Share

4.

Penulis: Poepoe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 15:44:31

“Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”

Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.

“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.

Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.

“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”

“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”

“Sempurna? Apa maksudmu dengan pria yang sempurna? Sesempurna apapun pria itu, aku tak akan mau tidur dengannya. Aku tak akan melakukan hal serendah itu! Kamu seperti menjual diriku!” Sekuat tenaga, Naya menghempaskan kedua tangan suaminya yang sedari tadi mencengkram pundaknya.

Arman lantas berdecak sinis. “Hah, kamu pikir pernikahan kita bukan transaksional? Kamu menyerahkan tubuhmu padaku untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu yang hampir bangkrut! Jadi, apa bedanya kalau kamu tidur dengan pria lain, sama-sama untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu dan aku bisa menyelamatkan reputasiku? Iya kan? Dasar perempuan redahan.”

Mulut Naya menganga tak percaya.

PLAK!

Satu tangan wanita itu langsung melayang di pipi Arman.

“Jaga mulutmu. Kamu yang memaksaku untuk menikahimu. Apa kamu lupa? Kesepakatan konyol itu datangnya darimu!”

“Jangan bertindak bodoh.” Arman mendengus sambil mengusap pipinya yang panas.

“Bertindak bodoh apanya?” Naya mendorong tubuh Arman. “Ucapan itu seharusnya ditujukan untukmu. Pokoknya aku tidak akan mau melakukan itu!”

“Oh ya? Apa kamu siap kehilangan semuanya?” Sergah Arman.

“Aku tak akan kehilangan apapun,” Naya mendengus heran.

Sementara itu ujung bibir Arman menyungging sinis. “Jangan terlalu percaya diri, Naya. Aku rasa ayahmu pasti sedih karena harus melepas perusahaan teh keluarga kalian. Itu perusahaan turun temurun kan? Dan semua gara-gara anak perempuannya yang keras kepala yang tak mau berbakti pada suaminya.”

“Berbakti? Apa aku tak salah dengar? Itu bukan berbakti namanya!” 

Arman bersedekap, memandang Naya dengan sikap menantang. “Lantas, apa rencanamu?”

“Rencana? Aku tak punya rencana apapun. Kita beri tahu saja mereka, orangtua kita. Beres. Toh, mereka tak akan menyebarkan kemandulanmu ke siapapun.”

“Tidak,” sambung Arman tegas. “Orangtuaku tak boleh tahu kondisiku yang sebenarnya.”

“Astaga, Arman… Aku yakin mereka akan mengerti.” Balas Naya dengan sedikit putus asa.

“Mereka tak akan mengerti! Kamu tidak tahu perangai kedua orangtuaku!” Bentak pria itu lagi yang membuat Naya bergidik takut. Dia tak pernah melihat suaminya begitu seemosional ini. “Mereka ingin aku hidup dengan sempurna. Dan aku memang pria sempurna, Naya. Aku akan selalu membuat mereka bangga.”

Naya dan Arman kini saling bertukar pandang dalam hening.

“Jadi… jangan rusak kebahagiaan mereka…” kedua mata Arman menyorot tajam ke arah Naya. “Kita akan jalankan rencanaku.”

“Kamu pikir aku akan menuruti keinginanmu?” Tegas Naya, menatap suaminya dengan pandangan menantang. “Ha! Silakan bermimpi. Argh!”

Seketika tangan kekar Arman mencengkram dagu Naya dengan begitu kuat.

“Lepaskan! Kamu menyakitiku, Arman!” Naya berusaha memberontak, namun cengkraman Arman malah semakin kuat.

Bola mata pria itu melotot tajam. “Jangan membantah perintahku.”

“Kalau kamu tak melepaskanku… A-aku… aku akan teriak!” Ancam Naya.

“Hah! Brengsek!” Arman mendorong tubuh istrinya yang membuat tubuh Naya hampir tersungkur ke lantai. 

“Lebih baik kita bercerai, daripada aku harus tersiksa,” suara Naya terdengar sedikit gemetar. “Aku… aku akan memberi tahu orangtuaku untuk merelakan perusahaan mereka. Aku nggak mau menjual harga diriku!”

Arman bergerak mendekat. Naya lantas beringsut mundur. Dia benar-benar takut Arman akan memukulnya.

Sampai akhirnya, tubuh Naya tersudut di permukaan tembok.

“Kamu tahu, Nay? Ini bukan soal harga diri. Ini soal reputasi. Reputasiku… juga reputasimu,” Telunjuk Arman tertuju padanya.

Naya menegakkan punggungnya, berusaha menatap Arman dengan tegas. “Selamatkan saja reputasimu sendiri.”

“Tunggu,” sergah Arman ketika Naya bergegas keluar dari kamar. “Dua puluh persen.” 

Naya mendengus, menghiraukan ucapan Arman.

“Dua puluh persen saham teh keluargamu akan kuserahkan padamu,” terang Arman lagi.

Punggung Naya mendadak berhenti di ambang pintu. Perusahaan teh itu sangat berarti bagi keluarganya. Tapi di satu sisi, Naya tak ingin merendahkan harga dirinya.

“Kurasa itu kesepakatan yang bagus,” sambung Arman. Lagi pula, kita akan merahasiakan semua ini. Hanya kamu dan aku yang tahu. Ah, juga pria itu tentunya. Bagaimana?”

Arman menatap punggung Naya yang masih mematung. Sejujurnya, jantung Arman berdebar keras menantikan jawaban dari Naya. Dia benar-benar membutuhkan Naya untuk menjalankan rencananya.

“Aku tidak akan menawarkan kesempatan ini dua kali. Kalau kamu ingin jadi putri yang berbakti, sebaiknya terima tawaranku. Sebenarnya, aku memikirkan kondisi ayahmu, Naya. Dia pasti kecewa kalau kamu menjanda. Kamu tahu sendiri kan, stigma janda di masyarakat itu negatif, ditambah lagi kalian harus kehilangan perusahaan itu…”

Pundak Naya bergerak pelan seiring dengan embusan napas panjang yang keluar dari mulutnya.

Saat memutar kembali tubuhnya, Naya melihat sorot mata Arman yang tenang, seolah kemenangan sudah ada di tangannya.

“Dua puluh persen…” ulang Naya.

“Ya, dua puluh persen. Cukup besar bukan? Mengingat keluargaku yang menyelamatkan perusahaan kalian dari kebangkrutan,” ucapnya pongah.

Naya mengecap bibirnya. Arman nampak tersenyum tipis berpikir Naya pasti akan menerima tawarannya. Dia tahu perempuan itu memang keras kepala, tapi kalau menyangkut soal uang dia mudah dibujuk.

Dasar perempuan matre, pikir Arman dalam hati.

“Sebenarnya… aku tak peduli kalau aku harus menjanda. Tapi kamu benar, perusahaan teh keluargaku sangat penting bagi kami. Warisan turun temurun…” Naya bergerak mendekat.

“Aku tahu,” Arman mengedikkan bahunya santai. “Jadi…”

“Jadi…” Naya memiringkan kepalanya. “Enam puluh persen.”

“Heh?”

“Enam puluh persen,” tegas Naya. “Aku mau kamu memberiku saham enam puluh persen.”

“Kamu gila.”

“Idemu lebih gila lagi. Bagaimana?”

Arman mendengus keras. 

“Aku tidak akan memberikan penawaran dua kali,” Naya menyunggingkan senyum tipis.

“Aku tak nyangka kamu selicik itu,” balas Arman sinis.

“Licik? Kita sedang membuat kesepakatan, Sayang. Lagi pula, aku harus merelakan tubuhku dinikmati pria lain.”

Keadaan berbalik. Kini giliran Arman yang tersudut, tenggelam dalam kebimbangan.

“Baiklah, kalau kamu tidak mau, apa boleh buat. Tapi kamu tenang saja, rahasiamu aman bersamaku.” Naya melempar senyum penuh kemenangan.

“Oke, enam puluh persen.”

Rahang Naya mengeras. “Kamu serius kan?”

“Ya, silakan ambil kendali perusahaan teh sialan itu. Tapi ingat, kita harus jalankan rencanaku.” Arman lantas mengulurkan tangannya. “Sepakat?”

Naya mengambil satu langkah maju, menyambar telapak tangan suaminya. “Sepakat.”

Mereka lalu bertukar pandang dengan tajam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   7.

    Naya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.“Naya?”Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   6.

    Degup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati. Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.Tok, tok, tok.Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan s

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   5.

    Seminggu kemudian pria itu datang.Ardi Dewantara.Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya. “Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya. Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian sam

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   4.

    “Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”“Sem

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   3.

    Udara pagi yang segar berembus masuk melalui pintu pembatas ruang makan dan halaman belakang yang dibuka lebar-lebar. Suara burung yang bercicit memecah keheningan di atas meja makan.Naya memotong roti bakar dengan hati-hati sementara Arman nampak sibuk memperhatikan tabletnya.Suara koran bergemerisik saat Rahmat Kartajaya yang duduk di ujung meja menutup korannya.“Bagaimana dengan pembebasan lahan kampung di pinggiran itu?” Suara berat pria enam puluh tahun itu tertuju pada putra satu-satunya, Arman.“Alot, Pa,” balas Arman. “Mereka minta ganti rugi yang besar padahal sertifikat hak milik saja tidak punya. Aneh.” Arman mendengus heran.Rahmat melipat korannya dan menyisip teh hitam. “Gusur secara paksa. Proyek apartemen kita harus mulai digarap akhir bulan ini.”“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu,” Arman menghela napas pendek, menaruh tabletnya di atas meja. “Peraturan mengharuskan kita menyetujui nominal yang mereka minta atau merelokasi mereka ke tempat baru.”“Kalau begitu, kamu

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   2.

    Di dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.“Argh!”Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status