Share

Bab 03. Sampai Klimaks

Author: weni3
last update publish date: 2026-06-04 19:54:25

"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara.

Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan. Dia butuh nutrisi untuk bisa menghadapi Nyonya di rumah ini.

"Bejo kamu dipanggil Nyonya!" seru Bibi dan Bejo berdecak mendengar itu.

Baru juga mau nyuap, sudah kembali mendapatkan panggilan dari Nyonya besar. Bejo terpaksa meninggalkan piringnya kemudian melangkah menuju ruang kerja milik Nyonya Mila.

Ruangan itu sangat rapi, cantik, dan didominasi dengan warna pink. Cewek abis pokoknya. Yang Bejo tau, Nyonya Mila baru berusia tiga puluh tahun. Masih mudalah ya. Beda lima sampai enam tahun dengannya.

Langkah Bejo terhenti di depan ruang kerja wanita itu kemudian mengetuk pintu sebelum masuk. Bejo menarik nafas dalam sebelum melangkah menemui Mila.

"Masuk!"

Tanpa menunggu lama, langkahnya membawa dia untuk bisa melihat Nyonya Mila yang tengah duduk di kursi kerja. Pandangan wanita itu begitu tajam memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Namun dari tatapan mata itu tersirat sebuah gurat frustasi yang Bejo temukan.

"Duduk!"

"Baik, Nyonya."

"Malam ini kamu sudah siap?"

Deg

Ditembak pertanyaan seperti itu tentu saja jantung Bejo mendadak kaku. Sempat seperkian detik tidak berdetak hingga Bejo menyentuh dadanya.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nyonya Mila dan Bejo meringis mendengar itu.

"Nyonya sudah yakin sama saya?"

"Bukankah ini tugasmu? Dibayar berapa kamu sama suami saya sampai-sampai kamu menyanggupi tugas ini? Apa kamu sudah tau masalah yang saya alami selama ini?" cecar Nyonya Mila dan Bejo menjawab dengan anggukan.

"Berapa?"

"Banyak, Nyonya."

"Oke, tantangan kamu dari saya pun harus bisa kamu lakukan."

"Tantangan apa, Nyonya?" tanya Bejo bingung.

Ada lagi ternyata tantangannya selain menjamah Nyonya Mila untuk menyembuhkan wanita itu. Bejo begitu sangat penasaran sekali tetapi dia cukup berhati-hati akan tantangan dari Nyonya Mila.

"Mudah saja, saya akan menambah bayarannya sama besarnya dengan apa yang kamu dapatkan dari suami saya asal kamu bisa membuat saya hamil."

Bejo tercengang mendengar itu. Kemarin tugasnya hanyalah menjamah agar Nyonya Mila bisa sembuh dan menerima sentuhan dari Tuan Saka.

Sekarang, justru wanita itu memberikan tugas tambahan dengan syarat harus bisa sampai hamil. Namun mana mungkin menolak? Bejo menelan kasar salivanya seketika mengingat akan nominal yang ia dapatkan nanti.

"Bagaimana? Kalau kamu bisa, saya akan memberikan sebesar apa yang kamu dapatkan dari suami saya. Bukankah itu sangat menguntungkan untukmu?"

"Tapi Nyonya, Tuan meminta saya hanya untuk sekedar menyentuh Nyonya, membuat Nyonya terbiasa bercinta dan menerima milik Tuan. Bagaimana kalau sampai Tuan tau saya menghamili Nyonya? Bisa mati saja, Nyonya."

"Saya tidak perduli. Itu tugas kamu memikirkan bagaimana caranya agar kamu tidak mati di tangannya. Saya hanya ingin membalasnya atas apa yang dia lakukan. Kamu tentu paham, rencana ini sangat gila."

"Tapi bukankah ini akan membuat Tuan membenci Nyonya? Bagaimana jika Nyonya malah dicerai oleh Tuan jika beliau tau anak yang dikandung Nyonya bukan anaknya?"

"Untuk yang itu bukan urusanmu! Tugasmu dari saya hanya satu. Hamili saya! Paham!" sahut Nyonya Mila yang ternyata rencananya lebih gila dari Tuan Saka.

