Share

5.

Penulis: Poepoe
last update Tanggal publikasi: 2026-02-02 15:45:00

Seminggu kemudian pria itu datang.

Ardi Dewantara.

Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.

“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya. 

“Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”

Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.

“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.

“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.

Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya. 

Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian samping Ardi.

Usia mereka sama, sama-sama tiga puluh tahun. Hidung pria itu sedikit mancung. Kulitnya kecoklatan dengan rambut yang disisir rapi. Dan lesung pipi itu terlihat walaupun Ardi sedang tak berbicara.

Naya mendengus dalam hati. ‘Pintar juga Arman memilih pria untukku.’ Setelah mengatakan itu dia jadi merasa miris sendiri.

Tapi untuk saat ini dia tak mau memusingkan pikirannya dengan kenyataan bahwa Ardi, sopir barunya ini, akan menyentuh tubuhnya.

Begitu mobil Naya sampai kembali di mansion, dengan sigap Ardi turun lalu membukakan pintu untuk majikan barunya.

“Kamu nggak perlu melakukan itu,” tandas Naya, turun dari mobil. “Aku masih mampu buka pintu sendiri.”

“Eh, maaf, Nyonya…” Ardi menunduk. 

Aroma segar yang sedikit manis menyusup ke hidung Naya begitu dirinya melewati Ardi. Seketika dadanya berdebar agak lebih kencang.

‘Sialan. Apa-apaan ini?’ Pikir Naya dalam hati. Kenapa dia tiba-tiba merasa gugup?

Tak mau dirinya terperangkap dalam perasaan aneh, maka wanita itu pun mempercepat langkahnya, menjauh dari Ardi.

Sehabis mandi, dari dalam kamarnya, Naya mendengar suara mesin pemotong rumput yang meraung di luar sana.

Lehernya melongo ke arah jendela. Keningnya pun mengernyit.

“Ardi?”

Matahari sudah meninggi. Cahayanya membias di kulit kecoklatan pria itu. Punggung Ardi yang bidang terlihat jelas tanpa dilapisi kemeja putih seperti tadi. Berkeringat dan… menggoda.

Otot-otot tangannya muncul karena mengendalikan mesin pemotong rumput itu.

Sejak fakta kemandulan Arman serta kesepakatan gila dengan suaminya, ranjang mereka semakin dingin saja.

“Astaga…” Naya menahan napasnya. Sekelebat pikiran kotor hinggap di benaknya.

Bagaimana rasanya jika Ardi menyentuhnya?

“Naya, hentikan! Kamu wanita terhormat!” titahnya pada diri sendiri. 

Tetapi kata-kata itu terdengar munafik. Toh pada akhirnya dia akan tidur dengan sopirnya, demi mempertahankan perusahaan keluarganya, demi menjaga reputasinya juga Arman.

Punggung Ardi berputar menghadap ke jendela kamar Naya.

Wanita itu tersentak–padahal Ardi tak bisa melihat ke balik jendela kamarnya yang tertutup. Namun entah apa yang mendorong dirinya, pelan-pelan Naya mendekatkan tubuhnya ke ambang jendela.

Mesin pemotong rumput itu meraung-raung.

Dari depan, tubuh berotot itu semakin terlihat seksi. Kini Naya tak bisa mengatur jantungnya yang berdentum begitu cepat, juga miliknya yang berdenyut.

“Sialan,” desisnya tak percaya dengan reaksi tubuhnya sendiri. “Mana mungkin aku tertarik dengan pria itu, pria yang bahkan baru aku temui pagi ini. Hah!”

Naya menyambar tirai jendela dan menariknya kencang. 

Dari bawah sana, Ardi menengadah, melihat tirai kamar majikannya yang bergerak-gerak. Matanya menyipit. Pria itu tahu sedari tadi ada yang mengawasi dirinya dari dalam kamar itu.

‘Sebaiknya aku berhati-hati,’ gumam Ardi dalam hati sambil menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.

“Waduh, Mas Ardi, makasih ya udah mau bantuin saya potong rumput. Saya jadi nggak enak nih,” tukas Ujang, tukang kebun, sambil mengambil alih mesin pemotong rumput itu untuk ditaruh di tempat semula. “Encok saya kambuh, maklum udah tua.”

“Sama-sama, Pak.”

“Eh, mau kemana Mas Ardi? Nggak mau ngopi dulu?” Tawar Ujang begitu Ardi melewatinya.

“Mau mandi, Pak. Setengah jam lagi saya harus antar Nyonya ke kantornya.” terang Ardi. Lalu dia bergegas ke paviliun yang terpisah dari bangunan utama mansion. Paviliun yang ditempati Ardi khusus untuk pelayan lelaki, termasuk dirinya. 

Sementara itu, Naya sudah siap di ruang tengah. Dia meminta salah seorang pelayan untuk mengingatkan Ardi. Namun, pelayan itu bilang Ardi masih mandi.

Naya melirik pergelangan tangannya. Siang ini, dia ada meeting dengan salah satu sponsor kegiatan CSR yang akan diadakan oleh perusahaan.

