LOGINBejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik.
Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu akan sangat ditunggu-tunggu oleh Bejo. Namun di luar ekspektasi kalau dia akan melakukannya dengan wanita berkelas yang ternyata istri orang. Woooowwww tentu saja itu di luar nalarnya. Bejo tak memiliki jiwa pembinor tapi dituntut untuk mengeksekusi milik orang lain. "Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak!" Bejo bersenandung lirih seraya membersihkan bulu-bulu di bawah sana. "Juki, loe mau gue pake. Harus kuat, gagah dan perkasa! Kita jebol gawang yang katanya susah itu. Nggak ada kata gagal Juki walaupun loe belum pernah gue pake!" Selama ini jangankan memecah dara perawan, memanjakan dengan senam lima jari saja Bejo sangat jarang melakukannya. Bukan tidak ingin apalagi tidak suka. Bejo begitu karena tidak ingin kecanduan tapi berbeda saat melihat Nyonya Mila, agaknya otak Bejo menjadi kotor. "Tuh 'kan! Penasaran 'kan loe, Juk? Ya kali bangunnya sekarang. Dibilang nanti aja kalau lihat Nyonya pakai lingerie. Sialnya gue lola tadi. Kalau Nyonya pakai yang hitam, beeehhhh bodynya pasti aduhai banget ya Juk. Setuju nggak loe?" tanya Bejo yang kemudian menepuk miliknya yang setengah hidup. "Aaagghh...." Bejo mendesah kala rasanya mendadak enak. Dia mendesis dan gerakan si Juki semakin bangun saja. "Enak ternyata Juk. Udah lama nggak ngeluarin, tapi nggak sekarang juga, Juki! Gue kata nanti aja kita gaspolnya. Malah sekarang loe udah sange aja. Ganjel nanti, Juk! Yeee.... Loe lagi! Repot!" Kedua mata Bejo memejam seraya mengusap miliknya. Bayangan akan tubuh molek Mila menghantui dan mengotori otaknya. Dia yang jarang begini, belum-belum sudah merasakan gejolak yang membara. Sialnya, semua butuh perjuangan mengingat Mila yang memiliki penyakit langka. Itu tantangannya dan Bejo harus bisa. "Sssttt.... Enak banget lagi. Loe harus bisa berdiri sempurna ya Juk di depan Nyonya Mila. Jangan sampai nggak! Tunjukan pesonamu, Juki!" Bejo meneruskan mandinya. Dia mandi mode gadis, lama dan bersih. Intinya apa yang Mila katakan tadi benar-benar Juki maksimalkan. Jangan sampai mengecewakan apalagi membuat Nyonya Mila sampai tidak berhasrat dengannya. Selesai mandi, semprotan minyak wangi pun membuatnya semakin sedap dinikmati dan penampilan rapi terlihat sedap dipandang mata. Bejo melihat penampilannya dari cermin. Dia menyeringai saat melihat tak ada celah sedikitpun yang mungkin akan dicacat oleh Mila. Tangan ya menyugar rambutnya dengan gerakan yang perlahan. "Ganteng emang gue. Yakin nggak akan ditolak sama Nyonya. Sentuh sekali Nyonya langsung buka kaki," kata Bejo kemudian melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. "Dua jam lagi. Makan dulu lah gue." Bejo melangkah menuju ruang makan. Wangi di tubuhnya menyita perhatian Bibi sampai menoleh menatap bingung dengan kedua alis menukik memperhatikannya. "Jo, mau apel? Perasaan belum malam Minggu. Baru juga malem Jumat," tegur Bibi dan Bejo terkekeh mendengar itu. "Justru malam Jumat Bi, jadi kudu rapi, wangi dan menarik. Ganteng 'kan Bi?" tanya Bejo dengan percaya dirinya kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang Bibi siapkan khusus untuk pekerja di rumah itu. "Malam Jumat? Emangnya kamu mau jadi sajen memedi?" "Yeeeehhhh si Bibi. Dikata mau saingan