ログインUdara pagi yang segar berembus masuk melalui pintu pembatas ruang makan dan halaman belakang yang dibuka lebar-lebar. Suara burung yang bercicit memecah keheningan di atas meja makan.
Naya memotong roti bakar dengan hati-hati sementara Arman nampak sibuk memperhatikan tabletnya.
Suara koran bergemerisik saat Rahmat Kartajaya yang duduk di ujung meja menutup korannya.
“Bagaimana dengan pembebasan lahan kampung di pinggiran itu?” Suara berat pria enam puluh tahun itu tertuju pada putra satu-satunya, Arman.
“Alot, Pa,” balas Arman. “Mereka minta ganti rugi yang besar padahal sertifikat hak milik saja tidak punya. Aneh.” Arman mendengus heran.
Rahmat melipat korannya dan menyisip teh hitam. “Gusur secara paksa. Proyek apartemen kita harus mulai digarap akhir bulan ini.”
“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu,” Arman menghela napas pendek, menaruh tabletnya di atas meja. “Peraturan mengharuskan kita menyetujui nominal yang mereka minta atau merelokasi mereka ke tempat baru.”
“Kalau begitu, kamu tahu kan apa yang harus dilakukan?” Mata Rahmat yang tajam itu menyipit.
“Papa tenang saja,” Arman mengangguk penuh keyakinan. “Semuanya akan berjalan sesuai rencana.”
Naya tak benar-benar mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, dia bahkan sebenarnya tak peduli, sampai akhirnya Sophia, ibu mertua yang duduk di seberangnya angkat bicara.
“Sudah setahun lebih kalian menikah,” ucap wanita anggun itu dengan suara yang lembut namun terkesan dingin. “Apa belum ada kabar baik juga?”
“Soal itu…” Naya menoleh ke arah suaminya. Dia tak tahu bagaimana cara menyampaikan berita buruk perihal pemeriksaan kesuburan mereka tiga hari lalu.
“Doakan saja, Ma,” sergah Arman sambil tersenyum tipis. “Selama ini kami selalu berusaha kok. Tapi memang belum waktunya saja.”
Sophia mengembuskan napas keras. “Tapi ini sudah setahun. Anak teman mama yang baru menikah tiga bulan lalu saja sudah mengandung. Masa kalian belum? Apa itu karena kamu kecapekan?” Sophia memandang menantunya.
Lagi-lagi dirinya yang disalahkan, pikir Naya.
“Aku baik-baik saja kok, Ma.” Naya berujar santai karena memang kenyataannya seperti itu.
“Baik-baik saja bagaimana?” Tanya Sophia dengan nada sedikit jengkel. “Sebaiknya kamu tak perlu lah menduduki posisi direktur di perusahaan teh itu. Serahkan saja semua sama Arman. Lagian, kamu sudah memiliki saham sebanyak lima persen. Mama rasa itu cukup. Fokus pada kesehatanmu.”
Sophia mulai menyerocos panjang lebar, menyalahkan Naya yang sibuk sehingga mereka belum dikaruniai anak.
“Sudahlah, Ma. Kami tahu kok apa yang harus kami lakukan,” bela Arman. Naya mendelik pelan karena biasanya Arman juga ikut menyalahkan dirinya. Tapi sekarang dirinyalah yang jadi sumber masalahnya.
“Sebelum tahun ini berakhir, kalian harus segera punya anak,” titah Rahmat tegas, seakan memilik anak adalah hal yang mudah. “Apa artinya pernikahan kalian kalau berakhir tanpa anak? Kita butuh pewaris, Arman, Naya. Menurut kalian, buat apa nenek moyang keluarga kita bekerja begitu keras dari zaman dulu? Semua demi kehidupan generasi selanjutnya. Jadi, aku mempertahankan kekayaan ini demi cucu-cucuku di masa depan.”
Ekspresi Arman nampak merenggut. “Kami tahu.”
“Naya, jangan keras kepala. Dengarkan apa kata ibu mertuamu,” ucap Rahmat tajam. “Lepas posisimu sebagai direktur di perusahaan teh itu, lagi pula perusahaan itu sudah jadi milik keluarga kami. Jangan lakukan kegiatan yang tidak penting, olahraga tidak jelas… apa itu namanya? Yoga? Astaga… Aku rasa itu bisa membuatmu mandul karena keseringan jungkir balik.”
“Atau jangan-jangan rahimmu memang bermasalah?” Sophia melirik Naya dengan sedikit sinis. “Coba kalian periksakan ke dokter. Lakukan treatment sedini mungkin.”
Sophia lalu bercerita tentang salah satu kenalannya yang sukses menjalani bayi tabung, bahkan sekarang sudah punya anak tiga.
“Tidak ada masalah, Ma, Pa. Kami baik-baik saja,” tekan Arman. “Aku pastikan Naya akan segera hamil.”
“Sebaiknya begitu,” tandas Rahmat tegas. “Karena kalau tidak, kalian cerai saja. Dan siap-siap melepas sepenuhnya perusahaan teh keluargamu itu, Naya.”
Naya hanya terdiam, memandangi wajah Arman yang nampak pucat.
