Share

Bab 05. Warna Lingerie

Penulis: weni3
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 19:55:34

Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang.

"Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue tapi nggak gini reaksinya. B aja!"

Dalam hati Bejo begitu mengeluhkan akan reaksi di tubuhnya. Otaknya pun begitu berisik. Apa karena majikannya begitu cantik? Haish! Padahal dari banyaknya wanita di kampus, belum ada yang membuatnya bisa sampai berdebar begini. Sekalipun itu kekasihnya.

"Eheeemm...."

Suara Bejo memecahkan keheningan. Nyonya Mila menoleh ke arahnya dan Bejo memberikan senyuman tipis seraya melajukan mobilnya.

"Kenapa, Bejo? Ada yang mau kamu tanyakan?"

"Iya, Nyonya. Boleh?" tanya Bejo balik.

Hal ini memang sejak tadi cukup mengganggu pikirannya. Apalagi setelah tau reaksi wanita tua gila tadi dan Mila yang malah menutupi satu hal terpenting itu.

"Silahkan!"

"Kenapa Nyonya tidak mengatakan dan menjelaskan pada mertua Nyonya kalau sedang sakit? Jadi setidaknya dia nggak salah paham dan menuduh Nyonya mandul."

"Untuk apa? Agar semakin dimaki olehnya? Sejak awal dia sudah tidak suka sama saya. Kalau dia sampai tau penyakit saya ini, sudah pasti suami saya langsung disuruh menikah dengan wanita lain. Belum lagi mulutnya yang seperti itu. Kamu sudah tau sendiri 'kan?"

"Iya banget lagi, mulutnya udah kayak cabe gendot. Pedes banget! Sabar-sabar ya, Nyonya!"

"Jangan lupa tugas kamu, Bejo! Tidak perlu memikirkan perasaan saya. Saya tau bagaimana cara menutup mulut mereka."

"Akan saya laksanakan dengan baik, Nyonya."

"Bagus kalau begitu!"

Bejo fokus dengan jalan tetapi godaan di depan mata. Dia menarik nafas dalam setelah melirik kaki jenjang yang terlihat begitu menggoda.

Rok yang pendek memamerkan bagian paha Nyonya Mila hingga membuat Bejo berulang kali gagal berusaha mengalihkan pandangannya. Putih, Mulu, bersih memberikan daya tarik yang tak bisa Bejo hindari.

"Otak gue mulai kotor. Segitunya? Gila! Pakai pelet apa sich nich cewek? Apa karena Nyonya Mila wanita dewasa jadi gue penasaran? Haish ... Padahal baru dideketin aja udah berdiri semua bulu gue."

Bejo menggelengkan kepala dan mencoba memikirkan dulu teknik dan triknya. Ingat! Ada tantangan yang harus dia lalui. Yang utama adalah penyakit vaginismus itu.

"Silahkan Nyonya! Saya akan kembali setelah selesai ngampus," ujar Bejo seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mila untuk keluar.

Bejo mengantar wanita itu ke toko roti besar tepat di pusat kota. Toko roti terbesar milik majikannya yang selama ini menjadi tempat usaha dengan banyak cabang yang tersebar.

"Hhmm... Jangan terlalu malam! Kamu sudah hafal jam pulang saya bukan?" tanya Mila padanya.

"Sudah, Nyonya."

"Oke."

Bejo menoleh dan memperhatikan wanita itu yang kini melangkah menjauh dan memasuki toko. Setelah dipastikan sudah aman, Bejo pun segera pergi meninggalkan dari sana.

Tujuannya saat ini adalah kampus tercinta. Waktu yang sudah hampir mepet membuat Bejo melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang.

Sampai di sana pun tak ada waktu untuk Bejo meladeni ocehan temannya yang menggoda setelah tau dia membawa mobil ke kampus. Bejo langsung saja masuk kelas dan hanya melirik sekilas teman-temannya yang memperhatikan dengan tatapan penuh tanya.

"Mobil siapa?"

"Nggak usah banyak tanya!" sahut Bejo dan fokus mata kuliahnya hari ini.

Bejo kembali ke mode serius setiap kali sudah masuk kelas. Dua mata kuliah sudah dia taklukan dan kini waktunya menjemput majikannya.