sama kembang kali. Sunah Rasul dong, Bi! Nggak paham Bibi nich," jawab Bejo tanpa sadar membuka kartu tetapi saat hendak membuka mulut untuk memasukkan makanannya. Pergerakan Bejo terhenti kemudian melirik Bibi yang sedang memikirkan apa yang dia katakan tadi. "Awas jangan sampai kamu hamilin anak orang walaupun jaman sekarang katanya kalau nggak DP duluan nggak enak!" pesan Bibi. Bejo menghela nafas lega mendengar apa yang Bibi katakan. "Oke Bibi gaul! Makan dulu biar kuat, Bi." "Parah kamu tuh! Bibi mau ke kamar Nyonya dulu lah! Nyonya minta ganti sprei katanya." "Oke, Bi." Bejo melanjut makannya seraya memperhatikan pergerakan Bibi. Di pertengahan tangga, terlihat Nyonya Mila turun dengan bertelanjang kaki. Kedua alis Bejo menukik melihat pakaian Mila yang kini sudah ganti. Rambut tergerai indah, tubuh molek itu ditutupi dengan balutan pakaian satin. Kimono tidur warna hitam yang mungkin terdapat lingerie di dalamnya semakin menggoda iman. "Ukuran 34C, bodi semok, bokong bulet, kulit putih, wajah cantik. Yang beginian jadi makanan gue malam ini. Gila sich! Siapa juga yang mau nolak. Persetan dengan apapun itu. Selagi itu menguntungkan, hajar aja nggak sich?" Mata Bejo mendadak hijau melihat Mila. Padahal sebelumnya dia sangat menghormati dan menghargai wanita itu. Apalagi melihat Mila yang terlihat kelam sekali. Tanpa Bejo sangka ternyata wanita yang sakit hatinya akan sangat menggila. "Bejo, kamu lihat apa?" Deg Bejo tersadar dalam lamunannya. Bejo berdehem kemudian beranjak dari duduknya. Makanan yang ada di tenggorokan sampai berat sekali dia telan hingga memberikan rasa sesak di dada. Dengan cepat Bejo mengambil minum dan meneguknya. Kedua mata terus melirik Mila tanpa putus. Tatapan mata Mila pun mengunci Bejo yang kemudian menarik gelasnya dan meletakkan kembali benda pecah belah itu di atas meja. "Ada apa, Nyonya? Akh iya, Nyonya cantik malam ini." Mila menyeringai mendengar apa yang ia katakan kemudian mencondongkan tubuhnya seraya menunjuk dada Bejo. "Rayuanmu tidak mempan sebelum kamu menunjukkan keperkasaanmu padaku, Bejo." Bisikan Mila seketika membuat tubuh Bejo menegang merinding sebadan-badan. Apalagi yang Mila katakan mengandung racun yang menagihkan jiwa raga. "Lihat saja nanti, Nyonya. Saya juga minta kerja samanya. Buka kaki Nyonya lebar-lebar saat saya akan masuk nanti!" sahut Bejo kemudian mengangkat kedua alisnya dan Mila menarik diri. "Itu tantangan untukmu, Bejo. Naik setelah Bibi turun!" "Nyonya nggak makan dulu? Katanya jam sepuluh, Nyonya? Bagaimana kalau Bibi tau?" tanya Bejo dan Mila menggeleng kepala. "Itu urusanmu, Bejo! Bayaranmu sudah sangat mahal. Tidak seharusnya kamu menanyakan cara padaku," jawab Mila yang kemudian berbalik meninggalkan meja dapur. Bejo menghela nafas berat seraya mengusap dada. Tatapan mata masih tetap mengarah pada Mila yang memiliki daya pikat sangat hebat. "Cakep banget," gumam Bejo memperhatikan langkah Mila dengan geolan bokong yang membuat Bejo mendesis melihat itu. "Heh! Bejo! Kamu lihat apa?" Bejo terjingkat kala teguran dari Bibi datang. Lagi-lagi dia tersadarkan dari lamunan joroknya. "Awas kamu macam-macam sama Nyonya! Disembelih sama Tuan baru tau rasa kamu!" kata Bibi yang kemudian melangkah menjauh. Bejo mengusap kasar wajahnya. Belum selesai makannya, Bejo memilih beranjak dari