Share

149.

Author: Poepoe
last update publish date: 2026-06-02 17:41:52

Kedua kelopak mata Naya bergerak membuka. Perlahan, wanita itu mendapatkan kembali pengelihatannya. Walaupun begitu, dirinya masih merasa linglung dengan apa yang barusan menimpanya.

Sampai dia menyadari dirinya kini sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Jarum infus tertanam di punggung tangan kirinya.

Lalu Naya mendapati sesosok bayangan yang bergerak ke pinggir ranjangnya.

Suara desahan berat pun keluar dari mulut pria itu.

“Kenapa kamu tak bilang kalau sedang hamil?” Ardi berujar lembut n
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   153.

    Senyuman pongah Shannon masih terekam jelas di benak Naya. Senyum yang membuat hatinya terbakar penuh amarah.‘Dia pikir aku bakal jatuh ke dalam jebakannya?’ ucap Naya dalam hati. ‘Ha, tentu saja tidak! Untuk apa aku menerima tantangan konyol itu, mengetes kesetiaan Ardi?? Yang benar saja!’“Kamu terlihat geram, Nay. Ada masalah apa?” Tanya Ardi seketika dari balik kemudinya. Sedari tadi, pria itu sesekali memperhatikan ekspresi istrinya yang terus-terusan mengernyitkan dahinya.“Apa ini soal Shannon?” Tebak Ardi lagi sambil melajukan mobilnya di tengah jalanan malam yang padat.“Huh, untuk apa aku kesal gara-gara wanita itu?” Kilah Naya. “Aku… hanya sedikit lelah.”“Maafkan aku ya. Gara-gara menemaniku kamu dan bayi kita jadi kelelahan…” Ardi menoleh sekilas ke arah Naya, memamerkan lesung pipinya yang manis.“Tidak masalah kok… Ternyata aku cukup senang juga malam ini. Sepertinya, aku harus banyak keluar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang,” balas Naya riang.“Memang seharus

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   152.

    Napas Naya tertahan. Kepalanya langsung terasa panas saat melihat adegan itu.“Ah, sorry, pipimu jadi kena noda lipstik-ku,” Shannon tertawa tak tahu diri sambil berusaha mengusapkan tangannya di pipi Ardi.Namun, buru-buru Ardi mengelak. Lantas Naya mengeluarkan tisu dari tasnya dan membersihkan pipi suaminya dari noda lipstik wanita itu.“Kamu terlalu ceroboh, Shannon,” Naya berujar sambil tersenyum manis walaupun nada suaranya jelas-jelas terdengar sinis. “Maaf,” balas Shannon santai. “Kami dulu memang sedekat itu… Jadi kebiasaan.”“Maksudku lipstikmu,” sergah Naya lagi. “Hanya lipstik murahan yang gampang luntur, soalnya lipstikku tidak begitu. Tahan lama.”Naya mengecap bibir merahnya perlahan.Senyum yang sedari tadi membingkai wajah Shannon seketika memudar.“Naya…” desis Ardi pelan. Pria itu seakan tahu istrinya telah menabuh genderang perang.“Kenapa, Sayang?” Naya menoleh ke arah suaminya. “Noda lipstik murahan itu sudah lenyap kok dari pipimu.”“Well, sorry kalau lipstikku

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   151.

    Pintu kamar tidur Haryasena bergerak pelan. Ruangan yang tadinya gelap itu kini mendapatkan sedikit cahaya dari lorong di luar.Perlahan, Ardi bergerak masuk. Sebisa mungkin tanpa suara, karena dia tak ingin membangunkan putranya yang sudah tertidur lelap di atas ranjang.Dan di samping Haryasena, ada Naya yang sebenarnya tak benar-benar tidur.“Sayang…” bisik Ardi begitu pelan, mengusap punggung istrinya.Dalam hati Naya mendengus kesal. Wanita itu tetap mempertahankan kelopak matanya yang tertutup rapat.“Plis, kita harus bicara,” lanjut Ardi lagi. “Kamu tak bisa mendiamkanku seperti ini terus. Sudah tiga hari lho…”Naya bergeming. Fakta bahwa Ardi pernah memiliki wanita lain selain Intan–tunangannya yang meninggal secara tragis karena ulah keji Keluarga Kartajaya–membuat Naya begitu cemburu. Masalahnya, Ardi tak pernah memberitahunya soal keberadaan Shannon!Pria itu pun mengguncang pelan tubuh istrinya. “Nay, setidaknya kamu beri tahu aku apa salahku… Kenapa kamu mendiamkanku sepe

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   150.

