Share

Bab 06. Seksi

Author: weni3
last update publish date: 2026-06-15 13:59:13

Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik.

Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu akan sangat ditunggu-tunggu oleh Bejo.

Namun di luar ekspektasi kalau dia akan melakukannya dengan wanita berkelas yang ternyata istri orang.

Woooowwww tentu saja itu di luar nalarnya. Bejo tak memiliki jiwa pembinor tapi dituntut untuk mengeksekusi milik orang lain.

"Gaspol ndangak! Digaspol ndangak-ndangak!" Bejo bersenandung lirih seraya membersihkan bulu-bulu di bawah sana.

"Juki, loe mau gue pake. Harus kuat, gagah dan perkasa! Kita jebol gawang yang katanya susah itu. Nggak ada kata gagal Juki walaupun loe belum pernah gue pake!"

Selama ini jangankan memecah dara perawan, memanjakan dengan senam lima jari saja Bejo sangat jarang melakukannya. Bukan tidak ingin apalagi tidak suka. Bejo begitu karena tidak ingin kecanduan tapi berbeda saat melihat Nyonya Mila, agaknya otak Bejo menjadi kotor.

"Tuh 'kan! Penasaran 'kan loe, Juk? Ya kali bangunnya sekarang. Dibilang nanti aja kalau lihat Nyonya pakai lingerie. Sialnya gue lola tadi. Kalau Nyonya pakai yang hitam, beeehhhh bodynya pasti aduhai banget ya Juk. Setuju nggak loe?" tanya Bejo yang kemudian menepuk miliknya yang setengah hidup.

"Aaagghh...."

Bejo mendesah kala rasanya mendadak enak. Dia mendesis dan gerakan si Juki semakin bangun saja.

"Enak ternyata Juk. Udah lama nggak ngeluarin, tapi nggak sekarang juga, Juki! Gue kata nanti aja kita gaspolnya. Malah sekarang loe udah sange aja. Ganjel nanti, Juk! Yeee.... Loe lagi! Repot!"

Kedua mata Bejo memejam seraya mengusap miliknya. Bayangan akan tubuh molek Mila menghantui dan mengotori otaknya. Dia yang jarang begini, belum-belum sudah merasakan gejolak yang membara.

Sialnya, semua butuh perjuangan mengingat Mila yang memiliki penyakit langka. Itu tantangannya dan Bejo harus bisa.

"Sssttt.... Enak banget lagi. Loe harus bisa berdiri sempurna ya Juk di depan Nyonya Mila. Jangan sampai nggak! Tunjukan pesonamu, Juki!"

Bejo meneruskan mandinya. Dia mandi mode gadis, lama dan bersih. Intinya apa yang Mila katakan tadi benar-benar Juki maksimalkan. Jangan sampai mengecewakan apalagi membuat Nyonya Mila sampai tidak berhasrat dengannya.

Selesai mandi, semprotan minyak wangi pun membuatnya semakin sedap dinikmati dan penampilan rapi terlihat sedap dipandang mata.

Bejo melihat penampilannya dari cermin. Dia menyeringai saat melihat tak ada celah sedikitpun yang mungkin akan dicacat oleh Mila. Tangan ya menyugar rambutnya dengan gerakan yang perlahan.

"Ganteng emang gue. Yakin nggak akan ditolak sama Nyonya. Sentuh sekali Nyonya langsung buka kaki," kata Bejo kemudian melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.

"Dua jam lagi. Makan dulu lah gue."

Bejo melangkah menuju ruang makan. Wangi di tubuhnya menyita perhatian Bibi sampai menoleh menatap bingung dengan kedua alis menukik memperhatikannya.

"Jo, mau apel? Perasaan belum malam Minggu. Baru juga malem Jumat," tegur Bibi dan Bejo terkekeh mendengar itu.

"Justru malam Jumat Bi, jadi kudu rapi, wangi dan menarik. Ganteng 'kan Bi?" tanya Bejo dengan percaya dirinya kemudian mengambil piring dan mengisinya dengan makanan yang Bibi siapkan khusus untuk pekerja di rumah itu.

"Malam Jumat? Emangnya kamu mau jadi sajen memedi?"

"Yeeeehhhh si Bibi. Dikata mau saingan sama kembang kali. Sunah Rasul dong, Bi! Nggak paham Bibi nich," jawab Bejo tanpa sadar membuka kartu tetapi saat hendak membuka mulut untuk memasukkan makanannya.