sana mengingat ada kesempatan untuknya menuju kamar Mila. Bejo melihat Bibi masuk kamar. Bergegas dia berlari menaiki tangga menyusul Mila. Bejo lebih dulu melihat ke sekitar takut-takut ada yang melihat pergerakannya. Tangannya membuka handle pintu setelah mengetuk singkat. Tanpa basa basi, Bejo segera masuk dan menutup rapat kembali pintu kamar itu. "Aman..." Bejo menghela nafas lega kemudian berbalik untuk mencari Mila. Namun alangkah terkejutnya dia kala melihat Mila dengan kimono tidur yang sengaja dilepas hingga jatuh ke lantai. Ini bukan lingerie, tapi sebuah kain berbetuk bikini yang menyambut hangat mata dan jiwa Bejo. "Shiiiittt! Seksi banget, Anjiiir!""Kenapa jangan? Ini sangat enak, Sayang. Legit sekali! Aku suka. Kamu bagaimana? Suka kan pastinya? Apalagi kalau aku hisap dan gigit kecil. Kamu pasti akan menjerit keenakan, Sayang." Mala menggeleng kepala dan memejam enggan tetapi Saka semakin mendesak, menggesek, dan membuat Mala adem panas. Mala menggigit bibir bawahnya. Kedua mata yang tertutup terlihat gelisah sedangkan Saka semakin gencar membuat Mala tak berdaya. Tangan Mala sudah menolak tetapi tak bisa bebas apalagi Saka semakin tidak karuan gerakannya. Mala dibuat patuh dan tak bisa berkutik. Gerakan Saka yang sangat meresahkan membuat Mala semakin tidak waras saja. "Kak ampun! Jangan begini, Kak! Ingat, Kak Mila! Kalau begini sama saja kita menyakiti Kak Mila. Aku tidak mau, Kak. Aku mohon jangan! Cukup dibatasi saja." "Terus untuk apa kamu mau ikut ke sini kalau tidak ingin bercinta denganku? Jangan mengatakan jika tidak tau, Sayang! Aku tau kamu pasti penasaran dan suka." Mala kembali menggelengkan kepala dan
"Kak aku mohon .. Jangan!" Wanita itu membuang muka dengan kedua tangan berpegangan ujung meja. Wanita itu menahan diri tetapi bukan berarti bisa melarikan diri. Saka sudah sangat ingin, pria itu menyeringai kemudian mendekati, mengkukung dan menjatuhkan kecupan di leher putih yang semakin menggiurkan. "Jangan takut! Kamu sudah tau persoalannya bukan? Kamu sendiri yang ingin menggantikan agar aku tidak menyakiti kakakmu. Sekarang, kamu juga harus menggantikan ranjang kakakmu. Kakakmu yang sampai saat ini belum sama sekali melegakanku dengan kehangatan miliknya." "Kak!" pekik Mala. Ya, wanita itu adalah Mala. Mala yang menahan diri agar tidak disentuh tetapi tangan Saka sudah singgah di pangkal Paha Mala. Tangan Saka dengan lembut mengusap tepat di tengah-tengah dan menempatkan jari tengah di tengah belahan yang saat ini begitu nyata setelah Saka menyingkap rok yang Mala kenakan. "Kak Jangan!" Tangan Mala berusaha untuk melepaskan tangan Saka tetapi Saka tidak melewa
"Jauh ya, Jo?" "Lumayan, Nyonya. Nyonya kalau ngantuk, tidur dulu saja! Nanti kalau sudah sampai, saya bangunin." "Hhmm...." Mila memejamkan kedua mata dan Bejo melihat bagaimana Mila sudah terlelap. Dia tersenyum tipis melihat Mila tidur. "Bisa tidur aja udah syukur. Seenggaknya nggak kurus kering gara-gara banyak pikiran terus nggak bisa tidur." Bejo fokus dengan apa yang ada di hadapannya. Perjalanan malam yang sangat menyita fokusnya. Bejo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang cenderung tinggi. Setengah jalan menuju lokasi, kembali Bejo menerima panggilan dari Edo. "Hallo, Do. Gimana?" "Mampus tuh nenek-nenek. Gue kerjain sampai nggak bisa bangun. Syukur nggak masuk rumah sakit tapi lagi di periksa sama dokter. Bentar lagi juga gila." "Lo apain?" "Pokoknya suka-suka gue. Orang jahat mah udah paling bener dibikin keblinger. Cuma malam ini kayaknya gue tidur sini, Jo." "Bagus deh! Terus kerjain tuh nenek lampir! Balik pagi aja! Nanti gue kasih bonus