***
“Apa yang harus kita lakukan?” Naya berjalan mondar-mandir di depan ranjang. “Bagaimana cara memberitahu kedua orangtuamu serta keluargaku soal kondisimu??”
Kedua rahang Arman nampak mengeras. Dia memandang keluar jendela dengan tatapan tajam. Dengan kening yang mengerut semakin dalam menandakan bahwa otaknya sedang bekerja keras mencari jalan keluar.
Mengakui bahwa dirinya mandul? Di depan kedua orangtuanya? Oh tidak, dia tak sudi melakukan itu.
Dia tak mau membuat mereka kecewa. Selama ini dia tumbuh menjadi putra yang sempurna. Lagi pula, citranya di depan publik juga sempurna.
Jadi, tidak! Dia tak akan memberi tahu semua orang kalau dirinya mandul.
“Kurasa mereka pasti akan mengerti,” Naya berhenti di depan Arman, menghalangi pandangan pria itu dari hamparan langit biru di luar sana. “Aku yakin.” Naya mengusap pundak suaminya.
Mata Arman memicing sambil menepis tangan istrinya. “Maksudmu?”
“Kita beri tahu mereka pelan-pelan. Toh, ini sudah takdir. Tak ada yang bisa kita lakukan. Program bayi tabung atau apapun itu tetap saja sia-sia. Kamu mandul, Arman.”
“Tutup mulutmu!” Bentak Arman. Kedua matanya melotot ke arah Naya.
Naya terkesiap dan mundur ke belakang ketika Arman bergerak mendekatinya dengan amarah yang terpancar di wajahnya.
“A-Aku tidak bermaksud me-menyinggung soal itu… Maafkan aku,” ucap Naya terbata. Dia belum pernah melihat suaminya semarah ini. Seketika Naya jadi tak enak hati. Ucapannya tadi pasti sudah menyinggung ego Arman sedemikian rupa.
Arman mendengus keras sambil terus memandang istrinya dengan tajam. “Kamu tahu, kalau kita bercerai, kamu harus melepas saham lima persen di bekas perusahaan milik keluargamu yang sekarang jadi milikku itu. Kamu akan kehilangan semuanya…”
Kini giliran Naya yang mengernyit heran. Pernikahan mereka memang didasari perjanjian transaksional, jadi apa ini semacam ancaman, pikir Naya lagi.
“Tapi kamu–maksudku kita–tidak bisa memberikan keturunan,” tukas Naya. “Bagaimana mungkin aku bisa hamil anak darimu, Arman?”
“Yah, memang. Aku menikah dengan perempuan manapun hasilnya akan tetap sama bukan?” Satu alis tebal pria itu naik. “Jadi… aku tidak akan melepasmu. Kamu wanita sempurna. Cantik, pintar, dari keluarga terpandang…”
Jemari Arman menelusuri rahang istrinya pelan. Entah kenapa, Naya agak bergidik ngeri dengan perilaku Arman.
“Tapi semua sia-sia. Kalaupun adopsi, kita harus tetap memberi tahu Mama dan Papa,” tandas Naya.
Sapuan jemari Arman terhenti di bibir ranum Naya. “Kamu akan tetap hamil, Naya, dari rahimmu sendiri.”
Dahi wanita itu mengerut heran. “Kamu tidak bisa memberiku keturunan!” Desis Naya pelan, seolah mengingatkan hal penting itu.
“Aku tidak lupa,” balas Arman sinis. “Kalau aku tidak bisa, maka orang lain yang akan melakukannya.”
“Hah? Aku tidak mengerti maksudmu.”
Satu sudut bibir Arman menyungging. “Pria penggantiku. Dialah yang akan menghamilimu, Sayang…”
Naya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.“Naya?”Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”
Degup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati. Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.Tok, tok, tok.Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan s
Seminggu kemudian pria itu datang.Ardi Dewantara.Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya. “Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya. Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian sam
“Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”“Sem
Udara pagi yang segar berembus masuk melalui pintu pembatas ruang makan dan halaman belakang yang dibuka lebar-lebar. Suara burung yang bercicit memecah keheningan di atas meja makan.Naya memotong roti bakar dengan hati-hati sementara Arman nampak sibuk memperhatikan tabletnya.Suara koran bergemerisik saat Rahmat Kartajaya yang duduk di ujung meja menutup korannya.“Bagaimana dengan pembebasan lahan kampung di pinggiran itu?” Suara berat pria enam puluh tahun itu tertuju pada putra satu-satunya, Arman.“Alot, Pa,” balas Arman. “Mereka minta ganti rugi yang besar padahal sertifikat hak milik saja tidak punya. Aneh.” Arman mendengus heran.Rahmat melipat korannya dan menyisip teh hitam. “Gusur secara paksa. Proyek apartemen kita harus mulai digarap akhir bulan ini.”“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu,” Arman menghela napas pendek, menaruh tabletnya di atas meja. “Peraturan mengharuskan kita menyetujui nominal yang mereka minta atau merelokasi mereka ke tempat baru.”“Kalau begitu, kamu
Di dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.“Argh!”Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi







