LOGIN“Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”
Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.
“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.
Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.
“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”
“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”
“Sempurna? Apa maksudmu dengan pria yang sempurna? Sesempurna apapun pria itu, aku tak akan mau tidur dengannya. Aku tak akan melakukan hal serendah itu! Kamu seperti menjual diriku!” Sekuat tenaga, Naya menghempaskan kedua tangan suaminya yang sedari tadi mencengkram pundaknya.
Arman lantas berdecak sinis. “Hah, kamu pikir pernikahan kita bukan transaksional? Kamu menyerahkan tubuhmu padaku untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu yang hampir bangkrut! Jadi, apa bedanya kalau kamu tidur dengan pria lain, sama-sama untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu dan aku bisa menyelamatkan reputasiku? Iya kan? Dasar perempuan redahan.”
Mulut Naya menganga tak percaya.
PLAK!
Satu tangan wanita itu langsung melayang di pipi Arman.
“Jaga mulutmu. Kamu yang memaksaku untuk menikahimu. Apa kamu lupa? Kesepakatan konyol itu datangnya darimu!”
“Jangan bertindak bodoh.” Arman mendengus sambil mengusap pipinya yang panas.
“Bertindak bodoh apanya?” Naya mendorong tubuh Arman. “Ucapan itu seharusnya ditujukan untukmu. Pokoknya aku tidak akan mau melakukan itu!”
“Oh ya? Apa kamu siap kehilangan semuanya?” Sergah Arman.
“Aku tak akan kehilangan apapun,” Naya mendengus heran.
Sementara itu ujung bibir Arman menyungging sinis. “Jangan terlalu percaya diri, Naya. Aku rasa ayahmu pasti sedih karena harus melepas perusahaan teh keluarga kalian. Itu perusahaan turun temurun kan? Dan semua gara-gara anak perempuannya yang keras kepala yang tak mau berbakti pada suaminya.”
“Berbakti? Apa aku tak salah dengar? Itu bukan berbakti namanya!”
Arman bersedekap, memandang Naya dengan sikap menantang. “Lantas, apa rencanamu?”
“Rencana? Aku tak punya rencana apapun. Kita beri tahu saja mereka, orangtua kita. Beres. Toh, mereka tak akan menyebarkan kemandulanmu ke siapapun.”
“Tidak,” sambung Arman tegas. “Orangtuaku tak boleh tahu kondisiku yang sebenarnya.”
“Astaga, Arman… Aku yakin mereka akan mengerti.” Balas Naya dengan sedikit putus asa.
“Mereka tak akan mengerti! Kamu tidak tahu perangai kedua orangtuaku!” Bentak pria itu lagi yang membuat Naya bergidik takut. Dia tak pernah melihat suaminya begitu seemosional ini. “Mereka ingin aku hidup dengan sempurna. Dan aku memang pria sempurna, Naya. Aku akan selalu membuat mereka bangga.”
Naya dan Arman kini saling bertukar pandang dalam hening.
“Jadi… jangan rusak kebahagiaan mereka…” kedua mata Arman menyorot tajam ke arah Naya. “Kita akan jalankan rencanaku.”
“Kamu pikir aku akan menuruti keinginanmu?” Tegas Naya, menatap suaminya dengan pandangan menantang. “Ha! Silakan bermimpi. Argh!”
Seketika tangan kekar Arman mencengkram dagu Naya dengan begitu kuat.
“Lepaskan! Kamu menyakitiku, Arman!” Naya berusaha memberontak, namun cengkraman Arman malah semakin kuat.
Bola mata pria itu melotot tajam. “Jangan membantah perintahku.”
“Kalau kamu tak melepaskanku… A-aku… aku akan teriak!” Ancam Naya.
“Hah! Brengsek!” Arman mendorong tubuh istrinya yang membuat tubuh Naya hampir tersungkur ke lantai.
“Lebih baik kita bercerai, daripada aku harus tersiksa,” suara Naya terdengar sedikit gemetar. “Aku… aku akan memberi tahu orangtuaku untuk merelakan perusahaan mereka. Aku nggak mau menjual harga diriku!”
