เข้าสู่ระบบBimo menatap gundukan tanah yang basah, dimana jenazah Vanya baru saja dimakamkan tepat di samping makam mendiang Anto, sahabatnya.“Anto, aku telah menunaikan janjiku padamu. Aku telah membawa Vanya kembali dan menguburkannya di sisimu. Semoga kamu tenang di alam sana,” gumamnya lirih.Mayang menyentuh bahunya dengan tatapan sendu. “Bimo, ayo kita pulang dulu. Hari sudah semakin gelap.” “Iya Sayang,” sahut Bimo.Bimo dan Mayang berjalan meninggalkan area pemakaman itu lalu masuk ke dalam mobil. Dia menatap sejenak ke arah makam Anto dan Vanya sebelum akhirnya menutup rapat jendela kaca mobilnya.***“Saya Bimo Cahyadi menerimamu Mayang Sari menjadi istri saya. Saya berjanji akan selalu mencintai dan menyayangimu baik dalam keadaan susah dan senang maupun dalam keadaan sehat dan sakit hingga maut memisahkan kita berdua,” ucap Bimo saat mengikrarkan janji suci pernikahan sambil menggenggam erat tangan Mayang yang terlihat cantik dengan mengenakan gaun pengantin.“Saya Mayang Sari men
Beberapa hari setelah kejadian itu, Bimo memutuskan segera berangkat ke Singapore untuk bertemu wanita di balik penelitian Gaharu Hitam yang telah memporak-porandakan hidupnya selama ini.Baskoro dan Mayang bersikeras untuk mendampinginya, namun Bimo menahan mereka demi keselamatan.“Kali ini biar aku yang pergi sendirian. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ujar Bimo menatap Mayang dan Baskoro sebelum keberangkatannya di bandara.“Ini terlalu beresiko. Begitu aku sampai disana, aku akan memberitahu kalian.”Mayang menggenggam tangan Bimo dengan wajah cemas. “Berjanjilah kamu akan berhati-hati, Bimo. Cepat kembali ke Indonesia dengan selamat.” “Aku berjanji, Sayang,” balas Bimo lembut. Dia mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman yang cukup lama di bibir Mayang.Setelah itu dia menjauhkan wajahnya dan memeluk Mayang dengan erat sebelum melangkahkan kakinya menuju gerbang keberangkatan.Beberapa jam kemudian, Bimo telah menjejakkan kaki di Singapore. Dia langsung bergerak menuju sala
Prof. Malik gemetar ketakutan di dalam cengkeraman Bimo. Wajahnya yang semula penuh keangkuhan kini pucat pasi, tak berkutik menghadapi aura gaib yang begitu menekan dari tubuh Bimo.”A-ampun, Bimo... Tolong jangan bunuh aku!" ucap Prof. Malik dengan suara bergetar. “Aku berjanji akan menyerahkan semua riset dan memusnahkan sisa serum Vigor-X itu!”Bimo bersiap akan membunuh Prof.Malik, namun pria itu langsung berteriak meminta tolong agar Bimo mengampuninya.“Tolong!! Jangan bunuh aku! Aku bukanlah dalang utama dalam penelitian ini!!” Mata Bimo terbelalak saat mendengarnya. “Apa maksudmu?” “Dia saat ini ada Singapore. Kamu bisa menemuinya secara langsung. Tapi tolong jangan bunuh aku,” jawab Prof.Malik dengan nada gemetar.Di waktu yang bersamaan pihak Kepolisian segera datang. Sirine kapal patroli meraung di tengah lautan. Cahaya sorotan lampu helikopter dan kapal petugas mulai membelah kegelapan malam, mengarah tepat ke geladak kapal besar tempat mereka berada.Bimo menatap Prof.
Anak buah Prof. Malik yang mendadak panik langsung memberondong tembakan ke arah Bimo. Namun sayang, tembakan mereka malah mengenai permukaan air laut.Dengan gerakan lincah, Bimo memanjat sisi kapal dan melompat mendarat di atas geladak. Cahaya keemasan memancar dari tubuhnya, menciptakan tekanan angin bergemuruh yang membuat para anak buah Prof. Malik terdorong mundur dan goyah.Sebelum Prof. Malik sempat bereaksi, Bimo menghentakkan kakinya ke atas geladak. Gelombang energi gaib memotong tali penjerat yang mengikat Mayang dan Baskoro.Sret!! Bimo melesat cepat dan menyambut tubuh Mayang serta Baskoro sebelum jatuh menghantam lautan. Setelah itu dia ikut melepaskan ikatan serta kain penyumpal mulut mereka berdua.“Bimo!” panggil Baskoro sambil terbatuk-batuk.“Kalian baik-baik saja?” tanya Bimo memastikan kondisi mereka.Mayang langsung memeluk Bimo dengan mata berkaca-kaca. “Bimo, hiks hiks terima kasih sudah menolong kami.” Prof. Malik mundur beberapa langkah dengan wajah memer
Bimo hanya bisa mendengar suara deburan ombak dan beberapa kali ledakan kapal beruntun di tengah lautan luas. Dia memutar tubuhnya seraya menyapu pandangannya ke sekeliling permukaan laut yang dipenuhi puing-puing kayu yang terbakar oleh api.”MAYANG!! BASKORO!! KALIAN DI MANA?!” panggil Bimo sekali lagi dengan wajah panik dan ketakutan.Cahaya keemasan cakra jantungnya tiba-tiba bergetar di dalam dada. Bimo memejamkan mata sejenak, memusatkan batinnya untuk merasakan keberadaan energi Mayang dan Baskoro. Bisikan lembut Datuk Maringgi kembali menggema di dalam pikirannya, memberikan petunjuk arah.“Di arah sebelah barat daya cucuku.” Bimo mendadak membuka matanya. Sekitar lima puluh meter di sebelah barat daya, terlihat Baskoro dan Mayang digantung dengan posisi terbalik di atas kapal yang lain dan jauh lebih besar. Tangan dan kaki mereka berdua terikat sedangkan mulut mereka disumpal dengan kain yang terlihat lusuh.Di atas geladak kapal besar itu, terlihat Prof Malik berdiri dengan
Bimo berusaha menusuk pisau belati itu ke arah Nathan. Namun, Nathan dengan cepat memutar tubuhnya dan berguling ke samping, berhasil menepis serangan belati itu hingga terjatuh ke bawah geladak.Bimo langsung melayangkan pukulan ke arah Nathan, namun Nathan segera melompat dan menerjang kaki Bimo hingga keduanya jatuh berguling di lantai geladak.BIP! BIP! BIP!Sirine peringatan peledak otomatis berbunyi semakin keras, menunjukkan waktu yang tersisa kurang dari satu menit. Hawa panas mulai melingkupi koridor dan asap tebal mulai membumbung tinggi dari arah ruang mesin.“Aku tidak akan membiarkanmu lolos, Bimo!” teriak Nathan seraya mengunci kedua tangannya dengan sangat erat melingkari tubuh Bimo dari belakang, menahan Bimo agar tidak bisa bangkit.“LEPASKAN AKU KEPARAT!!” teriak Bimo berusaha melepaskan cengkraman pria dari tubuhnya. Namun, tenaga Nathan sangat kuat sebanding dengan kekuatannya.Waktu yang mereka miliki kini hanya tinggal 10 detik lagi. Jika dia tidak keluar seka