Demi menghindari pertanyaan teman-temannya dan ajakan nongkrong yang selalu menggiurkan, Bejo berlari lebih dulu keluar ruangan menuju mobil Mila yang terparkir rapi di halaman kampus.

"Woy! Jo! Gila ngacir aja itu anak!"

Bejo terkekeh mendengar umpatan teman-temannya dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pergi dari sana. Bejo melirik kaca spion untuk melihat kedua temannya yang tadi berusaha mengejar.

"Sorry, Bro! Gue ada misi penting soalnya."

Bejo langsung saja menuju toko roti. Dalam hati jangan sampai terlambat menjemput majikannya. Namun sampai di sana, justru Bejo masih harus menunggu Mila keluar dari ruang meeting.

Bejo pun memilih menunggu di mobil saja seraya mendinginkan pikirannya yang tadi selesai dibuat belajar. Namun kepikiran dengan penyakit yang Mila derita.

"Gue searching aja dech. Penasaran! Masa' iya segitu susahnya masuk. Sakit wajarlah! Namanya juga diperawanin tapi masa' iya nggak tahan. Harusnya sic kalah sama horny."

Bejo pun segera mencari tau dari beberapa artikel, pendapat dokter, sampai dia membuka satu persatu komentar dan ulasan dari sesama pasien penderita penyakit tersebut.

"Serem juga ya," gumam Bejo yang begitu sangat serius sekali membaca setiap komentar penderita. "Sedih amat! Gue bisa nggak ya?"

Tanpa sadar Mila sudah mendekati dan mengetuk kaca mobil berulang kali. Bejo masih saja fokus hingga wanita itu masuk dan duduk di sampingnya. Barulah Bejo sadar.

"Jo!"

"Eh, Nyonya! Su... Sudah selesai, Nyonya?" tanya Bejo yang kemudian mematikan layar ponselnya dan mengalihkan tatapan mata Mila saat wanita itu terlihat curiga.

"Kamu sedang baca apa?" tanya Mila dan Bejo berusaha santai menjawabnya.

"Materi kampus, Nyonya. Gimana? Langsung pulang, Nyonya?" tanya Bejo dan anggukan dari wanita itu membuat Bejo segera melajukan mobilnya.

"Malam ini jangan lupa! Kamu datang ke kamar saya jam sepuluh ya. Jangan sampai Bibi atau pekerja lainnya melihat kamu! Untuk pekerjaan yang ini kalau bisa dirahasiakan. Saya tidak mau ada yang tau," kata Mila dan gantian Bejo yang menganggukkan kepala menjawab pertanyaan itu.

"Jangan lupa juga, saya suka laki-laki yang bersih dan wangi. Libido saya langsung meningkatkan kalau kamu bisa menyuguhkan itu. Apalagi dengan penyakit saya yang sudah kamu pahami. Kamu tentu sudah tau bagaimana cara agar saya benar-benar nyaman."

"Baik, Nyonya. Saya usahakan," jawabnya dengan tenang padahal otak Bejo sedari tadi berpikir bagaimana cara membuat Mila mau menerima miliknya.

"Mungkin tipis-tipis dulu, Nyonya. Apalagi kita baru."

"Terserah kamu!"

Hening, beberapa saat tak ada obrolan lagi di dalam mobil sampai dimana mereka tiba di rumah dan Bejo segera turun membukakan pintu mobil untuk Mila.

"Silahkan, Nyonya!"

Bejo memperhatikan wanita itu bergerak keluar dari mobil. Aroma manis dari tubuh Mila masih sangat tajam padahal sudah seharian berada di toko roti. Bejo menghirup dengan sadar hingga kedua matanya terpejam.

"Jo!"

"Eh iya, Nyonya. Ada apa?" tanya Bejo seraya menutup pintu mobil kemudian menatap wajah Mila yang terlihat merona. Kedua alisnya pun terangkat melihat perubahan itu.

"Kamu suka warna apa?"

"Hah? Warna? Warna untuk apa ya, Nyonya? Kalau mobil saya suka warna hitam dan putih tapi kalau pakaian cenderung hitam, Nyonya," jawab Bejo menjelaskan.

"Bukan itu."

" Memangnya apa, Nyonya?"

"Ah! Sudah lupakan! Kamu nich nggak peka!"

