LOGINBejo tertidur di kursi saking ngantuknya. Dia juga lelah, alhasil tidak tau kalau Mila sudah terjaga. Kedua mata lentik itu mulai terbuka dan bibir yang pucat itu mendesis kala merasakan sakit di kedua kaki dan tangan. "Ssttt.... Sakit sekali ya. Perih!"Kedua mata Mila kembali terpejam tapi bayangan akan kejadian semalam membuat kepala Mila keliyengan. "Agghh...."Tangan Mila yang tiba-tiba menggenggam tangan Bejo seketika membangunkannya. Bejo langsung beranjak dari sandaran dan mendekati Mila kemudian menoleh padanya."Nyonya udah bangun? Apanya yang sakit, Nyonya? Tangan? Kaki? Apa, Nyonya?" cecarnya dan Mila menyentuh kepala yang membuatnya mengerutkan kedua alis. "Yang luka kaki sama tangan, yang sakit kepala? Emang bisa? Bluetoothnya nyala ya, Nyonya?" tanyanya lagi tetapi Mila malah kembali terpejam mengeluhkan itu yang membuatnya segera bergerak untuk memanggil dokter. Tak lama dokter pun datang untuk memeriksa Mila dan Bejo berdiri memperhatikan dengan jarak yang cukup j
"Saya lihat mentalnya terganggu Jo tapi dia cukup kuat hanya saja entah setelah ini bagaimana. Tadi sempat mengeluh dan agak terkejut kala kami hendak memeriksanya. Terlihat dia juga sangat ketakutan. Sebenarnya hubungan denganmu itu apa?" tanya Dokter padanya."Dokter tanya apa saya menyukainya tapi Dokter nggak tau kalau wanita itu adalah majikan saya. Saya hanya sopir di sana, Dok.""Begitu? Tapi saya dengar dia memanggil namamu bukan memanggil nama suaminya."Eheeemmm...Bejo berdehem setelah mendengar apa yang beliau sampaikan. Apalagi saat melihat pria itu menatapnya dengan tatapan penuh menyelidik. Terlihat sekali menaruh curiga padanya. Dia hanya tersenyum tipis menanggapi. Dalam hati jangan sampai beliau bisa menebak atau membacanya. "Bisa jadi karena memang dekat dengan saya dan Dokter tau sendiri ada trauma pada Nyonya yang membuat beliau tertekan pada suaminya. Itu saja mungkin.""Jadi nyaman sama kamu?""Hahahaha... Bisa jadi," jawab Bejo dengan santai menutupi apa yan
"Jo kamu keluar juga akhirnya. Itu di kamar utama ribut-ribut ada apa ya, Jo? Kayaknya Nyonya dan Tuan bertengkar. Sampai kencang bange..... Eh Jo, kenapa main jalan aja?"Bejo tidak sama sekali menggubris apa yang Bibi tanyakan. Langkahnya panjang menuju kamar utama, disusul dengan Bibi yang mengikuti dari belakang. Beliau pun penasaran dengan apa yang terjadi dengan kedua majikannya itu. "Jo tunggu, Jo!"Namun Bejo tidak perduli dengan panggilan Bibi. Langkahnya terus saja sampai tiba di depan pintu kamar utama yang masih tertutup rapat. Bejo mengayunkan tangannya yang sejak tadi terkepal kuat hendak mengetuk pintu tetapi dari dalam sana Saka sudah lebih dulu membuka pintu kamarnya lebih dulu."Jo, kebetulan sekali kamu ke sini. Siapkan mobil sekarang untuk membawa istri saya ke rumah sakit!" perintah Saka. "Baik, Tuan."Mata Bejo melirik Mila yang terduduk di kursi rias tengah mendesis kesakitan sedangkan kedua kaki dan tangan bersimbah darah. Bibi yang ada di balakangnya saja sa