Arman bergerak mendekat. Naya lantas beringsut mundur. Dia benar-benar takut Arman akan memukulnya.
Sampai akhirnya, tubuh Naya tersudut di permukaan tembok.
“Kamu tahu, Nay? Ini bukan soal harga diri. Ini soal reputasi. Reputasiku… juga reputasimu,” Telunjuk Arman tertuju padanya.
Naya menegakkan punggungnya, berusaha menatap Arman dengan tegas. “Selamatkan saja reputasimu sendiri.”
“Tunggu,” sergah Arman ketika Naya bergegas keluar dari kamar. “Dua puluh persen.”
Naya mendengus, menghiraukan ucapan Arman.
“Dua puluh persen saham teh keluargamu akan kuserahkan padamu,” terang Arman lagi.
Punggung Naya mendadak berhenti di ambang pintu. Perusahaan teh itu sangat berarti bagi keluarganya. Tapi di satu sisi, Naya tak ingin merendahkan harga dirinya.
“Kurasa itu kesepakatan yang bagus,” sambung Arman. Lagi pula, kita akan merahasiakan semua ini. Hanya kamu dan aku yang tahu. Ah, juga pria itu tentunya. Bagaimana?”
Arman menatap punggung Naya yang masih mematung. Sejujurnya, jantung Arman berdebar keras menantikan jawaban dari Naya. Dia benar-benar membutuhkan Naya untuk menjalankan rencananya.
“Aku tidak akan menawarkan kesempatan ini dua kali. Kalau kamu ingin jadi putri yang berbakti, sebaiknya terima tawaranku. Sebenarnya, aku memikirkan kondisi ayahmu, Naya. Dia pasti kecewa kalau kamu menjanda. Kamu tahu sendiri kan, stigma janda di masyarakat itu negatif, ditambah lagi kalian harus kehilangan perusahaan itu…”
Pundak Naya bergerak pelan seiring dengan embusan napas panjang yang keluar dari mulutnya.
Saat memutar kembali tubuhnya, Naya melihat sorot mata Arman yang tenang, seolah kemenangan sudah ada di tangannya.
“Dua puluh persen…” ulang Naya.
“Ya, dua puluh persen. Cukup besar bukan? Mengingat keluargaku yang menyelamatkan perusahaan kalian dari kebangkrutan,” ucapnya pongah.
Naya mengecap bibirnya. Arman nampak tersenyum tipis berpikir Naya pasti akan menerima tawarannya. Dia tahu perempuan itu memang keras kepala, tapi kalau menyangkut soal uang dia mudah dibujuk.
Dasar perempuan matre, pikir Arman dalam hati.
“Sebenarnya… aku tak peduli kalau aku harus menjanda. Tapi kamu benar, perusahaan teh keluargaku sangat penting bagi kami. Warisan turun temurun…” Naya bergerak mendekat.
“Aku tahu,” Arman mengedikkan bahunya santai. “Jadi…”
“Jadi…” Naya memiringkan kepalanya. “Enam puluh persen.”
“Heh?”
“Enam puluh persen,” tegas Naya. “Aku mau kamu memberiku saham enam puluh persen.”
“Kamu gila.”
“Idemu lebih gila lagi. Bagaimana?”
Arman mendengus keras.
“Aku tidak akan memberikan penawaran dua kali,” Naya menyunggingkan senyum tipis.
“Aku tak nyangka kamu selicik itu,” balas Arman sinis.
“Licik? Kita sedang membuat kesepakatan, Sayang. Lagi pula, aku harus merelakan tubuhku dinikmati pria lain.”
Keadaan berbalik. Kini giliran Arman yang tersudut, tenggelam dalam kebimbangan.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau, apa boleh buat. Tapi kamu tenang saja, rahasiamu aman bersamaku.” Naya melempar senyum penuh kemenangan.
“Oke, enam puluh persen.”
Rahang Naya mengeras. “Kamu serius kan?”
“Ya, silakan ambil kendali perusahaan teh sialan itu. Tapi ingat, kita harus jalankan rencanaku.” Arman lantas mengulurkan tangannya. “Sepakat?”
