LOGIN“Bu RT?! Apa yang terjadi padanya?!” batinnya terperanjat saat melihat kondisi Bu RT saat ini. Di waktu yang bersamaan, Pak Budi yang baru saja keluar sambil memegang payung langsung berteriak dengan suara menggelegar mengalahkan gemuruh hujan yang semakin riuh. “TOLONGG!! BU RT DITABRAK OLEH PAK BIMO!!” teriak Pak Budi. Para warga berbondong-bondong keluar dan berdiri di halaman rumah mereka masing-masing dengan ekspresi syok dan terkejut. “IBU!!” Pak RT langsung berlarian menembus derasnya hujan lalu bersimpuh tepat di sebelah tubuh Bu RT yang masih tergeletak tak berdaya di atas aspal. Kedua tangan pria itu mengguncang kedua baju istrinya.”BU!! BANGUN BU!! APA YANG TERJADI PADAMU?!” Tidak ada sahutan yang keluar dari mulut Bu RT meski Pak RT sudah menabok wajahnya bolak-balik, tapi tetap saja wanita gemuk itu tergeletak tak berdaya seperti mermaid. Pak RT perlahan berdiri tegak seraya menatap Bimo dengan tajam, tanpa aba-aba pria itu memberikan pukulan telak hingga mengenai r
“Papa! Papa kenapa, Pa?!” pekik Cindy panik melihat reaksi papanya yang mendadak kejang-kejang seperti orang epilepsi. Dengan sigap, Cindy menyambar tisu di atas nakas dan mengusap air liur yang menetes dari sudut bibir Pak Darsono. Wajahnya terlihat panik dan matanya berkaca-kaca saat menatap papanya. Tante Erni memutar bola matanya malas.”Duh, Darsono...sudah lumpuh begitu masih saja emosian. Nanti kalau pembuluh darahmu pecah lagi baru tahu rasa!” ”Erni, jaga perkataanmu di depan anakmu,” tegur Pak Toto kepada mantan menantunya itu hingga membuat Erni seketika terdiam dan menutup rapat mulutnya. Pak Toto menepuk bahu Bimo seraya tersenyum tipis.”Nak Bimo... terima kasih sudah menolong anakku, Darsono. Jika kamu tidak cepat-cepat membawanya kemari, mungkin Darsono sudah kehilangan nyawanya.” ”Sama-sama Pak Toto. Bagaimanapun beliau adalah papa mertua saya. Jadi sudah menjadi kewajiban saya untuk menjaga dan merawatnya,” jawab Bimo seraya melirik ke arah Darsono yang tenga
Pak RT tersenyum licik seraya mencondongkan tubuhnya ke depan. ”Saya meminta uang ganti rugi sebesar 10 Milyar!” seru Pak RT tanpa tahu malu. “Selain itu, tangani semua biaya persalinannya sampai anak itu lahir!”Mendengar tuntutan gila itu, Mayang dan Sella langsung murka. ”10 Milyar?! Pak RT sengaja ingin memeras kami?! Dasar tidak tahu diri!” seru Mayang naik pitam. Bimo mengangkat satu tangannya pelan, mengisyaratkan Mayang dan Sella untuk tetap tenang.“Baiklah, saya akan memberikan uang yang Pak RT minta,” jawab Bimo membuat senyum di wajah Pak RT semakin melebar.”Tapi sebelum saya memberikannya, saya ingin melakukan tes DNA setelah bayi itu dilahirkan.” Senyum di wajah Pak RT seketika menghilang.”Baiklah, kita tunggu selama 9 bulan lagi. Saat hari itu tiba, tolong siapkan uang 10 Milyar yang saya minta!” “Deal,”jawab Bimo singkat. “Ayo Bu, kita pulang sekarang!” ajak Pak RT seraya mencengkram lengan berlemak Bu RT. Setelah mereka pergi dan menghilang dari balik pint
Setelah membayar biaya administrasi Pak Darsono, Bimo berpamitan dengan Tante Erni dan Cindy untuk pulang sekarang karena Pak RT dan Bu RT tengah menunggunya di rumah. Entah kenapa firasatnya berubah menjadi tidak enak saat mendengar nama kedua orang itu. Begitu sampai di rumah, dia melihat Bu RT dan Pak RT tengah duduk di ruang tamu bersama Mayang dan Sella. Bu RT langsung menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah Bimo. Sedangkan Pak RT berdehem beberapa kali dengan wajah dingin. “Akhirnya Pak Bimo datang juga. Ada yang ingin saya bicarakan bersama Pak Bimo. Ini mengenai kehamilan istri saya,” ucap Pak RT membuka suara. Bimo duduk di hadapan mereka dengan wajah tenang.” Silahkan bicara Pak RT.” “Istri saya mengakui kalau dia dan Pak Bimo sudah tidur bersama sebanyak 3 kali di saat saya dan bapak-bapak yang lain meronda di pos ronda sambil menonton Piala Dunia sebulan yang lalu. Tidak ada pria lain yang menyentuh istri saya selain Bapak. Jadi… saya ingin Bapak b
Pak Darsono tiba-tiba saja terjatuh dari atas kursinya. Bersamaan dengan itu kedua khodam harimau Bimo menghilang dan terbang melewati atap kamar. Mereka sontak menoleh ke arah pria tua bangka itu dengan ekspresi terkejut. “Haduh!! Darsono!! Kenapa kamu pakai acara pingsan disini sih!! Merepotkan saja!” gerutu Tante Erni seraya kembali memakai pakaiannya. “Papa!!” pekik Cindy terlihat cemas dan cepat-cepat memungut bajunya yang berserakan di bawah lantai. Bimo dengan santai menaikkan celananya dan memakai kaosnya dengan santai. Setelah itu dia perlahan mendekati Tante Erni dan Cindy yang tengah mengerumuni Pak Darsono. “Papa! Bangun Pa! Bangun!!” seru Cindy panik seraya mengguncang kedua bahu papanya beberapa kali. Tante Erni berdecak kesal karena Pak Darsono tidak kunjung bangun.”Duh, merepotkan sekali. Siapa yang mau angkat si tua bangka ini dan membawanya ke Rumah Sakit?!” “Biar aku saja yang mengangkatnya Bu Erni,” ucap Bimo tenang. Bimo membungkuk sedikit, lalu dengan mu
Milik Bimo langsung bergetar tak terkendali di dalam inti tubuh Cindy. Gadis itu terlihat kaget dan sedikit meronta di bawah kungkungannya.“AHHHH! OM BIMO!! J-JANGAN AKTIFKAN M-MODE G-GETARNYA! AKU BISA PIPIS NANTI!!” pekik Cindy saat Bimo baru saja mengaktifkan kekuatannya.“Diamlah Cindy dan nikmati saja,” bisik Bimo di telinga gadis itu. Pak Darsono terbelalak saat melihatnya. Rahang pria tua itu semakin mengeras dan kedua tangan terkepal kuat.”BRENGSEK KAMU BIMO!! JANGAN SENTUH CINDY DAN ERNI! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!” Tante Erni terkekeh melihat ketidakberdayaan Darsono. Wanita itu ikut mendekati Cindy dan meremas sepasang buah melon montok milik anak gadisnya itu. “Bobamu besar sekali Sayang. Bimo pasti ketagihan saat mencicipinya,” puji Tante Erni seraya melirik ke arah batang berurat Bimo yang terus keluar masuk ke dalam lubang putrinya itu tanpa jeda sedikitpun. “I-iya Ma, Om Bimo….suka banget… n-nyusu sama Cindy,” jawab Cindy terengah seraya merem melek. Tante Erni memili