Sedikit kesal, Naya bangkit dan menghampiri Ardi di paviliun.

Dia melangkah cepat di atas batu-batu alam yang berjejer ke arah paviliun itu. Jarang-jarang dia memanggil pelayan, apalagi pria, secara langsung seperti ini.

Tetapi kalau tidak bergegas, dia bisa telat.

“Ardi,” Naya menyahut sambil membuka pintu paviliun. Ini kali pertamanya memasuki paviliun itu. “Ardi?”

Tak ada jawaban dari dalam, Naya pun melangkah masuk. Pintu di belakangnya tiba-tiba berderit menutup pelan saat terhempas embusan angin.

Ruangan jadi sedikit temaram karena cahaya matahari jadi terhalang masuk. Heels Naya membentur pelan di atas lantai. Langkahnya membawa dia ke sumber suara air yang mengucur dari dalam kamar mandi.

Seketika dada Naya berdebar. Pintu kamar mandi di hadapannya tak tertutup rapat. Ada sedikit celah baginya untuk mengintip ke dalam.

Perlahan tubuhnya bergerak maju. Lehernya menjulur ke celah pintu itu.

Mungkin dia sudah gila, pikir Naya.

Namun entah kenapa tubuhnya bergerak begitu saja walaupun otaknya memerintahkan untuk tidak melakukannya.

Dan perbuatan gilanya itu–mengintip sopir barunya mandi–akhirnya mengakibatkan setengah tubuhnya terasa kaku.

Tetesan air mengalir di tubuh atletis yang kecoklatan itu. Naya tak bisa membayangkan jika Ardi memutar tubuhnya dan… 

‘Astaga!’ Naya memekik dalam hati. Dia seperti terkena serangan jantung begitu Ardi benar-benar membalikkan badannya.

Saking terkejutnya, langkah Naya jadi oleng dan menyenggol tumpukan kardus kosong yang ada di dekatnya.

Brak!

‘Sial!’ Naya mengumpat panik. Matanya menjelajah ke sekitar. Nyaris tak ada tempat baginya untuk bersembunyi.

Tubuhnya semakin menegang begitu bunyi air dari dalam kamar mandi sekarang tak terdengar.

Pintu kamar mandi itu pun membuka pelan. Tubuh Ardi yang basah melongok keluar. Keningnya spontan mengernyit mendapati tumpukan kardus yang berserakan.

“Tikus?” matanya menyipit, keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang lalu membereskan kardus-kardus itu.

Lantas, dia terdiam sejenak. Ujung hidungnya nampak mengerut seperti merasakan sesuatu. Bola matanya bergerak meneliti setiap sudut ruangan.

Ardi melangkah pelan mengikuti instingnya ke arah kulkas. Dia seperti melihat bayangan yang bergerak dari balik sana.

Dan itu bukan bayangan seekor tikus.

Sementara itu di samping kulkas, Naya menggigit bibirnya keras-keras. Kedua telapak tangannya saling mengait erat.

‘Tidak… Jangan kesini…’ Wanita itu memejamkan matanya sambil meringkuk.

Apa yang harus dia lakukan kalau Ardi menangkap basah dirinya bersembunyi di sini?!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
pasti ketahuan..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   160. (END)

    Saat Naya melangkah di sepanjang lorong, dadanya terus berdebar gugup. Kedua tangannya kini sedikit berkeringat begitu suster mempersilakan dirinya masuk ke ruangan tempat Ardi dirawat.Naya pun tak sanggup menahan air matanya ketika tatapannya langsung beradu dengan Ardi yang tergolek lemah di atas ranjang.“Ardi…” Naya menghambur ke pinggir ranjang. Digenggamnya tangan suaminya yang begitu dingin.“Na-Naya… kamu baik-baik saja kan?” Suara yang keluar dari mulut pria itu terdengar parau. “A-anak kita?”“Semua baik-baik saja, Sayang…” balas Naya terisak. “Jangan cemaskan hal apapun. Yang penting sekarang, kamu harus fokus pada penyembuhanmu, oke?”Ardi tersenyum tipis dan menggerakkan kepalanya pelan. “Tentu… aku akan berusaha, Nay…”Naya mengecup punggung tangan Ardi dan menatapnya sekali lagi sebelum akhirnya keluar ruangan.Begitu dia bertemu dengan dokter, dokter itu pun bilang bahwa kesembuhan Ardi seperti keajaiban. Pukulan benda itu sebenarnya bisa melumpuhkan sebagian tubuhnya

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   159.