Wanita itu pun segera melangkah pergi dan Bejo menggaruk kepalanya. Bejo bingung dengan sikap Mila.

"Warna apa sich? Bikin penasaran aja."

Bejo pun melangkah masuk menuju kamarnya untuk menyimpan tas dan juga mempersiapkan diri demi misi nanti malam. Namun Bejo masih mengingat-ingat tentang pertanyaan majikannya tadi.

"Warna? Warna apa? Eh! Apa jangan-jangan warna lingerie?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Ridwan Budi
lanjut kak wen mudah2 han bab2 selanjutnya bisa dibuka
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
hihihi ..lucu juga si Bejo dgn segala pikirannya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 150. Meminta Jatah

    " Oh itu dosen saya, Nyonya. Dosen yang bimbing skripsi saya. Nyonya tau? Tadi lihat?" "Kamu yang nggak lihat saya, Jo!" celetuk Mila membuatnya meringis mendengar itu. "Eh iya bener banget lagi. Saking fokusnya itu Nyonya, makanya nggak lihat." Mila menghela nafas berat seraya memperhatikannya dengan sangat lekat dan wanita itu bersandar di kursi kerja tanpa mengalihkan sama sekali pandangannya seolah tengah mengulik dan mencari kebenaran dari jawaban yang ia sampaikan. "Dosen, Nyonya. Kalau nggak percaya, bisa saya teleponin sekarang." "Nggak perlu! Aku tau kalau itu dosen kamu tapi aku lihat wanita itu sangat cantik, Jo." "Memang kenapa kalau cantik, Nyonya?" Kedua alis Bejo terangkat dan Mila menggelengkan kepala menjawab pertanyaannya. Namun Bejo tersenyum tipis melihat itu. Bejo paham kemana arah pikiran Mila. "Cantik itu relatif, tapi memang Bu Kesya cantik. Nyonya nggak perlu khawatir! Selama saya masih memiliki perjanjian kerja dengan Nyonya. Aman pokoknya." Bejo

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 149. Nggak Saya Mut

    "Kita keluar sekarang! Aku tidak akan menuntutmu lagi tetapi kalau sudah siap, kabari aku, Sayang. Bejo tetap menjadi obat untuk tubuhmu yang tegang dan mentalmu yang rusak. Dia bisa kamu jadikan pelampiasan nafsumu sampai trauma itu benar-benar hilang." Mila menggelengkan kepala mendengar apa yang Saka sampaikan. Memang Bejo benar jadi obatnya, benar juga menjadi pelampiasannya, tetapi bukan pelampiasan nafsu untuk Mila. Bejo menjadi tempat Mila melampiaskan kemarahan terhadap Saka juga keluarganya, bukan nafsu!Statement Saka sudah begitu saja sudah salah baginya. Mila sedikit tak terima jika Bejo dijadikan tempat pelampiasan nafsu untuknya. Nafsu? Ah! Kata itu sangat buruk walaupun setiap bercinta pasti menggunakan nafsu. Otak Saka sudah benar-benar geser. Fantasi di otak Saka membuat Mila tak tau harus menyadarkan suaminya dengan cara apa.Andai Mila membela Bejo, sudah pasti Saka akan tersinggung jadinya. Mila juga harus berhati-hati dalam bertindak. Yang terpenting, tujuan awa

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 148. Campur Tangan

    "Jangan curiga gitu! Kamu nggak capek curigain aku terus? Beli di sana ini, aku kan nggak sempat pulang jadinya ya apa-apa beli. Tanyakan saja pada Tama kalau kamu tidak percaya, Sayang!" Saka kemudian menarik Mila ke dalam pelukan dan mengusap punggung wanita itu dengan sangat lembut memberikan kenyamanan yang sudah lama tidak Mila rasakan dari Saka. "Aku tau kamu cemburu. Kamu sayang sama aku makanya kamu seperti ini. Aku pulang kerja capek loh tapi aku berusaha mengerti kamu. Apa sih yang nggak untuk kebahagiaan kamu? Perdebatan yang kemarin itu aku anggap bumbu manis dalam rumah tangga kita karena kamu sedang emosi setelah melihat foto aku dan wanita lain." Saka tersenyum setelah mengatakan itu dan semakin mengeratkan pelukannya. "Itu hal yang biasa, Sayang. Namanya juga dunia bisnis. Aku dekat dengan siapapun juga akan ke sorot dan menjadi gosip murahan. Toh sampai sekarang tidak ada yang datang meminta tanggung jawab. Jadi tidak perlu kamu permasalahkan lagi" Mila mendo

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 147. Siapa?

    Bejo melajukan lagi mobilnya tanpa menggubris panggilan dari Caca. Bahkan setelah mematikan panggilan tersebut, dia tidak lagi menggubris getaran ponselnya dan sampai di perpus, Bejo langu sibuk dengan dunianya. Lama Bejo di sana dan hanya fokus pada berisan tulisan di dalam buku yang dia pegang saat ini sampai dimana ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk untuknya. Awalnya dia pikir Mila yang menghubungi tetapi ternyata bukan. Panggilan itu berasal dari dosbingnya yang menggerakkan kaki Bejo untuk segera beranjak dari duduknya dan keluar dari sana. "Siang, Bu. Ada apa ya, Budos?""Kamu dimana , Jo?""Lagi nyari bahan, Bu.""Saya besok nggak ada di kampus. Mungkin ada lagi lusa atau bisa jadi tiga hari baru ke kampus karena untuk akhir-akhir ini saya akan sangat sibuk sekali. Kalau mau diskusi bisa di luar. Saya tunggu sekarang!" "Waahhh lama juga ya, Bu. Kalau sekarang saya harus temui Ibu dimana?" "Saya sharelok aja ya. Memang agak jauh dari kampus tapi mumpung saya

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 146. Jampi-jampi

    Mila membuang muka dengan pipi yang merona dan itu tertangkap oleh netra Bejo sepenuhnya. Bejo kembali menyunggingkan senyum tetapi kali ini semakin tidak terlihat. Dia bergerak mendekati Mila dengan memiringkan kepalanya dan memperhatikan lamat-lamat wajah ayu itu. "Nyonya bertanya keikhlasan saya? Memangnya boleh jawab nggak ikhlas?" tanya Bejo dengan nada lembut dan Mila menoleh menatap ragu padanya. Bertepatan dengan itu kedua alisnya pun terangkat hingga Mila bergerak mendorong dadanya. "Jalan, Jo!" Bejo terkekeh melihat reaksi Mila kemudian melajukan mobilnya. "Kirain mau nembak saya tadi. Waaahhh bisa lari nyari pasir saya, Nya." "Mau apa nyari pasir?" tanya Mila bingung. "Buat guling-guling kaya kucing abis kawin." "Kamu tuh!" "Hahahahaha.... " Bejo pun melajukan mobilnya menuju toko roti tetapi ini bukan yang di pusat melainkan cabangnya. Mila ada jadwal mengecek di sana. Kalau ngampus sudah pasti Bejo akan terlambat. Beruntung tidak ada jadwal bertem

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 145. Dipangkas

    Bejo menyeringai mendengar apa yang Bibi sampaikan. Dia kembali menyuap makanannya, menyangga piring dengan duduk santai di samping rumah. Tadi sudah menghubungi Saka tetapi pria itu malah menyerahkan lagi padanya. Kadang Bejo berpikir, sebenarnya yang menjadi suami itu siapa. Urusan Mila semua dilimpahkan padanya. Kalau hitungan bayaran harusnya nambah lagi tetapi bagusnya Bejo tidak itungan sama sekali. "Orang mah lakinya tuh gue bukan si Saka. Lakinya udah kayak angkat tangan. Kalau bininya suka beneran sama gue, ngamuk tuh orang." Bejo menghabiskan makananya seraya mendengarkan kelanjutan drama yang terjadi di dapur. "BOHONG! Kamu tuh sebenarnya mau mengatakan sesuatu tetapi karena ada Mila, kamu jadi takut." "Nggak ada, Nyonya. Beneran nggak ada. Memang itu yang ingin saya sampaikan pada Nyonya. Nggak ada saya ingin menjelekkan hanya saja memang itu kan aib keluarga. Kalau yang Nyonya tau mereka harmonis padahal Tuan terlalu sibuk di luar." "Halah! Kamu tuh alasan saja

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 06. Seksi

    Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 04. Mandul

    "Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 03. Sampai Klimaks

    "Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 01. Bercintalah Dengannya

    "Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status