Se connecter“Masuk ke kamar saja, Bu Erni. Nanti kalau ada pembantu lewat, kan tidak enak,” jawab Bimo seraya menahan gejolak gairah yang makin membakar hasratnya. Tante Erni tertawa renyah sambil berdiri dari pangkuan Bimo. “Baiklah kalau begitu. Sekarang ayo ikuti aku…” ajaknya seraya mengerlingkan mata lalu melangkah perlahan menuju lantai atas. Pinggulnya bergoyang kesana kemari seolah memancing Bimo untuk mengikutinya. Sementara itu, Cindy masih mematung di tempatnya dengan nafas memburu dan pipi memerah. ”Om... benar-benar mau ngelakuin itu sama Mama?” tanya Cindy pelan saat Bimo hendak melangkah melewatinya.Bimo menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh menatap Cindy. Dia sedikit membungkuk dan berbisik tepat di telinga gadis itu. ”Om melakukan semua ini agar mamamu tidak marah dan rahasia kita tetap aman, Om harus kasih 'servis' maksimal malam ini, Cindy,” jawab Bimo seraya mencium singkat pipi Cindy yang hangat. “Kamu masuk ke kamar dan istirahatlah.Kalau kangen, nanti set
Malam ini Bimo dan Cindy datang ke rumahnya Tante Erni untuk menjelaskan semuanya agar kesalahpahaman ini selesai. Begitu tiba di rumah mewah berlantai 3 milik Tante Erni, mereka disambut oleh seorang pembantu tua berumur 50 tahunan berpakaian daster selutut yang menutupi tubuh kurus dan keriputnya. “Tuan dan Nona, silahkan masuk ke dalam. Nyonya sedang mandi dan bersiap-siap di kamarnya sebentar,”ucap pembantu itu ramah seraya mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam. “Baik Bi,” sahut Bimo dan Cindy sebelum melangkah masuk ke dalam lalu duduk di sofa besar dengan ukiran jati yang sangat indah dan aesthetic. Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki dari anak tangga. Bimo reflek menoleh dan melihat Tante Erni melangkah turun dengan mengenakan jubah tidur satin berwarna pink. Bongkahan bukit kembarnya sedikit menyembul dari cela jubahnya yang tidak tertutup rapat. Wajah cantik wanita itu dipoles dengan bedak tipis dan lipstik seadanya saja. “Kalian sudah lama m
Di depan rumah terlihat seorang wanita cantik dan saksi tengah keluar dari mobil. mewahnya. Wanita berpakaian modis itu membawa sebuah dua buah paperbag di tangannya. “Loh, bukannya dia mamanya Cindy? Kok mukanya beda ya sekarang,” bisik Mayang tanpa melepaskan tatapannya kecemburuannya pada Tante Erni, mamanya Cindy. “Iya hidungnya nambah mancung dan dagunya tambah lancip Ma,” bisik Tiara seraya menatap tidak suka pada Tante Erni. Bimo menaruh kembali Baby Kesya di atas box lalu segera membuka pagar rumahnya. “Bu Erni, tumben datang pagi-pagi kemari. Mari masuk dulu Bu,” sambut Bimo dengan ramah. “Maaf Pak Bimo kalau saya mengganggu. Saya datang kemari hanya untuk memberikan kado ini buat Baby Kenzo dan Baby Kesya,”jawab Tante Erni seraya menyerahkan dia paperbag yang ada di tangannya kepada Bimo. Bimo menerima dua paperbag berwarna putih gading brand ternama itu.”Terima kasih banyak Bu Erni. Apa Ibu mau melihat mereka? Kebetulan mereka sedang dijemur di sana.” Belum sempat Ta
“Apa maksud Bapak?! Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Prof. Malik dingin. Raut wajahnya mendadak datar tanpa ekspresi, namun tatapan matanya menusuk tajam menembus Bimo. “Saya sudah bertaruh nyawa memperbaiki Lunar Core ini, Pak Bimo. Dan Bapak membuang kesempatan emas ini begitu saja?”Bimo mendesah pelan, menatap lurus ke arah pendar kebiruan Lunar Core yang masih memancar di genggaman pria tua itu. ”Istri dan para wanita saya sudah menerima keadaan saya apa adanya, Prof,” jelas Bimo dengan perasaan tak enak. “Walaupun kekuatan monster di tubuh saya ini terkadang membawa masalah, tapi ini adalah satu-satunya yang mampu membuat para wanita saya bahagia. Saya sudah berjanji pada mereka untuk tidak mengubah bentuk keperkasaan saya.” Prof. Malik mematung sejenak saat mendengar hal itu. Keheningan seketika menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara gemuruh air terjun dan bersahutan dengan sepoi-sepoi angin malam. Prof. Malik perlahan membuang napas pendek lalu tersenyum tipi
Kening Bimo berkerut heran. Meminta tanggung jawab? Apa maksudnya? “Heh Bu RT! Kalau ngomong tuh yang jelas! Bu RT mau meminta tanggung jawab apa sama suami saya?!” semprot Sella seraya berkacak pinggang. “Pak Bimo! Lebih baik Bapak katakan yang sejujurnya pada Sella tentang hubungan kita berdua! Pokoknya saya menuntut pertanggungjawaban dari Pak Bimo atas kehamilan saya!” seru Bu RT dengan suara menggelegar hingga membuat semua penghuni komplek perumahan keluar dari rumah mereka masing-masing untuk melihat apa yang terjadi. Mata Sella terbelalak saat mendengar pengakuan Bu RT, dia langsung melemparkan tatapan tajam dan menuntut jawaban ke arah Bimo.”Mas! Katakan yang sejujurnya padaku! Benar kamu sudah celap-celap pepes basinya Bu RT?!” “APA?! IBU DIBUNTINGI PAK BIMO?!” pekik Pak RT yang baru saja pulang menagih uang sokongan untuk lomba 17 Agustus nanti bersama Pak Budi. BU RT sontak berbalik dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar saat melihat Pak RT di belakangnya
Bu RT mengibaskan kedua tangannya beberapa kali di depan wajah Bimo. “Halo? Pak Bimo? Apa Bapak mendengarkan saya?” tanya Bu RT membuat Bimo langsung tersentak dan tersadar dari lamunannya. “Duh, pagi-pagi kok melamun sih Pak Bimo. Saya tahu… pasti Bapak kepikiran soal malem tadi kan? Ngaku aja hayo,” tebak Bu RT. Bimo hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar kata-kata itu.”Pak Bimo gak perlu malu-malu kucing sama saya. Apa Bapak lupa kalau semalam Bapak memanggil saya dengan sebutan BEBI sambil menusuk milik saya berulang kali hehe.” Dia makin terperangah saat mendengarnya. BEBI? Datuk memanggil Bu RT dengan sebutan yang menggelikan itu? Ternyata benar kata orang-orang di luar sana, semakin tua manusia maka tingkahnya akan semakin lucu seperti anak kecil lagi. “Wah jadi betul ya Pak Bimo selingkuh dengan Bu RT? Perang Dunia ketiga nih kalau Bu Mayang, Sella dan Tiara sampai tahu!” celetuk salah satu teman Bu RT yang masih berdiri di depan gerobak sayur bersama yang lainny







