LOGINDia melirik pada kaca spion. Bejo sadar dirinya seperti tengah dipantau. Dia pun mempercepat laju kendaraannya hingga mobil yang ia bawa sedikit berjarak dengan mobil yang diduga mengikutinya. "Kayaknya dia tau kalau lagi kita pantau, Tuan." "Nggak masalah kalau memang tujuannya ke toko roti. Memang itu yang saya inginkan. Istri saya tengah merajuk dan ini yang saya mau. Bejo ada di samping Mila agar bisa masuk lebih cepat." "Maaf Tuan, tapi kalau misal Bejo tidak bisa, kenapa tidak digantikan saja?" "Maksudmu digantikan denganmu? Kamu suka dengan istri saya?" tanya Saka dengan kedua mata menyelidik. "Bukan begitu Tuan, karena memang belum ada hasil. Lebih baik diganti dari pada Tuan juga berharap terus." "Belum waktunya, saya masih percaya sama dia," kata Saka membungkam mulut asistennya. Bejo pun sudah sampai di depan toko roti. Dia melirik kaca spion untuk kembali melihat mobil yang mengikutinya. Dilihat-lihat mobil itu benar-benar sudah tidak ada. Bejo seger
"Apa sich Bejo tuh? Nggak jelas benget! Aku coba panggil Bejo, Bejo, Bejo, nggak mungkin juga dia langsung bisa datang. Memang suka sekali bercanda." Mila meletakkan kembali ponselnya di atas meja kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Diam Mila memikirkan semuanya. Memikirkan tentang hubungan dengan Saka, Bejo dan para orang tua. "Bagaimana kabar Ayah? Kenapa tidak pernah menghubungi aku?" gumam Mila kemudian beranjak dari sana. Mila kembali bekerja, kembali mengecek bagian produksi dan juga penjualan sampai dimana bertemu dengan seseorang yang cukup dikenal, tapi tidak akrab. Teman lama saat mereka masih sama-sama bekerja di salah satu perusahaan yang kini sudah gulung tikar. Hanya saja saat Mila hendak menyapa, wanita itu seperti cuek padahal tau keberadaannya. Mila pun memilih untuk menjauh dan mengecek laporan penjualan di kasir. "Ini aja Mbak." "Baik." Mile melirik wanita yang diduga temannya tetapi terlihat serius sekali dengan ponsel yang dipegan
Bejo masuk ke dalam mobil setelah Mila duduk di kursi penumpang. Sengaja dia tidak bertanya dan mengajak bicara. Bejo hanya memperhatikan Mila dari kaca yang sengaja dia arahkan pada wajah wanita itu seraya membawa mobil yang dikemudikannya pergi dari sana. Tadi pembicaraan Saka tidak mendapatkan balasan dari Mila. Mila segera pamit setelah dia menjawab dengan patuh perintah dari majikannya tersebut. Rupanya wanita itu melanjutkan aksi diam dan sama sekali tidak membahas pembicaraan dengan Saka tadi. Padahal biasanya Mila akan mengeluh atau kesal hingga membuat wanita itu mengutarakan banyak sekali rencana. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil terasa hening. Sesekali dia melirik lagi dan mengecek ke belakang. Bejo melihat Mila hanya melamun memperhatikan jalan dengan mata yang terlihat banyak beban. Tahan-tahan! Bejo tetap tak bertanya atau menegur masalah apapun pada wanita itu sampai dimana mobil sudah memasuki area toko roti. Dengan cekatan, Bejo segera turun
"Atau mau tidur dengan Bejo?" Kedua alis Mila menukik mendengar pertanyaan dari Saka. Begitu pun dengan dia yang kini menajamkan indera pendengarannya di tempat yang aman dari pandangan Saka juga Mila. "Anggap saja ini adalah permintaan maafku padamu, Sayang. Aku tau kamu tidak mungkin mau tidur denganku. Aku paham kamu masih marah tapi perjanjian kita untuk Bejo dan tugasnya untuk kita belum berakhir." Mila membuang muka setelah mendengar apa yang Saka katakan. "Aku pastikan kamu akan menyesal melakukan ini, Mas," kata Mila dengan suara lirih penuh penekanan. "Tidak ada yang membuatku menyesal, Sayang. Ini sebuah solusi bagi rumah tangga kita. Aku memang salah tapi lebih salah kalau tidak ada usaha. Yang penting satu, aku setia sama kamu." "Terserah kamu, Mas! Yang penting aku sudah mengingatkan. Selebihnya, bukan lagi urusanku!" kata Mila yang kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar tanpa memikirkan adanya Saka di sana. Tidak perduli mungkin Mila akan ma
"Dari mana saja kamu?" Kedua tangan Mila menyilang dengan lirikan yang terlihat kesal. Rambut Mila sedikit berantakan. Mungkin baru bangun tidur. Entah! Yang jelas Mila terlihat sewot sekali dengannya. Namun walaupun begitu, tidak menyurutkan kecantikan Mila di matanya. Rambut yang berantakan malah terlihat seksi dengan balutan kimono tidur yang membalut lingerie Mila. Hanya saja, dirinya saat ini harus benar-benar menyadari kesalahannya. Pulang terlalu larut malam di rumah majikannya. Sudah numpang tapi tidak tau aturan. Mungkin itu yang ada di kepala Mila menilainya saat ini. "Maaf, Nyonya. Saya keluar bertemu teman-teman. Biasa malam mingguan, Nyonya. Nongkrong di cafe. Tadi saya sudah pamit Tuan dan di ACC oleh Tuan tapi saya dilarang pamit Nyonya karena kata Tuan, Nyonya sudah tidur." "Harus banget pulang larut mengganggu orang istirahat? Kamu tau 'kan sekarang sedang tinggal dimana?" Dia menganggukkan kepala. Benar 'kan? Memang salah! Harusnya tidak demikian. Mu
"Jo! Jo tunggu!" Langkahnya terhenti kala Caca menarik tangannya hingga membuatnya menatap sengit wanita itu. Kedua alisnya menukik melihat tangan yang masih menggenggam dengan erat. "Eh maaf-maaf, aku tau kamu nggak suka disentuh wanita. Maaf ya, Jo. Aku cuma mau ngomong kalau kamu jangan salah paham sama aku!" Caca tersenyum sebelum kembali meneruskan ucapannya. "Aku nggak masalah kok dekat sama kamu walaupun kamu bekerja sebagai pembantu. Kita tetap berteman Jo. Kamu tetap jadi guru pembimbing buat aku." Kedua matanya menatap tajam Caca yang mendongak dengan tatapan penuh permohonan. Alis tebalnya menambah daya tarik wanita itu, begitu pun bulu matanya yang lentik semakin membuat Caca grogi. Caca mengulum senyum melihatnya. Namun setelah mendengar apa yang Caca katakan. Dia membuang muka seraya memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. Tanpa membalas apa yang Caca katakan, dia pun kembali melangkah menuju motornya. Namun sebelum Bejo benar-benar pergi, dia s
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.