LOGIN
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan."
"Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikannya. Pria berusia 23 tahun itu pun berlari menuju kamar utama. Namun saat baru saja sampai di ujung tangga. Bejo mendengar ribut-ribut yang berasal dari dalam kamar. "Kamu kalau begini terus, gimana kita mau punya anak? Mamah tuh sudah mendesak aku. Kamu nggak paham kewajiban kamu. Percuma aku punya istri kalau kamu begini." "Mas tapi aku memang sulit menerima kamu. Sakit, Mas. Kita bisa usaha lagi, Mas. Jangan menyerah! Aku masih mau." "Mau usaha seratus kali pun kalau kamu terus menolak saat aku masukin, gimana mau bisa? Kamu taunya aku harus sabar, sabar, dan sabar. Kamu sendiri nggak bisa usahakan. Gila kamu tuh! Satu tahun aku sama sekali belum bisa menikmati tubuh kamu. Menikah tanpa bercinta, hambar rasanya, Mila!" Deg Bejo terbeliak mendengar apa yang Tuannya katakan. Satu tahun menikah belum bercinta? Gila! Betah banget. Padahal istri dari majikannya itu sangatlah cantik dan juga seksi. Mana betah melihat tanpa menikmati? "Bejo!" "Eh iya, Tuan. Saya di sini. Ada apa, Tuan?" tanya Bejo kemudian mendekati majikannya. Bejo melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka dan terlihat Nyonyanya nampak sedih. "Ikut saya ke ruang kerja!" perintah pria yang berkuasa di rumah ini. "Baik, Tuan." BRUGHH Kedua mata Bejo terbelalak melihat banyaknya uang diletakkan di atas meja kerja Tuannya. Bejo menelan kasar salivanya kemudian melirik ke arah pria matang itu yang nampak gagah dan berkharisma. "Kenapa? Mau?" Bejo meringis mendengar itu. "Siapa yang nggak mau sama uang Tuan, tapi ini maksudnya apa, Tuan?" tanya Bejo dengan sangat berhati-hati sekali. Pria itu pun terlihat duduk di kursi kebesarannya dan Bejo memperhatikan dengan sedikit membungkuk. Dalam hati Bejo masih bertanya-tanya, untuk apa uang sebanyak itu dikeluarkan dari dalam brangkas? "Duduk dulu!" "Baik, Tuan." Bejo pun segera duduk di seberang pria itu kemudian mengalihkan pandangan dari hal yang sangat menggoda di depan mata. "Istri saya mengalami penyakit langka yang tidak semua wanita mengalaminya. Saya akan kasih kamu sepuluh miliar, lebih dari yang kamu lihat saat ini kalau kamu bisa menyembuhkannya." Bejo menganga mendengar apa yang pria itu katakan. Ini Tuannya serius atau tidak sich? Dalam hati Bejo pun ragu. Penyakit apa memangnya yang diderita Nyonya? "Apa tugas saya, Tuan?" tanya Bejo tanpa ragu. Kali ini dia benar-benar penasaran karena bayaran dengan jumlah sangat banyak sudah ada di depan mata. "Gampang saja. Kamu hanya perlu menyentuh istri saya." "Me... Me... Menyentuh, menyentuh gimana maksudnya, Tuan?" "Bercintalah dengannya! Ingat, ini tugas dan perintah! Ini menjadi salah satu pekerjaanmu. Bukan hanya main-main dan ingin menikmati tubuh istri saya saja. Kalau kamu berhasil bercinta dengannya, maka uang seratus kali lipat dari apa yang kamu lihat ini akan menjadi milikmu!" Bejo semakin dibuat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bejo melirik uang yang ada di atas meja saja sudah membuatnya menelan ludah. Godaan dunia sangat jelas di depan mata. Apalagi harus menyentuh istri orang. Apa tidak enak coba? "Maaf Tuan, tapi apa yang Nyonya derita selama ini? Maaf kalau saya lancang. Saya juga harus tau penyakit apa yang Nyonya alami agar saya tau cara menyembuhkannya." "Vaginismus." "Apa itu vaginismus, Tuan?" tanya Bejo yang sama sekali tidak tau kalau ada penyakit dengan nama seperti itu. Kedua alis Bejo menukik kala mendengar penjelasan dari Tuan Saka, pria yang akan mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik dengan uang sepuluh miliar. "Penyakit yang sangat langka terjadi pada wanita. Entah apa alasannya, dia tidak bisa aku masukin. Saat