LOGINRahang Bimo mengeras dengan tangan mengepal erat saat mencengkram ponselnya. Dia melihat Mayang tengah terbaring pingsan di atas busa kapuk yang dekil. Tak lama kemudian kiriman video muncul. Amarahnya terbakar sampai ke ubun-ubun saat melihat video Nathan sedang mengusap-usap bibir kewanitaan Mayang.“Bimo, lihat ini lubang calon istrimu. Sudah berlendir dan siap untuk digenjot ahahahaha! Kalau kamu tidak mau terjadi sesuatu pada dia. Segera temukan kami kalau kamu bisa,” tawa Nathan terbahak-bahak.Nathan memasukkan dua jarinya disana hingga membuat Mayang merintih di dalam tidurnya. “Sial, tempiknya ketat sekali sampai ingin mematahkan jariku. Apa benar usianya sudah menginjak 40 tahun dan memiliki 4 anak? Jadi penasaran ingin kumasukkan batangku ini Ahahhahahaha!” BRAK!! Bimo kembali menggebrak kemudinya sangat keras. Matanya memerah dan gigi gemeretak saat saat melihat Nathan melecehkan Mayang. “BRENGSEK!! AKU AKAN MEMOTONG TANGANMU!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!! NATHAN!!Suara desa
Bimo dan yang lainnya masuk ke mobil karena misi pencarian mereka tidak membuahkan hasil apapun.Dia membanting pintu mobil dengan keras, meluapkan amarah dan kekecewaannya. “Bangsat!! Kita dipermainkan oleh para keparat itu!” seru Bimo seraya menggebrak kemudi berkali-kali. Baskoro menepuk pelan bahunya Bimo dengan tatapan prihatin. “Tenang, Bimo! Jangan biarkan emosimu menutup pikiran jernihmu! Prof. Malik itu sangat licik. Dia sengaja membuat kita berputar-putar di sini supaya kita terlambat menyadari jalur pelarian mereka yang sebenarnya!”Dari kursi belakang, Angel sedang mengetik dengan cepat seraya menatap layar laptopnya.“Aku sedang memintas database lalu lintas jalan dan pelabuhan kecil di sepanjang pesisir timur pantai Avanza hitam itu hanyalah umpan untuk membuang sinyal. Tapi kalau Mayang dibawa lewat jalur lain, mereka pasti butuh akses transportasi yang terlindung dari radar navigasi umum,” ujar Angel panjang lebar.Tanpa pikir panjang, Bimo langsung kembali melajuk
“A-apa?! Mayang menghilang?!” Bimo terperanjat saat mendengarnya bak petir di siang bolong. Padahal dia sudah menyiapkan keamanan dengan menyewa beberapa bodyguard khusus untuk menjaga keluarganya. Namun, semua usahanya itu sia-sia belaka.Rosa menghampiri Tiara lalu mengguncang kedua bahu adiknya itu.“Tidak mungkin! Kenapa Mama bisa menghilang Tiara?! Bukankah dia bersamamu?!” Bimo segera berlari meninggalkan gereja disusul oleh Baskoro dan Angel di belakangnya. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil sambil mendeteksi jaringan ponselnya Mayang.“Jejak Mayang berhenti tepat di dekat hutan dan tidak bergerak sama sekali. Sepertinya pelaku yang menculik Mayang sengaja membuang ponselnya disana agar kita tidak bisa melacak keberadaannya,”ujar Baskoro Bimo menggebrak setir dengan sangat keras hingga klakson mobil berbunyi nyaring. “Bangsat!! Ini pasti ulah Prof. Malik dan Nathan!”Dia langsung menginjak pedal gas dalam-dalam hingga mobilnya melaju kencang ke jalan raya.Dari kursi belakang
Tangan Bimo bergetar saat melihat berita tersebut. Prof. Malik dan Nathan bisa kabur dari penjara Singapore yang memiliki tingkat keamanan yang berlapis. Kok bisa? Mayang yang sudah berganti pakaian berjalan mendekatinya. “Bimo? Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?” Bimo dengan cepat menyimpan kembali ponselnya dan langsung mengalihkan pembicaraan. “Bukan apa-apa, kamu sudah cocok dengan gaun tadi?” “Udah Sayang. Tadi aku cuma minta bagian dadanya dijahit dikit biar melonku ini nggak kemana-mana. Ayo kita pulang, aku udah laper,” ajak Mayang.“Oke Sayang,” Bimo berdiri dari duduknya lalu keluar dari Butik itu bersama Mayang.Mayang merangkul lengannya dengan erat bagaikan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.Setelah hampir seharian menemaninya Mayang, Bimo memberitahukan tentang kaburnya Prof.Malik dan Nathan pada Baskoro di rumahnya.“Bas, apa kamu sudah lihat berita kaburnya mereka dari penjara?” “Sudah, Bim. Aku baru saja dapat laporan langsung dari jaringan intelijen sejam
“Di balkon? Kalau ketahuan bagaimana?” tanya Bimo khawatir.“Sekarang sudah dini hari. Sepertinya nggak akan mungkin orang bakalan lewat di jam segini. Apalagi ini di tengah kebun teh,” ucap Baskoro seraya melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 12 lewat.“Baiklah, ayo kita main di sana,” ajak Bimo.Akhirnya mereka berpindah ke balkon lantai 2 yang berada dekat dengan kamar utama. Hawa dingin menerpa kulit mereka saat angin malam berhembus. Mayang dan Angel berpegangan di pinggir pagar agar tidak terjatuh. Kedua wanita itu sedikit menunggingkan pantat mereka agar mudah untuk dimasuki.Bimo memegang erat pinggang ramping Angel lalu kembali menenggelamkan batangnya di lubang hangat Angel dalam satu hentakan kuat.JLEB!! “Sssshhh….” Bimo mendesis nikmat begitu kehangatan dan kelembutan dinding kewanitaan Angel kembali menyelimutinya.“Ahhh!!” pekik Angel hingga suaranya menggema ke seluruh kebun teh.Bimo dengan sigap membekap mulut Angel agar tidak berteriak lagi.“Jangan ter
Belum sempat Bimo bicara, Mayang sudah lebih dulu menjawabnya.“Itu bukan ide yang buruk. Gimana Bimo? Kamu setuju kan?” tanya Mayang seraya memegang lengannya.Bimo sedikit berdehem pelan. “Baiklah kalau Mama maunya begitu. Ayo kita lakukan.” Kebetulan Sekar dan Ayu sudah balik ke rumah mereka masing-masing karena hari ini adalah hari Minggu. Jadi mereka tidak perlu khawatir jika kedua pembantu itu memergoki mereka nantinya.Mayang kini berpindah duduk di atas pangkuan Baskoro sementara Angel duduk di atas pangkuan Bimo.Baskoro memberikan remasan lembut di pantatnya Mayang yang semok.”Sudah lama aku tidak memasukimu, Mayang. Tempikmu benar-benar nikmat meskipun sudah beranak berkali-kali. Tidak kalah dengan perawan.” Mayang menggoyangkan pantatnya hingga gundukan kejantanan Baskoro masuk di belahan pantatnya. “Kamu pandai sekali bicara Baskoro. Tunjukan keahlian dari bibir manismu ini. Sambut lidahku, Sayang.” Baskoro tanpa ragu memajukan wajahnya dan memberikan ciuman panas dan







