ログインSepanjang perjalanan pulang, Mila kembali diam dan dia pun harus menghadapi sikap majikannya yang sama seperti pagi tadi. Memang wanita sulit dimengerti. Begini makanya males berhubungan dengan banyak wanita. Tidak ada angin tidak ada hujan tau-tau diam tetapi karena pekerjaan jadi wajib menjadi cenayang untuk majikannya. Terlanjur dibayar juga jadi harus profesional kerja tapi dia akui sudah sangat perduli. Bejo melirik Mila yang melihat ke arahnya kemudian melengos saat tau dia tengah memperhatikan. "Nyonya kenapa? Marah sama saya? Apa ada kata-kata saya yang membuat Nyonya tidak berkenan?" "Nggak ada. Cuma memang kamu belum jawab pertanyaan saya tadi, Jo." "Pertanyaan yang mana, Nyonya?" "Saya nggak mau ya Jo kamu campur-campur!" "Yang nyampur Nyonya juga siapa? Nggak ada yang nyampur-nyampur. Lagian Nyonya bukan es campur. Sabar, tenang, Nyonya!" "Jangan bercanda, Jo! Saya serius bukan lagi ingin mendengar gurauan kamu," kata Mila tegas dan dia menganggukkan
"Ini yang kata Nyonya enak?" tanyanya setelah makanan datang. Baru dilihat saja dia sudah ragu untuk memakannya. "Ini sehat, Jo! Kamu harus makan sayur." "Ini salad namanya, Nyonya. Saya juga tau tapi ini iyyuuuuuhhh mentah, Nyonya. Kek mana makannya? Pasti bau dirinya." "Bau dirinya gimana? Ya sayur bau sayur, nggak mungkin jadi bau ayam. Ayo makan!" perintah Mila dan dia membuang muka melihat isi piringnya. Bejo paling tidak suka makan salad sayur. Pokoknya kalau yang berbau-bau sayuran mentah tuh Bejo pasti menolak. Sayur yang matang saja banyak milihnya apalagi yang begitu. "Jo!" "Nggak mau, Nyonya!" tolaknya lagi. "Jo nurut! Sini!" Terdengar Mila begitu sangat geregetan padanya. Tangan wanita itu sampai menarik dagunya hingga mereka berdua saling memandang, tapi bukan ingin romantisan melainkan dia dipaksa untuk makan. "Buka mulutnya, Jo!" "Nggak mau, Nyonya!" tolaknya dengan wajah yang sudah memerah. Bisa saja dia ngamuk atau menolak dengan kasar
"Oh untuk materi kampus kok. Ya mungkin dari sini kita akan sering bertemu karena aku memang sangat butuh Jo." "Loe ngomong apaan sich, Ca?" sahut Bejo yang tak terima dengan yang disampaikan oleh Caca. "Oh bagus dong kalau begitu. Lanjutkan!" sahut Mila. Mila tersenyum setelah mengatakan demikian kemudian melangkah pergi dari sana menuju kamar mandi. Senyuman yang bagi Bejo adalah senyum terpaksa hingga membuatnya menelan kasar salivanya. Dia memperhatikan Mila sampai tak lagi terlihat dari pandangannya kemudian melirik sengit Caca yang menarik kedua ujung bibir saat dia mulai perhatikan. "Loe kalau ngomong bisa nggak jangan sembarangan? Bikin muak tau nggak!" Caca meringis melihat kemarahannya atas sikap cewek itu yang baginya sangat mengganggu. Entah kenapa, Bejo seolah khawatir jika majikanya akan marah. Apa lagi dari mimik muka Mila yang agak gimana gitu pada Caca. Padahal wanita itu berulang kali mengatakan tidak apa dia pacaran tetapi mengapa terdengar agak g
"Kok ada giniannya sich, Jo?" bisik Mila di telinganya yang membuat dia mengulum senyum mendengar itu. Mana tau kalau ada gituannya. Dia yang menghindari hal seperti ini di film romance malah disuguhkan lebih dari apa yang ada di kepalanya. "Hanya untuk pemanis saja, Nyonya." Memang benar, ini merupakan alur dari film walaupun menampilkan tokoh wanita sampai bertelanjang tetapi setelahnya dilanjut dengan alur lain yang mendukung cerita. "Ikh kamu mah! Udah serem, ada beginiannya juga. Sengaja banget 'kan kamu, Jo?" sahut Mila dan Bejo terkekeh mendengar itu. "Kalau tau ada begininya juga saya mah lebih baik mengajak Nyonya nonton film dua kembar yang lucu di rumah. Yang dari jaman ke jaman TK aja nggak lulus-lulus." "Kamu juga ngaruh?" "Iya lah, Nyonya. Normal saya juga. Udah bangun ini, tapi nggak terlalu. Udah ganti kok. Aman!" jawabnya dan kembali fokus dengan film yang mereka tonton saat ini. Posisi Mila masih sama, masih bersembunyi di pundaknya. Namun hal
"Saya aja yang bayar, Jo. Jangan kamu!" Mila menyentuh tangannya menahannya saat hendak membayar. Pergerakan itu sampai menarik perhatian Mbak-mbak yang menjaga meja kasir. Padahal sejak tadi arah mata wanita berseragam itu sesekali memperhatikannya tetapi saat Mila mengatakan demikian, cewek itu auto menoleh ke arah Mila juga. Mungkin dalam hati, cewek itu mulai melihat keserasian mereka. Namun menangkap sesuatu yang berbeda. Mila terlihat lebih dewasa dan dia dengan style anak kuliahan. Bejo mengenakan kemeja sebagai luaran dan kaos hitam di dalamnya. Dia seperti tengah mengajak nonton kakaknya. Tidak tau saja kalau yang ia bawa adalah istri dari majikannya. "Saya aja, Nyonya. Tenang! Nggak akan menghabiskan uang di rekening saya kok, Nyonya. Abis gajian nich! Masih gendut banget," jawabnya santai dan Mila menggelengkan kepala mendengar itu. "Kalau kamu yang bayar, kamu rugi, Jo! Kamu tuh lagi ngerjain tugas dari Mas Saka dan kesini juga karena ajakan dari saya. M
Dia melirik pada kaca spion. Bejo sadar dirinya seperti tengah dipantau. Dia pun mempercepat laju kendaraannya hingga mobil yang ia bawa sedikit berjarak dengan mobil yang diduga mengikutinya. "Kayaknya dia tau kalau lagi kita pantau, Tuan." "Nggak masalah kalau memang tujuannya ke toko roti. Memang itu yang saya inginkan. Istri saya tengah merajuk dan ini yang saya mau. Bejo ada di samping Mila agar bisa masuk lebih cepat." "Maaf Tuan, tapi kalau misal Bejo tidak bisa, kenapa tidak digantikan saja?" "Maksudmu digantikan denganmu? Kamu suka dengan istri saya?" tanya Saka dengan kedua mata menyelidik. "Bukan begitu Tuan, karena memang belum ada hasil. Lebih baik diganti dari pada Tuan juga berharap terus." "Belum waktunya, saya masih percaya sama dia," kata Saka membungkam mulut asistennya. Bejo pun sudah sampai di depan toko roti. Dia melirik kaca spion untuk kembali melihat mobil yang mengikutinya. Dilihat-lihat mobil itu benar-benar sudah tidak ada. Bejo seger
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