penetrasi dia bisa menerima tetapi saat aku hendak masuk, dia selalu kesakitan bahkan meronta dan menolak. Kamu sudah paham sekarang?" "Ta... Tapi Tuan, bagaimana kalau Nyonya menolak? Saya hanya sopir pribadi beliau dan saya baru tiga hari bekerja di sini. Kami pun belum dekat Tuan dan apa Nyonya mau dengan saya?" "Hahahaha jangan kamu pikir saya tidak tau, Bejo! Di kampus wanitamu banyak bukan? Kamu kerja untuk bisa bayar kuliah. Dengan uang yang saya berikan, tidak kuliah pun kamu tidak akan diinjak-injak orang." "Lagi pula dari segi penampilan kamu tidak buruk. Kamu tampan dan tubuhmu juga proposional. Hanya saja kurang diolah sedikit. Kamu berpendidikan, kamu bekerja karena untuk membayar kuliah bukan hanya sekedar untuk makan. Tidak buruk!" "Satu lagi, saya tidak menerima penolakan! Ini sebagian dari pekerjaan kamu. Jika tidak mau, maka kamu akan saya pecat!" Deg "Waaaahhhh jangan dong, Tuan! Bulan depan saya harus bayar semester. Nggak lucu kalau saya sampai dipecat. Nanti kuliah saya gimana. Oke saya akan terima tapi saya tidak bisa pastikan Nyonya mau dengan saya." "Itu urusan gampang! Tugasmu hanya satu, sembuhkan dia dari penyakitnya! Setelah dia bisa menerimamu maka tugasmu selesai," sahut Tuan Saka dengan santainya. Namun pertanyaan dari Bejo selanjutnya membuat pria itu hampir saja melempar vas bunga ke kepala Bejo. "Bagaimana kalau sampai Nyonya ketagihan dengan saya Tuan, terus tidak mau lepas?" Pertanyaan yang sangat berani tak mengira akan kena amuk Tuan Saka. "Mati saja kamu, Bejo!""Jo kamu tuh!" bisik Mila seraya menahan keningnya dengan satu tangan. Sudah pasti desahan Mila sampai di telinga Saka tetapi Bejo tak perduli akan itu. Bejo memejamkan kedua mata seolah buta dan tuli. Sementara Mila sudah sangat geregetan sekali. Mila mencubit lengannya dan dia sama sekali tak mau menanggapi soal itu. Bejo malah semakin merapatkan diri dan menyesap kuat membiarkan Mila kembali bicara dengan Saka. "Bejo sedang apakan kamu, Sayang?" "Oh itu, nggak ada, Mas. Tadi sempat digigit semut. Pedas sekali. Ya sudah Mas. Aku pulang sebentar lagi. Aku mau rapi-rapi dulu." "Di hotel ada semut? Oh oke, aku tunggu di rumah ya, Sayang." Tut. Mila tidak menjawab apa yang Saka sampaikan. Langsung saja Mila mematikan panggilan tersebut kemudian meraih pipi Bejo yang kini kembali membuka mata. "Apa sih, Nya? Ganggu aja! Katanya semut, semut kepala dua ini mah." "Bicara apa kamu? Siapa yang ganggu?" Kedua alis Mila menukik memandangnya. "Iya maaf, tapi lagi asyik.
"Jadi kamu dikasih dada sama dia, Jo? Kamu bilang nggak, tapi dia ngomong sendiri sampai minta maaf. Kamu juga ditawarkan tubuhnya. Begitu caramu, Jo?" "Nyonya, ada yang terbuka, ikut mangap, tapi bukan mulut," katanya seraya melirik milik Mila yang terbuka bersamaan dengan kaki Mila yang terangkat dan singgah di atas pundaknya. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Jo! Pembahasan kita itu Keysa! Kamu mau menjadi laki-laki bayaran untuknya?" desak Mila benar-benar tak terima. "Hah? Nggak! Nggak dong, Nyonya. Aman! Tenang saja! Si Juki betahnya sama Nyonya doang," jawabnya meyakinkan. "Tapi kamu sudah mangku dia, Jo! Kamu sudah melihat dadanya. Besar? Suka? Kamu sesap? Kamu susui, Jo?" cecar Mila dan Bejo menelan kasar salivanya mendengar semua pertanyaan Mila. Ngegas banget pokonya majikannya ini. Gemas pengen gigit tuh bibir tetapi Bejo mendadak kaku dibuatnya. "Sedikit, Nyonya. Besar tapi nggak saya sesap. Beneran, Nyonya! Aman sekali pokoknya," jawab Bejo dan Mila mengg