Itu artinya, mereka benar-benar bercinta dan bukan hanya sekedar masuk saja. Namun benar-benar sampai klimaks dan membuang benih ke dalam rahim wanita itu. Gila! Gila!

"Tunggu! Nominal yang Tuan berikan sangat besar Nyonya. Apa Nyonya sanggup membayar saya dengan nominal yang sama?" tanya Bejo sedikit memberikan kesempatan pada wanita itu untuk bisa berpikir ulang.

Siapa tau Nyonya Mila mau berubah pikiran. Sebenarnya enak-enak saja baginya tetapi resiko tentu sangat besar. Bisa jadi nyawa taruhannya jika Saka tak terima.

Malas Bejo memikirkan cara selanjutnya untuk menghadapi Tuan Saka jika dia berhasil menghamilinya Nyonya Mila.

"Berapa?"

"Sepuluh miliar."

Bejo memperhatikan mimik wajah wanita itu. Bejo sama sekali tidak melepas pandangannya dan ingin sekali melihat reaksi dari wanita itu setelah tau nominalnya.

"Akan aku transfer setelah aku benar-benar dinyatakan positif hamil."

Bejo menarik nafas dalam mendengar jawaban dari Nyonya Mila. Fiks! Sakit hati sekali sepertinya wanita ini pada suaminya hingga menyanggupi uang yang harus di berikan padanya.

"Dua puluh miliar. Ugh... Duit gue sebanyak apa nanti? Auto gendut rekening gue," batin Bejo.

"Kamu sanggup?"

"Saya usahakan tetapi apa Nyonya benar-benar bisa diajak kerja sama? Saya ya begini adanya. Nyonya mau tidur sama saya?"

Nyonya Mila kembali melihat penampilan Bejo. Wanita itu bersilang tangan di dada kemudian meminta Bejo untuk beranjak dari duduknya.

"Berdiri!"

Bejo pun segera berdiri gagah menghadap pada Mila yang detail memperhatikan sampai ke titik sensitif yang tentunya akan berperan penting nantinya.

"Besar atau kecil?"

"Wah jangan ragukan, Nyonya. Nanti Nyonya bisa lihat sendiri."

Nyonya Mila menganggukkan kepala kemudian meminta Bejo untuk berputar.

"Berbalik!"

"Siap, Nyonya."

Bejo pun berbalik dan entah apa yang diperhatikan oleh wanita itu saat dia sedang dalam posisi seperti ini. Bejo menunggu sampai wanita itu memintanya untuk kembali berputar.

"Oke. Nanti malam tidur sama saya!"

Bejo pun segera berbalik dengan kedua alis terangkat mendengar apa yang Nyonya Mila katakan. Entah hubungan apa yang akan terjalin diantara mereka. Kontrak sudah dia sepakati oleh kedua pihak dan waktunya Bejo untuk bersiap melaksanakan tugasnya.

"Baik, Nyonya."

"Oke, kamu bisa pergi sekarang dan jangan lupa! Jam satu kamu harus antar saya ke toko."

"Siap, Nyonya. Saya ijin makan dulu."

"Hhmm..."

Bejo pun segera pergi dari sana. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Langkahnya kembali ke dapur dan mengangkat lagi piring yang berisikan makanan miliknya tadi.

"Dua puluh miliar."

Bejo menyeringai membayangkan uang itu kemudian makan dengan sangat lahap. Namun suara mobil yang datang membuatnya menoleh memperhatikan siapa yang berkunjung dari celah jendela.

"Itu siapa?" Gumam Bejo seraya menghabiskan makannya.

Dia melihat ada seorang wanita paruh baya yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah dengan sangat angkuhnya. Kedua alis Bejo menukik melihat itu dan dia meringis kala mendengar suara wanita tersebut menggelegar berisik sekali.

"Mila! Mila! Keluar kamu, Mila!

"Siapa sich, heboh banget!" gumam Bejo seraya mencuci tangan kemudian mendekati wanita paruh baya yang terlihat sinis sekali.

"Maaf, anda mencari Nyonya Mila?"

"Iya, dimana dia?"

"Ada di atas. Sebentar saya panggilan dulu!" kata Bejo kemudian menaiki tangga menuju ruang kerja Mila.