Pergerakan Bejo terhenti kemudian melirik Bibi yang sedang memikirkan apa yang dia katakan tadi.

"Awas jangan sampai kamu hamilin anak orang walaupun jaman sekarang katanya kalau nggak DP duluan nggak enak!" pesan Bibi.

Bejo menghela nafas lega mendengar apa yang Bibi katakan.

"Oke Bibi gaul! Makan dulu biar kuat, Bi."

"Parah kamu tuh! Bibi mau ke kamar Nyonya dulu lah! Nyonya minta ganti sprei katanya."

"Oke, Bi."

Bejo melanjut makannya seraya memperhatikan pergerakan Bibi. Di pertengahan tangga, terlihat Nyonya Mila turun dengan bertelanjang kaki. Kedua alis Bejo menukik melihat pakaian Mila yang kini sudah ganti.

Rambut tergerai indah, tubuh molek itu ditutupi dengan balutan pakaian satin. Kimono tidur warna hitam yang mungkin terdapat lingerie di dalamnya semakin menggoda iman.

"Ukuran 34C, bodi semok, bokong bulet, kulit putih, wajah cantik. Yang beginian jadi makanan gue malam ini. Gila sich! Siapa juga yang mau nolak. Persetan dengan apapun itu. Selagi itu menguntungkan, hajar aja nggak sich?"

Mata Bejo mendadak hijau melihat Mila. Padahal sebelumnya dia sangat menghormati dan menghargai wanita itu. Apalagi melihat Mila yang terlihat kelam sekali.

Tanpa Bejo sangka ternyata wanita yang sakit hatinya akan sangat menggila.

"Bejo, kamu lihat apa?"

Deg

Bejo tersadar dalam lamunannya. Bejo berdehem kemudian beranjak dari duduknya. Makanan yang ada di tenggorokan sampai berat sekali dia telan hingga memberikan rasa sesak di dada.

Dengan cepat Bejo mengambil minum dan meneguknya. Kedua mata terus melirik Mila tanpa putus. Tatapan mata Mila pun mengunci Bejo yang kemudian menarik gelasnya dan meletakkan kembali benda pecah belah itu di atas meja.

"Ada apa, Nyonya? Akh iya, Nyonya cantik malam ini."

Mila menyeringai mendengar apa yang ia katakan kemudian mencondongkan tubuhnya seraya menunjuk dada Bejo.

"Rayuanmu tidak mempan sebelum kamu menunjukkan keperkasaanmu padaku, Bejo."

Bisikan Mila seketika membuat tubuh Bejo menegang merinding sebadan-badan. Apalagi yang Mila katakan mengandung racun yang menagihkan jiwa raga.

"Lihat saja nanti, Nyonya. Saya juga minta kerja samanya. Buka kaki Nyonya lebar-lebar saat saya akan masuk nanti!" sahut Bejo kemudian mengangkat kedua alisnya dan Mila menarik diri.

"Itu tantangan untukmu, Bejo. Naik setelah Bibi turun!"

"Nyonya nggak makan dulu? Katanya jam sepuluh, Nyonya? Bagaimana kalau Bibi tau?" tanya Bejo dan Mila menggeleng kepala.

"Itu urusanmu, Bejo! Bayaranmu sudah sangat mahal. Tidak seharusnya kamu menanyakan cara padaku," jawab Mila yang kemudian berbalik meninggalkan meja dapur.

Bejo menghela nafas berat seraya mengusap dada. Tatapan mata masih tetap mengarah pada Mila yang memiliki daya pikat sangat hebat.

"Cakep banget," gumam Bejo memperhatikan langkah Mila dengan geolan bokong yang membuat Bejo mendesis melihat itu.

"Heh! Bejo! Kamu lihat apa?"

Bejo terjingkat kala teguran dari Bibi datang. Lagi-lagi dia tersadarkan dari lamunan joroknya.

"Awas kamu macam-macam sama Nyonya! Disembelih sama Tuan baru tau rasa kamu!" kata Bibi yang kemudian melangkah menjauh.

Bejo mengusap kasar wajahnya. Belum selesai makannya, Bejo memilih beranjak dari sana mengingat ada kesempatan untuknya menuju kamar Mila.

Bejo melihat Bibi masuk kamar. Bergegas dia berlari menaiki tangga menyusul Mila.

Bejo lebih dulu melihat ke sekitar takut-takut ada yang melihat pergerakannya. Tangannya membuka handle pintu setelah mengetuk singkat. Tanpa basa basi, Bejo segera masuk dan menutup rapat kembali pintu kamar itu.