Naya mengambil satu langkah maju, menyambar telapak tangan suaminya. “Sepakat.”
Mereka lalu bertukar pandang dengan tajam.
Angin sore yang sejuk berembus pelan, menggerakkan helaian rambut Naya.Di tangannya ada secangkir teh hangat. Mata wanita itu kini tertuju ke arah taman rumah sakit.“Kemungkinan besar Arman mengalami kelumpuhan, itu yang dikatakan dokter,” terang Sophia dengan parau. Wanita itu lalu mengusap matanya yang basah. “Tapi persidangan tetap dilanjutkan. Bukti-buktinya cukup lengkap, begitu pula dengan vonis Arman nantinya…”Naya menyesap teh itu. “Kurasa… aku akan bertahan.”Sophia langsung menoleh, menatap Naya yang masih memandang lurus ke arah taman. “Be-Bertahan? Maksudmu?”“Sepertinya, Arman masih membutuhkan keberadaanku. Lagi pula, kesepakatan kami tak bocor ke publik. Jadi, orang-orang tahunya Haryasena memang anaknya Arman,” tandas Naya datar.“Naya, kamu serius?” Kening Sophia mengerut dalam.“Iya, Ma.” Naya lalu menatap ibu mertuanya yang nampak terkejut. “Aku… akan menarik gugatan ceraiku di pengadilan.”Sophia masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar.Lalu mere
Dua minggu setelah kedatangan Nirma, Arman diizinkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.Setelah selesai, dia kembali ke selnya yang sempit. Dan sepanjang dia menunggu hasilnya, dia merasa begitu merana. Berkali-kali dia coba menanamkan pikiran positif bahwa semua bakal baik-baik saja.“Aku tak akan tertular penyakit itu dari Nirma… Tidak… Aku yakin,” gumam Arman.Tetapi tetap saja, rasa takut itu nyata. Sampai akhirnya, asisten pribadi Arman yang setia datang menjenguknya.Di ruangan itu, ekspresi Wira tak bisa ditebak. Dia terlihat datar, tapi Arman bisa melihat bola mata pria itu bergerak gelisah.“Jadi, bagaimana?” Tanya Arman. “Kamu sudah mendapatkan hasilnya kan?”Wira mengangguk. Dia lantas menjulurkan sebuah amplop besar ke hadapan Arman. “Hasilnya ada di situ, Tuan. Saya sendiri belum memeriksanya.”Arman mengembuskan napas keras-keras sebelum dia mengambil amplop itu. Membuka amplop ini seperti menentukan nasibnya ke depan.Degup jantung Arman menjadi-jadi
Naya berjalan di sepanjang lorong rumah sakit. Wajahnya nampak lelah.Dia tak tahu kejadian apa yang menimpa ibu mertuanya sampai wanita itu tak sadarkan diri di teras belakang. Padahal Naya baru saja berbicara dengan Sophia beberapa saat sebelum kejadian.Kepala Naya terasa berat sekarang. Maka, dia memutuskan untuk membeli kopi di kafetaria rumah sakit.Setelah memastikan keadaan Haryasena baik-baik saja, Naya duduk di salah satu bangku yang kosong yang ada di kafetaria itu. Dia menyisip kopi hitam yang masih mengepul dan pandanganya mengarah keluar jendela.Dirinya termenung, sampai-sampai dia tak menyadari ada sesosok bayangan yang mendekat ke arahnya.Saat Naya menoleh, ulu hatinya seperti dihantam sesuatu.“Nay,” Suara berat dan lembut itu mengalun. “Aku boleh duduk di sini?”Naya tak bisa berkata-kata. Dia tidak sedang bermimpi kan? Ardi, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.“Se-sedang apa kamu di sini?” Tanya Naya sambil tergagap.“Aku membuntutimu dari mansion,” balas Ard
