LOGINSeminggu kemudian pria itu datang.
Ardi Dewantara.
Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.
“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya.
“Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”
Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.
“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.
“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.
Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya.
Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian samping Ardi.
Usia mereka sama, sama-sama tiga puluh tahun. Hidung pria itu sedikit mancung. Kulitnya kecoklatan dengan rambut yang disisir rapi. Dan lesung pipi itu terlihat walaupun Ardi sedang tak berbicara.
Naya mendengus dalam hati. ‘Pintar juga Arman memilih pria untukku.’ Setelah mengatakan itu dia jadi merasa miris sendiri.
Tapi untuk saat ini dia tak mau memusingkan pikirannya dengan kenyataan bahwa Ardi, sopir barunya ini, akan menyentuh tubuhnya.
Begitu mobil Naya sampai kembali di mansion, dengan sigap Ardi turun lalu membukakan pintu untuk majikan barunya.
“Kamu nggak perlu melakukan itu,” tandas Naya, turun dari mobil. “Aku masih mampu buka pintu sendiri.”
“Eh, maaf, Nyonya…” Ardi menunduk.
Aroma segar yang sedikit manis menyusup ke hidung Naya begitu dirinya melewati Ardi. Seketika dadanya berdebar agak lebih kencang.
‘Sialan. Apa-apaan ini?’ Pikir Naya dalam hati. Kenapa dia tiba-tiba merasa gugup?
Tak mau dirinya terperangkap dalam perasaan aneh, maka wanita itu pun mempercepat langkahnya, menjauh dari Ardi.
Sehabis mandi, dari dalam kamarnya, Naya mendengar suara mesin pemotong rumput yang meraung di luar sana.
Lehernya melongo ke arah jendela. Keningnya pun mengernyit.
“Ardi?”
Matahari sudah meninggi. Cahayanya membias di kulit kecoklatan pria itu. Punggung Ardi yang bidang terlihat jelas tanpa dilapisi kemeja putih seperti tadi. Berkeringat dan… menggoda.
Otot-otot tangannya muncul karena mengendalikan mesin pemotong rumput itu.
Sejak fakta kemandulan Arman serta kesepakatan gila dengan suaminya, ranjang mereka semakin dingin saja.
“Astaga…” Naya menahan napasnya. Sekelebat pikiran kotor hinggap di benaknya.
Bagaimana rasanya jika Ardi menyentuhnya?
“Naya, hentikan! Kamu wanita terhormat!” titahnya pada diri sendiri.
Tetapi kata-kata itu terdengar munafik. Toh pada akhirnya dia akan tidur dengan sopirnya, demi mempertahankan perusahaan keluarganya, demi menjaga reputasinya juga Arman.
Punggung Ardi berputar menghadap ke jendela kamar Naya.
Wanita itu tersentak–padahal Ardi tak bisa melihat ke balik jendela kamarnya yang tertutup. Namun entah apa yang mendorong dirinya, pelan-pelan Naya mendekatkan tubuhnya ke ambang jendela.
Mesin pemotong rumput itu meraung-raung.
Dari depan, tubuh berotot itu semakin terlihat seksi. Kini Naya tak bisa mengatur jantungnya yang berdentum begitu cepat, juga miliknya yang berdenyut.
“Sialan,” desisnya tak percaya dengan reaksi tubuhnya sendiri. “Mana mungkin aku tertarik dengan pria itu, pria yang bahkan baru aku temui pagi ini. Hah!”
Naya menyambar tirai jendela dan menariknya kencang.
Dari bawah sana, Ardi menengadah, melihat tirai kamar majikannya yang bergerak-gerak. Matanya menyipit. Pria itu tahu sedari tadi ada yang mengawasi dirinya dari dalam kamar itu.
‘Sebaiknya aku berhati-hati,’ gumam Ardi dalam hati sambil menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
“Waduh, Mas Ardi, makasih ya udah mau bantuin saya potong rumput. Saya jadi nggak enak nih,” tukas Ujang, tukang kebun, sambil mengambil alih mesin pemotong rumput itu untuk ditaruh di tempat semula. “Encok saya kambuh, maklum udah tua.”