Namun sebelum Bejo masuk ke dalam ruang kerja Nyonya Mila, wanita cantik itu sudah keburu keluar.

"Mau apa lagi kamu ke sini?"

"Itu Nyonya ada..."

"Oh ya, jangan lupa dicukur sampai bersih itunya. Saya nggak suka yang lebat," tunjuk Nyonya Mila ke bagian bawah hingga Bejo seketika menutupi pangkal pahanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
hahaha ..astaga stres benar Mila dan saka ,Mila minta di hamilin Bejo utk balas dendam ke saka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 145. Dipangkas

    Bejo menyeringai mendengar apa yang Bibi sampaikan. Dia kembali menyuap makanannya, menyangga piring dengan duduk santai di samping rumah. Tadi sudah menghubungi Saka tetapi pria itu malah menyerahkan lagi padanya. Kadang Bejo berpikir, sebenarnya yang menjadi suami itu siapa. Urusan Mila semua dilimpahkan padanya. Kalau hitungan bayaran harusnya nambah lagi tetapi bagusnya Bejo tidak itungan sama sekali. "Orang mah lakinya tuh gue bukan si Saka. Lakinya udah kayak angkat tangan. Kalau bininya suka beneran sama gue, ngamuk tuh orang." Bejo menghabiskan makananya seraya mendengarkan kelanjutan drama yang terjadi di dapur. "BOHONG! Kamu tuh sebenarnya mau mengatakan sesuatu tetapi karena ada Mila, kamu jadi takut." "Nggak ada, Nyonya. Beneran nggak ada. Memang itu yang ingin saya sampaikan pada Nyonya. Nggak ada saya ingin menjelekkan hanya saja memang itu kan aib keluarga. Kalau yang Nyonya tau mereka harmonis padahal Tuan terlalu sibuk di luar." "Halah! Kamu tuh alasan saja

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 144. Desak

    "Jadi Nyonya dan Tuan itu sebenarnya..." "Bi! Apa yang ingin Bibi ceritakan? Jangan keterlaluan ya, Bi! Saya dan Mas Saka nggak pernah menyulitkan Bibi. Kenapa Bibi malah begini?" Tentu saja Mila tidak terima dengan apa yang Bibi akan lakukan. Mila merasa Bibi sudah mengkhianati keluarganya. Padahal baik Mila maupun Saka selama ini selalu baik pada beliau. "Diam kamu, Mila! Jangan melarang dia untuk bicara! Kamu itu sengaja 'kan? Kalau begini saya semakin yakin jika ada yang disembunyikan di rumah ini. Apa lagi mukamu terlihat takut sekali, Mila! Kenapa? Kamu melakukan kesalahan? Memang sejak awal juga Saka sudah sangat salah menikahi kamu." Mila tersenyum miris mendengar apa yang mamah sampaikan. Mila sama sekali tidak menggubris ucapan kasar mamah mertuanya. Kalau dibilang sakit, tentu saja sakit. Bahkan sangat membuatnya sesak nafas tetapi terlepas dari itu Mila benar-benar penasaran. Mila melirik Bibi yang kemudian menundukkan kepala tak berani melihat ke arah wanita it

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 143. Cepat Sampaikan!

    "Jo jadi Bibi kamu kunciin? Kenapa? Apa agar tidak ketahuan?" cecar Mila yang begitu sangat terkejut setelah dia menunjukkan kunci kamar Bibi pada wanita itu."Bukan itu sebenarnya tapi ya udahlah, salah sendiri punya mulut nggak bisa diam. Nyonya pokoknya terima beres aja. Sekarang Nyonya istirahat! Udah kenyang 'kan? Urusan Bibi biar saya saja yang mengurusnya.""Nggak! Tunggu, Jo! Nggak gitu. Aku harus tau ada apa dengan Bibi sampai kamu kunci begitu? Kamu yang bener aja, Jo!" protes Mila padanya. "Apa alasan lain itu?" tanya Mila lagi dengan suara yang terdengar penuh ketegasan. "Nyonya akan tau semuanya besok. Mungkin pagi akan ada kegaduhan di sini. Saya bukan paranormal hanya saja saya menebak-nebak itu. Kalau salah, ya harap maklum. Saya antar, gendong atau mau jalan sendiri, Nya?"Kedua alis Bejo terangkat setelah mengatakan demikian dan Mila berdecak kemudian berbalik badan melangkah masuk ke dalam kamar. Bejo memerhatikan sampai Mila benar-benar sudah sampai di lantai at