Ekspresi Naya sontak melongo. Matanya membulat kaget dengan mulut yang setengah menganga.“A-Arman?!” Desis Naya.Dengusan sinis keluar dari mulut pria itu. “Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja, Naya…”Kini giliran Naya yang menatapnya nyalang. “Kamu tak akan bisa menahanku selamanya. Walau kamu tak mau menandatangani berkas perceraian itu, aku bisa memakai pengacara untuk menggugatmu ke pengadilan.”Pandangan Arman menyipit. Pria itu nampak jengkel dengan pemberontakan istrinya.“Mudah bagiku untuk bercerai denganmu, Arman. Bukti-bukti perselingkuhanmu begitu jelas dan tentu saja hak asuh Haryasena jatuh ke tanganku,” tandas Naya dengan nada tajam.“Oh.. Jadi sekarang kamu berperan sebagai istri yang durhaka, hah?” Dagu Arman menukik ke atas, coba mengintimidasi Naya.“Terserah kamu mau mengasumsikanku sebagai apa. Aku tak peduli. Tapi satu hal yang pasti, kita akan bercerai,” tegas perempuan itu sambil bangkit dari kursinya. “Dan tenang saja, kita sudah membuat perjanjian p
“Pak Arman, Anda kedatangan tamu,” kepala penjaga itu muncul dari balik jeruji.Arman yang sedang berbaring di atas ranjang yang keras langsung menggerakkan tubuhnya. Dia menyeret gontai langkahnya di sepanjang lorong. Raut wajahnya nampak begitu kusut karena dia masih harus menghadapi persidangan demi persidangan ke depannya.Setelah menghela napas panjang, Arman mendongakkan kepalanya, masuk ke dalam ruangan di mana dia pikir dia akan bertemu dengan pengacaranya lagi. Tetapi kerutan di dahinya itu langsung muncul saat di hadapannya kini duduk seorang pria yang tak pernah Arman harapkan kehadirannya.Haryanto melempar senyum samar.“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Arman dengan nada sinis. “Duduklah,” dagu Haryanto bergerak, mengisyaratkan Arman untuk duduk di hadapannya.Bunyi kaki-kaki bangku yang menyeret terdengar, begitu Arman menariknya dengan kasar. Dia lantas mendengus dan menatap sinis ayah kandungnya ini.“Kamu mau mengejekku, hah? Mau menertawakan segala kesialanku?” Desis
Naya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya yang mungil. Di luar sana, matahari nampak bersinar cerah membuat sebagian pasien berkeliaran di taman rumah sakit yang asri.Senyum membingkai di wajah Naya. Setelah mengepak baju-bajunya, kini dia siap pergi meninggalkan tempat ini.‘Ternyata tidak buruk juga…’ pikir Naya. Arman dan Sophia mungkin ada benarnya juga, memasukkan dirinya ke sini karena sekarang Naya merasa jauh lebih baik.“Nyonya Naya,” suara perawat itu mengalihkan pandangan Naya dari jendela. “Sopir Anda sudah datang.”“Oh, baiklah,” buru-buru Naya menenteng tas besarnya.Setelah dia berpamitan dengan para perawat di sana, akhirnya Naya bisa keluar juga dari tempat itu. Udara jadi terasa lebih segar sekarang, entah kenapa.Jantung Naya berdebar penuh semangat karena dalam waktu hitungan menit dia akan bertemu putranya, Haryasena.Sudah dua setengah bulan dia tak menyentuh anaknya. Mereka hanya bertemu melalui video call dari Sophia, dimana setelah Rahmat meninggal, Sop
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa
Suara dentingan gelas beradu. Obrolan-obrolan samar terdengar memenuhi sudut restoran. Hujan di luar sudah reda, menyisakan titik-titik air yang membasahi kaca jendela.Naya memutar-mutar gelasnya, memperhatikan gelembung wine yang meletup-letup. Tatapannya mulai sayu dan pipinya nampak memerah.“L
Naya mendesah berat. Rambutnya berantakan karena kepalanya terus bergerak ke sana kemari. Dadanya berdebar, naik turun dengan napas yang tak beraturan.Tubuhnya sedari tadi menggeliat di atas ranjang hotel yang empuk, m







