa membangunkan rumah besar untuk keluarga dan juga membukakan usaha untuk mereka. "Nyonya maaf, ada tamu yang ingin bertemu." "Oh oke, sebentar saya cuci tangan dulu." Mila menuju wastafel setelah dikabarkan ada yang menunggu. Mila lebih dulu mencuci tangannya kemudian
Bajo menurunkan Mila di toko kue. Kembali Bejo membuka pintu mobil Mila dan membantu wanita itu untuk turun. Desisan lirih terdengar dan dengan gerakan cepat Bejo meraih tubuh Mila hingga wanita itu tersentak. "Bejo apa yang ingin kamu lakukan? Lupa kamu kita sedang ada dimana? Jaga sikap dan batasanmu, Bejo!" sentak Mila lirih tetapi penuh penekanan. Kedua mata Mila pun tajam menatap Bejo geregetan. Bejo yang baru saja menyentuh bawah bokong dan juga punggung Mila pun segera melepaskan dan menarik diri setelah menyadari tengah berada di mana. "Maaf Nyonya, saya reflek tadi karena Nyonya kesakitan. Niatnya ingin bertanggung jawab apalagi itu semua karena saya tetapi lupa kalau kita hanya sopir dan majikan. Sekali lagi maaf, Nyonya!" Bejo mengangguk sopan. Bejo kelepasan karena memang kalau dipikir-pikir yang menyebabkan Mila sakit adalah si Juki. Jadi Bejo harus bertanggungjawab atas kelakuan si botak nakal itu. Setidaknya ada gerakan yang meringankan sakit Mila walaupun
Bejo beranjak dari atas tubuh Mila dan membiarkan sisa cairan kental miliknya terbuang begitu saja mengotori perut dan sprei wanita itu. Dia menyeringai melihat cairan yang dikeluarkan begitu banyak kemudian melirik Mila sedang mendesis dengan menatap tak suka akan benih yang Bejo sia-siakan terbuang. "Sudah ku katakan jangan dulu dilepaskan." "Besok bisa lagi, Nyonya. Tugasku akan benar-benar aku laksanakan, tapi sebelum Nyonya benar-benar disentuh oleh Tuan maka akan aku pastikan dulu kalau Nyonya sudah tidak lagi merasakan sakit." "Katakan saja kalau kamu ketagihan! Kamu sedang ingin mengulur waktu, Bejo!" Sahut Mila dan Bejo terkekeh mendengar itu. Bejo menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Mila. Sejak awal hanya Bejo yang bergerak sampai berhasil menjebol gawang. Setelahnya pun Bejo yang lebih aktif dari pada Mila. Jadi tidak heran kalau Bejo pun merasakan lelah saat ini. Bejo tersenyum mengingat apa yang ia lakukan tadi. Apalagi posisi Mila tanpa perlawanan. Wa
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka