LOGINBejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang.
"Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue tapi nggak gini reaksinya. B aja!" Dalam hati Bejo begitu mengeluhkan akan reaksi di tubuhnya. Otaknya pun begitu berisik. Apa karena majikannya begitu cantik? Haish! Padahal dari banyaknya wanita di kampus, belum ada yang membuatnya bisa sampai berdebar begini. Sekalipun itu kekasihnya. "Eheeemm...." Suara Bejo memecahkan keheningan. Nyonya Mila menoleh ke arahnya dan Bejo memberikan senyuman tipis seraya melajukan mobilnya. "Kenapa, Bejo? Ada yang mau kamu tanyakan?" "Iya, Nyonya. Boleh?" tanya Bejo balik. Hal ini memang sejak tadi cukup mengganggu pikirannya. Apalagi setelah tau reaksi wanita tua gila tadi dan Mila yang malah menutupi satu hal terpenting itu. "Silahkan!" "Kenapa Nyonya tidak mengatakan dan menjelaskan pada mertua Nyonya kalau sedang sakit? Jadi setidaknya dia nggak salah paham dan menuduh Nyonya mandul." "Untuk apa? Agar semakin dimaki olehnya? Sejak awal dia sudah tidak suka sama saya. Kalau dia sampai tau penyakit saya ini, sudah pasti suami saya langsung disuruh menikah dengan wanita lain. Belum lagi mulutnya yang seperti itu. Kamu sudah tau sendiri 'kan?" "Iya banget lagi, mulutnya udah kayak cabe gendot. Pedes banget! Sabar-sabar ya, Nyonya!" "Jangan lupa tugas kamu, Bejo! Tidak perlu memikirkan perasaan saya. Saya tau bagaimana cara menutup mulut mereka." "Akan saya laksanakan dengan baik, Nyonya." "Bagus kalau begitu!" Bejo fokus dengan jalan tetapi godaan di depan mata. Dia menarik nafas dalam setelah melirik kaki jenjang yang terlihat begitu menggoda. Rok yang pendek memamerkan bagian paha Nyonya Mila hingga membuat Bejo berulang kali gagal berusaha mengalihkan pandangannya. Putih, Mulu, bersih memberikan daya tarik yang tak bisa Bejo hindari. "Otak gue mulai kotor. Segitunya? Gila! Pakai pelet apa sich nich cewek? Apa karena Nyonya Mila wanita dewasa jadi gue penasaran? Haish ... Padahal baru dideketin aja udah berdiri semua bulu gue." Bejo menggelengkan kepala dan mencoba memikirkan dulu teknik dan triknya. Ingat! Ada tantangan yang harus dia lalui. Yang utama adalah penyakit vaginismus itu. "Silahkan Nyonya! Saya akan kembali setelah selesai ngampus," ujar Bejo seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan Mila untuk keluar. Bejo mengantar wanita itu ke toko roti besar tepat di pusat kota. Toko roti terbesar milik majikannya yang selama ini menjadi tempat usaha dengan banyak cabang yang tersebar. "Hhmm... Jangan terlalu malam! Kamu sudah hafal jam pulang saya bukan?" tanya Mila padanya. "Sudah, Nyonya." "Oke." Bejo menoleh dan memperhatikan wanita itu yang kini melangkah menjauh dan memasuki toko. Setelah dipastikan sudah aman, Bejo pun segera pergi meninggalkan dari sana. Tujuannya saat ini adalah kampus tercinta. Waktu yang sudah hampir mepet membuat Bejo melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang. Sampai di sana pun tak ada waktu untuk Bejo meladeni ocehan temannya yang menggoda setelah tau dia membawa mobil ke kampus. Bejo langsung saja masuk kelas dan hanya melirik sekilas teman-temannya yang memperhatikan dengan tatapan penuh tanya. "Mobil siapa?" "Nggak usah banyak tanya!" sahut Bejo dan fokus mata kuliahnya hari ini. Bejo kembali ke mode serius setiap kali sudah masuk kelas. Dua mata kuliah sudah dia taklukan dan kini waktunya menjemput majikannya. Demi menghindari pertanyaan teman-temannya dan ajakan nongkrong yang selalu menggiurkan, Bejo berlari lebih dulu keluar ruangan menuju mobil Mila yang terparkir rapi di halaman kampus. "Woy! Jo! Gila ngacir aja itu anak!" Bejo terkekeh mendengar umpatan teman-temannya dan bergegas masuk ke dalam mobil untuk segera pergi dari sana. Bejo melirik kaca spion untuk melihat kedua temannya yang tadi berusaha mengejar. "Sorry, Bro! Gue ada misi penting soalnya." Bejo langsung saja menuju toko roti. Dalam hati jangan sampai terlambat menjemput majikannya. Namun sampai di sana, justru Bejo masih harus menunggu Mila keluar dari ruang meeting. Bejo pun memilih menunggu di mobil saja seraya mendinginkan pikirannya yang tadi selesai dibuat belajar. Namun kepikiran dengan penyakit yang Mila derita. "Gue searching aja dech. Penasaran! Masa' iya segitu susahnya masuk. Sakit wajarlah! Namanya juga diperawanin tapi masa' iya nggak tahan. Harusnya sic kalah sama horny." Bejo pun segera mencari tau dari beberapa artikel, pendapat dokter, sampai dia membuka satu persatu komentar dan ulasan dari sesama pasien penderita penyakit tersebut. "Serem juga ya," gumam Bejo yang begitu sangat serius sekali membaca setiap komentar penderita. "Sedih amat! Gue bisa nggak ya?" Tanpa sadar Mila sudah mendekati dan mengetuk kaca mobil berulang kali. Bejo masih saja fokus hingga wanita itu masuk dan duduk di sampingnya. Barulah Bejo sadar. "Jo!" "Eh, Nyonya! Su... Sudah selesai, Nyonya?" tanya Bejo yang kemudian mematikan layar ponselnya dan mengalihkan tatapan mata Mila saat wanita itu terlihat curiga. "Kamu sedang baca apa?" tanya Mila dan Bejo berusaha santai menjawabnya. "Materi kampus, Nyonya. Gimana? Langsung pulang, Nyonya?" tanya Bejo dan anggukan dari wanita itu membuat Bejo segera melajukan mobilnya. "Malam ini jangan lupa! Kamu datang ke kamar saya jam sepuluh ya. Jangan sampai Bibi atau pekerja lainnya melihat kamu! Untuk pekerjaan yang ini kalau bisa dirahasiakan. Saya tidak mau ada yang tau," kata Mila dan gantian Bejo yang menganggukkan kepala menjawab pertanyaan itu. "Jangan lupa juga, saya suka laki-laki yang bersih dan wangi. Libido saya langsung meningkatkan kalau kamu bisa menyuguhkan itu. Apalagi dengan penyakit saya yang sudah kamu pahami. Kamu tentu sudah tau bagaimana cara agar saya benar-benar nyaman." "Baik, Nyonya. Saya usahakan," jawabnya dengan tenang padahal otak Bejo sedari tadi berpikir bagaimana cara membuat Mila mau menerima miliknya. "Mungkin tipis-tipis dulu, Nyonya. Apalagi kita baru." "Terserah kamu!" Hening, beberapa saat tak ada obrolan lagi di dalam mobil sampai dimana mereka tiba di rumah dan Bejo segera turun membukakan pintu mobil untuk Mila. "Silahkan, Nyonya!" Bejo memperhatikan wanita itu bergerak keluar dari mobil. Aroma manis dari tubuh Mila masih sangat tajam padahal sudah seharian berada di toko roti. Bejo menghirup dengan sadar hingga kedua matanya terpejam. "Jo!" "Eh iya, Nyonya. Ada apa?" tanya Bejo seraya menutup pintu mobil kemudian menatap wajah Mila yang terlihat merona. Kedua alisnya pun terangkat melihat perubahan itu. "Kamu suka warna apa?" "Hah? Warna? Warna untuk apa ya, Nyonya? Kalau mobil saya suka warna hitam dan putih tapi kalau pakaian cenderung hitam, Nyonya," jawab Bejo menjelaskan. "Bukan itu." " Memangnya apa, Nyonya?" "Ah! Sudah lupakan! Kamu nich nggak peka!" Wanita itu pun segera melangkah pergi dan Bejo menggaruk kepalanya. Bejo bingung dengan sikap Mila. "Warna apa sich? Bikin penasaran aja." Bejo pun melangkah masuk menuju kamarnya untuk menyimpan tas dan juga mempersiapkan diri demi misi nanti malam. Namun Bejo masih mengingat-ingat tentang pertanyaan majikannya tadi. "Warna? Warna apa? Eh! Apa jangan-jangan warna lingerie?"Mila mendorong tubuhnya hingga kecupan mereka terlepaskan. Tatapan mereka pun saling memandang satu sama lain. "Jangan ya, Jo!" kata Mila dan Bejo menganggukkan kepalanya tetapi yang membuatnya menyeringai enggan melepaskan pandangannya adalah saat mendapati pipi Mila yang merona. "Kamu apa sih lihatin aku begitu?" Mila beranjak dari sana kemudian melangkah menuju ranjang. Kembali Mila merebahkan tubuhnya di sana. "Kita pulang malam, Jo." "Siap, Nyonya." Bejo pun menyusul dan merebahkan tubuhnya di samping Mila tetapi kembali ponselnya berdering dan itu dari orang yang sama. Keysa gencar sekali menghubunginya hingga Bejo risih dan menerima panggilan tersebut. "Ada apa, Bu?" Bejo menerima panggilan tersebut di samping Mila berada. Dia melirik Mila yang sedang memperhatikan dan terlihat sangat ingin tau apa yang ia bicarakan dengan Keysa. Bejo menarik ponselnya kemudian menekan tombol loudspeaker dan mendekati diri pada Mila. Dengan santai Bejo merebahkan tubuhnya di at
"Aku setuju Jo, tapi tidak perlu menggunakan obat setan itu. Kamu cukup katakan aku sudah meminumnya!" Kedua alis Bejo menukik mendengar apa yang Mila sampaikan. Dia sampai mengikis jarak telinganya dan membiarkan Mila kembali mengulang lagi apa yang wanita itu sampaikan tadi. "Apa yang kamu dengar benar, Jo. Aku akan menuruti apa yang dia mau," kata Mila meyakinkan. Bejo menarik diri dan kembali memandang Mila. "Nyonya jangan bercanda! Yang bener kalau ngomong! Kemarin nggak mau, sekarang kenapa tiba-tiba mau? Nggak lagi kesambet demit hotel kan, Nya?" tanya Bejo dan Mila menganggukkan kepalanya. "Iya aku mau. Kamu tuh mikirnya kemana-mana. Siapa yang lagi kesurupan? Aku serius!" Bejo menggelengkan kepalanya. "Yang bener kalau jawab lah! Jangan begitu!" sahut Bejo yang masih tidak percaya dengan apa yang Mila sampaikan. "Beneran, Jo. Aku nggak bercanda soal ini. Lagi pula mana pernah aku bercanda? Aku mau tapi nggak usah minum obat!" Bejo menyandarkan tubuhnya di
"Mas Saka bicara apa, Jo?" tanya Mila usai dia mematikan panggilan dari Saka. Bejo menarik nafas dalam kemudian duduk di samping Mila. Dia masih diam. Bejo sengaja mengambil minum yang ada di meja dan menikmatinya. Bejo lebih dulu membasahi tenggorokannya sebelum menjawab apa yang Mila pertanyakan. "Nyonya besok anniversary sama Tuan?" "Pertanyaannya gimana?" tanya Mila lagi dan Bejo menggelengkan kepala. "Iya lagi, nggak jelas benget susunan katanya. Eheeemmm.... Saking gimana gitu jadi kurang enak pertanyaannya." "Iya, besok malam, Jo. Kenapa? Dia menyinggung akan itu?" "Hhmm... Makan dulu aja, Nyonya! Makan dulu baru bahas ini. Nggak enak kalau bahas beginian dalam keadaan perut kosong. Harus diisi dulu perutnya." Bejo menarik nafas dalam. Pengen cerita, tapi takut ngerusak mood Mila. Kalau tidak cerita tambah rusak kepercayaan Mila padanya. Mila menganggukkan kepala. Santai wanita itu makan. Mila begitu sangat menikmati dan Bejo pun sesekali mengusap bibir M
Seingin-inginnya Bejo pada Mila. Tidak sama sekali Bejo menuntut Mila untuk memuaskannya. Kasihan sudah lelah! Bejo mengajak Mila membersihkan diri dan membiarkan majikannya beristirahat. "Saya pesan makan ya, Nya." "Iya, Jo. Aku mau rebahan dulu." Mila menguasai ranjang yang berantakan. Wanita itu hanya merapikan sedikit yang akan digunakan untuk tidur saja. Selebihnya dibiarkan saking sudah lemasnya. Bejo pun segera merapikan sisanya dan memungut pakaian mereka yang teronggak di lantai tak memiliki harga diri sama sekali. Bejo melangkah menuju ruangan depan dan memesan makanan. Dia juga mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana. Mengambil tas Mila juga yang masih tergeletak di lantai. Bejo menyimpan semua barang-barang itu ditempatnya. Sudah seperti suami sayang istri. Usai bercinta malah beberes ruangan. Bejo menjatuhkan tubuhnya di sofa seraya menunggu makanan datang. Dia membuka ponselnya yang tadi sempat berdering. "Siapa sih? Oh, Tuan. Ngapain dah?"
"Pertanyaan macam apa itu, Nyonya? Baru kali ini Nyonya melempar pertanyaan yang nggak berbobot." "Kok gitu, Jo?" tanya Mila bingung. "Eh tapi mendingan nggak laku Nya, biar saya nggak ada saingannya." "Memangnya kamu mau sama saya?" tanya Mila semakin intens saja memandangnya. "Nah ini! Ini! Pertanyaan yang semakin ngelantur. Udah ah nggak usah dijawab! Nyonya seharunya tau jawabannya. Bukannya malah nanya lagi. Nggak bener banget emang." Bejo beranjak dari sana kemudian meraih tubuh Mila. Wanita itu sempat bingung tetapi patuh saja dengannya yang kini membawa Mila menuju kolam renang. "Eh maksudnya kita mau renang, Jo?" tanya Mila dan Bejo menganggukkan kepala. "Iya, Nyonya. Kayaknya seger." "Tapi aku nggak bisa loh, Jo. Kamu tuh gimana? Aku nggak mau. Bawa aku mandi ajalah!" tolak Mila masih di atas gendongannya. "Bisa! Lagian juga nggak dalam kok. Katanya mau ringanin beban pikiran. Yang happy, Nyonya! Ada fasilitas di pergunakan sebaik mungkin. Jangan s
"Jo enak sekali. Aku mau sampai lagi." "Angkat kalau sudah mau sampai, Nyonya!" perintah Bejo dan Mila patuh. Mila mengangkat bokongnya saat sudah mau sampai di ujung klimaks hingga apa yang Mila keluarkan membasahi wajahnya. "Ughh.... Langsung dimandiin gue." Bejo memejamkan kedua mata sedangkan Mila masih gemetar dengan gerakan yang frontal mengeluarkan air seperti kran yang terus saja menghasilkan hingga kekuatannya melemah. Mila ambruk di atas tubuh Bejo yang sedang mengusap wajahnya. Basah semua begini, tapi senang melihat Mila kembali terpuaskan. "Bagaimana, Nyonya?" "Aku mulai lemas, Jo. Kamu kapan sampainya? Kuat sekali kamu, Jo." "Oh jelas! Kan perkasa, tapi kalau Nyonya sudah puas. Saya langsung keluarkan juga." Bejo memutar balikkan keadaan. Yang semula Mila di bawah, kini dia kembali mengkukung tubuh wanita itu demi bisa melepaskan semua cairan yang sudah menumpuk. "Lepas di dalam saja, Jo!" "Kalau jadi gimana?" "Tidak masalah!" "Hitunga
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