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 142. Puas Atau Tidak

    "Apapun itu, posisikan dirimu di sampingku! Kamu tau aku tidak memiliki siapapun yang akan membelaku." Mila tersenyum miris setelah mengatakan itu kemudian memeluk tubuhnya."Aku tau ini sangat fatal dan aku tidak meminta dibela. Hanya saja aku benarkan apa yang kamu katakan. Aku tidak selalu kuat dan aku membutuhkan dada ini untuk mendekapku kala serangan itu kembali datang."Bejo membalas pelukan Mila dan mendekapnya dengan hangat walaupun air yang mengguyur tak sehangat darah mereka yang mengalir di setiap nadi yang saling bertemu. "Saya tidak berjanji tapi saya akan mengerjakan tugas ini dengan sebaik mungkin, Nyonya. Eh iya, kalau kelamaan malah nanti ada yang bangun lagi Nyonya. Udahan yuk! Demen banget main air. Ayo, Nyonya!"Bejo meraih tangan Mila dan membawanya pergi dari sana. Bejo pun meraih handuk dan menutupi tubuh Mila yang masih polos itu. Matanya, jantungnya, jukinya, jangan ditanya bagaimana kondisinya saat ini. Mereka sudah sangat tegang tetapi Bejo sebisa mungk

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 141. Mau Dibantu

    "Jo jangan hentikan! Aku mohon! Lanjutkan sampai aku Ah! Aku mau sampai lagi, Jo!" Kepala Bejo dijepit oleh kedua kaki Mila hingga terpendam di bawah sana. Wajah Bejo basah kala Mila kembali sampai puncaknya. Bejo bergerilya di bawah sana hingga Mila mengucap ampun dan tak tertahan. "Sudah, Jo! Ampun aku nggak tahan. Lidah kamu nakal banget." Mila meraih kepala Bejo dan segera mengecup bibir basah ulah wanita itu yang sejak tadi dilanda gelombang kencang pada tubuhnya. "Lagi, Nyonya!" Bejo kembali memasukkan si Juki pada milik Mila yang masih berkedut di bawah sana sampai rasanya sangat tidak bisa dinanti-nanti. Kembali dia menyambangi sesuatu yang rasanya sangat hangat sekali, menjepit dan efeknya sampai ke otak hingga ujung kaki. Bejo mendongak kala tubuhnya mulai bergerak lagi menghantam milik Mila sampai terasa mentok ke dalam. Belum mau sudah meskipun si Juki terasa hendak menyemburkan sesuatu ke dalam sana. Sedotan milik Mila begitu sangat kuat dan Bejo akui

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 140. Terlalu Seksi

    Bejo masuk ke tengkuk Mila yang wangi dan menggodanya. Ingin rasanya meninggalkan jejak di sana dan menghisap hingga kuat sampai wanita itu medesah menukikan tubuhnya. Namun Bejo masih menahan. Hanya saja lidahnya memang tidak bisa hanya diam. "Ah! Nakalnya kamu, Jo. Sshh... " Mila menggigit bibir bawahnya saat Bejo begitu liar mengusal leher wanita itu. Tangannya pun tak hanya diam. Tangan itu aktif meremas memberikan sensasi yang membuat Mila mendesah berkali-kali. Dada Mila naik turun karena nafas yang tersengal. Wanita itu kemudian menunduk dan meraih bibirnya hingga mereka saling membelit satu sama lain. Kedua mulut mereka terbuka dan gerakan semakin dalam menyapu setiap inci ruang di sana. Berbalas, menukar saliva hingga saling berdecap dan tubuh semakin terasa panas. Bejo mengerang kala merasakan si Juki semakin gelisah. Juki sudah meminta untuk dibebaskan tetapi masih sangat awal untuk menikmati hidangan inti. "Kenapa minta di kolam, Nyonya? Apa Nyonya tidak takut?

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 04. Mandul

    "Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 02. Tepat Di Titik Sensitifnya

    "Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 06. Seksi

    Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 05. Warna Lingerie

    Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status