"Sejak kapan?" "Sejak Nyonya meminta perlindungan sama saya. Maaf kalau saya lancang." Mila menutup mulut masih tidak menyangka. Kedua mata wanita itu memandangnya dengan kedua mata memerah. Bejo menarik nafas dalam melihat itu. Dia tidak membela diri. Kalau Mila mau marah pun Bejo tidak akan kecewa. Memang itu sudah menjadi caranya dalam melindungi Mila. "Jo..." Tangan Mila terangkat dan Bejo memejamkan kedua mata. Namun Mila malah memeluknya, Bejo sempat tersentak mendapati itu. Bejo pikir Mila akan menggamparnya ternyata malah mendekap masuk ke pelukan. "Pikiran kamu tuh apa sih? Apa yang ada di Kapala kamu sampai segitunya? Kamu pikir aku nggak malu? Kalau hanya bertengkar terserah tapi kalau apa yang aku lakukan pada Mas Saka, kamu sampai tau ya aku malu, Jo!" protes Mila seraya memukul dada Bejo. "Untung kamu baik, kalau nggak mungkin sudah aku amuk kamu." "Untuk apa malu, Nyonya? Saya juga sudah tau cara Nyonya memuaskan Tuan. Begitu-begitu doang sih. Nggak a
Bejo benar-benar melacak keberadaan Saka. Kali ini Bejo sudah tak lagi basa basi. Andai pun nantinya dia akan membongkar pada Mila, Bejo tak lagi perduli akan apapun. Sakitnya Mila akan dia tanggung. Sudah cukup dia menutupi selama ini yang akhirnya semakin lama durasi kesakitan yang harus Mila rasakan. Bom waktu sudah saatnya meledak. Muak sudah dia dengan drama rumah tangga majikannya. Belum lagi dengan orang tua yang ikut-ikutan. Melihat air mata Mila yang terus saja mencair membuat Bejo tidak lagi ingin menahan. "Hotel Garuda." "Siapa yang ada di hotel Garuda, Jo?" Sontak Bejo menoleh memandang Mila yang berdiri tak jauh darinya. Padahal tadi ada di kamar sedang beristirahat, mengapa tiba-tiba sudah ada di depan mata? Bejo menelan kasar salivanya. Dia mengulurkan tangan menunjukkan titik dimana Saka berada. "Kamu sedang menyadap ponsel siapa, Jo? Ini ..." "Tuan. Bukan hanya ponselnya saja tetapi mobilnya juga." Kedua alis Mila menukik mendengar itu. Wanita it
"Aku nggak mau pulang, Jo. Jangan juga ke tempat Ayah. Bawa aku ketempat lain dulu!" pinta Mila dengan suara yang sangat lembut. "Ya." Bejo tidak mengatakan apapun tentang tujuan yang dia akan kunjungi saat ini. Kemana dia akan membawa Mila pergi. Bejo melajukan mobilnya menuju tempat penginapan yang nyaman jauh dari perkotaan. Untuk saat ini biarkan Mila istirahat dengan tenang dan selebihnya dia yang akan bekerja untuk menemukan dokter dan antek-antek dari mertuanya Mila yang sudah membantu memasukkan cairan itu ke tubuh Mila. Panggilan dari Edo masuk dan Bejo melirik Mila yang bersandar memandang kaca jendela. Bejo pun segera menerimanya. Bejo tidak perduli sekali pun Mila mendengar. Sudah kadung emosi. Sekalian ingin tau bagaimana respon dan Mila. "Ada apa, Do?" "Udah gue kerjain, Jo. Gue lagi ada di rumah mertuanya Nyonya. Gila gede juga rumahnya ya. Dalemnya banyak banget barang-barang mahal. Hawanya pengen gue lelang biar mampus tuh orang!" "Jangan langsung
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