    Di usia kandungannya yang memasuki bulan ke tujuh, Naya dan Ardi mengadakan acara gender reveal.Suasana pesta pagi itu pun cukup meriah, dihadiri kedua belah pihak keluarga besar mereka serta teman-teman terdekat.Dari dalam kamarnya, Naya bisa menangkap suara keriuhan para tamu di luar sana. Seharusnya dia bahagia, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.“Ya ampun…” keluhnya untuk yang kesekian kali saat menatap pantulan dirinya di depan cermin panjang yang ada di depannya.Di kehamilan sebelumnya, bobot tubuhnya memang mengalami kenaikan tapi… tak seperti sekarang. Naya merasa tubuhnya semakin melebar, bahkan sampai tak muat di depan cermin itu. Gaun putih yang dipakainya seakan mau robek. Dan jujur saja, Naya kesulitan untuk bernapas.Belum lagi, wajahnya yang bermasalah. Lebih kusam, berjerawat dan tentu saja membengkak. Pipinya seperti bakpao dan hidungnya mengembang dari sebelumnya.“Sayang?” Pintu kamarnya membuka dan muncullah Ardi. “Sudah siap?”Naya melirik suaminya dari cer

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   149.

    Kedua kelopak mata Naya bergerak membuka. Perlahan, wanita itu mendapatkan kembali pengelihatannya. Walaupun begitu, dirinya masih merasa linglung dengan apa yang barusan menimpanya.Sampai dia menyadari dirinya kini sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Jarum infus tertanam di punggung tangan kirinya.Lalu Naya mendapati sesosok bayangan yang bergerak ke pinggir ranjangnya.Suara desahan berat pun keluar dari mulut pria itu.“Kenapa kamu tak bilang kalau sedang hamil?” Ardi berujar lembut namun Naya tahu ada nada kecewa yang terselip di sana.Bibir Naya hanya mengatup rapat. “Kata dokter, sudah enam minggu dan kamu tahu soal itu,” lanjut Ardi. Pria itu pun duduk di samping ranjang. Pandangannya terus mengarah ke wajah pucat istrinya. “Dokter bilang tekanan darahmu rendah ditambah kamu juga anemia. Makanya, kamu sampai pingsan.”Sekarang giliran Naya yang menghela napas pelan.Dirinya benar-benar bodoh. Sebenarnya, dia sudah merasa tak enak badan hari ini, tetapi rasa cemburu itu

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   148.

    “Sebaiknya… kamu waspada dengan wanita muda zaman sekarang.”Ucapan Dalia tadi terus terngiang di kepala Naya. Sementara itu, mobil yang dikendarainya melaju di jalanan yang padat.Tin!Naya mengklakson dengan emosi begitu ada motor yang menyalip lajunya. Sekarang, dirinya benar-benar emosi!Sampai akhirnya, perempuan itu sampai juga di kantor Ardi. Entah apa yang akan dia lakukan di sini, mungkin dia akan mencegat suaminya dan wanita sialan itu di lobi. Atau mungkin dia menunggu saja di ruangan Ardi.Sambil mendengus, Naya membanting pintu mobil keras-keras. Dasar sepatunya membentur permukaan basement dengan cepat.Namun tiba-tiba, langkahnya terhenti. Dadanya berdentum tak karuan ketika memergoki Ardi dan Sania berdiri di depan lift.Mereka bersisian begitu dekat. Pandangan Ardi memang lurus ke depan, tapi lihat! Dari sini, Naya bisa menangkap tatapan Sania yang begitu mengagumi suaminya!“Sialan…” desis Naya sambil mengepalkan kedua tangan erat-erat.Rasa panas karena cemburu itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status