"Aman..."

Bejo menghela nafas lega kemudian berbalik untuk mencari Mila. Namun alangkah terkejutnya dia kala melihat Mila dengan kimono tidur yang sengaja dilepas hingga jatuh ke lantai.

Ini bukan lingerie, tapi sebuah kain berbetuk bikini yang menyambut hangat mata dan jiwa Bejo.

"Shiiiittt! Seksi banget, Anjiiir!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Ridwan Budi
bab selanjutnya nya ngak bisa di buka kak wen
goodnovel comment avatar
Ridwan Budi
jangan kasih kendor bejo bikin ngak bisa jalan tu majikan mu
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
hahahaha ...lucu banget si Bejo ..gaslah Bejo wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 138. Cepu

    "Iya Nyonya besar bagaimana? Maaf Nyonya, saya baru saja dari kamar mandi." "Lama kamu tuh! Nggak tau siapa yang menghubungi. Gimana anak saya dan mantu mandul saya itu? Apa yang kamu lihat dari mereka, Sri?" "Maaf Nyonya besar, saya nggak nyangka kalau akan mendapatkan telepon dari Nonya besar. Kalau untuk Nyonya dan Tuan Saka, saya lihat memang agak kurang harmonis, Nyonya. Hanya saja itu wajar dalam berumah tangga." "Kamu jangan menutupi apapun dari saya Sri! Kamu ngomong aja kalau emang mereka itu banyak masalah. Jangan kamu tutup-tutupi!" "Nggak ada, Nyonya besar." "Nggak ada gimana? Kamu bilang tadi ada masalah sekarang kamu bilang lagi nggak ada apa-apa. Kamu aja omongannya nggak bisa dipegang. Cerita, Sri! Jangan kamu tutupi! Saya bisa saja memulangkan kamu kalau kamu berani berbohong. Siapa yang mempekerjakan kamu di sana? Kamu pikir Mila? Saya, Sri! Ingat itu! Saya yang mengajukan kamu pada Saka!" "Iya, Nyonya besar. Maaf tapi memang sebelumnya jarang bertengkar hanya

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 137. Aku Mau di Kolam

    Bejo lebih dulu mandi dan membersihkan diri sebersih bersihnya karena Mila sesuka itu. Bahkan persiapan dia lakukan hampir satu jam di kamar mandi hingga semua jari terlihat keriput. "Nah kalau begini, mau dijilat, disedot, dihisap, dimut, gue pede."Bejo keluar dengan tubuh yang sangat segar. Masih dengan berbalut handuk sebatas pinggung. Bejo melangkah mendekati meja yang di depan sana ada kaca berukuran kecil untuknya melihat penampilannya sendiri.Minyak wangi disemprotkan keseluruh badan. Dia menyeringai kala wangi maskulin begitu sangat menggoda. Ini sudah kesekian kalinya tetapi untuk kegiatan ranjang tidak akan pernah membuatnya bosan. Hanya saja, sambil menunggu waktu. Bejo lebih dulu menyiapkan bahan untuk proposalnya. Sejenak dia bergelut dengan kata dan juga mengasah otak. Tanpa dia tau kalau Mila pun tengah mempersiapkan diri di kamar. "Kalau pakai yang ini gimana ya?" Mila melihat lingerie yang kini ada di tangannya. Semua stok lingerie baru sudah digunakan dan tidak

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 136. Curiga

    "Nyonya mikirnya kejauhan. Udah kayak jalan-jalan dari Jakut ke Jaksel. Kudu melewati kemacetan dan kesabaran yang ekstra. Ke sana terus mikirnya. Yang kesini aja nggak ada, Nyonya? Nggak mau jauh-jauh kalau Bejo, Nya. Maunya di ranjang Nyonya aja." "Jangan gombal! Saya serius tanya sama kamu. Ada rahasia apa kamu sama Caca?" "Nyonya pengen tau banget?" Sontak Mila merengut dengan melipat kedua tangan dan melengos enggan menatapya lagi. Mila diam dan Bejo terkekeh melihat itu. "Duuuh gemas banget bini orang! Coba bini sendiri. Udah gue ketekin sekarang juga. Sakingnya bini orang, jadi cuma bisa mandang." Dalam hati Bejo begitu berisik tetapi mau gimana memang adanya Mila begini sekarang. Sudah bebas mengungkapkan isi hati dan ketidak sukaannya sedangkan dia hanya kebagian gemasnya saja yang ditahan-tahan seperti tengah menahan kentut di depan Mila. "Jo kamu ngomong apa sih? Yang jelas kalau bicara!" "Katanya masih kesal kok negur?" "Oh jadi kamu nggak mau ditegur? Ok