Mila mendorong tubuhnya hingga kecupan mereka terlepaskan. Tatapan mereka pun saling memandang satu sama lain. "Jangan ya, Jo!" kata Mila dan Bejo menganggukkan kepalanya tetapi yang membuatnya menyeringai enggan melepaskan pandangannya adalah saat mendapati pipi Mila yang merona. "Kamu apa sih lihatin aku begitu?" Mila beranjak dari sana kemudian melangkah menuju ranjang. Kembali Mila merebahkan tubuhnya di sana. "Kita pulang malam, Jo." "Siap, Nyonya." Bejo pun menyusul dan merebahkan tubuhnya di samping Mila tetapi kembali ponselnya berdering dan itu dari orang yang sama. Keysa gencar sekali menghubunginya hingga Bejo risih dan menerima panggilan tersebut. "Ada apa, Bu?" Bejo menerima panggilan tersebut di samping Mila berada. Dia melirik Mila yang sedang memperhatikan dan terlihat sangat ingin tau apa yang ia bicarakan dengan Keysa. Bejo menarik ponselnya kemudian menekan tombol loudspeaker dan mendekati diri pada Mila. Dengan santai Bejo merebahkan tubuhnya di at
"Aku setuju Jo, tapi tidak perlu menggunakan obat setan itu. Kamu cukup katakan aku sudah meminumnya!" Kedua alis Bejo menukik mendengar apa yang Mila sampaikan. Dia sampai mengikis jarak telinganya dan membiarkan Mila kembali mengulang lagi apa yang wanita itu sampaikan tadi. "Apa yang kamu dengar benar, Jo. Aku akan menuruti apa yang dia mau," kata Mila meyakinkan. Bejo menarik diri dan kembali memandang Mila. "Nyonya jangan bercanda! Yang bener kalau ngomong! Kemarin nggak mau, sekarang kenapa tiba-tiba mau? Nggak lagi kesambet demit hotel kan, Nya?" tanya Bejo dan Mila menganggukkan kepalanya. "Iya aku mau. Kamu tuh mikirnya kemana-mana. Siapa yang lagi kesurupan? Aku serius!" Bejo menggelengkan kepalanya. "Yang bener kalau jawab lah! Jangan begitu!" sahut Bejo yang masih tidak percaya dengan apa yang Mila sampaikan. "Beneran, Jo. Aku nggak bercanda soal ini. Lagi pula mana pernah aku bercanda? Aku mau tapi nggak usah minum obat!" Bejo menyandarkan tubuhnya di
"Mas Saka bicara apa, Jo?" tanya Mila usai dia mematikan panggilan dari Saka. Bejo menarik nafas dalam kemudian duduk di samping Mila. Dia masih diam. Bejo sengaja mengambil minum yang ada di meja dan menikmatinya. Bejo lebih dulu membasahi tenggorokannya sebelum menjawab apa yang Mila pertanyakan. "Nyonya besok anniversary sama Tuan?" "Pertanyaannya gimana?" tanya Mila lagi dan Bejo menggelengkan kepala. "Iya lagi, nggak jelas benget susunan katanya. Eheeemmm.... Saking gimana gitu jadi kurang enak pertanyaannya." "Iya, besok malam, Jo. Kenapa? Dia menyinggung akan itu?" "Hhmm... Makan dulu aja, Nyonya! Makan dulu baru bahas ini. Nggak enak kalau bahas beginian dalam keadaan perut kosong. Harus diisi dulu perutnya." Bejo menarik nafas dalam. Pengen cerita, tapi takut ngerusak mood Mila. Kalau tidak cerita tambah rusak kepercayaan Mila padanya. Mila menganggukkan kepala. Santai wanita itu makan. Mila begitu sangat menikmati dan Bejo pun sesekali mengusap bibir M
Seingin-inginnya Bejo pada Mila. Tidak sama sekali Bejo menuntut Mila untuk memuaskannya. Kasihan sudah lelah! Bejo mengajak Mila membersihkan diri dan membiarkan majikannya beristirahat. "Saya pesan makan ya, Nya." "Iya, Jo. Aku mau rebahan dulu." Mila menguasai ranjang yang berantakan. Wanita itu hanya merapikan sedikit yang akan digunakan untuk tidur saja. Selebihnya dibiarkan saking sudah lemasnya. Bejo pun segera merapikan sisanya dan memungut pakaian mereka yang teronggak di lantai tak memiliki harga diri sama sekali. Bejo melangkah menuju ruangan depan dan memesan makanan. Dia juga mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana. Mengambil tas Mila juga yang masih tergeletak di lantai. Bejo menyimpan semua barang-barang itu ditempatnya. Sudah seperti suami sayang istri. Usai bercinta malah beberes ruangan. Bejo menjatuhkan tubuhnya di sofa seraya menunggu makanan datang. Dia membuka ponselnya yang tadi sempat berdering. "Siapa sih? Oh, Tuan. Ngapain dah?"
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.