KRAAAKKKK Bejo menginjak benda yang digunakan untuk mengawasi pergerakan mobil tersebut. Sebelumnya dia membersihkan mobil, benda itu belum ada di sana. Kebetulan sekali Mila memintanya untuk mencuci mobil sehingga dia sadar kalau ada yang mengintai. "Apa itu kerjaan, Tuan?" Namun untuk apa? Saka sepertinya tidak mungkin melakukan itu. Lantas siapa? Sengaja sekali ingin tau mereka pergi sedangkan Saka saja mengijinkan dia memberi kesenangan untuk Mila. Bejo diam memikirkan itu semua. Benda yang ia temukan tadi kemudian dia buang ke dalam tong sampah. Bergegas dia pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Ada baiknya juga malam-malam Mila memintanya untuk mencuci mobil. Benda itu akan dia cari siapa pengirimnya. "Sialand! Lo mau main kotor sama gue. Lo pikir gue nggak ada yang jagain? Bumi dan langit kalau udah bersatu nggak bisa jalan, siapapun itu yang udah nyurangin gue. Emosi gue jadinya!" gumam Bejo kemudian masuk ke dalam kamar setelah membersihkan semuanya. Di dalam kamar,
"Apa Nyonya sudah lebih lega sekarang?" Mereka duduk di atas pasir putih dengan memandang langit malam yang mulai memberikan angin dingin menyapa kulit. Kedua tangan Mila memeluk dada seraya bersandar di pundaknya. Wanita itu belum mau pulang dan masih betah disana. "Kalau sudah sedikit lega, kita pulang, Nyonya. Nanti Nyonya masuk angin kalau lama-lama di sini. Saya nggak bawa jaket soalnya." Bejo melirik wajah Mila, wanita itu anteng sekali dan wajahnya pun terlihat tenang. Tidak ada kekecewaan atau aura kesedihan yang tadi begitu nyata dia temukan. Mila terlihat damai bahkan sesekali tersenyum kala angin menyapa wajah wanita itu. "Kenapa kamu mengajak pulang terus, Jo? Apa pacarmu sudah menghubungimu sampai kamu gelisah begitu? Pertanyaanku juga kamu belum jawab." "Sudah saya katakan kalau wanita itu semua cantik karena kalau tampan bukan wanita namanya." Bukan Bejo enggan mengakui kalau Mila sangat cantik bahkan dari wanita yang dia temui hanya Mila yang mampu membu
Bejo tidak langsung mambawa Mila pulang. Dia membawa Mila ke suatu tempat yang mungkin saja bisa membuat wanita itu melepaskan semua kegundahan, kesakitan dan juga menumpahkan kekesalan yang sudah memuncak di dalam dada. Sore ini pun gagal ke butik karena selain dia yang membawa Mila pergi. Wanita itu juga sepertinya sedang bad mood sekali sampai tidak bertanya hendak ia bawa kemana padahal sejak tadi Mila memperhatikan jalan dan melihat ke arah jendela. Hanya saja pandangan wanita itu terlihat kosong. Hampa!Bejo yakin di dalam tadi terjadi hal yang tidak diinginkan tetapi memang tidak tertangkap oleh matanya karena tidak ada pergerakan Mila yang membuatnya curiga. "Kita turun, Nyonya!" ajaknya setelah mobil tiba di tempat yang menurutnya ini cocok untuk Mila walaupun Bejo sendiri tidak tau selera wanita itu tetapi selama bekerja, dia tidak pernah melihat Mila healing. Sekalinya kabur malah ke kebun teh dan itu malam-malam pula. Pulang dengan selamat juga sudah alhamdulillah. "N
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
Bejo menarik nafas dalam setelah memasang sabuk pengamannya. Dia melirik lagi wanita yang ada di sampingnya. Nyonya Mila terlihat tenang setelah membuat jantungnya berdebar kencang. "Sialand emang ini jantung! Ngapa jadi merinding sebadan-badan? Perasaan di kampus banyak cewek yang deketin gue t
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan