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 135. Tanggal Hilang Perjaka

    "Aaaaaa..... Iya-iya ampun, Nyonya! Ampun!" Mila yang geregetan kemudian menarik telinga Bejo agar sadar tengah bicara dengan siapa. Bukannya minta maaf malah ngajak perang. Itulah yang Bejo lakukan hingga membuat Mila gemas sendiri jadinya. "Kamu tuh apa sih! Udah buat aku nunggu, sekarang malah mau ngajak aku gelud. Gimana konsepnya sih, Jo? Ih! Geregetan banget sama kamu tau nggak! Bikin aku uring-uringan aja!"Mila melepaskan telinga Bejo yang kini terlihat memerah. Kalau tidak begini mungkin wajah Mila yang memar karena tadi tangan Bejo sudah ancang-ancang ingin memukulnya. Maka dari itu Mila langsung main tangan juga. "Maaf Nyonya, maaf! Duh nggak tau kalau itu Nyonya. Kirain ada yang mau rampok saya tadi. Maklum baru bangun Nyonya. Kaget banget tadi.""Kamu ngapain tidur di sini? Saya tuh nyariin tau nggak! Saya pikir kamu belum datang. Bisa ngabarin 'kan? Kenapa malah buat saya nunggu? Hampir saja saya pulang naik taksi online tau nggak.""Iya maaf, Nyonya. Tadi tuh udah ng

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 134. Tai Kucing!

    "Lo serius?" tanya Bejo dengan kedua mata yang menunjukkan keterkejutannya. Caca menganggukkan kepala meyakinkannya kalau apa yang disampaikan benar adanya. Bejo pun mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Apa yang bisa membuat lo yakin?" "Aku yang capek mengurusnya. Kamu paham nggak sih, aku di titik lelah dan muak banget." "Tapi kemarin ada di sana, dia yang mau treatment 'kan?" tanya Bejo dan Caca menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi ya gitu deh! Nggak tau juga bisa sampai begitu tuh gimana. Pusing aku juga." "Terus gimana sama pacarnya yang satu?" tanya Bejo terus menggali informasi. Ajimumpung banget baginya yang memang sudah lelah semalaman mencari informasi dan siang ini malah dibuka selebar-lebarnya sampai Bejo rasanya ingin bersorak tetapi dia malah dibuat tercengang berulang kali. "Ya nggak tau dong, Jo. Kalau tau juga nggak mungkin banget. Kayaknya malah gantung soalnya udah nggak pernah lihat yang pertama ke rumah lagi." "Kira-kira lo tau siapa cowok perta

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 133. Ada Dua

    "Maaf, Bu." Bejo menundukkan kepala. Kalau ini memang salahnya juga. Pekerjaan sangat mengganggu kuliahnya. Padahal harusnya tidak begini. Sayangnya memang yang berkaitan dengan Mila tidak bisa dia biarkan. Namun kedua matanya mencoba untuk benar-benar tebuka, telinga mendengarkan dan otak sebisa mungkin tetap berkonsentrasi mendengarkan apa dosen sampaikan. "Kamu paham, Jo?" "Siap paham, Bu." "Ingat jangan ada revisi! Saya tidak menerima mahasiswa yang tidak berkonsentrasi dalam mengerjakan skripsinya." "Tidak akan terulang lagi, Bu." "Kalau begitu buktikan! Jangan sampai banyak revisi! Saya tidak bisa menjamin kamu sidang tahun ini kalau tidak ada keseriusan, Jo!" sehut Bu Rima, dosen muda yang sangat cerdas menurutnya. " Baik, Bu." Dia segera beranjak dari sana setelah banyak hal yang dibahas. Bejo memejamkan kedua mata seraya bersandar di dinding. Diam Bejo di sana. Pusing juga kepalanya, rasanya pengen rebahan hingga tepukan di lengannya membuatnya membuka m

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 04. Mandul

    "Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 03. Sampai Klimaks

    "Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 02. Tepat Di Titik Sensitifnya

    "Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka

  • TUGAS TAMBAHAN UNTUK SOPIR PERKASA   Bab 01. Bercintalah Dengannya

    "Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status