    Petir menyambar lagi kali ini, menerangi sekejap ruang tengah yang temaram.Sementara itu, Shannon masih menatap tajam Naya yang tubuhnya menggigil ketakutan. Tiba-tiba saja, tawa Shannon berderai, tawa yang bengis dan menyeramkan di kuping Naya.Naya tak habis pikir, ada seorang perempuan yang begitu terobsesi dengan suaminya sampai melakukan hal gila seperti ini.“Selamat tinggal, wanita menyebalkan…” Shannon mengayunkan stik golf itu.“Ardi!” Naya tiba-tiba memekik kencang.Sontak Shannon menoleh ke belakang. Bukannya dia sudah memukul kepala pria itu berkali-kali?”PRANG!“Aaa!” Seketika Shannon menjerit kesakitan begitu sebuah vas keramik menghantam kepalanya. “Dasar, perempuan brengsek!”Rencana Naya berhasil. Begitu Shannon lengah, Naya pun langsung mengambil vas keramik yang ada di dekatnya.Stik golf itu terlepas dari tangan Shannon. Dan Naya langsung menendang stik itu jauh-jauh–sulit baginya untuk merunduk dan mengambil stik golf itu karena perutnya yang besar.Lantas, Naya

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   158.

    BRAK!Suara gedebum keras disertai teriakan histeris itu sontak membuat Ardi tersentak kaget. Dia tak mungkin sanggup menghadapi kenyataan bahwa dirinya harus kehilangan orang-orang yang dicintainya dua kali.“Hmpft!” Sekuat tenaga pria itu menyeret tubuhnya yang terikat ke ambang pintu. Dia bertekad akan menghabisi Shannon bagaimanapun caranya!Sampai akhirnya, dia melihat bayangan yang bergerak di lorong depan. Jantung Ardi pun berdegup cepat.Dari balik tangannya yang terikat, dia mengepal dengan erat. Begitu Shannon hendak melepaskannya, dia akan memukul wanita sialan itu sampai babak belur.Dan ketika Ardi mendongak, sosok itu kini berdiri di ambang pintu. Kedua mata Ardi lantas membelalak tak percaya.“A-Ardi…” Naya bergerak dengan langkah gontai ke arah suaminya yang terikat di lantai. “A-aku… kurasa aku sudah membunuh Shannon…”Ardi menggerak-gerakkan kepalanya.Naya lalu membuka kedua ikatan itu dan mereka pun berpelukan erat. Sementara itu, Naya terisak di bahu suaminya.“N

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   157.

    Haryasena meringkuk di balik selimutnya. Dalam tidurnya, wajah bocah itu masih terlihat muram.Bagaimana tak muram? Bayangan dirinya makan malam bersama kedua orangtuanya di sebuah restoran yang ada di gedung pencakar langit buyar seketika.Dua jam Naya dan Haryasena menunggu, Ardi tak kelihatan batang hidungnya sama sekali.“Astaga, apa yang terjadi padanya?” Naya berdecak gelisah setelah keluar dari kamar putranya. Sedari tadi, dia coba menghubungi suaminya namun hanya terdengar nada sambung tanpa jawaban.Kilatan petir seketika menyambar. Hujan yang tadinya turun rintik-rintik kini berubah lebat.Sejujurnya Naya gundah. Dia takut hal buruk menimpa suaminya.Ardi tak pernah tiba-tiba membatalkan janjinya seperti ini, apalagi ini adalah makan malam keluarga mereka yang spesial.Ini sungguh di luar perilakunya, pikir Naya dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja sosok Shannon muncul di kepalanya.“Shannon…” mata Naya menyipit tajam. Buru-buru dia menghubungi Mardani, meminta alamat wanita t

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   156.

    Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”“Tentu,” Ardi mengangguk riang.Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk Naya.“Masih banyak waktu,” gumam Ardi saat melirik pergelangan tangannya. “Pasti Naya senang dengan kejutan kecil dariku,” lanjutnya lagi.Namun begitu Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. Dia pikir itu telepon dari Naya, tetapi keningnya langsung mengerut tajam saat mengetahui bahwa Shannon yang meneleponnya.Ardi terdiam sejenak, membiarkan nama Shannon terus berada di layar ponselnya. Sampai akhirnya, ibu jarinya bergerak menerima panggilan itu.Tadinya, Ardi mau mengab

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   155.

    Sedari tadi, jemari Naya mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja yang keras. Croissant dan air mineral di hadapannya tak tersentuh sama sekali.Jujur, dia begitu gugup menunggu kedatangan Mardani.Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan wanita itu. Mungkin mereka benar-benar berselingkuh?Naya menarik napasnya pelan. Di lubuk hatinya, dia tak yakin Ardi tega melakukan itu. Tapi, kalau ternyata hal itu terjadi, apa yang harus dia lakukan?“Maaf, Nyonya Naya,” sosok Mardani akhirnya muncul juga di hadapannya. Pria itu langsung menarik kursi dan menghempaskan dirinya. “Jalanan macet siang ini.”“Silakan pesan minum dulu. Aku yang bayar,” tawar Naya.Setelah secangkir latte tersaji di hadapan detektif itu, jantung Naya pun berdebar cepat. Kini, saatnya wanita itu mengetahui apa yang terjadi.“Ceritakan padaku,” tandas Naya gugup. “Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi.”Mardani menaruh cangkir itu dan mulai membuka mulutnya. “Semala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status