“Sama-sama, Pak.”
“Eh, mau kemana Mas Ardi? Nggak mau ngopi dulu?” Tawar Ujang begitu Ardi melewatinya.
“Mau mandi, Pak. Setengah jam lagi saya harus antar Nyonya ke kantornya.” terang Ardi. Lalu dia bergegas ke paviliun yang terpisah dari bangunan utama mansion. Paviliun yang ditempati Ardi khusus untuk pelayan lelaki, termasuk dirinya.
Sementara itu, Naya sudah siap di ruang tengah. Dia meminta salah seorang pelayan untuk mengingatkan Ardi. Namun, pelayan itu bilang Ardi masih mandi.
Naya melirik pergelangan tangannya. Siang ini, dia ada meeting dengan salah satu sponsor kegiatan CSR yang akan diadakan oleh perusahaan.
Sedikit kesal, Naya bangkit dan menghampiri Ardi di paviliun.
Dia melangkah cepat di atas batu-batu alam yang berjejer ke arah paviliun itu. Jarang-jarang dia memanggil pelayan, apalagi pria, secara langsung seperti ini.
Tetapi kalau tidak bergegas, dia bisa telat.
“Ardi,” Naya menyahut sambil membuka pintu paviliun. Ini kali pertamanya memasuki paviliun itu. “Ardi?”
Tak ada jawaban dari dalam, Naya pun melangkah masuk. Pintu di belakangnya tiba-tiba berderit menutup pelan saat terhempas embusan angin.
Ruangan jadi sedikit temaram karena cahaya matahari jadi terhalang masuk. Heels Naya membentur pelan di atas lantai. Langkahnya membawa dia ke sumber suara air yang mengucur dari dalam kamar mandi.
Seketika dada Naya berdebar. Pintu kamar mandi di hadapannya tak tertutup rapat. Ada sedikit celah baginya untuk mengintip ke dalam.
Perlahan tubuhnya bergerak maju. Lehernya menjulur ke celah pintu itu.
Mungkin dia sudah gila, pikir Naya.
Namun entah kenapa tubuhnya bergerak begitu saja walaupun otaknya memerintahkan untuk tidak melakukannya.
Dan perbuatan gilanya itu–mengintip sopir barunya mandi–akhirnya mengakibatkan setengah tubuhnya terasa kaku.
Tetesan air mengalir di tubuh atletis yang kecoklatan itu. Naya tak bisa membayangkan jika Ardi memutar tubuhnya dan…
‘Astaga!’ Naya memekik dalam hati. Dia seperti terkena serangan jantung begitu Ardi benar-benar membalikkan badannya.
Saking terkejutnya, langkah Naya jadi oleng dan menyenggol tumpukan kardus kosong yang ada di dekatnya.
Brak!
‘Sial!’ Naya mengumpat panik. Matanya menjelajah ke sekitar. Nyaris tak ada tempat baginya untuk bersembunyi.
Tubuhnya semakin menegang begitu bunyi air dari dalam kamar mandi sekarang tak terdengar.
Pintu kamar mandi itu pun membuka pelan. Tubuh Ardi yang basah melongok keluar. Keningnya spontan mengernyit mendapati tumpukan kardus yang berserakan.
“Tikus?” matanya menyipit, keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang lalu membereskan kardus-kardus itu.
Lantas, dia terdiam sejenak. Ujung hidungnya nampak mengerut seperti merasakan sesuatu. Bola matanya bergerak meneliti setiap sudut ruangan.
Ardi melangkah pelan mengikuti instingnya ke arah kulkas. Dia seperti melihat bayangan yang bergerak dari balik sana.
Dan itu bukan bayangan seekor tikus.
Sementara itu di samping kulkas, Naya menggigit bibirnya keras-keras. Kedua telapak tangannya saling mengait erat.
‘Tidak… Jangan kesini…’ Wanita itu memejamkan matanya sambil meringkuk.
Apa yang harus dia lakukan kalau Ardi menangkap basah dirinya bersembunyi di sini?!
Angin sore yang sejuk berembus pelan, menggerakkan helaian rambut Naya.Di tangannya ada secangkir teh hangat. Mata wanita itu kini tertuju ke arah taman rumah sakit.“Kemungkinan besar Arman mengalami kelumpuhan, itu yang dikatakan dokter,” terang Sophia dengan parau. Wanita itu lalu mengusap matanya yang basah. “Tapi persidangan tetap dilanjutkan. Bukti-buktinya cukup lengkap, begitu pula dengan vonis Arman nantinya…”Naya menyesap teh itu. “Kurasa… aku akan bertahan.”Sophia langsung menoleh, menatap Naya yang masih memandang lurus ke arah taman. “Be-Bertahan? Maksudmu?”“Sepertinya, Arman masih membutuhkan keberadaanku. Lagi pula, kesepakatan kami tak bocor ke publik. Jadi, orang-orang tahunya Haryasena memang anaknya Arman,” tandas Naya datar.“Naya, kamu serius?” Kening Sophia mengerut dalam.“Iya, Ma.” Naya lalu menatap ibu mertuanya yang nampak terkejut. “Aku… akan menarik gugatan ceraiku di pengadilan.”Sophia masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar.Lalu mer
Dua minggu setelah kedatangan Nirma, Arman diizinkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.Setelah selesai, dia kembali ke selnya yang sempit. Dan sepanjang dia menunggu hasilnya, dia merasa begitu merana. Berkali-kali dia coba menanamkan pikiran positif bahwa semua bakal baik-baik saja.“Aku tak akan tertular penyakit itu dari Nirma… Tidak… Aku yakin,” gumam Arman.Tetapi tetap saja, rasa takut itu nyata. Sampai akhirnya, asisten pribadi Arman yang setia datang menjenguknya.Di ruangan itu, ekspresi Wira tak bisa ditebak. Dia terlihat datar, tapi Arman bisa melihat bola mata pria itu bergerak gelisah.“Jadi, bagaimana?” Tanya Arman. “Kamu sudah mendapatkan hasilnya kan?”Wira mengangguk. Dia lantas menjulurkan sebuah amplop besar ke hadapan Arman. “Hasilnya ada di situ, Tuan. Saya sendiri belum memeriksanya.”Arman mengembuskan napas keras-keras sebelum dia mengambil amplop itu. Membuka amplop ini seperti menentukan nasibnya ke depan.Degup jantung Arman menjadi-jadi
Naya berjalan di sepanjang lorong rumah sakit. Wajahnya nampak lelah.Dia tak tahu kejadian apa yang menimpa ibu mertuanya sampai wanita itu tak sadarkan diri di teras belakang. Padahal Naya baru saja berbicara dengan Sophia beberapa saat sebelum kejadian.Kepala Naya terasa berat sekarang. Maka, dia memutuskan untuk membeli kopi di kafetaria rumah sakit.Setelah memastikan keadaan Haryasena baik-baik saja, Naya duduk di salah satu bangku yang kosong yang ada di kafetaria itu. Dia menyisip kopi hitam yang masih mengepul dan pandanganya mengarah keluar jendela.Dirinya termenung, sampai-sampai dia tak menyadari ada sesosok bayangan yang mendekat ke arahnya.Saat Naya menoleh, ulu hatinya seperti dihantam sesuatu.“Nay,” Suara berat dan lembut itu mengalun. “Aku boleh duduk di sini?”Naya tak bisa berkata-kata. Dia tidak sedang bermimpi kan? Ardi, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.“Se-sedang apa kamu di sini?” Tanya Naya sambil tergagap.“Aku membuntutimu dari mansion,” balas Ard
Ekspresi Naya sontak melongo. Matanya membulat kaget dengan mulut yang setengah menganga.“A-Arman?!” Desis Naya.Dengusan sinis keluar dari mulut pria itu. “Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja, Naya…”Kini giliran Naya yang menatapnya nyalang. “Kamu tak akan bisa menahanku selamanya. Walau kamu tak mau menandatangani berkas perceraian itu, aku bisa memakai pengacara untuk menggugatmu ke pengadilan.”Pandangan Arman menyipit. Pria itu nampak jengkel dengan pemberontakan istrinya.“Mudah bagiku untuk bercerai denganmu, Arman. Bukti-bukti perselingkuhanmu begitu jelas dan tentu saja hak asuh Haryasena jatuh ke tanganku,” tandas Naya dengan nada tajam.“Oh.. Jadi sekarang kamu berperan sebagai istri yang durhaka, hah?” Dagu Arman menukik ke atas, coba mengintimidasi Naya.“Terserah kamu mau mengasumsikanku sebagai apa. Aku tak peduli. Tapi satu hal yang pasti, kita akan bercerai,” tegas perempuan itu sambil bangkit dari kursinya. “Dan tenang saja, kita sudah membuat perjanjian p
“Pak Arman, Anda kedatangan tamu,” kepala penjaga itu muncul dari balik jeruji.Arman yang sedang berbaring di atas ranjang yang keras langsung menggerakkan tubuhnya. Dia menyeret gontai langkahnya di sepanjang lorong. Raut wajahnya nampak begitu kusut karena dia masih harus menghadapi persidangan demi persidangan ke depannya.Setelah menghela napas panjang, Arman mendongakkan kepalanya, masuk ke dalam ruangan di mana dia pikir dia akan bertemu dengan pengacaranya lagi. Tetapi kerutan di dahinya itu langsung muncul saat di hadapannya kini duduk seorang pria yang tak pernah Arman harapkan kehadirannya.Haryanto melempar senyum samar.“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Arman dengan nada sinis. “Duduklah,” dagu Haryanto bergerak, mengisyaratkan Arman untuk duduk di hadapannya.Bunyi kaki-kaki bangku yang menyeret terdengar, begitu Arman menariknya dengan kasar. Dia lantas mendengus dan menatap sinis ayah kandungnya ini.“Kamu mau mengejekku, hah? Mau menertawakan segala kesialanku?” Desis
Naya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya yang mungil. Di luar sana, matahari nampak bersinar cerah membuat sebagian pasien berkeliaran di taman rumah sakit yang asri.Senyum membingkai di wajah Naya. Setelah mengepak baju-bajunya, kini dia siap pergi meninggalkan tempat ini.‘Ternyata tidak buruk juga…’ pikir Naya. Arman dan Sophia mungkin ada benarnya juga, memasukkan dirinya ke sini karena sekarang Naya merasa jauh lebih baik.“Nyonya Naya,” suara perawat itu mengalihkan pandangan Naya dari jendela. “Sopir Anda sudah datang.”“Oh, baiklah,” buru-buru Naya menenteng tas besarnya.Setelah dia berpamitan dengan para perawat di sana, akhirnya Naya bisa keluar juga dari tempat itu. Udara jadi terasa lebih segar sekarang, entah kenapa.Jantung Naya berdebar penuh semangat karena dalam waktu hitungan menit dia akan bertemu putranya, Haryasena.Sudah dua setengah bulan dia tak menyentuh anaknya. Mereka hanya bertemu melalui video call dari Sophia, dimana setelah Rahmat meninggal, Sop
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa
Naya mendesah berat. Rambutnya berantakan karena kepalanya terus bergerak ke sana kemari. Dadanya berdebar, naik turun dengan napas yang tak beraturan.Tubuhnya sedari tadi menggeliat di atas ranjang hotel yang empuk, m
Kaki-kaki Naya seakan tertanam di lantai marmer, tak mampu bergerak. Dia membiarkan Ardi mendekatinya.Berada begitu dekat seperti ini selalu membuat dada Naya sesak, bukan karena beban tapi lebih karena dia tak bisa mengatur debaran jantungnya yang menjadi.“Maaf kalau saya lancang….” lanjut Ardi







